-01. Berangkat bareng
°°°°
Aku akan berusaha kuat untuk menjadi payungmu, ketika kau lagi sangat menyukai hujan.
Aku memang tidak bisa menjadi apapun yang kau butuhkan, tetapi ku pastikan untuk selalu menyediakan waktu ketika kau sudah lelah pada hari-harimu.
Aku akan tetap membuka pintu rumahku, walaupun kau tidak pernah sekalipun mengetuknya.
Itulah caraku menyayangimu, kuharap kau dapat memahaminya dengan baik.
°°°°
Senin pagi dengan cuaca yang cerah, seorang gadis manis dengan rambut tergerai bebas berlari memasuki pekarangan rumah mewah setelah ia turun dari mobil dengan diantar oleh sopir pribadinya.
Kedatangannya di sambut hangat oleh sosok pria paruh baya. "Selamat pagi Nona Lia. Non mau bertemu Den Rafa, ya?" Pria tersebut sedang melakukan aktivitas menyiram bunga di taman mini samping rumah majikannya.
"Udah hapal bangat ya, Mang," kata Lia tersenyum lebar. "Iya nih Mang, Lia mau ketemu Rafa sekalian mau berangkat bareng ke sekolah. Rafa nya belum pergi kan Mang?"
"Iya belum lah Non. Den Rafa kan selalu bareng-bareng sama Non. Masuk saja non..."
"eheheh... terimakasih Mang Odi."
Lia langsung berlari kecil memasuki rumah Rafa dengan riang gembira. Matanya langsung menatap lurus sosok wanita yang tengah beberes di dapur.
"Selamat pagi, Bunda." Lia mengecup pipi wanita itu—Bundanya Rafa, membuat Laura yang sedang memasak soup ayam terkejut dan langsung berbalik badan.
"Lia... kamu bikin Bunda jantungan saja Sayang."
"Maaf ya Bun. Habisnya Lia lihat Bunda serius bangat masaknya sampai ngga dengar Lia datang."
"Ngomong-ngomong Bunda masak sebanyak ini buat apa? Apa ada acara Bun di rumah?" tanya Lia setelah melihat banyak masakan enak tersaji di meja pantri.
"Oh, ini untuk tamu ayah mertua kamu. Kebetulan rekan kantornya dua jam lagi akan datang kemari. Sekalian bertamu katanya, jadi Bunda harus siapin semuanya lebih awal."
Lia tersipu malu setelah mendengar sebutan ayah mertua dari Bundanya Rafa. "Jadi Bunda udah setuju dong kalau Lia nikahnya nanti sama Rafa?"
Laura menoleh dengan bibir melengkung seperti bulan sabit. "Bunda setuju-setuju ajah Sayang. Asalkan kamu bagus sekolahnya ya, pendidikan itu lebih utama."
"Siap Bunda. Lia akan semakin giat belajarnya demi menjadi istri yang baik untuk Rafa. Ehm, ngomong-ngomong Rafa dimana Bun? Dari tadi Lia belum liat Rafa."
"Pasti masih di kamar. Coba lihat ke kamarnya, Sayang. Semalam dia lama tidurnya karena ada kerjaan katanya."
"Oh, kalau gitu Lia izin ya Bun lihat Rafa ke kamar." Laura mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya kembali. Sementara Lia, perempuan itu berjalan cepat menaiki deretan anak tangga menuju kamar Rafa.
Sesampainya disana, tanpa kata izin masuk pada sang empu, Lia langsung menyelonong ke kamar cowok itu. Pintu yang tidak terkunci membuat Lia yang masih berada di ambang pintu spontan menutup matanya melihat Rafa setengah telanjang berdiri di dekat ranjang.
Tubuh bagian atas cowok itu tidak ditutupi oleh sehelai benang pun, hanya ada handuk putih yang melingkar di pinggangnya. Sepertinya cowok ini baru saja selesai dengan ritual paginya.
"Kenapa pintunya tidak diketuk dulu, Lia?" kata Rafa sambil berjalan ke arah lemari. Cowok itu mengabaikan keberadaan pacarnya yang mematung di depan pintu. Rafa meraih seragamnya. Memakai celana abu-abunya disaat Lia masih menutup matanya dengan telapak tangan.
"Maaf ya, namanya juga udah jadi kebiasaan," kata Lia masih berdiri di tempatnya. "Udah selesai belum pakai bajunya?"
"Udah..."
"Eh—" Ketika Lia menjauhkan tangannya yang menutupi wajah, ia dikejutkan dengan keberadaan Rafa yang begitu dekat di depan wajah. Cowok itu tersenyum manis menampakkan lesung pipinya.
"Mukanya jauhin ah. Jangan dekat-dekat, jangan mesum Rafa," dumel Lia mendorong tubuh cowok itu agar menjauh darinya.
"Kiss?" ujar Rafa membuat Lia membelalakkan matanya. Lia yang tidak menyangka Rafa akan seberani itu mengatakannya langsung mengacungkan kepalan tangannya di depan wajah cowok itu.
Rafa terkekeh pelan melihat raut wajah Lia yang begitu lucu. "Bercanda Sayang. Ada waktunya kok kita lakuin hal seperti itu. Kamu masih sabar, kan?" Rafa mengusap puncak kepala gadis itu sembari menatap lekat wajah Lia yang merona.
"Jangan tanya aku. Sampai waktunya tiba aku masih bisa sabar kok. Emangnya kamu yang nafsuan, wlekk..." Iseng-iseng Lia menjulurkan lidahnya membuat Rafa dengan cepat mencubit gemas pipi gadisnya.
"Aish... jangan dicubit gitu Rafa. Sakit tau."
Setelah keuwuan mereka, Lia berjalan ke meja belajar Rafa. Duduk disana sembari membuka novel-novel milik Rafa yang tersusun rapi di meja belajarnya. Rafa itu hobi mengoleksi novel-novel romance, sama seperti Lia.
Ketimbang kebanyakan anak-anak cowok lebih sering menghabiskan waktu bersama teman-temannya atau nongkrong di cafe, berbeda dengan Rafa yang akan memilih menghabiskan waktunya membaca buku atau mengajak Lia berjalan-jalan ke taman kota.
Saat Lia sibuk memperhatikan novel-novel terbaru milik Rafa, mata perempuan itu melirik sesuatu yang aneh di tempat sampah, Lia menghentikan aktivitasnya.
Kepalanya sedikit merunduk melihat isi tong sampah yang seperti bekas darah di beberapa tissu yang dibuang disana.
"Raf..." panggilnya pada cowok yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin.
"Kenapa Sayang?" jawab Rafa tanpa menoleh memperhatikan apa yang sedang Lia lakukan disana.
"Ini tissu punya kamu, ya? Kenapa banyak darahnya? Kamu sakit apa?"
Pegerakan Rafa langsung berhenti seketika. Ia berbalik badan melihat kearah Lia. Gadis itu sedang mengulurkan sebuah tissu yang ia ambil dari tong sampah kearah Rafa.
Melihat apa yang sedang terjadi Rafa langsung merebut tissu dari tangan Lia dan membuangnya kembali ke tempat sampah. Cowok itu menatap nanar wajah Lia yang tampak kebingungan.
"Kamu sakit?" ucap Lia begitu saja.
Belum sempat Rafa menjawab pertanyaan gadisnya, kehadiran seseorang di depan pintu mengalihkan perhatian mereka.
"Kalian tidak berangkat sekolah? Ini sudah hampir jam tujuh lewat Sayang," kata Laura memandangi keduanya. "Berkemaslah, jangan sampai terlambat."
"Iya Bunda." Laura meninggalkan tempat dan kembali dengan Lia yang masih menunggu jawaban dari Rafa.
"Kamu sakit apa?" lirih Lia sambil menyentuh pipi Rafa lembut. Mengalihkan mata cowok itu kearah Lia. Melihat iris gadis itu tampak khawatir Rafa langsung merengkuh tubuh mungil Lia kedalam dekapannya dengan sangat erat.
"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir begini ya. Tissu itu milik Kak Rangga. Semalam dia jatuh dari motor dan sekarang sedang dirawat di rumah Kak Sonia."
Lia mendongak. "Katamu Kak Rangga akan pulang seminggu lagi. Kenapa pulangnya jadi lebih cepat?"
"Ada urusan yang penting katanya, makanya Kak Rangga pulang dari waktu yang ia tentukan. Jangan berpikir aneh lagi ya. Aku tidak apa-apa," kata Rafa berusaha meyakinkan Lia untuk percaya padanya.
Nyatanya selama mereka pacaran hampir tiga tahun, Lia bukanlah perempuan yang gampang percaya sebelum memastikan kebenarannya. Akan tetapi karena waktunya tidak banyak, mereka harus berangkat ke sekolah Lia memilih mengangguk, mempercayai apa yang Rafa katakan.
"Jangan sakit dan jangan sembunyikan apapun dariku. Aku tidak akan pernah memaafkanmu kalau kamu sampai ketahuan berbohong."
"I know baby girl. Ayo, kita turun. Bunda pasti sudah menunggu." Rafa menggandeng tangan gadis itu. Menuntun langkah mereka keluar dari kamar.
- to be continued -