Seperti api, nyalang matanya menyala. Berjaga ia di malam sepi. Di sekitar, udara yang sedari tadi berputar-putar telah pula berkawan kabut berwarna abu-abu keungu-unguan. Bersama pesona warna itu dihantarkannya gigil dingin, yang awalnya sedemikian ramah bermain-main di permukaan kulit, tapi lama kelamaan, sungguh kejam ia menusuk. Tanpa ampun, tusukannya begitu tajam-begitu dalam. Seumpama belati, jauh pula telah menghujam, menyentuh hingga ke permukaan yang paling dasar, ke tulang-tulang sum-sum-- tapi ia tetap disitu, bak sebuah patung yang telah berusia berabad-abad, tetap berdiri kukuh, tetap begitu tegar, dengan nyala mata yang belum juga surut menyala.
Pijar matanya begitu awas, siapa juga yang berani mendekati, tak satupun dari mereka yang bernafas barangkali-- telah berusia setengah abad lebih ia, kemarin ia baru saja merayakan hari jadinya.
Hari jadi yang seumur-umur baru kali ini pula ia rayakan, meski sebenarnya itu bukan perayaan juga, tapi ia girangnya bukan kepalang, tak pernah ia segirang itu. Pun tidak besar-besaran juga, tapi apa yang membuat bisa segirang itu, tak lain karena ia merayakan hari jadi itu dengan kedua teman seperjuangan. Iya, hanya dia dan kedua teman karibnya.
Mereka, yang usianya lebih kurang sama dengan dirinya, tetapi telah lebih dulu memilih untuk menepi diri. Kata mereka ingin menikmati senja umur. Padahal itu cuma kilah saja, sebenarnya, mereka malu untuk mengakui, kalau udara malam itu sesungguhnya telah berhasil menjungkirbalikkan kehidupan mereka. Ternyata, sang pujaan hati gerah juga kalau saban hari diminta untuk mengerok punggung belakang mereka.
Sembari menenggak kopi yang telah berangsur suam-suam kuku ia pun bertutur. Sungguh tutur kata itu terdengar begitu lembut, begitu ramah. Hal itu sangat jauh berkebalikan dengan sorot matanya, iya, seratus delapan puluh derajat berbeda;
Oleh karena sorot mata itu ia telah pula menelan banyak tuduhan, dari yang mentah, setengah mentah, hingga...
Kalau sorot mata itu adalah sorot mata seorang pembunuh; tapi ia tak ambil pusing!
Senggang mengingat kembali tuduhan-demi tuduhan tersebut, mereka pun tertawa ngakak. Bagaimana tidak, jangan kata menginjak mati seekor kecoa, menimpuk nyamuk yang nempel di tangan saja, ia ogah! Bilangnya sih, mereka juga makhluk hidup, iya jadi mereka berhak untuk hidup. Padahal, itu cuma kilah belaka, cuma menutupi belang saja, yang sesungguhnya adalah, dengan yang namanya darah, dia takutnya bukan kepalang.
Dia pun mengilas balik suatu kejadian, kala si anak bungsu pulang dengan membawa serta dua ekor ayam kampung muda. Ayam kampung muda yang dibeli ibu dari pasar. Oleh si anak bungsu, sesuai dengan perintah si ibu, si bapak diminta untuk menggorok leher ayam tersebut, sebelum nanti malam dipanggang dan disantap untuk merayakan malam pergantian tahun.
Si bapak, sekonyong-sekonyong gentar, keringat dingin juga, pun begitu hal tersebut tak ingin juga ia perlihatkan, terlebih didepan si bungsu, bisa jatuh wibawa seorang bapak.
Yang ada ia pun berlagak, dengan langkah terburu-buru, padahal itu cuma pura-pura belaka, bilang ke si bungsu, kalau ia harus segera berangkat bekerja. Dia beralasan seseorang rekan kerjanya cuti mendadak jadi ia harus menggantikan. Dengan langkah seribu si bapak balik kanan dan langsung tancap gas.
Pulang dengan perut lapar, berharap ayam panggang telah disediakan di dalam piring, alias tinggal santap. Sesampainya di rumah, ia pun bergegas berjalan ke dapur, membuka tudung saji, disitu ia dihadiahi sebuah tulisan indah.
"Bila ingin menikmati sedapnya rasa ayam panggang, silahkan untuk menggorok seekor ayam yang tersisa lebih dahulu, Peace, love, and gaul! Bye...!" Dia pun memilih untuk mundur teratur.
"Masih baik cuma dihadiahi tulisan, bukan ditunggu untuk menggorok leher ayam tersebut," ucap teman sejawat terkekeh.
"Bisa kencing berdiri dia," ledek teman yang satunya.
"Masih bagus kalau kencing berdiri gimana kalau mati berdiri," tuturku. Kedua teman pun menuding-nuding geli, membenarkan. Dia hanya senyum menggeleng.
"Apa yang membuat bapak takut dengan darah?" Aku bertanya sambil menyeruput kopi yang sudah dingin. Sekonyong-sekonyong wajah si lelaki setengah abad lebih ini sontak menegang kaku, kaku yang bukan kepalang, tak pernah ia sekaku itu, meski ia kerap terlihat kaku, tapi ini terkesan lebih kaku dari biasanya. Tapi sebelumnya, seorang teman karibnya pun menyela, mengingatkan kembali bagaimana ceritanya aku bisa masuk dan menjadi bagian dari lingkar pertemanan lelaki berusia setengah abad lebih ini.
Kami pun menggangguk-angguk. "Semua berawal dari darah!"
Ada apa dengan darah!? Pertanyaan yang menggelitik. Mestinya kan, ada apa dengan Cinta? Seperti judul dari sebuah film yang tenar diawal tahun duaribuan itu. Atau, ada apa denganmu? Itu judul lagi yang tenar dipertengahan tahun duaribuan.
"Darah... Darah... Darah..." Ulang lelaki setengah abad lebih ini. "Saat itu aku berusia..." Dia pun memulai sebuah kisah.
Ada jejak darah, dari luar pagar rumah hingga masuk jauh ke dalam rumah. Hari itu, senja, menuju gelap, kala seorang anak lelaki yang masih berusia belia mengikuti alur jejak darah, sepulang ia bermain dari rumah teman di kampung sebelah.
Alur jejak darah itu bermula dari pintu luar pagar, penampakannya tak ubahnya seperti percik-percik air hujan. Percik darah tersebut berhenti tepat di depan pintu sebuah kamar.
Itu kamar yang biasanya dihuni oleh kedua orangtuanya. Pintu tidak dalam keadaan terkunci. Perlahan-lahan pintu pun ia dorong, hingga akhirnya pintu tersebut terbuka lebar.
Pikirnya pun sudah jauh melanglang, tapi yang ada, ia tak mendapati sesuatu yang bersimbah darah teronggok di lantai, atau terkapar di peraduan. Tidak, tidak ada sama sekali. Yang Ada cuma jejak darah tidak lebih tidak kurang.
Apa maksud dari jejak darah itu, ia tidak tahu. Yang ia dapat pahami sedari ia melihat jejak darah itu sampai ia berusia setengah abad lebih ini ia tak sekalipun melihat ibu bapaknya balik pulang ke rumah. Dia adalah anak semata wayang.