Hay, perkenalkan namaku Zhe anak kedua dari pasangan Gaga dan Luna.
Aku punya Abang namanya Riki sangat cuek dan membenci diriku.
Aku juga punya adik namanya Reyna, selalu menbentakku bahkan tak segan memukul tubuhku yang kerempeng ini heheh ...
Yap, aku dibenci keluarga akibat masa lalu dimana kakek yang dulu menyelamatkan aku dari tabrak lari dan itu menyebabkan kakek yang paling disayangi dan dihormati meninggal.
***
Zhe baru saja bangun dari tidurnya karena mendapatkan siraman kalbu ilahi alias siraman air yang dingin.
"Bangun kamu!" bentak Luna.
"Iya Ma," sahut Zhe dengan gemetar karena dingin.
"Saya sudah katakan jangan panggil saya Mama, tahu kamu hah!"
"Maaf Nyonya," kata Zhe dengan lirih.
"Cuci baju dan setrika lalu ngepel! awas aja kalau gak dikerjain saya kurung kamu digudang," ancam Luna.
Zhee hanya diam tak berani melawan.
Sang adik keluar dari kamarnya dan melihat Mama tercintanya sedang memaki orang yang paling dia benci dan juga sudah membunuh kakek kesayangannya.
"Ada apa sih Ma?" tanya Reyna.
"Ini si pembawa sial ini malah kesiangan, enak banget hidup setelah membunuh orang!" sahut Luna dengan sinis.
"Ya sudahlah Ma tambahin aja hukumannya lama-lama dia kurang ajar loh sama Mama," kata Reyna menghasut Mamanya.
"Kamu benar Rey, heh anak nakal pembawa sial sini kamu ikut saya sialan!" seret Luna ke kamar mandi dan langsung mengguyur air yang begitu dingin.
Byur byur byur ...
"Ampun Ma, dingin ... Ma dingin." Zhe berusaha merengek tapi tak melawan karena takut.
"Dasar anak nakal kamu, lebih baik kamu itu mati aja Zhe. Gara-gara kamu mertua saya meninggal," kata Luna yang sudah menganggap mertuanya itu sebagai ayah kandung. Sebab, sejak kecil Luna ditinggal ayah kandungnya.
Riki dan Saga sudah biasa mendengar suara rintihan Zhe yang begitu menyakitkan.
"Pagi Papa, pagi Abang," sapa Reyna dengan manja lalu mengecup pipi dua pria yang paling disayanginya.
"Pagi juga anak cantik Papa," sahut Saga.
"Pagi adeknya Abang," seru Riki.
Tap tap tap ...
Luna baru saja keluar dari kamar belakang dan ikut berkumpul dimeja makan bersama keluarga.
"Sayang, hari ini kita cek up yah," kata Luna.
"Hemmmm ..." sahut Reyna memanyunkan bibirnya.
Riki yang melihat itu langsung bertanya dengan lembut. "Loh adeknya Abang yang cantik ini kenapa?" tanya Riki.
"Rey bosen cek up mulu," sahut Reyna dan itu mampu membuat Riki terdiam.
"Ini demi kebaikan kamu sayang," pungkas Saga.
"Iya sayang demi kebaikan dan kesembuhan kamu," seru Luna juga.
"Tapi sampai kapan, Rey udah bosen banget."
"Sabar ya sayang, gini aja deh kalau Reyna mau cek up nanti Abang tambahin uang jajannya.
Mendengar uang jajannya ditambah Reyna langsung mau cek up.
"Beneran Bang?" tanya Reyna lagi.
"Iya."
"Aaaa makasih Bang," peluk Reyna dengan manja.
"Tapi kamu jangan capek-capek yah," kata Riki lagi membelai lembut pucuk kepala adiknya itu.
"Iya Abang," sahut Reyna.
"Ya sudah, Papa sudah selesai makan kalau gitu berangkat dulu yahh."
"Riki juga mau berangkat."
"Kita barengan aja Ki."
"Iya Pa."
Mereka berdua pun pergi berangkat ke kantor.
***
Disaat yang bersamaan, Zhe sudah menyelesaikan tugasnya mulai dari cuci piring, cuci baju, pel lantai, semuanya sudah dia kerjakan.
Reyna yang melihat muncul ide jahilnya yang sengaja menjatuhkan dirinya saat Zhe lewat.
Brak ...
"Aaaaaa!" teriak Reyna.
Zhe langsung berpaling dan ingin menolong Reyna sang adik.
"Rey kamu kenapa sini aku bantu," kata Zhe.
Baru saja ingin mengulurkan tangan sudah ada teriakan dari Luna.
"Zhe!" teriak Luna lalu memukul dan menjambak Zhe dengan kasar.
"Apa yang kamu lakukan sama anak saya bangsat," maki Luna sambil menjambak Zhe.
Zhe hanya diam tidak berteriak karen sekarang tenaganya benar-benar sudah habis.
Dengan kasar Luna kembali menyeret Zhe ke gudang dan memukulnya dengan brutal pakai kayu balok yang kecil.
Bugh ...
Bugh ...
Bugh ...
"Dasar anak pembawa sial!" maki Luna lalu keluar meninggalkan Zhe yang sudah tergeletak tak berdaya.
***
Siang harinya jantung Reyna kambuh padahal ingin berangkat cek up dan itu membuat Luna panik.
"Mama, sakit."
"Bertahan sayang, kamu harus bertahan."
Sesampainya di rumah sakit Reyna kritis, Luna langsung mengabari Saga dan Riki.
Riki bertemu Zhe dirumah sakit.
"Abang," panggil Zhe dengan lirih.
"Ngapain kamu panggil saya Abang hah, saya bukan Abang seorang pembunuh macam kamu!" bentak Riki.
"Ayo Riki jangan hiraukan dia," seru Saga tak peduli dengan Zhe.
Zhe hanya menjatuhkan air matanya setetes.
"Boleh Zhe peluk kalian," kata Zhe lagi.
"Kamu itu hanya najis bagi kami," pungkas Saga.
"Papa, Zhe mau peluk."
Riki langsung mendorong Zhe dengan kasar sampai tersungkur.
Brugh ...
"Jangan panggil saya Papa sialan, pergi kamu. Ayo Riki kita harus cepat, Reyna kritis."
"Iya Pa, ayo."
Zhe tersenyum getir.
***
Dokter pun keluar.
"Bagaimana keadaan anak saya Dok?" tanya Luna dengan perasaan khawatir.
"Kita harus operasi jantung."
"Kami belum menemukan pendonornya Dok," sahut Luna dengan lirih.
Suster dari ujung datang.
"Dok ada yang mendonorkan jantung ke pasien Reyna Wijaya," kata suster itu.
"Benarkah, atas nama siapa?" tanya Luna berbinar-binar.
"Pendonor minta dirahasiakan Bu," sahut suster itu.
"Ya sudah ayo kita operasi waktu tidak banyak," kata Dokter itu.
"Syukurlah Pa, ada yang baik hati mendonorkan jantungnya kita harus menemui keluarganya Pa."
"Iya Ma."
Hampir 15 jam operasi jantung Reyna dan itu berhasil, karena Reyna masih dalam pengaruh bius kemungkinan besok akan sadar.
***
Paginya menjelang siang Reyna sadar dengan isak tangis yang nyaring.
"Jangan pergiiiii!" teriak Reyna.
Luna dan Saga serta Riki terkejut mendengar teriakan Reyna yang histeris.
"Reyna sayang kamu kenapa?" tanya Luna dan yang lainnya panik.
"Jangan pergi!" teriak Reyna sekali lagi dengan histeris tapi matanya terus melihat ke arah pintu.
"Jangan pergi Kak Zhe!" teriak Reyna histeris.
Deg ...
Semua terpaku mendengar ucapan Reyna yang memanggil Zhe dengan sebutan Kakak, biasanya tidak pernah seperti itu.
"Panggil Dokter Rik," suruh Saga.
"Baik Pa," sahut Riki.
Tidak lama kemudian Dokter datang.
"Bagaimana Dok?" tanya Saga.
"Pasien sudah saya beri obat penenang, mungkin alam bawah sadarnya bertemu dengan seseorang."
"Terima kasih Dok," sahut Luna lagi.
"Sama-sama, saya permisi dulu."
***
Sudah satu Minggu Reyna di rawat, selama satu Minggu itu juga baik Saga dan Luna maupun Riki setiap hari menjaga Reyna. Tapi wajah Reyna seperti murung padahal hari ini dia pulang dan terus memandang ke arah rumah sakit.
"Reyna sayang kok melamun sih," kata Luna.
"Gak papa kok Ma," sahut Reyna.
Sesampainya dirumah, Reyna langsung mencari Zhe ke dalam kamarnya yang ada dibelakang.
Luna yang melihat Rey dikamar Zhe langsung bertanya karena Reyna tidak biasanya disana.
"Kamu ngapain sayang ke kamar anak pembunuh itu," kata Luna tidak sudi masuk ke dalam kamar yang banyak virusnya.
"Mama, Kak Zhe kemana?" tanya Zhe.
"Kamu tumben nanyain itu anak," sahut Luna tidak suka.
"Gak papa Ma, tapi Zhe kemana dia kok gak ada Reyna cari dibelakang."
"Mama gak tahu, ngejalang kali dia diluar udah gak usah dipikirin ayo kita makan malam. Kamu juga harus istirahat total, ayo."
Reyna pun menurut.
***
Keesokan harinya ada tamu laki-laki tampan sedang memakai jaz bersama istri dan anaknya.
"Benar gak sih ini rumahnya sayang!" tanya istri pria tampan itu.
"Benar, aku mendapatkan alamatnya dari Dokter itu.
Ting tong ...
"Itu siapa sih yang datang pagi begini," kata Luna.
"Biar Riki yang buka Ma."
"Iya sayang."
Ceklek ...
"Iya cari siapa yah," kata Riki yang melihat dua pasang wanita dan satu anak remaja seusia Reyna.
"Apa benar ini rumah Tuan Saga Wijaya," kata Pria itu.
"Benar, ada perlu apa?" tanya Riki kembali.
Raut muka pria itu seperti bingung melihat Riki.
"Boleh saya ketemu Pak Saga," kata laki-laki itu lagi.
"Oh maaf saya lupa, kalian silahkan masuk."
Riki pun memanggil Papanya.
"Pa, ada yang mau ketemu."
"Siapa?"
"Gak tahu, mereka sudah diruang tamu."
"Ya sudah Papa temuin dulu," kata Luna.
"Iya Ma."
Saga dan yang lainnya ke ruang tamu.
"Halo Tuan Saga," sapa laki-laki itu.
"Emm dengan siapa yah?" tanya Saga.
"Perkenalkan saya Tirta dan ini istri saya Meta bersama anak kami Angel."
"Ouh, ada perlu apa."
"Kedatangan kami kesini, mengucapkan terima kasih."
Saga baik Luna mengerutkan keningnya.
"Terima kasih untu apa," bingung Saga.
"Ah ya saya bisa ceritakan dari awal, emmm ini putri saya Angel dulu kecelakaan dan mengalami buta tapi hari ini ada malaikat baik yang bernama Alzhe Wijaya yang sudi mendonorkan kornea matanya untuk Angel."
Deg ...
"Donor kornea mata."
"Iya sekali lagi kami sangat berterima kasih, oh ya ini sebagai kompensasi atas perjanjian kami. Ada uang seratus juta ini terima," kata Tirta.
Dengan tangan gemetar sekaligus shok, Saga menerima amplop itu.
"Kami permisi dulu."
***
Semuanya terdiam diruang tamu, sedangkan Luna memandang amplop itu.
"Kita ke rumah sakit yang kemarin," ucap Saga.
"Kenapa Pa," sahut Luna.
"Aku dan Riki sebelumnya bertemu Zhe dirumah sakit itu."
"Ya sudah ayo kita kesan Pa," rengek Reyna.
"Ayo," kata Saga.
Mereka semua berangkat ke rumah sakit itu dan mencari pasien dengan nama Alzhe Wijaya.
Setelah mencari akhirnya ketemu juga dan bertemu dengan Dokter yang bertindak atas pengambilan kornea Zhe.
Dokter Amar.
"Jadi kalian ini orang tuanya Zhe?" tanya Dokter Amar.
"Cepat katakan Dok, apa benar Alzhe Wijaya mendonorkan kornea matanya?" tanya Saga.
"Ya benar."
"Kenapa anda gegabah, mana sekarang anak saya?" tanya Saga lagi.
"Ada dibelakang rumah sakit," sahut Dokter Amar dengan tenang sambil tersenyum sinis.
"Tolong antarkan kami bertemu dengannya," ucap Riki sedangkan Luna dan Reyna hanya diam menyimak.
Dokter Amar pun membawa mereka semua ke belakang untuk bertemu Zhea.
Saga dan yang lainnya sedikit heran kenapa malah dibawa ke pemakaman rumah sakit.
"Kenapa kita ke makam Dok?" tanya Reyna dengan polosnya.
"Bukankah kalian ingin bertemu dengan Zhe," sahut Dokter Amar.
"Iya tapi pemakaman Dok, jangan permainkan kami!" bentak Saga.
Dokter Amar tersenyum.
"Sebaiknya kalian lihat dulu makam yang ada disamping kalian itu," kata Dokter Amar.
Mereka semua langsung melirik ke samping dan tulisan makam itu tertera nama Alzhe Wijaya.
"Zhe!" pekik mereka semua.
***
"Hiks hiks ..." tangis mereka semua disamping makam Zhe.
"Alzhe menderita penyakit kanker otak stadium akhir, dia sudah 6 tahun jadi pasien saya. Kemarin dia ingin mendonorkan jantungnya kepada orang lain dengan niat menyumbang sukarela, tapi saya juga tidak menyangka jika yang mendapatkan jantung itu adalah saudaranya sendiri. Ini, surat untuk kalian dari Zhe saat sisa kesadarannya."
Luna langsung mengambil surat itu, dan membacanya.
NYONYA, ITU ADA UANG SERATUS JUTA BUAT GANTI TAS NYONYA YANG ZHE RUSAK BULAN LALU.
Hanya itu yang ditinggalkan Zhe untuk keluarganya, tidak ada kenangan lain.
Reyna sangat histeris pantas saja dia melihat wajah Zhe dekat pintu kemarin.
"Hiks hiks, Kak Zhe jahat."
Seandainya waktu dapat diputar, Luna ingin Zhe disampingnya bukan uang seratus juta ini. Seandainya Luna tahu lebih cepat Zhe sakit kanker, pasti masih tergolong dengan pengobatan canggih diluar negeri.
'Maafin Abang Dek, jadi waktu itu kamu memang sudah sekarat Dek tapi dengan jahatnya Abang malah dorong kamu sampai jatuh seperti itu.' Riki membatin menyesali semuanya, bahkan Riki ingin sekali aja mendengar Zhe memanggilnya Abang.
'Aku seorang ayah yang jahat, bahkan Zhe harus dimakamkan dibelakang rumah sakit yang khusus tidak punya keluarga. Betapa buruknya aku jadi Ayahnya,' batin Saga.
'Ibu macam apa aku ini,' batin Luna dengan tatapan kosong.
***
Satu bulan kemudian ...
Tok tok ...
"Dek, ayo sarapan pagi."
Tidak ada sahutan.
"Dek ..." panggil Riki lagi, namun masih tidak ada sahutan.
"Dek ..." panggil Riki sekali lagi tapi masih sama.
Riki langsung khawatir dan ingin membuka pintunya tapi dikunci.
"Dek ... Dek ... ini Abang Dek ..." teriak Riki sambil menggedor-gedor pintu. Karena khawatir, Riki mendobrak pintu itu dan betapa terkejutnya Riki melihat Reyna tergeletak dilantai.
"Dekkk!" pekik Reyna.
Tiga hari setelah kepergian Reyna akibat bunuh diri dengan melukai urat nadinya.
***
Malamnya, Luna tidak ada saat makan malam.
"Riki, Mama kamu kemana?"
"Gak tahu Pa, akhir-akhir ini Mama sering melamun dan perginya pasti ke kamar Zhe."
"Coba kita cek, Mama kamu harus makan."
"Ayo Pa."
Setelah sampai depan pintu kamar Zhe, mereka berdua mendengar suara nyanyian.
"Nina bobo oh nina bobo ... kalau tidak bobo digigit nyamuk hahahah ... anak Mama udah pulas tidurnya nanti kita makan bareng yah, mau makan apa Nak?" tanya Luna menatap guling yang biasa Zhe pakai.
Riki dan Saga menatap nanar keadaan Luna sekarang yang dari kemarin terus bertingkah aneh.
Setelah diperiksa, Luna mengalami gangguan jiwa dan terpaksa dimasukkan ke rumah sakit Jiwa.
Sudah 12 tahun, Saga menghembuskan nafas terakhirnya karena sakit sedangkan Riki hanya meratapi nasibnya sekarang dan curhat dimakamnya Zhe dan berpindah ke makamnya Reyna juga Saga. Iya, makamnya Zhe dibongkar dan dipindah jadi sekarang makamnya Zhe berdampingan dengan Reyna dan juga Saga.
Ponsel Riki berdering.
Drrt drrt ...
“Halo, apa!" kaget Riki dan menangis tersedu-sedu dimakan itu. "Ya Allah ini kenapa jadi begini, Mama ....." Isak tangis seorang Riki baru saja dapat kabar jika Mamanya tewas tabrak lari karena berusaha keluar dari rumah sakit dan tertabrak ditengah jalan saat menyebrang.
Satu Minggu kemudian ...
"Kalian semua keluarganya Riki," kata Riki menatap ke empat makam itu.
TAMAT