“Woyy, cowok-cowok gabut!”
seru Luthfie-seorang mahasiswa kedokteran yang merupakan pribumi di kota Jakarta ini. Datang membawa nampan berisi minuman ke hadapan tiga sahabatnya yang tengah melamun di meja kafe milik ibunya.
“Aish … siah maneh di takol ku urang!” Ekspresi spontan dari Junaedi sang mahasiswa Fakultas Seni asal Sukabumi yang lekat dengan bahasa Sundanya. Namun, dia segera mengucap istighfar sambil mengusap dada setelahnya.
“Astagfirullah, Fie. Kebiasaan kamu mah,” ketus Junaedi pada Luthfie, sahabatnya yang paling jail sedunia.
“Hahaha, Juned ... Juned.” Luthfie terbahak-bahak sambil memindahkan minuman ke meja.
“Tau nih anak satu, kalau saja emaknya gak baik hati kayak emak gue, udah gue jitak kepala si Luthfie ini,” canda Zidan-sang mahasiswa Fakultas Hukum yang berasal dari kota kembang, Bandung. Zidan tinggal di rumah ini karena permintaan Luthfie, sahabat terbaik yang dia kenal pertama kali sejak menapakkan kaki di ibu kota Jakarta ini.
“Tunggu aku jadi polisi beneran ya, Fie. Nanti kutembak anumu,” kelakar Ali, Dia mahasiswa Akpol asal Semarang yang saat ini tinggal bertetanggaan dengan rumah Luthfie. Bang Alex, begitulah Luthfie memanggil nama Ali.
“Wihh, ngeri kali Abangku ini kalau ngomong. Apalah arti ketampananku yang paripurna ini jika Abang menembak anuku. Mubazir dong Bang?”
Luthfie menatap ke tiga sahabatnya bergantian.
“Ya udah, nih minumannya gratis, sebagai permintaan maaf. Tapi berhentilah menyorot wajahku karena semakin kalian menatap, akan semakin bertambah ketampananku. Kalian harus tahu derita menjadi orang paling tampan sejagad raya, itu cukup menguras energi. Aku hampir tidak punya kebebasan dan privasi karena di mana-mana aku jadi incaran para gadis bahkan emak-emak berdaster yang sedang belanja sayuran di depan rumah pun, mereka pasti gagal fokus saat aku lewat di depannya, jadi--”
“STOOOOOP!” pekik ketiga sahabat Luthfie bersamaan.
“Gandeng, maneh teh, Fie. Jiga radio butut, nyaho?” bentak Junaedi yang biasa di panggil Juned oleh Luthfie itu dengan mimik wajah kesal. Luthfie pun segera menutup mulut dengan telapak tangan untuk menyembunyikan tawanya. Tak lama, Ali menarik tangannya.
“Fie, duduk!” perintah Ali sebagai teman yang paling dituakan di antara mereka berempat.
“Oke, oke. Aku duduk. Santai aja mukanya jangan pada asem gitu, tar gak laku-laku.”
“Gini, Fie. Kita bertiga mau ngomong serius sama Elo.”
“Ngomong serius? Sama Gue? Gak salah tuh?Gue kan gak pernah serius orangnya?”
“Makanya dengerin dulu, terus lo ngomongnya pelan-pelan aja. Kedengeran pengunjung kafe lo, malu tauk?”
“Ya, udah. Lo ngomong deh sekarang, cepetan!” ucap Luthfie sambil menggebrak meja.
“Bang! Lo yang ngomong dong sekarang, gue malu,” ucap Zidan sambil mengarahkan pandangannya pada Ali yang sedang duduk di sebelahnya. Ali yang tengah duduk sambil melipat tangannya di dada, bergidik sambil memandang ke sekelilingnya lalu menggelengkan kepalanya.
“Yahh....”Zidan menghela napasnya sambil beralih pada Junaedi “Lo aja, Jun,” tunjuk Zidan lagi.
“No, no, no!” Junaedi menjawab dengan cepat.
“Ciee, Juned so inggris. Lidah Sunda juga,” ejek Luthfie pada Junaedi, tapi candaannya ditanggapi biasa aja. Dilihatnya wajah ketiga temannya malah tegang.
“Sebenarnya kalian nih mau ngomong apaan, sih? Dari tadi, tunjuk sana tunjuk sini, nyuruh gue duduk, nyuruh gue ngomong pelan, Gak jelas banget, tau gak?”
“Oke, oke. Gue aja yang ngomong.” Zidan mengalah.
“Jadi gini, Fie. Gue akui ya lo emang tampan, cewek-cewek ngejar lo sampe ke mana-mana. Gue tahu, semua orang juga tahu itu.”
“Terus?”
“Dan sekarang, sahabat-sahabat lo ini, nih. lagi pada galau gak ketulungan.” Zidan menunjuk Ali dan Junaedi dengan telunjuknya satu per satu.
“Ish, enak ajak lo nunjuk kita berdua, padahal kan lo yang paling galau,” ucap Ali sambil mendesis.
“Udah, Bang. Lo diem aja, napa?”
“Ya udah, lanjut dah, ah. Kalian kek abis maling ayam tetangga aja, susah ngomongnya,” sela Luthfie yang sudah tak sabar.
“Iye, jadi … masalahnya nih si Juned katanya udah lelah nguber-nguber cintanye si Mimin yang juteknya minta ampun. Ditolak mulu dia. Terus ... nih Abang kita juga lagi marahan ama pacarnya, Neng Vina Dwi Astuti yang cantiknya MasyaAllah ...."
Tiba-tiba Ali menimpali sambil menunjuk Zidan yang sedang bicara.“Dan satu lagi nih yang paling gabut, teman kita yang lagi ngomong, nih. Dia ngumpulin keberaniannya udah dari zaman penjajahan Belanda buat nyatain cinta pada sang mahasiswi kampus sebelah, Anita Prameswari gadis ayu yang cuma bisa dilihatnya sambil ngiler di dalam bus kalau lagi pulang kampung. Kasian 'kan?”
“Puas banget sih, Bang, ngomongnya. Iya, iya. Gue naksir cewek yang selalu ketemu di dalam bis kalau lagi pulang kampung. Kalau di pikir-pikir, sepertinya dia benar-benar jodoh deh. Masa tiap kali pulang ke Bandung kita selalu barengan dan naik bis yang sama pula, padahal kita boro-boro janjian-kenal aja enggak.”
“Nah itu dia masalahnya teh, aksi kamu mah terlalu lambat, Zidan. Keburu disikat orang aja, baru weh nyadar kalau nasib kamu teh ngenes pisan,” kelakar Junaedi dengan bahasa campur-campurnya yang khas.
“Dari pada kayak Lo, Jun. Belum apa-apa udah capek duluan. Faktanya, ngejar cinta Mimin tak semudah membalikkan telapak tangan Wkwkwk. Lo udah berapa kali jatuh bangun, Jun?” Zidan membalas gurauan Junaedi sambil tertawa terpingkal-pingkal.
“Dasar kalian nih, TRIO BUCIN, yang diomongin cewek mulu. lama-lama kemurnian gue bisa terkontaminasi gara-gara kalian, cabut ah mau bantuin emak gue.” Luthfie yang sedari tadi nyimak cuma bisa geleng kepala lihat kelakuan tiga sahabat yang bucin-nya naudzubillah.
“Tunggu, Fie! Kita belum kelar ngomong lho,” sambar Zidan.
“Apa lagi sih lo pada?”
“Lo belum bagi tips dan trik-nya ke kita lo?” sambung Ali.
“Hahahaa! Jadi kalian nyuruh gue duduk di sini cuma buat ngajarin lo pada? Tips dan Trik apaan sih maksudnnya? Jangan ngawur woyy!”
“Tips biar bisa stay cool kaya maneh, Fie. Tau-tau … cewek-cewek udah pada antri di belakang. Jangan-jangan pake asihan maneh teh.”
“Husstt, Dasar Juned, nuduh gue pake asihan, musyrik tauk? Dengerin gue ya lo pada, Ketampanan gue ini alami, gak usah pake asihan, ga perlu tebar-tebar pesona, jodoh mah udah ada yang atur. Percaya deh sama gue.”
“Iye sih, tapi kan … perlu ikhtiar juga, Fie.” Junaedi masih beralasan.
“Ya udah, terserah Lo pada. Yang pasti dalam hidup gue, gak ada yang namanya pacaran. Ribet gue. Mending langsung nikah, enak.”
“Ya udah, Lo nikah sono, buruan!” seloroh Zidan. "Dikira gampang nikah kalau belum ada pasangan?"
“Ya, maunya sih sekarang nikah, cuman calon istri gue kan masih kecil, gimana dong? Tar gue di sangka fedofil lagi.”
“Kaya dah punya calon aja, lo ngomongnya enteng.” Ali menggeleng sambil mengerutkan wajahnya.
“Calon mah udah di depan mata. Apa perlu gue lamar dia sekarang, Bang? Mumpung orangnya dateng. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Emang, setiap niat baik, pasti dimudahkan jalannya. Luthfie tersenyum memandang ke arah luar.
“Lo, ngomong apaan sih, Fie? Ngacapruk wae maneh mah,” tukas Junaedi.
“Minggir-minggir, Lo pada! Calon istri gue dateng tuh.”
“Maksud Lo Mak Lela yang lagi belanja sayur, ya ampun, selera Lo, Fie....”
Luthfie berhambur ke luar menyambut kedatangan tamu yang baru datang dari Bandung. Setelah menyalami kedua orang tua Zidan yang baru tiba, dia langsung mengangkat tubuh seorang gadis kecil yang cantik dan membawanya lari ke hadapan sahabat-sahabatnya-para buciners.
“Taraaaa. Nih dia, calon istri gue.”Luthfie mencubit pipi tembem Shasha karena gemas.
“Yaelah. Ade gue itu mah!” seru Zidan.
Trio Bucin tepok jidat berjama'ah.
-TAMAT-
Cerpen ini adalah cikal bakal (prequel) dari judul novel-novelku di MT/NT. Yang mau tahu kelanjutan kisah cinta Luthfie, Ali, Zidan dan Junaedi, silakan mampir di novel recehanku. Tinggalkan jejakmu.🙏😘