“Kenapa kamu ga mau baca buku buatanku?” tanya si pria kesal.
Tepat di hadapanya si wanita mendorong buku dengan gambar seorang siswi SMA sebagai kovernya, menolak untuk membaca meski satu halaman, bahkan satu kata sekali pun. “Engga, ga perlu,”
“Masa kamu ga mau baca, padahal ada loh fans misterius yang nyemangatin aku nulis dari pertama aku ngirim cerita ini ke platform online,”
Si wanita senyum.
“Gara-gara dia juga aku makin semangat nulis, sampai banyak yang baca dan suka sama tulisanku, sampai akhirnya dilirik sama penerbit. Terus terbit, dan ini bukunya,”
Si wanita masih tidak memberikan jawaban.
“Masa, kamu ga mau baca juga?” si pria bertanya kembali.
“Ga usah,” jawab si wanita.
“Beri aku satu alasan logis!” si pria berkata sedikit berseru sembari meraih karya tulisnya.
“Aku senang kok, kamu udah mau nulis lagi. Bahkan sampai dijadiin buku,” ucap si wanita sambil berusaha tersenyum. Ada tetes air yang ditahan hingga menumpuk pada ujung matanya.
“Terus, kenapa kamu ga mau baca?”
“Kalau aku baca, apa yang mau kamu lakukan selanjutnya?”
“Tentu aku akan minta kesanmu, lalu bertanya apakah kamu suka dengan cerita yang kubuat ini atau tidak,” ucap si pria penuh kepercayaan diri sambil menunjukkan bukunya kepada si wanita.
Tunak hati yang ia miliki tidak muncul begitu saja, melain-kan karena ia berhasil menerbitkan buku yang genrenya di-sukai wanita di depannya, yang selama ini sangat sulit untuk ia buat.
Tujuh tahun si pria terjun dalam dunia kepenulisan, ia hanya gemar menulis kisah misteri juga fantasi, tak pernah sekalipun menyinggung kisah romantis. Baginya, itu hanya santapan kaum remaja yang sedang dimabuk cinta.
Namun demi sang pujaan hati, si pria rela menghabiskan waktu istirahat juga kuliahnya untuk merampungkan karya-nya. Sampai sering lupa mandi berhari-hari.
Perjuangan yang telah dilakoni selama satu bulan penuh tanpa satu hari pun waktu istirahat membuahkan hasil manis. Sampai salah satu penerbit melirik tulisannya dan bermaksud menerbitkannya.
Buku berjudul ‘Lutfiku’ itulah hasil bertapa si pria selama sebulan penuh di kamarnya yang telah diterbitkan dan disebar-luaskan ke seluruh Indonesia, yang saat ini sangat ingin dibaca oleh wanita di depannya.
“Kalau aku suka, pasti kamu senang, kan?” tanya si wanita.
“Tentu! Mana mungkin aku tidak senang? Ini adalah genre romantis karya pertamaku! Dan satu-satunya karya yang ber-hasil terbit jadi buku,” jelas si pria lalu kembali menyodorkan buku karyanya. “Makanya dibaca, ya?”
“Kalau aku ga suka, bagaimana?”
“Aku sudah mempersiapkan diri!” ucap si pria yakin. “Aku tidak akan mengulangi tindakanku dulu,”
“Kamu masih ingat?” tanya si wanita cukup terkejut. Selama ini pasangannya itu selalu berusaha melupakan segala kesalah-an yang telah dilakukannya, dengan segala cara.
“Aku tidak akan lupa. Kalau aku lupa, itu jelas pura-pura!” tanggap si pria penuh semangat.
“Apa buktinya?”
“Aku masih ingat, pas kita PDKT, waktu pertama kali aku ngasih tulisanku. Terus kamu bilang, ‘Aku ga paham bahasa-mu, ceritanya juga aneh’ lalu aku langsung marah dan bilang, ‘Kamunya aja yang bego!’”
Si wanita senyum, tapi tipis.
“Aku juga masih ingat, pas semester 2 kemarin, habis aku revisi habis-habisan tulisanku, terus aku kasih lagi ke kamu dan kamu bilang, ‘Ceritanya ngeri banget, apa bakal lolos sensor?’ lalu kita marahan hebat sampai aku nurunin kamu di tengah jalan, sampai orang-orang ikutan marah dan nyeramahin aku habis-habisan, bahkan sampai kita dibawa ke kantor desa,”
Si pria masih melanjutkan, “Aku juga masih ingat, tiga bulan setelah itu, setelah aku revisi lagi siang malam, sampai tugas-tugas kuliahku kamu yang ngerjain, terus aku kasih lagi hasil-nya ke kamu, dan kamu bilang, ‘Aku perlu waktu buat mema-hami tulisanmu,’ Habis itu aku marah, dan hiatus dari nulis bahkan dari kamu,”
Si wanita mengangguk, memberikan pembenaran.
“Habis itu aku mencari kegiatan lain, sampai curhat ke wanita lain, jelek-jelekin kamu, keluargamu, dan semua yang ada tentangmu,”
Si wanita menghela napas, begitu sakit tiap ia mengingat kejadian itu. Namun ia coba tahan, setidaknya pria yang ia cintai telah sadar akan semua perbuatannya dulu, yang sangat menyakitkan.
“Makasih,” kata si wanita kemudian, “kalau kamu beneran masih ingat,”
“Aku tidak lupa,” kata si pria sembari menggenggam kedua tangan kekasihnya. “semua kesalahanku, semua hal yang bikin kamu sakit karena aku, karena omonganku, karena sifatku, karena perlakuanku. Aku tidak akan lupa. Dan tak mau lupa,”
“Kenapa?”
“Aku tidak mau mengulanginya lagi. Sudah cukup kamu terluka karena aku. Aku ingin kamu bahagia karenaku,” kata si pria mencoba menenangkan, dan sungguh kalimat itu tulus keluar dari hatinya.
Si wanita merasakan itu, benar sampai pada relung paling dalam. Sampai air mata berkumpul di ujung pelupuk matanya.
“Jadi tolong, aku mau kamu baca bukuku,” si pria masih mencoba meminta.
Si wanita senyum, menatap mata si pria nanar.
“Kamu kenapa?” tanya si pria akhirnya sadar bahwa wanita di hadapanya tengah berusaha menahan kesedihan yang luar biasa.
“Kamu ingat berapa lama kamu ngurung diri di rumah, di kamarmu?”
“Ingat. Satu bulan penuh tanpa satu haripun waktu istirahat. Memang waktu itu masa pandemi, dan kita dilarang bertemu sementara waktu. Kita sudah pernah membahas itu sebelum-nya, kan?” si pria berusaha menjelaskan.
“Aku tahu, tapi bukan itu masalahnya,”
“Lalu apa?” si pria mencoba menebak. “Apa gara-gara wisuda yang ketunda karena telat daftar PPL dan KKN?”
“Engga,” jawab si wanita pelan.
“Masalah soal aku belum ngelamar kamu?”
“Engga juga,”
“Terus apa?” si pria menatap tajam. “Kalau kamu ga bilang, mana mungkin aku tahu,”
Si wanita mengatur napasnya. Sedari tadi jantungnya ber-degup tak beraturan akibat menahan gejolak rasa yang luar biasa. “Sayang,” si wanita mulai membuka suara. “kita ga udah ketemu lebih dari sebulan,”
Si pria mengangguk setuju.
“Kamu sendiri tahu kan, kalau aku ga bisa sehari saja tanpamu,”
“Aku tahu,” jawab si pria cepat. “apa maksudmu, dengan menghilangnya aku selama sebulan, dengan kita ga ketemu lebih dari sebulan, kamu mulai ga ada rasa lagi ke aku?”
Pertanyaan si pria hampir terdengar bagai tuduhan di telinga juga hati si wanita. Sakit, tentu saja. Namun ia sudah terbiasa, nyaris kebal rasanya karena sering kali mendengar pertanyaan semacam itu dari mulut kekasihnya. Padahal, ia sudah membuktikan keseriusannya dengan tidak lagi ber-hubungan dengan pria lain, dengan tetap bersabar dan ber-tahan akan semua sifat dan sikap si pria, dengan terus mem-berikan kesempatan kepada si pria untuk berubah, mem-perbaiki diri menjadi lebih baik.
Tak pernah sekalipun si wanita melakukan hal yang sama seperti si pria: marah-marah sampai memaksanya turun di tengah jalan, apalagi menceritakan kejelekan kekasihnya kepada pria lain. Tidak pernah, meski kepada keluarganya sekalipun.
“Jawab!” ucap si pria sedikit membentak.
Belum sempat memberikan respons, si pelayan datang dan memberikan tagihan sekaligus mengingatkan bahwa dalam 5 menit lagi cafe itu mau tutup.
Tanpa menunggu jawaban kekasihnya, si pria membayar dan mengantar si wanita pulang tanpa satu kata pun terucap dari bibir keduanya. Malam itu mereka sama-sama diam, hening dan dingin. Membisunya kedua pasangan ini membuat malam itu menjadi lebih dingin.
* * *
Di kamar si pria berbaring sambil menatap langit-langit. Otaknya melayang-layang, memunculkan hipotesis yang kian membuat hatinya resah. Beberapa saat kemudian notifikasi handphone-nya berdering. Diraihnya dan tampak kekasihnya mengirimkan pesan.
Dengan rasa malas si pria membuka isi pesannya. Sebuah foto, yang diambil 3 bulan lalu. Tanggal 23 Maret 2020 tepat di hari ulang tahunnya—tertera waktu di pojok kanan bawah. Itu adalah foto si wanita yang menggenggam sebendel kertas A4 bertulis “Lutfiku karya Penulis Noname” dan satu lembar lainnya yang apabila diperbesar dan dilihat seksama adalah surat dari penerbit.
Kini si pria sadar, penerbit yang melirik naskahnya bukan-lah suatu kebetulan melainkan usaha dari kekasihnya yang tak pernah si pria tahu.
Tepat di bawah foto itu, si wanita mengirim screenshoot chat semangat dari si fans misterius, yang langsung si pria sadari bahwa kekasihnya jugalah yang merupakan fans misteriusnya, yang selama ini menyemangatinya untuk menulis, yang juga membuat orang-orang membaca tulisannya.
Tetes air mata bahagia juga kagum tak bisa lagi dibendung. Si pria bergegas keluar rumah, pergi menemui kekasihnya sambil mengirimkan pesan: “Kenapa kamu ga pernah bilang, kalau fans misterius itu kamu?”; “Kenapa juga kamu ga pernah bilang kalau kamu itu pembaca pertama karyaku ini?”; dan “Lalu kenapa kamu ga bilang, kalau penerbit yang mau menerbitkan bukuku, itu semua karena usahamu?”
Tak berselang lama si wanita membalas, “Aku pengin kamu ngerasa dapat dukungan yang tulus,”
Si pria menanggapi, “Ketulusanmu itu sama halnya dengan cintamu ke aku selama ini. Makasih banyak, aku bahagia memiliki pasangan sepertimu,”
“Tak jauh beda dengan isi karyamu.” balas si wanita.