"Kadangkala pertanyaan-pertanyaan terasa rumit sekali, padahal jawabannya sederhana saja." Dia telah ada bersamamu, tepat di sampingmu. Kamu hanya perlu menyadari waktu yang tak pernah mengubahnya. Dia tetap seindah mawar berembun di bawah temaran arunika.
***
Langit bersinar cerah, sangat cerah hingga Mega pun berpikir ia akan menjadi Mega matang, bukan lagi Mega Jingga. Dia tengah berdiri di samping sahabatnya, yang terus berdecak kesal. Meruntuki acara yang belum juga dimulai dari lima belas menit yang lalu. Matanya menyipit saat mendengar pembawa acara mulai membacakan kata-kata pembuka, yang menurutnya tidak penting dan hanya membuang waktu.
Lapangan sekolah yang bisanya digunakan sebagai lapangan upacara dan kegiatan olahraga, kini dipenuhi siswa-siswi mengenakan baju olahraga. Demostrasi calon ketua OSIS periode 2019/2020 akan dilangsungkan.
"Baiklah langsung saja pada penampilan bakat pertama dari calon ketua OSIS nomor 2. LANGIT ANGKASA."
Mega mengernyit saat melihat seorang remaja dengan senyum simpulnya maju diiringi tepuk tangan dan teriakan heboh di sekitarnya.
"LANGIT!"
"LANGIT!"
Langit mengambil gitar akuistiknya, duduk dengan tenang, membiarkan mereka ribut sendiri. langit sedikit mendekatkan tubuhnya kearah mic. "Cek! Cek! Cek!" Dia tersenyum manis saat menyadari mic itu berfungsi dengan baik. Sukses membuat lapangan kembali bergemuruh.
"Ini mungkin bukan penampilan yang istimewa. Tapi, semoga kalian bisa menikmatinya." Langit mulai memetik gitarnya, melodi mengalun dengan indah, menyebabkan suasana menjadi hening.
Aku memang manusia biasa
"OMG, LANGIT!"
"SUARANYA! GILA BANGET!"
Yang tak sempurna dan kadang salah
Namun di hatiku hanya Satu
cinta untukmu luar biasa
Langit tersenyum saat sorakan terdengar memekakan telinga.
"AKU PADAMU!" Mega mendelik sangsi. Septian, anak kelas sebelah berteriak dengan tak tahu malu. Tangannya terasa gatal ingin menampar mulut tak tahu diri yang malah tertawa terbahak itu.
.
.
.
Mega berdiri di belakang Ethan, mengantri agar bisa menyumbangkan suaranya dalam pemilihan Ketua OSIS. Tiba gilirannya, dia berdiri dibalik bilik suara. Kedua maniknya tidak berhenti menghujam pada foto Langit yang tengah tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya yang gingsul dan kedua pipi ber-dimple. Sangat manis. Mega menggelengkan kepalanya cepat, tadi itu pasti kesalahan. Dia harus fokus saja untuk memilih Langit agar ada Ketua OSIS dari anak IPS, setelah 25 tahun selalu dikuasai anak IPA, menurut wali kelasnya. Lagipula, visi-misi Langit juga bagus. Denga alasan itu maka dia memilih untuk menjoblos gigi Langit.
Senyum konyol tercipta di bibirnya, membayangkan jika hari ini adalah kebangkitan anak IPS terdengar begitu menyenangkan ditelinganya. Nanti kita akan bercerita tentang hari ini. Sejarah baru yang benar tercipta beberapa saat kemudian. Anak IPS semuanya turun ke tengah lapangan, mengelilingi Langit. Berebut untuk bersalaman dan mengucapkan selamat.
Dalam langkahnya menghampiri Langit, dia tertawa melihat wajah lesu mereka. Dia sangat puas. Mungkin harus mencatat dalam buku hariannya agar tak pernah melupakan dan sebagai bukti hari yang luar biasa. Dengan memanfaatkan tubuhnya yang hanya memiliki tinggi 154 centimeter dengan berat 47 kilogram, dia bisa menyelinap dengan mudah. Lain kali dia harus menambah tinggi dan berat badannya.
Megabaikan orang yang berdecak karena dia dorong, Mega melepas tangan yang tengah menjabat tangan Lagit, menggunakan tangan kanannya untuk menjabat tangan Langit dengan hangat. "Selamat tetangga. Aku seneng banget." Mega berkata dengan semangat, menggerakan tangan yang saling tertaut itu. "Ih seneng banget lihat mereka kaya gitu. Sekali lagi, terima kasih Angkasa."
Langit tertawa dengan renyah saat mendengarnya. "Oke Mega, aku juga seneng mendengarnya." Matanya bersinar penuh arti. "Nanti kita kan bercerita tentang Langit dan Senja." Mega hanya mengangguk, melepas jabatannya, dan berlalu setelah menepuk pundak Langit.
.
.
.
Dear: Mega Jingga
Kamu menyukai guratan jingga di nabastala, menguntai dalam frasa tanpa lelah. Mengagumi tanpa henti. Bahkan ketika rinai hujan membasahi bumi, kamu masih berdiam diri. Mengagumi guratan sendu dengan semerbak basahnya. Dan aku, aku hanya mengagumimu. Mengagumi mega bergurat jingga yang sangat indah dan rapuh disaat bersamaan.
Jika bagimu langit senja sangat berharga, karena memberimu harapan untuk arunika fajar yang menyambut bersama nyanyian gembira burung. Maka, izinkan aku menjadi langitmu. Yang akan menerima bagaimana pun keadaanmu, entah jinga atau abu. Maka, izinkan aku selalu duduk bersamamu, menatap matahari tenggelam seperti saat ini.
Entah nanti, esok, lusa, atau selamanya, aku akan menjagamu. Kamu hanya harus percaya, maka jika kamu mengizinkan, aku akan melakukannya. Aku akan membuatmu selalu menjadi Mega Jingga.
Tertanda,
Langit Angkasa
Mega menurunkan kertas yang dipegang kedua tangannya dengan erat. Matanya menatap langit sore dengan guratan sendu, sepertinya sebentar lagi rinai kan menyapa. Lidahnya terasa kelu untuk mengucap kata pada remaja di sampingnya, yang masih dengan posisinya, menatapnya dengan senyum simpul yang membuatnya berdebar.
"Langit tahu?" Mega memiringkan kepalanya, menatap Langit, menunggu jawabannya. Dengan senyum yang masih tersunging memperlihatkan dimple dikedua pipinya dia menggelengkan kepala.
"Mega terlalu rapuh untuk menjaga jingganya tetap menyala." Mata menatap Langit dengan seksama. "Dia tidak bisa selalu bertahan bersanding bersama dengan langit, walau dia sangat menyukainya." Kaliamatnya melirih di akhir, berharap Langit tak dapat mendengarnya.
Tawanya nyaris menyembur, melihat bagaimana waktu tak pernah membuatnya berubah. Masih tetap menjadi Mega Jingga-nya yang manis dan menggemaskan. Sebelah tangannya terangkat, menepuk pucuk kepala gadis itu dengan lembut. "Langit tidak akan ingkar janji. Bukankah dia telah menepati salah satunya?"
Mega tersenyum menyebalkan. "Kapan langit menepati janjinya?"
Langit menarik tangannya yang masih menepuk kepala Mega pelan. Keningnya sedikit mengkerut menyadari tingkah menyebalkan Mega. Langit baru ingat, waktu mengubah Mega-nya menjadi menyebalkan dan keras kepala.
"Aku jadi Ketua OSIS karena kamu merengek ya..."
"Langit, anak IPA itu menyebalkan. Mereka lebih disayang kepala sekolah. Mereka selalu seenaknya sama anak IPS. Tadi aja mereka nabrak aku, minta maafnya sambil ngejek. Pokoknya kesel banget. Anak IPA juga selalu dipuji guru. Wali kelasku bilang sudah 25 tahun tidak ada Ketua OSIS dari anak IPS. Langit maukan mendaftarkan diri? Langit sama Mega kan sama dari IPS. Meski Mega lebih tua, tapi karena itu Langit harus mau. Mega... ."
Mega membekap mulut langit dengan kedua tangannya, menghentikan Langit yang tengah meniru apa yang telah dia katakan. "Langit gak boleh ngejek Mega kaya gitu. Mega inget kok, tadi Cuma bercanda. Langit jangan baper ya?" Mega berbisik dalam jarak yang sangat dekat, wajah mereka hampir menempel. Langit bisa melihat bayangannya sendiri di dalam kedua bola mata Mega.
"Langit ngertikan?" Langit mengangguk dengan cepat, seolah terhipnotis. Dengan pelan Mega melepaskan tangannya. Kembali duduk di tempatnya semula.
"Jadi sekarang Langit tidak boleh meninggalkan Mega, entah itu jingga atau tidak. Langit tidak di izinkan ingkar." Mega mengulurkan jari kelingkingnya, yang langsung disambut Langit dengan senyum menawannya.
Jari kelingking mereka saling terjalin. Matahari telah sepenuhnya kembali keperaduan. Langit dan Mega berjalan bersama dalam temaran. Ini mungkin bukan senja terindahnya, karena esok, lusa, dan selamanya akan selalu menjadi senja terbaik dalam hidupnya. Cinta pertama yang akan menjadikannya cinta terakhir.
***
[24 Februari 2020]
1050 words
Sedikit kisah manis antara Langit dan Senja, dua hal yang sangat kusuka😊 semoga kamu pun menyukainya:')
Biru