"Zahra, sudah! Biar Joy dibantu sama yang lain!", teriak Bu Anita. "Cepat antar pesanan ini! Seharusnya 11 menit lalu pesanan ini sudah diantar supaya kesegarannya terjaga!". Dahi Bu Anita berkerut khawatir.
"Ah, mas Koko dan Ben kemana Bu? Kenapa harus saya?", tanya Zahra. Ben, Koko serta Joy adalah tiga pegawai bagian delivery.
" Zahra, apartemennya hanya sepuluh menit dari sini.Kamu tolong Ibu, ya?! Koko dan Ben belum kembali mengantar pesanan. Ya? Zahra?!"
Zahra kasihan melihat kekhawatiran Bu Anita manajer restorannya. Dan rasa kasihannya ternyata mengalahkan rasa takutnya bepergian ke tempat asing di malam hari.
"Baiklah, Ibu'
" Terima kasih, Zahra. Ibu catat bantuanmu ini.. cepat cepat",. Bu Anita memberikan kunci motor dan membantu memasangkan jaket dan helm dengan stiker 'glow in the dark' di kepala Zahra.
---------------------------------------------------------
Zahra memasuki lobi apartemen lewat pintu parkir. Di dinding samping lift karyawan tampak jam dinding yang besar menunjukkan waktu 11.11 malam.
Pintu lift terbuka. Zahra memasuki lift dan memencet tombol lantai 11.
Zahra kini berdiri di depan pintu apartemen no. 1111. Kedua tas makanan pesanan pemilik apartemen no.1111 itu terasa berat di kedua lengannya. Ya, pemilik apartemen itu memesan sebelas porsi bulgogi premium beserta saus istimewa Korea spesial buatan koki restauran tempat Zahra bekerja.
Zahra menghembuskan nafas berusaha sabar. Sedikit menyesali kenapa harus terjadi insiden tadi pada Joy. Ya, pekerjaan mengantar pesanan on-line jadi pindah kepadanya karena dahi Joy terbentur pintu dapur dengan keras saat Zahra masuk.
Padahal Zahra sudah meneriakkan kode di antara sesama karyawan restoran itu sebagai tanda akan ada karyawan dari ruang dining akan masuk membawa segala peralatan bekas tamu makan.
"Bagaimana aku memencet bel? ", pikir Zahra.
"Pemesan makanan ini tentu akan tersinggung kalau kutaruh di lantai pesanannya ini".
Mendadak terdengar bunyi mesin pintu yang ditekan kodenya dan pintu di depan Zahra terbuka ke arah dalam.
"Anyeong hasimnika, saya dari Ar**g Korean Restauran mengantar pesanannya ", Zahra memberikan salam pada seorang anak laki-laki kecil yang menghampirinya.
Anak itu memakai baju gamis berwarna putih dan peci di kepalanya.
Anak itu tidak menjawabnya hanya memberi kode mengajaknya masuk. "Tapi, Dek! ", seru Zahra memanggilnya tanpa beranjak.
Anak itu berhenti di tengah ruangan apartemen itu di sebelahnya nampak sebuah meja besar. Anak itu kembali memanggil Zahra dengan tangannya dan menunjuk meja itu. Pencahayaan apartemen itu tidak banyak.
Zahra akhirnya pun memasuki apartemen itu. "Assalamualaikum... ", bisik Zahra pelan. Kebiasaannya setiap mendatangi tempat baru.
Suasana di dalam dingin dan sangat sunyi. Langkah kaki Zahra menggema di dalam.
"Kemana Bunda, Dek?", tanya Zahra sambil meletakkan bungkusan pesanan di meja.
Perlahan terdengar suara pintu luar apartemen itu tertutup. Zahra melirik sambil tersenyum mengira akan menemukan Bunda anak itu.
Tapi Zahra tidak menemukan siapa pun di sana.
Anak itu hanya menggelengkan kepalanya. Kini dia menunjuk-nunjuk Zahra dan dua kursi yang ada di ujung-ujung meja itu. Meja yang biasanya untuk keluarga besar berjumlah delapan orang itu mempunyai tiga kursi.
"Apa Dek? Saya tidak faham. Makanan ini sudah dibayar, jadi selamat menikmati".
Zahra melambaikan tangannya dan membalikkan badannya. Tapi anak itu memukul-mukulkan sendoknya pada meja dengan keras.
"Eh? Kenapa?",Zahra diam. "Adek mau Kakak bantu membukakan untukmu". Tiba-tiba terpikir olehnya jika anak itu sudah lapar dan nampaknya sudah sangat lapar dan meminta bantuannya. " Baiklah, Kakak bantu siapkan makananmu ya Dek", ujar Zahra manis.
" Duduklah", pinta Zahra. Dan dengan cekatan Zahra menata seporsi Bulgogi dan side dishesnya untuk anak itu. Tapi anak itu memberikan kode empat pada Zahra.
Hal itu membuat Zahra heran. Anak itu menatap tajam ke arahnya. Dan sekilas Zahra seperti melihat mata anak itu berwarna hitam saja.
Zahra merasa bulu kuduknya berdiri. Zahra cepat-cepat menundukkan kepalanya. Menuangkan tiga porsi bulgogi lagi ke piring untuk anak itu.
"Ah, tentu saja. Anak sehat...Hati-hati makannya ya, dan jangan lupa berdoa sebelum makan ya Dek", ucap Zahra menutupi kengeriannya sambil tersenyum. Tapi dia tidak berani menatap kembali anak itu.
Anak itu tiba- tiba memiringkan kepalanya ke bawah wajah Zahra dan tersenyum lebar. Giginya tampak seperti taring semua dan kali ini Zahra melihat jelas mata anak itu memang hitam semua.
Jantung Zahra rasa dicengkeram dan kakinya terasa lemas. Zahra membaca doa dalam hati. Tapi lidahnya terasa kaku. Tangan Zahra mendingin.
Anak itu menyendokkan bulgogi ke mulutnya. Tiba-tiba dia kembali memberi kode pada Zahra. Menunjuk-nunjuk kursi di ujung meja seberangnya dan bungkus bulgogi yang masih terbungkus.
Udara dingin semakin terasa.
Zahra entah kenapa memahami langsung maksud anak itu. Dipindahkannya semua bulgogi yang masih dalam kemasan ke atas piring dan seperti tadi menata bersama side dishesnya di sisi meja yang ditunjuk anak itu.
"Sudah ya Dek, selamat makan", Zahra menjaga ritme jantungnya. Dikemasinya plastik dan kemasan kosong restaurannya dan menjadikan satu. Dia tak ingin meninggalkan yang kotor di meja makan dan juga tidak mau mencari tempat sampah di rumah itu. Diputuskannya akan membawa saja semua kemasan itu.
Tercium wangi kesturi kini. Zahra memberanikan hatinya. Dan berjalan menuju pintu keluar. Selangkah sebelum sampai pintu itu terbuka pelan. Wangi itu semakin kentara.
Zahra mempercepat langkahnya. Tepat sampai di pintu yang terbuka lebar itu, terdengar suara bisikan wanita di telinganya dan terasa hembusan nafasnya. "Kamu tidak mau makan bersama kami?", pertanyaan itu membuat Zahra membalik badannya setelah melewati pintu keluar dan melirik ke arah meja. Di ujung meja seberang anak itu Zahra melihat sesosok tubuh berbaju gamis merah dengan rambut panjang dan wajah seputih kapas tersenyum lebar ke arahnya dan tangannya melambai padanya.
Terasa tubuhnya terkunci dan tertarik untuk kembali memasuki apartemen itu.
Tetapi tiba-tiba pintu apartemen 1111 itu tertutup hampir mengenai wajah Zahra. Terdengar teriakan melengking dengan nada marah di dalam.
Zahra kembali membaca doa perlindungan. Terdengar suara kunci pintu kembali. Dan tiba-tiba lampu di depan apartemen 1111 itu mati. Zahra tiba-tiba merasa tubuhnya tidak kaku seperti tadi dan tanpa pikir panjang langsung berlari ke arah lift yang untungnya langsung terbuka.
Nafas Zahra memburu. "Ya Allah, hamba berlindung padaMu dari gangguan makhluk-makhlukMu.... ", doa Zahra.
Lift bergerak cepat ke bawah. Zahra pun sampai ke lantai dasar. Keluar dari lift dia bertemu bagian kebersihan apartemen itu.
" Pak, saya bisa titip buang sampah kemasan makanan ini? "
"Lho, tadi kemasan kosongnya disuruh bawa ya Mbak sama yang punya apartemen? Memang sekarang pemilik apartemen di sini agak pelit-pelit. Mereka terkena biaya tambahan kalau berat sampah mingguannya melebihi berat yang dibolehkan", jelas bapak petugas tanpa ditanya.
Zahra hanya menjawab sekenanya karena dia masih terguncang dengan apa yang baru dilihatnya, "Eh gitu ya Pak? Saya numpang duduk sebentar ya Pak, capek".
" Silahkan Mbak..Di lantai berapa tadi Mbak?", tanya bapak itu lagi.
"Sebelas, Pak", jawab Zahra pelan sambil menghela nafasnya.
" Ah, yang benar Mbak... "
"Loh, masak saya bohong Pak. Ga ada manfaatnya kan Pak", Zahra menjawab sambil tersenyum.
Bapak setengah baya itu tidak membalas ucapan Zahra Dia diam kali ini. Wajahnya kelihatan bingung.
"Saya kerja di apartemen ini sudah sepuluh tahun Mbak. Nasib saya saja yang tidak terlalu indah. Hahaha.. sepuluh tahun dari bagian kebun dipindahkan ke bagian kebersihan. Jadi saya tahu persis kalau apartemen ini ada lantai sepuluh dan lantai dua belas. Kami tidak punya lantai sebelas. Karena tidak ada tombol angka 11 di dinding lift karyawan. "
Zahra menatap Bapak itu. Bapak itu membalas tatapan Zahra. "Waktu kerja saya sudah berlalu, saya akan siap-siap pulang. Segeralah pulang Nak".
Bapak petugas kebersihan itu pun berdiri dari duduknya. Mengemasi semua peralatannya dan mendorong tong sampah besar di depannya meninggalkan Zahra yang masih terduduk diam.
"Tapi saya yakin tadi pencet tombol 11 Pak", ujar Zahra lirih walau Bapak petugas kebersihan itu sudah menjauh. Suara langkah Bapak itu dan roda tong sampahnya semakin menjauh.
Zahra teringat sesuatu. Diperiksanya kantong bagian atas jaketnya. Dikeluarkannya kertas bukti pemesanan dari mesin kasir.
Date/Time: 11.11.2020 / 11:11 PM
Order: Bulgogi 11 pax, extra souce
Delivered to: Apartment XI Floor 11 No. 1111
Payment: Credit Card
Zahra melepaskan nafas panjang. Jantungnya berdebar kencang. Tubuhnya kaku. Dia tidak berani bergerak. Baru disadarinya hanya dia sendiri yang ada di lobi apartemen itu.
Zahra merogoh kembali kantong jaketnya mencari ponselnya ingin menelfon Koko minta dijemput. Dan ditemukannya sebuah Al Qur'an kecil yang sering dibacanya. Zahra mencium Al Qur'an itu dan memencet nomor ponsel Koko.
TAMAT
Klik tanda like dan simbol hati ya. Terima kasih