Suatu malam yang dingin, diguyur oleh hujan deras bersamaan dengan kilat yang diikuti sahutan gemuruh dari kejauhan, Mentari tengah berkutat pada sebuah buku hariannya dibalik selimut hangat. Sesekali matanya akan terbelalak lalu tangannya asyik menulis beberapa bait lagu untuk kemudian disusul tatapan sayu atau gelengan kepala dan berakhir pada coretan-coretan di kertas lalu dibuang sembarangan ke lantai. Tangannya sibuk memainkan pulpen sementara imajinasinya melayang mengingat kembali kenangan bersama sahabatnya yang telah lama pulang.
Lintang. Gadis manis berambut lurus dengan warna hitam legam dan kulitnya yang sawo matang serta matanya yang bulat. Begitu ayu dengan senyum manis gigi gingsul yang kerap ia umbar pada siapa saja yang menyapa. Dikenal sebagai sosok yang ramah dan cerdas di bangku sekolah, bukan hal aneh jika banyak anak laki-laki begitu mengaguminya, jika banyak anak perempuan terlalu iri dengannya atau bahkan jika selalu dibandingkan dengan sahabatnya Mentari. Bukan seperti Lintang, Mentari adalah sosok anak yang tomboy senang bergaul dengan siapa saja, tetapi tak memiliki keanggunan yang dimiliki sahabat karibnya. Bagaikan langit dan bumi, terlalu jauh perbandingan mereka di mata orang-orang.
Menjadi sahabat dari kecil, mereka membuktikan bahwa perbedaan bukanlah alasan mereka untuk berpisah. Tak berada di kelas yang sama bukan berarti mereka tak sepemikiran. Kadang-kadang perdebatan kecil mewarnai pertemanan mereka yang langgeng selama lebih dari 12 tahun. Saking eratnya persahabtan dua remaja itu bahkan kerap dikira sebagai saudara kandung yang kemana-mana bersama. Tak sedikit yang merasa iri dengan pertemanan mereka, namun lebih banyak orang yang berharap mereka bisa bersama selamanya.
Harapan itu sangatlah naif. Tak ada yang abadi di dunia ini bukan? Setiap mereka yang bersama pasti akan berpisah juga. Setiap mereka yang hidup pasti akan mati juga. Dan kematian adalah batas yang kini memisahkan mereka berdua. Setiap istirahat, taman sekolah atau kantin akan menjadi tempat mereka bernyanyi bersama diiringi sebuah okulele kesayangan Mentari. Sebuah hadiah istimewa dari satu-satunya sahabat yang ia punya. Kini, tak akan ada seorangpun yang bisa melihat pemandangan itu lagi. Mentari lebih kerap duduk di kelas atau melamun di taman tanpa okulele kesayangannya yang sengaja ditinggal di rumah. Dipisahkan secara paksa oleh takdir yang begitu terasa tak adil bukanlah perkara yang mudah diterima. Mencoba mengikhlaskan seseorang yang mengisi hampir separuh hidupnya adalah hal yang nyaris mustahil.
Kini, Mentari sendirian. Sesekali air matanya tak terbendung saat rindunya tak pernah berujung untuk sahabatnya. Meninggalkan kota dan memulai hidup baru di sekolah baru juga bukanlah obat yang ampuh untuk dirinya. Setiap bulan, ditanggal yang sama dengan ulang tahun sahabatnya tercinta ia akan datang, mengunjungi pusara Lintang yang dulu begitu dekat dengannya.
“Halo, apa kabar? Aku kembali lagi Lintang. Semoga kau tidak bosan denganku,” ucapnya setiap kali ia datang. “Jangan marah, aku akan kembali lagi bulan depan, dengan ceritaku yang banyak. Kamu jangan bosan-bosan ya. Semoga disana kau juga punya sahabat yang baik seperti diriku. Aku pamit,” begitu juga ia setiap kali akan pulang.
Rindu. Sudah pasti Mentari rindu. Tapi ia tak punya kuasa melawan takdir dari Sang Pencipta. Untuk itulah, ia memutuskan untuk tetap hidup. Menceritakan setiap pengalamannya pada sahabatnya melalui buku harian yang dulu kerap ia buang di sudut kamar.
Masih teringat jelas saat hari dimana Lintang tiba-tiba menghilang. Tak pernah lagi berkabar, tak pernah datang ke sekolah, tak pernah bisa ditemui di rumah. Sesaat Mentari pernah begitu kesal karena Lintang tak memberi cerita apapun. Ia dibiarkan menunggu dan bertanya-tanya ada apa dengan Lintang. Belum genap rasa kesalnya hilang pada sang sahabat, sebuah kabar datang dari Lintang yang telah pergi jauh meninggalkannya. Sahabatnya tiada, Lintang tak mampu melawan kanker yang menggerogoti hatinya selama ini. Sebuah penyakit ganas yang baru diketahui belum genap sebulan yang lalu. Itulah saat Lintang tiba-tiba menghilang.
Marah. Mentari begitu marah hingga ia tak bisa mempercayai sedikitpun fakta yang ada. Tak percaya bahwa sahabat karibnya yang sedari kecil selalu bersama akhirnya pergi meninggalkannya. Tak percaya bahwa persahabatan lebih dari 12 tahun yang langgeng itu akhirnya berakhir dipisahkan kematian.
Pagi yang cerah, saat matahari belum sepenuhnya muncul ke permukaan, dan tetesan embun masih saling menyusul dari ujung dedaunan Mentari tampak berdiri di samping batu nisan sambil menggenggam sebuah okulele berwarna biru langit. Tampak pusara sahabatnya begitu bersih dan anggun diterpa sinar mentari pagi, rumputnya terpangkas rapi dan embun masih segar membasahi tanah orang mati itu. Ditaburkannya berbagai bunga warna-warni yang makin mempercantik pusara sahabatnya. Tak peduli tanah yang basah atau celananya yang akan kotor, Mentari duduk bersila disamping tempat sahabatnya. Dimainkannya okulele itu dengan luwes bersamaan syair lagu yang ia buat semalam.
Kawan kau kusayang Kawan kau kukenang S’lalu kurindukan, saat kita bersama Kini, kau jauh aku rindu Kau s’lalu dihatiku Ada saat jumpa, ada saat pisah Ada saat kita bersama Namun, tak kulupa, sebut namamu Dalam setiap doaku.
“Selamat Ulang Tahun Lintang,” dan lagu itupun berakhir.
Cerpen Karangan: Indar Widia Blog / Facebook: Indar Widiastuti Rahayu Nama: Indar Widia R Instagram: @widiaayu.idr silahkan ketuk DM jika ingin bertukar pikiran seputar menulis atau hal lainnya. diskusi sangat terbuka. terimakasih sudah membaca.