Baekhyun masih tertunduk.
Apa tidak ada yang bagus dari dirinya Dimata Ibunya?
"Hey.. Sudahlah.." Lala mengelus lengan Baekhyun.
"Kalau kamu terlalu lelah.
Kamu bisa pulang lebih dulu.."
"Ah tidak.
Aku akan selesaikan jam piketku.
Aku akan keliling dulu,Lala.."
Baekhyun tersenyum kecil lalu pergi menuju kamar kamar untuk cek periksa berkala pasien.
Lala hanya mengangkat bahu menyerah menyuruh Baekhyun pulang.
Baekhyun adalah temannya dari sejak kuliah kedokteran dulu.
"Apa dia masih belum mau pulang?"
Suster Nana menghampiri Lala.
Lala menggeleng.
"Kita tahu sendiri bagaimana keras kepalanya dia."
"Ya...Aku menyerah membujuknya pulang."
"Hhhh...Entah sampai kapan dia akan begini.
Apalagi tadi wanita itu datang lagi."
Lala memutar bola matanya lalu bergidik ngeri.
"Melihat dia lagi saja pasti bisa membuat orang sekitarnya lebih baik tidak berurusan dengannya."
"Seburuk itukah?"
"Hmhm." Lala mengiyakan.
"Kamu tahu kan?!Aku mengenal Baekhyun sejak kami satu kampus.
Memang wanita itu benar-benar memiliki aura gelap dan..yaa...aku lebih baik pergi menjauh kalau melihatnya dari ujung jalan."
"Apa kalian puas membicarakan ibuku?" 😒
Baekhyun berbicara tajam dari belakang Lala.
Lala langsung menutup mulutnya.
Membalik tubuhnya menghadap Baekhyun.
"Ah..Baek ...
Kamu sudah selesai jadwal visit?" 😅
"Lala!
Oh lebih tepatnya.
Kim Lala!
Bagaimana kamu bisa bergosip ditengah jam kerja seperti ini?
Kamu juga kan dokter spesialis disini.
Apa tidak ada kerjaan?"
"Eh Dokter Baekhyun,Dokter Lala..
Saya pergi dulu memeriksa persiapan makan malam."
Suster Nana langsung pergi bergegas sebelum mendengar Baekhyun meledak.
"Baekhyun."
Lala mengulam pipinya.
"Ya aku bergosip.
Lalu apa?
Wanita itu memang sudah keterlaluan!"
"Lala.
Urusan keluarga aku bukanlah urusanmu!"
Lala melipat tangannya di depannya.
"Ya..memang bukan urusanku.
Tapi kalau rekan kerjaku tidak kondusif suasana hatinya.
Maka akan jadi masalah untukku."
Baekhyun membuka mulutnya namun menahan untuk membantahnya.
"Aku..aku minta maaf.
Aku sungguh tidak profesional seperti ini."
Baekhyun kembali tertunduk.
Lala mendengus keras.
"Ini bukan salah kamu.
Wanita itu .."
"Lala! Dia itu ibuku!"
"Dia ibu tirimu!
Dia bukan wanita yang melahirkanmu."
"Tapi dia yang membiayai semua kebutuhan hidupku .."
"Ya tapi setelah kamu kerja sendiri sekarang dan menghasilkan uang sendiri.
Toh kamu sudah lepas dari uangnya."
"Lala.Bisakah kita berhenti membicarakan dia?
Kamu tahu bagaimana aku menghormatinya?
Dia wanita pilihan Ayahku."
"Dan kamu itu sahabat aku.
Kamu sedih mendengar semua ocehan dia tentang bodohnya kamu.
Padahal kamu selalu menjadi yang terbaik di kelas.
Ya...terbaik setelah aku sih.
Ehm ..lalu wanita itu juga selalu membicarakan ibumu juga...
Padahal..."
"Lala cukup.
Aku rasa jam kerjaku sudah habis.
Aku akan pulang."
Baekhyun berjalan berlalu meninggalkan Lala.
"Baekhyun?! Baekhyun!Kamu gila mau pulang?"
Suara Lala di belakangnya.
Baekhyun menggeleng keras melepaskan semua atribut dokternya.
Masuk ke ruangannya dan berganti pakaian.
Menghela nafas berat.
Lala hanya terlalu perduli padaku.
Tapi bukan hak dia menghakimi Ibu dan Mama.
Baekhyun merengkuh tasnya lalu keluar ruangan.
--------
Baekhyun berdiri di luar pekarangan taman.
Seorang anak perempuan berumur 6 tahun menghampiri dengan semangat.
"Kakak!"
Baekhyun tersenyum lebar.
"Ayo kita pulang."
"Kakak akan menginap di rumah?"
Baekhyun mengangguk.
"Ya.Kakak akan menginap di rumah malam ini.
Apa boleh Kakak menginap di rumah Maria?"
Maria tersenyum lebar.
"Boleh dong!
Sudah hampir sebulan Kakak tidak pulang.
Maria akan meminta Bibi memasak roti kesukaan Kakak."
"Ohya?
Bagaimana kabar Bibi Yun?"
"Bibi Yun?
Hmm.. Menurutku batuk Bibi Yun makin berat.
Aku tidak tahu kenapa.
Tenang saja ,Kak.
Bibi Yun pakai masker seperti Kakak suruh.
Bibi juga meminum obat yang Kakak beri setiap Minggu."
"Benarkah? Nanti biar Bibi Yun akan Kakak periksa.
Tapi masih ingat kata Kakak kan?!"
Maria mengangguk.
"Masih!
Jangan terlalu dekat Bibi kalau Bibi sedang atau setelah batuk.
Tetap pakai masker.
Dan cuci tangan selalu."
"Maria pintar!
Nanti akan Kakak belikan eskrim."
"Rasa Melon ya Kak!"
Baekhyun mengelus kepala Maria.
Mereka berjalan menuju mobil Baekhyun.
----------
"Bibi ...Bibi apa masih harus bekerja?
Aku rasa Bibi terlalu lelah.
Sudah berapa lama Bibi makin berat batuknya ini?"
Baekhyun menurunkan stetoskopnya ke lehernya setelah memeriksa Bibi Yun.
Bibi Yun menatap Baekhyun takut.
"Saya...ya sejak Tuan Baekhyun terakhir periksa saya.
Saya rasa batuk ini makin berat.
Uhukkk uhukk.."
Bibi Yun menutup mulutnya meskipun sudah memakai masker.
Baekhyun menatap Bibi Yun sedih.
"Tidak!Jangan Tuan!
Saya mohon.
Saya masih ingin bekerja disini.."
pinta Bibi Yun.
"Bi...Bibi sudah bekerja disini sejak saya kecil.
Bahkan kini mengurus Maria.
Bibi lihat disini sudah ada 10 asisten rumah tangga."
Bibi Yun menarik tangan Baekhyun memohon.
"Saya...saya tidak bisa Tuan.
Tuan tahu sendiri.
Pesan Ibunda Tuan.."
Baekhyun mengalihkan pandangannya.
"Ibu sudah tidak ada,Bibi."
"Tapi pesan Ibunda Tuan masih ada.
Bibi masih pegang surat dari Ibu Hana."
Baekhyun mengerjapkan matanya menahan airmata.
"Tapi Ibu sudah meninggal dunia,Bibi.
Dia tidak ada disini.."
Bibi Yun menggeleng.
"Nyonya Hana akan selalu ada disini.
Masih ada disini,Tuan!"
"Bi..Aku akan bicara pada Ayah agar membebaskan Bibi karena alasan kesehatan."
"Tidak!Kumohon Tuan Baekhyun!"
Bibi Yun berlutut memohon.
Baekhyun terhenti langkahnya berkata tegas.
"Aku akan tetap memberi Bibi uang meskipun Bibi tidak bekerja disini lagi.
Tenanglah.
Aku tahu bibi bekerja kenapa.
Aku sendiri yang akan antar Bibi pulang nanti.
Sekarang bersiaplah untuk pulang."
Baekhyun pergi dari kamar Bibi Yun.
Dia sudah harus membuat Bibi Yun berhenti bekerja karena radang paru-paru Bibi Yun makin parah.
---------
Seminggu kemudian.
Setelah membereskan semua barang.
Bibi Yun akhirnya keluar dari rumah.
Baekhyun mengantar Bibi Yun pulang ke rumahnya.
"Tuan Baekhyun.."
suara Bibi Yun.
"Ah Bi..Aku sudah bukan tuanmu lagi.
Panggil saja aku Baekhyun."😅
"Baiklah.Nak Baekhyun.."
Baekhyun menoleh sejenak.
Bibi Yun mengelus punggung Baekhyun.
"Nak..Bibi sayang ke Nak Baekhyun seperti anak bibi sendiri.
Nak Baekhyun tahu kan?"
"Ya Bi..."
"Bibi cuma mau cerita.
Dulu Nyonya Hana pas melahirkan Baekhyun.
Bibi yang menemani.
Tuan Byun masih bekerja.
Tidak mendapatkan izin menemani Ibumu.
Ohya.
Bibi mengenal Ibumu karena Ibu Nyonya Hana adalah teman Ibu Bibi.
Nyonya Hana bertemu Ayahmu saat bekerja di perusahaan yang sama.
Kamu tahu sendiri.
Ayahmu dulu hanya buruh biasa.
Nah Ibu Bibi yang menyuruh Bibi untuk menemani Nyonya Hana.
Nyonya Hana seperti Kakak bagi Bibi.
Kamu percaya Baekhyun?"
Baekhyun hanya tersenyum kecil mengangguk.
Bibi Yun belum pernah cerita segamblang ini.
Selain karena Baekhyun sibuk belajar di kamar.
Baekhyun enggan bicara tentang Ibunya.
"Bibi sedih sekali saat Nyonya Hana meninggal.
Tubuhnya drop sesaat setelah melahirkan."
Pegangan Baekhyun pada kemudi mobil mengencang.
Dia tidak pernah jelas tahu bagaimana Ibunya meninggal.
Baekhyun hanya tahu hidup tanpa Ibu kandungnya bertahun-tahun.
Karena pada usia 6 tahun,Ayahnya menikah lagi dengan pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
Bibi Yun mendeham berpikir sejenak.
"Ayahmu shock.
Ibumu tidak juga menyadarkan diri.
Hingga akhirnya tubuh Ibumu menyerah karena pendarahannya tidak membaik sejak melahirkan."
"Oh .." suara Baekhyun singkat mencoba menanggapi.
Karena Baekhyun tahu pasti itulah sebabnya Ayahnya membencinya.
Mengabaikan bicara dengannya.
Hanya bicara seperlunya saja.
Bibi Yun mengelus lengan Baekhyun.
"Soal Ibu tirimu.."
Baekhyun tertawa canggung.
"Ah..itu.."
"Tolong maafkan Nyonya Hyemi.
Dia hanya terlalu mencintai Ayahmu.
Ayahmu masih mengungkit Ibumu.
Nama Nyonya Hana masih selalu ada di hati Ayahmu"
"Ya..aku tahu."
Tapi lupa sepertinya pada namaku.
Baekhyun menahan dirinya menambahkan omongannya.
"Bibi cuma mau bilang.
Kadang Nyonya Hyemi menangis memikirkan dirimu Baekhyun."
"Aku?"
"Ya."
"Ibu?mikirin aku hingga menangis?
Haha...bahkan aku tidak pernah disapa dengan manis olehnya."
"Ya memang awalnya dia tidak menyukaimu.
Makin lama dia menyayangimu seperti anaknya sendiri.
Kamu tahu?
Nyonya Hyemi dan Nyonya Hana dulunya berteman?"
"Apa?"
"Ya..Mereka teman 1 sekolah.
Nyonya Hyemi awalnya kesal dan membenci Ibumu karena setelah Ayah dan Ibumu menikah.
Dia baru mengenal Ayahmu.
Dan terpesona.
Tapi tidak mau merusak pernikahan Ibumu.
Setelah kabar kematian Ibumu beredar.
Nyonya Hyemi pun sedih.
Dia melihatmu di pemakaman Ibumu.
Dia memikirkanmu.
Bagaimana Baekhyun?
Siapa yang akan mengurusnya.
Setelah akhirnya dapat berhubungan dengan Ayahmu.
Nyonya Hyemi akhirnya menikah dengan Ayahmu.
Nyonya Hyemi juga yang mengurus semua urusan keperluan sekolah kamu."
"Ya soal itu.
Aku tahu,Bi."
"Ya..Kamu lihat sendiri kan?
Nyonya Hyemi memang terlihat tidak menyukaimu.
Bicara tajam sinis dan terkesan tidak menyukaimu.
Tapi dia selalu khawatir.
Dia selalu cerita resahnya pada Bibi.
'Apa Baekhyun akan mau menerima aku?
Ah tidak.Jangan!
Biar dia mencintai Ibunya saja!
'Apa Baekhyun bisa tahan dengan pelajaran di sekolah kedokteran?'
'Ya!pasti Baekhyun bisa!'
Nyonya Hyemi selalu mencari cara mendorong mu agar berusaha keras bukan?"
Baekhyun mengangguk mengingat semua perkataan Ibu tirinya.
Bahkan beberapa hari lalu Ibu tirinya ke Rumah sakit hanya untuk mengatakan
"Apa yang dibanggakan dari menjadi seorang dokter?
Aku punya perusahaan.
Apa kamu tidak mau punya perusahaan sendiri?
ya kalaupun di kedokteran.
Apakah kamu bisa mendirikan rumah sakit sendiri yang jadi kebanggaan kota?
Ah... mendapatkan nilai terbaik di kelas saja susah!
bagaimana bisa jadi yang terbaik di kota ini?!"
Baekhyun hanya berputar mengingat semua perkataan Ibu tirinya selama ini.
-----------
Beberapa hari kemudian.
Baekhyun menjalani hari seperti biasa.
Hanya saja kini hatinya lebih lega.
Berdamai dengan keadaan.
Ibu,Ayah,dan Mama.
Sekarang fokusnya hanyalah mencari kekasih.
Karena pesan Ibunya kepada Bibi Yun di surat terakhirnya menyebutkan.
Baekhyun harus menikah di usia 28.
Dan kini usianya sudah 27.
Menuju deadline batas untuk menikah dari mendiang Ibunya.
Baekhyun keluar dari kamar pasien.
Melihat Lala membelakanginya sedang menatap clipboard serius.
"Hey!!" Baekhyun menepuk pundak Lala.
"Hm?Apa Dokter Baekhyun Ganteng?"
Lala santai menyapa dengan mata masih di clipboard.
"Apa kamu sudah makan siang?
Kita makan siang yuk?"
ajak Baekhyun.
Lala mengangkat wajahnya akhirnya.
"Apa ini permintaan maafmu karena mengabaikan aku beberapa hari terakhir ini?"
"Hey Lala.. sudahlah.
bukankah biasa sebagai sesama teman kadang itu cuek dan illfill.
Nah..aku itu seperti itu kemarin!"
Lala meninju lengan Baekhyun.
"Apa kata kamu?
Kamu illfill sama aku?
Hey!
Siapa yang berkali-kali aku perkenalkan dengan kerabatku untuk kamu?
Berakhir semua dengan mereka illfill ke kamu!
Ya karena kamu makan sambil bicara lah!
Kamu menaikkan kakimu saat makan lah!
Kamu menguap tanpa ditutup mulutnya!
Jadi katakan padaku siapa yang lebih menjijikkan?!"
Baekhyun terkekeh tertawa geli.
"Ya ya ya...woah..Kamu mengingat semuanya?
Hebat!"
Lala kini mencubit pinggang Baekhyun.
"Ih!Pantesan ga pernah punya pacar kamu!
Semua kamu tolak begitu!
Cari yang kaya gimana sih?"
Baekhyun menatap atap.
"Aku mau yang seperti kamu!"
Baekhyun menunjuk Lala.
"Hahaha..."
Lala kini memukul bahu Baekhyun.
"Ih!bicara sembarangan!
Aku tidak akan mau jadi pacar kamu!"
Baekhyun mengangkat tangannya menyerah.
"Baiklah baiklah!
Kalau begitu bantu aku mencari pacar.
Aku bingung harus mulai darimana.."
Drrtt Drrttt..
Suara getaran ponsel Baekhyun berbunyi pelan.
Baekhyun mengeluarkan ponselnya dari kantong.
Terpampang barisan notifikasi di layar ponselnya.
*Na ri ; Dokter.Apa Dokter sudah makan?Biar aku kirim makanan ya.
*Yunji ; Dokter Baekhyun.Aku akan datang untuk kontrol nanti dengan dokter.Apa dokter mau dibawakan sesuatu?
*Yejin ; Dokter.Jadwalku malam ini ya konsultasi.
Aku akan datang nanti bawakan makanan kesukaan Dokter!
Lala menggelengkan kepalanya mendecak membaca barisan notifikasi di layar ponseln Baekhyun.
"Ck ck ck...Itu semua pacar?"
Baekhyun menjitak dahi Lala.
"Jangan bicara sembarangan!
Mereka semua pasienku!
Aku profesional! Tidak akan terbawa perasaan!"
"Hmm Baek.Apa Mereka cantik?"
"Ya.mereka cantik cantik!"
"Astaga...jadi pacar kamu berapa?
Semua pasien kamu itu pacar kamu?"
"Ih!Lala!"
"Ya kata kamu kalau pacar kamu itu pasti cantik.
Lihatlah kamu sendiri yang bilang mereka semua cantik!
jadi kamu panggil pacar kamu
Cantik 1
Cantik 2
Cantik 3.."
Lala langsung kabur lari meninggalkan Baekhyun yang mengejar dibelakang..
Ya..Dia Baekhyun.
Temanku yang juga seorang dokter sama sepertiku.
Aku cinta padanya?
Tidak .
Aku kagum padanya lebih tepatnya.
Kemarin dia cerita semua tentang Ibu,Ayah dan Ibu tirinya.
Dia menerima semua dan kini mulai membuka hati untuk mencari kekasih setelah bertahun-tahun menutup diri.
Ayo..adakah dari kalian yang ingin jadi kekasih Baekhyun?
*******Selesai*****