Perputaran waktu membuat manusia berjalan dinamis. Khususnya mencetak jejak kehidupan. Bersekolah, berkuliah, bekerja, dan berkeluarga. Terutama saat menginjak dunia perkuliahan. Circle yang membuat jati diri berubah 180 derajat terlepas dari apapun dan siapapun ia sebelumnya. Aku sebagai mahasiswa jurusan ilmu psikologi semester 8 kukuh dengan prinsip tersebut. Namun tak disangka kejadian itu akan datang.
“Bara, sini!” dengan serius pak Wahyu memanggilku. “Iya, Pak Dekan? Ada yang bisa saya bantu?” “Dia akan mulai kuliah lagi. Kemungkinan besok sudah masuk. Kamu kan sahabatnya, jadi, jaga dia baik-baik ya.” “B–baik, Pak!” seketika sekujur tubuhku lemas dan keluar kelas dengan menyeret kaki.
Nada Takeda. Blasteran Jepang-Indonesia, keponakan dari dekan fakultas psikologi. Sejak kecil, ia lama tinggal di Bogor dan beberapa waktu menetap di Tokyo. Kedua orangtuanya adalah founder salah satu industri farmasi terbesar se-Asia. Sekilas, Nada memiliki latar belakang yang luar biasa. Meskipun berwajah babyface, berkulit putih glowing, dan berbadan loli mirip artis TukTuk, tapi otaknya nyaring kalau diketuk. Gak ada otak!
Bzzt! Bzzt! Ponselku menerima chat. Aku yang tengah sibuk mengetik skripsi, membiarkan. Belum ada sepuluh detik, ponselku kembali bergetar. Masih mengabaikan karena sibuk menyelesaikan skripsi. Skripsi adalah prioritas utama dalam kelulusan.
Bzzt! Ay, ay, ay, I’m your little butterfly~ Dibiarkan berdering kenapa semakin melunjak. Rasanya ingin berkata kasar. KASAR! Ingin tahu siapa yang spam chat dan video call di tengah malam mesra satu ranjang bersama skripsi ini. Aku sedang mengetik di tahap bab pembahasan, bab krisisnya otak harus berpikir jernih. Tanpa melihat dari siapa, kujawab panggilan vidio. Akhirnya, aku menyesal begitu saja. Si jelmaan Sadako cebol itu kembali meneror.
“Selamat morning, Pejuang skripsi-kyun!” mengapa dia masih bersemangat di tengah malam. “Dahlah, tutup aja. Bye, Nad.” “H–hei, Tu–tunggu dulu! Jangan ditutup!” “To. The. Point.” Aku menegaskan. “Gitu dong. Jadi, kangen aku yang kawaii ini gak? Bagus gak bajuku?” lihatlah tampang tak berdosanya dengan cosplay Umaru itu sembari rebahan di kasurnya. “… G.” Tut! The call has ended.
Tanpa membaca chat, aku sudah tahu isinya apa. Kubiarkan tak terbaca. Setengah jam lagi mengerjakan skripsi kemudian tidur. Setelah aku bangun, hari sudah tak seindah dulu lagi. Malam ini terasa lebih melelahkan.
Pukul 08.30. Situasi aman terkendali. Tanpa ada si beban yang biasanya mengagetkanku di pintu masuk gerbang. Aku sujud syukur di tempat. Tak peduli juga satpam penjaga gerbang mengelus dada melihat kelakuanku. Tempat-tempat lainnya dari koridor hingga masuk kelas terpantau aman. Tidak ada jejak dari Nada. All clear.
Pukul 12.00. Kau pasti bercanda, Nad. Waktu makan siang tiba, tapi Nada belum datang ke kampus juga. Dia pun belum read obrolanku di aplikasi Lain. Mungkin pak Wahyu salah mengabarkan waktu kedatangannya. Apa boleh buat, aku juga tak terlalu peduli dia mau masuk kapan. Hal terpenting adalah suasana hening tanpanya dan hidup normal hingga saat ini. Bagus untuk menjaga mental health tetap fokus mengerjakan skripsi. Aku menyeringai. Namun hanya bertahan beberapa saat karena ada suara-suara mistis dari arah belakang yang begitu familiar.
“Konnichi wa, Bara-kyun…” panjang umur dia. Kemudian aku menengok ke belakang. “Tumben datang ter–lam–” “Hehehe. Kangen aku?” “…bat.”
Aku sudah tahu ini akan terjadi. Namun tak seperti ini juga cara kita saling sapa. Jauh-jauh pulang ke Kota Hujan dengan keadaan berkursi roda. Apa kedua kakimu masih jalan-jalan di Tokyo Tower? Dengan menghela napas berat, aku membantu mendorong kursi roda ke taman lingkar kampus. Tampaknya di kantin mulai berbisik-bisik menggosipkan Nada.
“Kenap–“ “Bogor tambah dingin aja ya?” ia menyelesaikan percakapan duluan. “Februari masih musim hujan. Siang aja udah mendung gini.” “Duh, kok tambah dingin ya?” ia menyilangkan kedua tangannya. “Ke kelas aja yuk.” jawabku. “Ih, kamu gak peka banget! Baka! Ya udah, ke kelas aja!” sambil menggembungkan kedua pipinya bak balon merah muda mini.
Kelaspun dimulai kembali. Tidak ada yang berubah darinya. Tetap antusias mendengarkan materi dari dosen. Selalu duduk di bangku paling depan, tepat menghadap meja dosen. Meskipun tetap saja ia tidak paham tentang isi mata kuliahnya. Namun, ia punya catatan yang rapih dalam buku binder. Segala hal yang tercatat di papan tulis atau layar projector ia catat dengan rapih dan diberi motif-motif gambar imut.
Kelaspun berakhir, tapi kami masih di kelas untuk bersantai. “Kali ini kupu-kupu?” tanyaku. “Iya. Imut gak?” “95 lah.” “Arigatou! Daisuki, Bara-kyun!” ia mengedip-ngedipkan kedua kelopak matanya. “Ngelonjak.”
“Mau tau gak kenapa aku gambar kupu-kupu?” “Eng–“ “Jadi, kupu-kupu tuh filosofi tentang kebebasan.” Ia melihat ke arah langit dari jendela. “Siapa yang minta cerita sih?!” ketusku. “Iya, betul dunia ini butuh yang namanya kebebasan supaya tiap manusia bisa menikmati hidupnya.” “WOY!” aku berusaha memotong. “Apalagi sistem negara ini demokrasi dan menjunjung tinggi pluralisme. Jadi, bubibabibu.” “Dahlah.” Aku pindah tempat duduk, menjauh 7 meter dari Nada. Juga, membiarkan ia mengoceh ke arah jendela. Sembari kucek ponselku, tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang jatuh. Bruk!
Nada! Jangan bercanda! Bangun!
Kejadian yang tak diinginkan terjadi lebih cepat. Vonis yang diberikan dokter 3 tahun lalu tentang penyakit kanker paru-paru Nada sudah masuk stadium 3A. Padahal ia pergi ke Tokyo sekaligus untuk menjalani pengobatan yang lebih memadai. Akan tetapi, siapa yang sangka hari ini ku melihatnya terkulai lemas di atas tandu rumah sakit. Infus dan alat pernapasan terpasang. Terlihat begitu lemahnya ia. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Diam terpaku hingga menuggu dokter memberi kepastian.
“Bara, dia putri kami yang kuat. Kamu sebagai sahabatnya juga harus kuat. Jangan khawatir.” Retno Takeda, ibunya Nada mengelus rambutku. Aku hanya bisa menunduk diselimuti kekhawatiran.
Dokterpun keluar dari ruang ICU, dengan cepat aku bertanya. Namun dokter hanya menggelengkan kepala. Aku kembali bertanya, tapi dialihkan oleh ibunya Nada. Seperti penyakitnya yang hanya boleh diketahui keluarganya saja. Padahal aku sahabatnya dari kecil dan bu Retno juga harusnya paham. Jadi, maksudnya apa? Sambil mengepal tangan hingga gemetar, aku berjalan keluar. Namun, bu Retno memanggilku. “Maaf sebelumnya kalau keadaan Nada harus kami rahasiakan.” aku mengangguk dan harus memahami situasinya. “Nada menitipkan kotak ke Ibu untuk diberikan ke Nak Bara. Tolong dibaca suratnya juga. Oh, besok masih kuliah, jadi, istirahat di rumah. Biar Ibu yang rawat Nada.”
Aku pulang ke rumah dan langsung membuka kotak tersebut. “PAKAI BAJU INI YA, BARA-KYUN! DIPAKE BESOK. INI BAKAL JADI HARI PALING BERHARGA SELAMA HIDUPKU. KEBEBASAN ADALAH SEGALANYA! GANBATTE!” Begitulah isi suratnya. Sial. Kenapa harus dicaplocks semua sih? Aku tertawa kecil. Namun, tawa itu berubah menjadi urat-urat di kepala. Ia menyuruhku memakai baju set cosplay Umaru dengan tudung jingganya.
Keesokan harinya setelah pulang kuliah. Aku berjalan membesuk Nada. Para dokter, perawat, pasien, dan bahkan orang yang tersasar di rumah sakit dengan suara kecil tertawa ke arahku. Awas saja kau, Nada!
Sesampainya di ruang inap Nada, beruntung bahwa ia telah siuman dari pingsannya kemarin. “Wah, ada Umaru! Tapi kok bewok?” “I–iya, ya maap kalau gitu.” tolong siapapun beri cecunguk ini boncabe level 99 ke dalam mulutnya, dalam hatiku. “Makasih ya. Hehe.” “Lupakan. Lebih penting dari itu, kamu sendiri gimana kabarnya?” “Jadi, kamu khawatir? Kemarin minta pinjemin sweater aja gak peka.” ia menggembungkan mukanya lagi. “Gomen. Aku gak peka. Sekarang, aku udah rela pakai cosplay lagi supaya kamu bisa lebih ceria berjuang menghadapi kanker paru-parumu itu. Supaya bisa menjalani hidup lebih sebebasmu dan tetap cantik seperti kupu-kupu.” aku tersipu malu. Sejenak hening dalam ruang inap. Terlihat, Nada menganga dan mengembunlah alat pernapasannya selama beberapa detik.
“Pfft..! Puahahahaha!” ia membuka alat pernapasannya. “Eh?! Lah kok dicopot?” mataku terbelalak. “Selamat! Kamu berhasil kena prank! Hiyahiyahiya!” Pletak! Kusentil dahinya agar otaknya normal. “Jelaskan!” “Aduduh… sakit tau. Iya, aku jelasin. Jadi, aku sebenarnya udah dinyatakan sembuh pas berobat selama di Tokyo. Bahkan, aku gak perlu kemo terus jadi botak mirip Saitama segala. Setelah sembuh, aku sesegera mungkin menghubungi kamu, tapi sayangnya kamu terlalu sibuk dan fokus mengerjakan skripsi. Aku ingin kamu lebih santai dan punya waktu luang untuk bersenang-senang. Jadi, saat kedatanganku di sini, aku menyiapkan drama ini. Bekerjasama dengan pak dokter dan ibuku tentunya. Jadi, maafkan aku juga.”
Seperti itu rupanya. Maksudnya hanya ingin membuatku terhibur dari kegelisahanku tentang skripsi. Aku jadi berubah pikiran. Otaknya ternyata tidak benar-benar kopong.
Selepas dari drama itu, aku tetap fokus untuk mengerjakan tugas akhir semesterku. Namun, kali ini aku juga menyisihkan waktu untuk refreshing bersama si beban ini. Terutama menghabiskan waktu hanya untuk menamatkan film anime Umaru. Ya ampun, sepertinya aku menjadi wibu setelah wisuda.
Cerpen Karangan: Joy Jr