Kringg… kringg.. Alarm yang kusetel semalam berbunyi, pertanda bahwa aku harus segera bangun dari mimpi indahku. Segera kuambil air wudhu untuk sholat subuh. Setelah selesai sholat, aku bergegas mandi. Seperti biasa setiap pagi aku selalu sarapan dengan Keluargaku. Karena menurut Ibuku sarapan itu hal wajib!! jika aku tidak sarapan pasti akan terjadi debat akbar di rumah kami hahaha.
Oh iyaa kenalin namaku Gea Cantika Rusli, aku biasa dipanggil Gea. Aku dilahirkan 14 tahun yang lalu sekarang duduk di bangku kelas 2 SMP. Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara, Adikku adalah anak yang super duper aktif namanya Zacky ia baru berusia tiga tahun. Ayahku bernama Rusli Raharjo dan nama Ibuku Risma.
“Haiii Geaa cantikkk!!” Teriak sesorang sambil menepuk pundakku ketika aku baru saja memasuki gerbang sekolah. Dan ternyata itu adalah sahabat karibku namanya Salma. Dia adalah gadis berkulit putih, bertubuh ramping, namun tak terlalu tinggi juga tak terlalu pendek, dengan mata yang agak sipit. “Haii Salma jelonggg..” Jawabku sambil memonyongkan bibir karena agak kesal saat Salma mengejutkanku. “Ihhh Gea masa Princes cantik tralalala gini dibilang jelek sii huh”. “Iya iyaa cantik haha abisnya sii ngagetin mulu kerjaannya”.
Teng… Teng… Bel sekolah berbunyi, karena kebetulan sekelas, Aku dan Salma masuk kelas dengan bergandeng tangan sambil berbincang dan tertawa tawa kecil.
Setelah jam demi jam pelajaran telah kita lalui hari ini, Aku tak langsung pulang melainkan ikut ke rumah Salma untuk mengerjakan tugas bersama. Kita pulang naik taksi online. “Gea kamu udah izin ibu kamu kan?” Tanya Salma “Udah kok barusan udah whatsapp” Jawabku sambil membetulkan ujung jilbabku.
“Assalamu’alaikum” ucapku dan Salma setelah sampai di depan pintu rumahnya. Di rumah Salma, aku disambut hangat oleh Tante Fatimah alias mamanya Salma. Papanya, yaitu Om Hary juga sangat baik. “Wa’alaikumsalam, eh Gea ya ayo masuk” Jawab tante Fatimah dengan senyum yang merekah. “Iya Tante makasih” Jawabku. “Kita ngerjainnya di kamarku aja yuk” ajak Salma sambil menaiki tangga “Oke ayook” Jawabku seraya mengacungkan jempol.
Setelah selesai mengerjakan tugas, aku dan Salma pergi ke taman belakang rumah, “Bentar Ge aku ambilin minum”. Beberapa saat kemudian Salma datang dengan membawa dua cangkir coklat panas di tangannya. “Makasih Princes Salma” Ucapku riang. “Gea kamu besok kesini lagi ya” Celetuk Salma dengan tatapan kosong. “Oh emm… iya oke” Jawabku sedikit heran.
Seperti janjiku kemarin, hari ini aku pergi ke rumah Salma. “Assalamu’alaikum Salma… Salma” Ucapku sambil mengetuk pintu. “Wa’alaikumsalam, ayo Gea masuk” Jawabnya lirih dengan senyum yang sepertinya dipaksakan.
Hari ini Salma mengajakku ke halaman belakang rumahnya seperti kemarin bahkan dengan coklat panas yang sama. “Emmm…sebenernya mau ngapain sih kamu ngajakin aku kesini lagi?” tanyaku berusaha memecah keheningan. “Aku mau ngomongin hal penting Ge” Jawabnya singkat. Tak biasa Salma bersikap dingin dan hening seperti ini, Salma yang aku kenal adalah Salma yang periang dan penghibur dengan candaan dan celotehannya yang mengocok perut. “Ngomongin apa sih Sal kok kayanya serius banget?” tanyaku.
“Aku mau pindah Ge..” Saat Salma belum selesai bicara… “Uhuk uhuk uhuk…” tiba-tiba aku tersedak coklat panas karena terkejut mendengarnya. “Eh Gea kenapa?” tanya Salma dengan raut wajah yang sedikit panik. “Gapapa kok cuman keselek hehe” Celetukku malu. “Maksudnya pindah gimana Sal?” tanyaku kembali ke pembicaraan yang tadi. “Hufttt… sebenernya aku harus pindah dari sini karena Papaku ditugaskan keluar Belanda, yaa sebenernya aku gamau pindah aku gamau jauh dari temen” termasuk kamu Gea…” Jawabnya memelas yang sontak membuatku terkejut dan tak percaya. “Jadi kita ga bisa ketemu lagi gitu?” tanyaku. “Gea kamu tenang aja walaupun kita jauh tapi aku gaakan lupain kamu kok, dan InsyaAllah aku akan sering sering jengukin kamu di Indoneisa” Jawabnya meyakinkan.
Bulan ini bulan Februari sebentar lagi aku ulang tahun, Sudah 2 tahun Salma di Belanda ia sudah berencana ke Indonesia demi merayakan hari spesialku. Mendengar hal itu aku sangat bahagia dan sudah tidak sabar menunggu kedatangn Salma. “Assalamu’alaikum Gea cantik aku udah di bandara nih” ucap Salma dari Ponsel selulerku “Wa’alaikumsalam Hallo Salma cantik, oke aku tunggu” Jawabku senang.
“Innalillahi bu’ kasihan sekali semoga korbannya bisa segera dievakuiasi ya” terdengar suara ayah yang sedang menonton TV bersama ibu, sontak aku langsung keluar dari kamar “Ada apa yah?”. “Itu Ge ada kecelakaan pesawat jatuh di Belanda” Jawab Ayah. Aku terdiam dan melihat nama dan nomor pesawat terbang di TV baik-baik. “Hah Astaghfirullah” ucapku tercengang, seketika itu tubuhku gemetar tak karuan. “Gea nak kamu kenapa?” tanya Ibuku. “It..Itu hiks.. pesawat.. yang… dit.. hiks.. pesawat yang ditumpangi Salma bu temennya Gea huuhuu”. Jawabku sambil menangis sesenggukan. “Ya Allah nak kamu yang sabar ya kita do’a semoga Allah melindungi Salma..” Sahut ibuku.
Dua hari sudah tragedi pesawat jatuh di Belanda berlalu, namun Salma tak kunjung ditemukan. Aku dan ibuku selalu mengikuti informasi terkini mengenai tragedi tersebut. Dan Alhamdulillah setelah tiga hari Salma ditemukan namun dalam kondisi sudah meninggal dunia. Om Hary dan Tante Fatimah berencana memakamkan Salma di Indonesia, Setelah sampai di Indoneaia, tangis mereka pun Pecah begitupun denganku, Ibuku berusaha menenangkan tante Fatimah.
Tiga bulan kulalui tanpa Salma sahabatku namun aku sadar, bahwa menangisi Salma tak akan membuatnya bahagia disana. Salma hanya butuh Do’a. Dan aku yakin Salma pasti bahagia jika melihatku bahagia pula. Gea Cantika dan Salma Nayara akan tetap sahabat meski tak bersama lagi. Do’a ku untukmu akan ada disetiap helaan nafasku.
The End
Cerpen Karangan: Noviana Nurcahyani Blog / Facebook: Novi Cahynii