Entah ada apa denganku, setiap pukul 11:11, aku selalu merasa ada yang menemaniku.
Malam jum'at. Raisa sendirian di rumahnya. Orang tuanya pergi ke luar kota karna tugas kantor.
Ia mengajak teman-temannya untuk mengadakan pesta di rumahnya karna ia merasa kesepian.
Dua sahabatnya menginap di rumahnya karna paksaan dari Raisa. kedua temannya itu bernama Bela dan Ranti.
Di halaman belakang rumah Raisa terdapat satu pohon besar yang sudah mati. yang terlihat hanya ranting kering tanpa daun.
Saat Ranti hendak minum di dapur, ia melihat pohon tersebut bergoyang, namun ia tak memikirkan apapun.
Raisa pun datang menyusul hendak membuat teh hangat.
"Sa, pohon itu kok serem ya. mana rimbun banget gitu." ujar Ranti sambil menunjuk ke arah pohon.
"Hah? rimbun?. pohon itu sudah mati Ran. kamu gak salah lihat kan?" timpal Raisa heran.
"Mati dari mana? kamunya yang gak lihat, pohon itu sangat rimbun Sa, tadi aku lihat banyak burung yang bersarang di sana. sepertinya itu burung gagak." Timpal Ranti.
"Bentar. kayaknya ada yang salah.
ini malam apa ya Ran?" tanya Raisa.
"Ini malam Jum'at Sa. kenapa emang?" sahut Ranti dengan santai.
"Baiknya kita ke depan sekarang." Raisa langsung menarik tangan Ranti dan membawanya ke depan.
"Kalian berdua kenapa?" tanya Bela bingung sembari menutup laptop yang ia mainkan.
"Gak apa-apa kok. Kalo gak ada kerjaan lagi, kita tidur ya." timpal Raisa dengan rasa takut.
Raisa tak ingin teman-temannya takut di rumah ia. Karna ia gak mau temannya pulang meninggalkannya sendirian.
Mereka bertiga tidur dalam satu ranjang. Raisa berada di tengah, di apit kedua temannya.
Di malam yang hening, gerimis hujan mulai terdengar. Gemuruh pun bersahutan.
Namun mereka bertiga tak peduli. bahkan tidur makin nyenyak.
Beberapa jam setelah hujan. Sinar terang nampak naik ke permukaan.
Tik.... Tik...
Suara detik jam terus berjalan. Namun suara itu berhenti saat tiba di pukul 11:11.
Angin berhembus kencang, listrik pun padam. bahkan hp mereka tak bisa menyala.
Raisa bangun karna kamarnya tiba-tiba gelap. Ia pun keluar kamar untuk mencari lilin.
Tapi ia kaget, saat melihat keluar jendela, ia melihat halaman rumahnya begitu terang. Ia pun mendekat dan membukakan sedikit jendela.
Cahaya itu langsung menembus masuk kedalam rumah. "Wah.. cahaya bulan, terang banget." gumam Raisa tersenyum melihat keindahan itu.
"Tunggu, kok ada yang aneh ya? warna cahayanya kok agak kebiruan? entah lah." Raisa kembali menutup pintu dan menuju dapur.
"Mana sih lilinnya.?" Raisa terus mencari lilin dengan mengandalkan cahaya bulan.
Mendengar suara burung berbunyi. Raisa menoleh keluar jendela, pandangannya langsung tertuju ke pohon di belakang rumahnya.
"Astaga!!" Raisa menutup kedua mulutnya saat melihat hal yang tak masuk akal.
Pohon mati itu berubah menjadi pohon besar yang rimbun, burung gagak dan burung hantu bersarang dan terus berbunyi dari pohon tersebut.
Bulan besar dan berwarna biru itu juga seakan bersembunyi di balik pohon, sinarnya terpancar dan hanya sebelah bentuk bulan yang terlihat.
Namun yang lebih mengagetkan lagi, di bawah pohon tiba-tiba ada ayunan yang menjuntai, dan bergerak sendiri.
Raisa gemetar, ia menyesal telah membuka jendela, karna ia sudah tak sanggup menutupnya.
Raisa merunduk di samping meja dapur. Namun seseorang datang menemuinya dan mengulurkan tangannya.
"Kau ketakutan? mari kubantu pergi dari sini."
Tanpa pikir panjang, dan tanpa berfikir siapa pria itu, Raisa langsung menerima bantuannya.
Namun Raisa malah dia ajak ke halaman belakang rumah oleh pria itu.
"Maaf tuan, kenapa kau mengajakku kemari? aku takut, aku ingin pergi ke kamarku." ujar Raisa memaksa melepaskan diri.
"Kamu tenang saja. aku mengajakmu kemari supaya kamu gak takut lagi. Ayo duduk di sini." Pria itu memaksa Raisa untuk duduk di ayunan tersebut.
Raisa hanya bisa menurut karna ia merasa takut.
Pria itu terus mendorong ayunan yang di naiki Raisa. makin lama makin cepat dan makin cepat. Sampai akhirnya Raisa terjatuh dan tersungkur ke tanah.
"Aw.. sakit.. Kamu terlalu kuat." ujar Raisa sambil mengelus lututnya yang sudah berdarah.
Betapa kagetnya Raisa, ketika ia menoleh ke belakang, Pria itu sudah berada di sampingnya.
Namun pria tampan itu berubah menyeramkan. Matanya menjadi merah dengan gigi taring panjang yang keluar dari mulutnya.
"Ah.. siapa kamu?? kamu.... ??" Raisa hendak berlari, namun kakinya sakit untuk bergerak. tapi ia tetap berusaha pergi.
Pria itu terus mengejarnya, jemari nya mengeluarkan kuku panjang yang hitam.
"Aneh, kenapa aku gak bisa masuk ke rumah? kenapa aku hanya mengelilingi pohon ini?" gumam Raisa sambil terengah-engah.
Tanah datar di bawah raisa duduk seakan berbunyi.
Kreaaaakkkk.....
Tanahnya sedikit terbuka. Raisa terus menatapinya karna penasaran.
Krakkk.. !!
Tiba-tiba ada tangan yang keluar dari tanah itu dan langsung menarik kaki Raisa.
"Ah.. apa ini.. Lepaskan!!" sungguh ketakutannya Raisa melihat jemari kotor bersimbah darah dengan kuku panjang yang tajam itu tengah menarik kakinya.
"Ahhh... Tolong!! Belaa..!! Rantii..! tolong aku.!!" Teriak Raisa dengan kencang.
Pria yang mengejar Raisa itu sudah berada di dekatnya. ini kesempatannya untuk membunuh Raisa selagi kakinya masih terjepit.
"Minta tolonglah. dan menjeritlah. karna gak akan ada yang mendengarmu. hehe." Taring pria itu menjulur tajam saat ia tertawa jahat.
Raisa makin ketakutan saat pria itu makin mendekatkan diri, dan ia mulai mencekam tangan Raisa.
"Ah... Tolong...!! tidak..! jangan!!
Tolong..!".teriak Raisa sekuat tenaga.
Suatu bayangan melintas dengan cepat, hingga tangan Raisa terlepas.
"Raisa.... Ada apa denganmu?"
Raisa membuka mata dengan nafas yang tak beraturan.
"Raisa, kenapa kau berteriak kayak gitu? kau mimpi buruk?" tanya Bela.
Raisa hanya diam sambil duduk memikirkan apa yang sudah terjadi.
*Astaga, aku hanya mimpi? aku masih di kasur?*
"Ayoo bangun.. Udah siang nih.." seru Ranti sambil beranjak dari tempat tidur.
"Guys.. kalian tolong bikinin sarapan ya. bentar lagi aku bangun." ujar Raisa pada temannya.
Setelah temannya keluar, Raisa kembali berpikir tentang mimpinya. "Astaga, tanganku kenapa lebam? apa ini bekas cengkraman pria itu?!
Raisa juga memeriksa kakinya. benar saja, kakinya juga terdapat luka dengan goresan dan bercak darah.
"Ini.... mimpi atau nyata sih? Kalau mimpi, kenapa kaki dan tanganku bisa luka? kalau bukan mimpi, kenapa aku tiba-tiba ada di tempat tidur.?"
Raisa langsung membuka laptopnya untuk mencari sebuah artikel.
# Artikel tentang "Bulan Biru".
^Bulan Biru atau Blue Moon jarang sekali terjadi, bisa saja 100 tahun sekali dan hanya berlangsung minimal 2 malam saja. Bulan biru berurukuran lebih besar dari bulan purnama pada umumnya, ia juga memancarkan sinar biru yang jarang kita lihat.^
^Blue Moon sering di kaitkan dengan hal Mistis, seperti bulan Hantu, atau bulan bagi dunia lain untuk menampakkan diri. Tak hanya mahluk tak kasat mata, konon Bulan Biru juga kadang di kaitkan dengan keberadaan manusia Vampir.^
^Jika Blue Moon terjadi, maka kita haruslah berhati-hati. karna kita sedang berada di tengah pintu dunia lain. Tak jarang manusia sering mengahalami hal aneh saat bulan biru muncul. Seperti mimpi yg seakan nyata. seperti berada di dunia lain. dll.^
^Puncak terjadinya hal menyeramkan, biasanya sering terjadi saat pukul 11:11.
Maka hati-hatilah.!!!^ #
Raisa langsung menutup laptopnya setelah membaca artikel tersebut. ia pun mulai percaya bahwa yang terjadi di mimpinya itu memang nyata.
"Ya, dia adalah Vampir.! tapi.. saat aku mau di gigit tadi, sepertinya ada bayangan yang menarik pria itu. apakah dia vampir atau setan?."
"Heii. siapa yg kau bilang setan?" tanya Bela yang tiba-tiba muncul.
"Ah enggak kok. aku baru saja buka sosmed. Ya udah, ayo sarapan."
~
Saat di meja makan. "Ranti, Bella. kalian bisa gak menginap lagi di sini. satu malam lagi aja. yaaa.. pliss.."
"Maaf Sa, tapi aku gak bisa. soalnya hari ini aku di ajak orang tuaku keluar kota." timpal Bela
"Aku juga gak bisa Sa, tadi sudah di telfon di suruh pulang. maaf ya." sambung Ranti.
"Iya gak apa-apa"
*Tamatlah riwayatku. mama sama papa baru pulang besok pula.* batin Raisa menciut.
~
Malam hari, Raisa sendirian. Ia menyalakan tv dengan suara besar. Ia sudah menyiapkan lampu lilin, senter, bahkan batre hp dan laptopnya sudah terisi full.
"Malam ini aku gak mau tidur, aku takut mimpi buruk lagi. moga aja gak hujan."
pukul 10 malam. Raisa masih menonton tv sambil bermain ponsel.
Wusshhhh....
Angin lewat menyapu rambutnya.
"Eh.. ada angin kah tadi?" gumamnya sambil menoleh kiri dan kanan.
Raisa makin menambah volume tv nya, ia juga menggunakan headset.
Bayangan hitam melintas di luar jendela. "Eh apa itu?" Raisa menuju jendela untuk memastikan kalau itu bukan maling.
"Eh, sinar bulannya gak warna biru?. apakah blue moon nya udah selesai. Sukurlah." Raisa bernafas lega.
Raisa pergi menghampiri setiap pintu dan jendela, ia harus memastikan bahwa semuanya terkunci rapat.
"Aku ngantuk.. tahan.. aku gak boleh tidur. atau aku gak akan selamat kali ini." Raisa kembali berbaring di sofa.
Jarum jam sudah menunjuk ke angka 11.
Lampu mulai kedap-kedip. namun tv tetap menyala.
"Tenang, jangan panik. Anggap saja tidak ada apa-apa." Raisa mencoba mengusir rasa takutnya.
Angin mulai meniup setiap tirai jendela, kedipan lampu makin cepat, seolah ada yg memainkan kontak lampunya.
Raisa mulai merinding. Hawa dingin mulai terasa dari belakangnya, membuat bulu kuduknya berdiri.
Jari jemari yang kotor dan pucat, serta kuku panjang hitam yang tajam keluar dari balik sofa yang di duduki Raisa.
Jari itu perlahan merayap menyentuh belakang Raisa dan naik ke lehernya.
*Astaga apa ini? aku merasakan.....*
Perlahan Raisa meraih pisau buah yang terletak di piring di atas meja didekatnya.
Kraakkkk......
Raisa langsung menoleh dan mencoba menusuk mahluk itu. Namun tidak ada apapun di belakangnya, pisau yang iya tusukkan menancap di atas sofa.
"Huh... huh... Ada apa tadi.. Aaaakkkhh.. !
Heii kalian.. siapapun kalian, dan dari manapun dunia kalian. pergilah dari sini... Jangan ganggu aku.!!" teriak Raisa dengan kuat.
Teng.... teng....
Jarum jam tertuju pada pukul 11:11
Seketika hening. Lampu mati. tv mati semua jadi gelap. Raisa meraih ponselnya untuk menyalakan lilin.
Namun saat lilin itu di nyalakan, tiba-tiba mati seakan ada yang meniupnya dari depan. dan raisa pun merasakan angin itu.
Itu terjadi berulang-ulang, hingga raisa kesal dan melempar lilin itu ke lantai.
"Aku masih punya hp. Ya.. aku gak takut, aku masih bisa di terangi oleh flash."
Kreeaaakkkk.....!
Suara pintu terbuka. Raisa kaget, ia langsung bersembunyi di balik sofa.
Tap... tap...
Suara langkah kaki masuk ke dalam rumahnya.
Raisa makin ketakutan. Ia sempat melihat bayangan hitam yang masuk itu.
*Apa yang harus aku lakukan. Apakah itu vampir? aku bisa mati malam ini. Tuhan tolonglah aku.* Raisa menutup mulutnya sambil menangis. ia mencoba menahan nafas, supaya tidak mudah di temukan.
Tes... Tes......
Sesuatu terjatuh menimpa kepala Raisa.
*Ada apa di kepalaku?* batinnya sambil meraba rambutnya.
Ada sesuatu yang menempel di tangannya, tapi ia tak dapat melihatnya dengan jelas karna gelap.
Raisa pun mencoba melihat ke atas..
"Aaakkhhhh..!!" teriak Raisa tanpa sadar. ia melihat sosok tergantung dengan kaki terikat dan kepala menjuntai kebawah.
Mahluk itu berbaju putih, namun berlumuran darah.
Darah dari tubuhnya mengucur berjatuhan melalui kepalanya, di iringi ribuan ulat belatung dan bau busuk yang menyengat.
Karna teriakan Raisa yang keras. Vampir itu pun tahu dengan keberadaannya. ia pun mengejar Raisa.
"Astaga. apa yang harus aku lakukan!." Raisa berlari menuju lantai dua rumahnya dengan menggunakan center di ponselnya.
Dalam suatu ruangan kosong, Raisa bersembunyi..Ia duduk diam dan menyimpan ponselnya di saku celana.
Ruangan itu tidak begitu gelap, karna ada cahaya bulan yang menyinari.
"Astaga, bulannya sudah berubah biru. bagaimana ini.?" Raisa duduk sambil memeluk lututnya dengan sangat ketakutan.
Sshhhha.....
Suara desah mampir sebentar di telinganya. "Hah? apa tadi?" Raisa mencengatkan kepalanya dan melihat seperti ada beberapa orang yang duduk di tiap sudut ruangan itu.
Tap... tap..
suara langkah kaki sudah berada di depan pintu.
Grakk...grakk...
Dorongan dari pintu semakin kuat, dan hendak terbuka.
*Gimana ini tuhan, matilah aku!* Raisa mencari cara supaya bisa kabur. ia melihat ada tangga yang menuju loteng. tanpa pikir panjang, ia pun langsung naik.
Di atas loteng itu, ia tak bisa berdiri karna jaraknya terlalu dekat dengan atap, ia hanya bisa jongkok dalam kegelapan. terkadang ia mendengar suara tikus yang lalu lalang.
Aura dingin mulai mendekat, ia seakan di temani para mahluk halus yang berkeliaran di tengah malam itu.
Raisa menghidupkan kembali Flash di ponselnya, supaya rasa takutnya berkurang.
*Aku gak bisa tinggal diam, jika vampir itu mengejarku kesini, aku harus bisa temukan jalan untuk lari.*
Raisa berusaha membuka atap gentengnya satu persatu dengan susah payah.
Dengan sangat pelan ia membuka atap tersebut, supaya suaranya tidak terdengar.
Namun suara langkah kaki mulai terdengar. Raisa pun mempercepat geraknya.
Braakkk.....
Pintu itu terbuka..
*Astaga, dia sudah ada di sini. tidak.. tidak...* Raisa makin berusaha dengan cepat untuk naik ke atap.
"Hm.. mau kemana kau gadis manis? Aku sengaja mengulur waktu untuk bermain denganmu, supaya kau lelah. Aku bisa saja gerak cepat dan langsung menangkapmu. heheh."
"Tidak... jangan...Kumohon.." Raisa berusaha keras naik ke atas, namun tubuhnya susah untuk menyelinap dari kayu-kayu atap tersebut.
Pria itu makin dekat. dan.....
Ia berhasil menggapai kaki Raisa yang masih terjuntai.
"Aakkh.. lepaskan kakiku.!!" Raisa menendang pria itu, namun cengkraman tangan pria itu terlalu kuat.
Raisa terus berusaha untuk tetap naik, walaupun kemungkinan selamat sangat kecil.
"Akkhh.. tidak..!!" Raisa menguras habis tenaga nya, hingga ia berhasil naik.
Kraak..
Celana tidur nya robek setengah karna pegangan kuat dari vampir itu. Kakinya pun gores akibat kuku tajam pria tersebut.
"Huh.. selamat.. " Raisa meraba luka gores di kakinya. Walaupun betisnya terlihat penuh darah namun ia lega karna ia belum di gigit.
"Selamat katamu? aku justru senang jika brada di atas begini. Menyerahlah wahai mangsaku. Manusia itu memang di takdirkan untuk menjadi makanan Vampir. hahaha"
"Tidak.. jangan.. Kumohon jangan bunuh aku. Masih banyak manusia yang lain. tapi tolong jangan aku." Raisa menyatukan tangannya untuk memohon.
"Manusia memang banyak. tapi cuma kamu yang beraura kuat. jika aku memangsamu, maka energiku akan bertambah berkali lipat.. haha.."
Pria itu tiba-tiba saja sudah berada di samping Raisa.
Raisa mendur perlahan, namun ia tak sadar bahwa ia sudah berada di ujung atap.
Praaakk.....!!
Raisa terjatuh dari ketinggian 10 meter.
*Matilah aku. selamat tinggal papa. mama* Raisa meneteskan air mata.
Namun, ia heran karna tak merasakan sakit. ia pun membuka mata. Ternyata ia di tangkap oleh seseorang dan membawanya kembali ke atas atap.
"Eh.. siapa kamu..??" Raisa langsung melepaskan diri.
"Tenang, aku gak jahat. berdirilah di sampingku." ujar pria tersebut.
"Gak.. kamu mungkin saja vampir. manusia biasa mana bisa terbang. kamu sama saja seperti dia.!" Raisa menunjuk ke arah vampir yang hendak membunuhnya.
"Heh. dia memang Vampir. tepatnya dia adalah adikku." sahut Pria itu mendekat pada Raisa.
Raisa bingung menatap kedua pria itu, ia berfikir bahwa nyawanya tengah di ambang kematian.
"Raisa, peganglah tanganku. dan berdirilah di belakangku. percayalah, aku akan melindungimu. Malam ini bukan malam yang baik. Sejak malam
kemarin sudah ratusan nyawa melayang sia-sia. Blue moon ini akan merenggut banyak nyawa."
Pria itu membungkuk dan mengulurkan tangan untuk membantu Raisa berdiri.
"Tidak! bagaimana aku bisa percaya begitu saja dengan orang yang baru kutemui. Apalagi dia bukanlah manusia." Ketus Raisa.
Pria yang berada di belakangnya sudah bosan melihat drama itu. Ia pun langsung mendekati Raisa dan mencekam lehernya.
"Kalian terlalu banyak bicara! aku sudah haus! bersiaplah gadis manis." Vampir itu hendak menancapkan gigi taringnya ke leher Raisa.
Namun pria yang baik itu langsung mencegahnya. ia mencekam tangan kakaknya itu. Namun dengan kekuatan yang tinggi, pria jahat itu mendorong adiknya hingga terpental ke tanah.
*Dia beneran baik??* Raisa mulai berfikir untuk percaya.
"Lepaskan aku mahluk jahat!!" Raisa memukul vampir jahat itu hingga ia terlepas.
Entah apa yang ada di pikiran Raisa, ia langsung terjun begitu saja menyusul pria baik yang sedang terkapar di tanah itu.
melihat Raisa hendak jatuh, pria baik itu mengulurkan tangannya, mengeluarkan kekuatan supaya Raisa jatuh ke tanah secara perlahan tanpa rasa sakit.
Begitu menyentuh tanah, Raisa langsung menghampiri pria itu.
"Kamu gak apa-apa? maafkan aku, ini semua salahku." Raisa mencoba membantu pria tersebut.
"Vampir tidak selemah itu Raisa.
Namaku Atashi. panggil saja Ata. hari sudah hampir pagi. kau hanya perlu bertahan sebentar lagi. karna kakakku gak akan membiarkan mangsanya hidup."
"Tapi, bagaimana caraku bertahan? aku takut sekali." ucap Raisa cemas.
"Malam kemarin kau bisa melewatinya, malam ini kau harus bisa! Aku akan melindungimu sampai matahari terbit. karna...."
"Karna apa?" tanya Raisa.
"Karna kami hanya bisa berkelana sebatas fajar menjelang. Kami para vampir tidak bisa terkena sinar matahari sedikitpun. jika kena, maka kami akan terbakar, lalu mati dan lenyap." jelas Ata
"Sudah dramanya?" tanya Vampir jahat itu yang tiba-tiba sudah berada di bawah.
"Kak, aku mohon jangan jadikan Raisa mangsamu. dia berhati murni. biarkan dia hidup bahagia." ujar Ata pada kakaknya.
"Heh.! jangan menghalangi keinginanku.! minggir!" pria itu langsung menyerang. ia menghantam raisa dengan kekuatannya tanpa menyentuh Raisa.
Raisa terpental beberapa meter, hingga ia terjatuh di tembok rumahnya.
Braak..!
"Aakkhh.. Sakit..." dada Raisa merasa sesak akibat terjatuh.
Ata langsung mendekatinya dan mencoba mengobatinya. namun kakaknya sudah berada di dekatnya.
mereka berduapun berkelahi.
sedangkan Raisa masih berusaha untuk bernafas.
Angin yang ber'aura dingin itu muncul lagi.
Wuuushhhhh......
Bulu kuduk Raisa merinding lebih hebat dari sebelumnya.
Ia menoleh ke jendela yang ada di belakangnya.
"Aaaaakkkhhh..." teriak Raisa saat melihat mahluk dengan wajah berantakan, matanya bolong seperti telah di congkel. Mulut yang berlumur darah beserta belatung yang ikut berjatuhan.
Mahluk itu mengulurkan tangan melalui jendela, ia menarik leher Raisa dengan kuat.
Cruussshhh...
Kuku tajam Mahluk itu menembus leher Raisa.
"Aaa.. eemmm... To....Long...!!" Raisa tak bisa lagi bicara akibat cekikkan yang terlalu kuat pada lehernya.
Ia berharap Atashi bisa menolongnya. Namun Ata pun sepertinya lagi dalam kesulitan melawan kakaknya yang kekuatannya lebih tinggi darinya.
"Ataa......" jerit Raisa dengan susah payah.
Mendengar namanya di sebut. Ata langsung menoleh pada Raisa.
"Raisa.??" Ata menghentikan perkelahiannya dan langsung menghampiri Raisa untuk menyelamatkannya.
Dengan sekali kepasan, iblis itu di buat punah oleh Ata.
"Ata, makasih banyak." ujar Raisa. keadaanya sudah melemah. darah dari lehernya sudah mengucur.
Ata seakan hilaf melihat darah itu, ia seakan kehilangan kesadaran karna tergiur untuk menghisapnya.
Matanyapun berubah jadi merah, gigi taring yang tajam mulai muncul. perlahan ia mendekat pada leher Raisa
*Bagus Adikku. hehe.* batin pria jahat itu.
Raisa sadar bahwa Ata sudah berubah, ia pun hanya pasrah. melawan pun sudah tak sanggup.
Raisa memegang pipi Ata dengan senyuman.
"Jika kau sudah berkorban untukku. maka akupun siap berkorban untukkmu. Terimakasih sudah menolongku. Aku senang bertemu denganmu."
Ucapan Raisa itu menyadarkan Ata. ia pun kembali normal.
"Astaga, Riasa kamu gak apa-apa.? maafkan aku.
Biar ku bantu menyembuhkanmu." Ata mengusapkan jarinya ke leher Raisa.
"Aakkhh... Sakit." rintih Raisa sambil memejamkan matanya.
"Bertahanlah. ini gak seberapa sakit."
Setelah Ata mengobatinya, Luka di leher Raisa kembali tertutup.
"Ata makasih banyak. aku sudah baikan sekarang.
Eh.... Lihat, matahari sudah bersinar. baiknya kau berlindung dalam rumahku sekarang." Raisa menarik tangan Ata.
Kakak Ata merasa geram karna Ata tidak jadi membunuh Raisa. "Dasar kau Bodoh!!"
Praakk..!!
Ata di buat terpental. pria jahat itu kembali mendekati Raisa, ia tak akan berhenti sebelum menghisap darah mangsanya.
"Kakak jangan!!" Ata menari kakaknya menjauh dari Raisa.
"Pergi saja kau bedeb*h!!." pria jahat tetap bersikeras mengejar Raisa.
"Raisa cepatlah berlindung! cari sumber matahari.
Kak, ayo kita pergi. ini sudah pagi." Ata terus menarik kakaknya.
Sinar matahari sudah mulai memancar ke segala penjuru halaman rumah Raisa.
Demi melindungi Raisa, Ata rela mengorbankan dirinya.
"Raisa.. selamat tinggal. Senang bertemu denganmu." Ata tersenyum, namun menteskan air mata.
"Tidakkkk... jangan Atashiiii....!!" teriak Raisa.
Ata melambaikan tangannya. kemudian ia menarik paksa kakaknya dan membawanya ke bawah sinar matahari.
"Aaakkkhhh.. apa yang kau lakukan bodoh.!" teriak kakak Ata.
"Aakkhhhh...!!" teriak mereka bersamaan.
Tubuh kedua vampir itu terbakar hingga jadi abu.
"Tidak... Hiks... Ataa...." Raisa berlari mendekati tumpukan abu itu.
Ia memungutnya dan menumpuknya ke dalam kain, lalu menguburnya di bawah pohon itu sambil menangis.
"Atashi. baru tadi malam kita bertemu. Tapi kau sudah mengorbankan nyawamu untukku. Hikss...
Kau vampir yang baik. Aku menunggumu bereinkarnasi, semoga kita bertemu lagi."
Raisa terus menatap makam datar itu. ia sungguh mengenang dan mengingat wajah Atashi dengan jelas.
Tin... tin...!!
Suara klakson mobil terdengar dari luar rumah.
Raisa pun terbangun dari tidurnya. ia masih berbaring di atas sofa, tv masih menyala, headset masih terpasang di telinganya.
"Mimpi lagi?" Raisa kembali memeriksa semua bekas kejadian dalam mimpinya. ternyata benar, semua itu nyata, tapi dalam mimpi.
Ya, mimpi tapi nyata. Semua bekas luka, celana baju tidur yang robek, goresan luka di kaki, dll. semua itu masih terlihat jelas.
Raisa menatap keluar, melihat makam di bawah pohon. "Atashi.. terimakasih." ucapnya tersenyum.
"Raisa... mama dan papa pulang."
Mendengar suara orang tuanya, dengan cepat Raisa mengganti baju supaya orang tuanya tidak tau dengan apa yang terjadi padanya.
Akhirnya Raisa berhasil melalui dua malam yang menyeramkan itu.
•••
T_A_M_A_T
Terimaksih, jangan lupa Like & komen.
jika berkenan, follow Author, dan baca juga cerpen atau novel author yang lainnya.
Thank you so much🥰🙏