Kehidupan Ratna yang terjerat kemiskinan membuatnya menerima lamaran seorang pemuda yang baru seminggu dikenalnya.
Ibunya dan kedua adik Ratna sehari_hari hanya mengandalkan keikhlasan orang yang berjiarah di sekitar makam dekat rumahnya.
Ayahnya kandungnya telah lama kabur dengan perempuan lain, untuk memenuhi kebutuhan sehari_ harinya. Ibunya dan kedua adiknya bekerja sebagai tukang
bersih_bersih disekitaran makam yang tak jauh dari tempat tinggalnya.
Hanya di gubug sumpek Ratna hidup dengan keluarganya.
Hidup yang serba kekurangan membuat Ratna hanya mengecam pendidikan sampai sekolah dasar.
Kini umurnya sudah menginjak 16 tahun.
Itulah sebabnya ibunya memaksa Ratna untuk menikah dengan pemuda yang bernama Yudi.
Baru seminggu Ratna mengenalnya mereka bertemu di pasar ketika itu Yudi tengah naik becak, melihat Ratna berjalan sendirian di pasar.
Disitulah Yudi mengajak berkenalan dan menawarkan Ratna untuk ikut bersamanya.
Melihat pria yang cukup tanpan dan baik. Akhirnya Ratna menyetujui perkenalan yang singkat itu.
Selama seminggu memang Yudi sangat perhatian pada keluarga Ratna, makanan sampai buah_buahan semua ia beli demi kebutuhan keluarga Ratna.
Kebaikan Yudi itulah yang membuat ibunya memaksa Ratna untuk menikah dengan Yudi tanpa bertanya apa pekerjaannya dan siapa keluarganya, tak pernah jadi masalah buat ibu Ratna karena Yudi selalu meringankan kebutuhan ekonomi mereka.
Ratna akhirnya bersedia menikah dengan Yudi karena tekanan ekonomi yang menjeratnya membuat Ratna tak berpikir panjang, yang jelas Yudi mampu meringankan beban hidupnya yang serba kekurangan.
Tak ada sanak saudara yang di bawa Yudi hanya seorang teman yang bernama Hasan yang menjadi wali pernikahan Ratna .
Sebulan sudah usia pernikahan mereka berjalan lancar, kehidupan Ratna mulai berubah kini Ratna bisa memperbaiki rumahnya sedikit demi sedikit semua karena kebaikan Yudi suaminya. Tanpa curiga dari mana atau pekerjaan apa yang dilakukan Yudhi. Ratna begitu percaya pada Yudi yang jelas kini ibu dan kedua adiknya tak perlu lagi bekerja panas_panasan untuk membersihkan makam.
Hingga suatu hari Ratna dikejutkan dengan tingkah Yudi yang terburu - buru meninggalkan rumah sambil menyelipkan pisau di kaos kakinya, Ratna sangat heran untuk apa suaminya membawa pisau? apa pekerjaannya mengharuskannya membawa pisau?
Tapi Ratna tak mau berpikir yang aneh_aneh tentang suaminya, ia yakin mungkin pisau itu Yudi gunakan untuk perlindungan kalau_ kalau ada orang jahat atau jambret
Malam semakin larut tapi Yudi belum juga kembali. Ratna begitu cemas menunggu kedatangan suaminya yang tak pernah telat pulang.
Tak berapa lama Yudi datang dengan
terburu- buru, tapi Yudi tak datang sendiri ada tiga orang lelaki yang berawakan besar bersamanya.
"Mah! cepat tutup pintunya!"
Yudi memerintah Ratna untuk menutup pintu tanpa menghiraukan Ratna yang berdiri kaku, Yudi langsung mengajak ketiga temannya masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
Ratna sungguh terkejut dengan sikap suaminya. Ada apa ini? apa yang dilakukan suaminya di kamarnya bersama ketiga temannya?
Ratnapun berusaha mengintip dari lubang kunci tapi tak terlihat jelas hanya percakapan suaminya dan ketiga temannya yang ia dengar, entah bahasa daerah mana suaminya berbicara, Ratna tak begitu paham dengan bahasa daerah hanya bahasa Jawa ia sedikit hapal.
Hampir sepuluh menit Ratna menunggu.
Akhirnya keluar juga suaminya dari kamar diikuti ketiga temannya, mereka sungguh tak sopan pada Ratna. Tak ada kata salam atau sekedar basa_basi padanya.
"Mah...."
"Iya pa."
"Sini lihat bapa bawa apa?"
Ratna sangat kaget melihat beberapa perhiasan ada di tempat tidurnya.
"Pah ..in..ini..apa?"
"Itu perhiasan emas, pakailah!"
"Tapi darimana pa? perhiasan ini."
"Sudahlah mah, jangan banyak tanya..."
Yudi langsung rebah di tempat tidurnya badannya terlihat lemas karena kelelahan hingga akhirnya tertidur.
Ratna masih penasaran dengan perhiasan yang dibawa suaminya, terlebih tak ada surat atau kwitansi apalah. Setahu Ratna jika membeli perhiasan harus disertai surat tapi perhiasan yang dibawa suaminya tak ada suratnya sama sekali.
Ratna mengambil satu kalung yang cukup lumayan gramnya jika ditimbang, senang sih hatinya....melihat perhiasan dengan bentuk dan model yang bagus tapi darimana suaminya mendapatkannya?
Memang selama ini suaminya tiap hari memberinya uang belanja dengan nominal yang berbeda jumlahnya kadang besar kadang kecil.
Sebenarnya apa pekerjaan suaminya?
Hari berganti hari bulan berganti bulan tahun demi tahun, Yudi begitu banyak memberi materi yang melimpah membuat Ratna lupa diri. Ia tak lagi memperdulikan darimana Yudi mendapatkan semua materi yang di berikan Yudhi, harta kekayaan membuatnya silau dan lupa diri.
Kini kehidupan Ratna semakin mewah rumahnya begitu besar di antara rumah yang lainnya, perhiasan mewah melekat di tubuhnya.
Tapi semua berubah ketika Ratna melahirkan bayi pertamanya.
Rumah Ratna malam itu digerebeg oleh sekumpulan Polisi yang menggeledah rumahnya dan menangkap suaminya. Hatinya sungguh hancur mendapati suaminya di borgol dan dibawa oleh beberapa Polisi. Yudhi begitu tenang ketika Polisi menangkapnya tak ada perlawanan sama sekali.
Ratna mencoba mencegah Polisi yang hendak membawa suaminya, ia menjerit sambil menggendong bayi yang masih berumur satu bulan.
"Pak! tolong lepaskan suamiku pak."
Ratna meronta dan menjerit memohon pada para Polisi untuk tak menangkap suaminya.
Para tetangga mulai berdatangan menyaksikan penangkapan Yudi, mereka tak menyangka ternyata Yudhi adalah seorang perampok toko emas.
Ratna mulai merasa risih dan malu melihat tetangga yang mulai menggosip tentang suaminya.
Semua perhiasan dan uang yang ada di laci lemarinya semua habis di bawa Polisi untuk dijadikan barang bukti.
Ia dan ibunya sangat malu dengan kejadian yang menimpanya malam itu. Ternyata harta yang diberikan Yudi adalah hasil rampokan.
Kini Yudi harus bertanggung jawab atas kelakuannya, dengan terpaksa ia meninggalkan istri dan anaknya yang baru saja lahir.
Hati Ratna begitu terpukul terlebih ibunya yang baru mengetahui bahwa selama ini menantunya ternyata seorang perampok.
Harta yang selama ini Yudi berikan ternyata semua barang haram.
Ratna menjerit. Ia menyesal mengapa dulu tak pernah memperdulikan dari mana materi yang ia dapatkan kemilau warna emas yang menyilaukan matanya membuat dirinya lupa diri.
Selama ini keluarganya makan uang haram yang diberikan suaminya.
Bagaimana Ratna sekarang menghidupi keluarganya? para Polisi telah menyita semua perhiasan dan uang milik Ratna.
Anaknya yang masih bayi yang tentunya membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Kini tak ada lagi suaminya entah berapa tahun hakim menentukan hukuman untuk suaminya.
Kesedihan Ratna semakin bertambah kala Polisi mulai menyita rumah yang ditinggalinya.
Salah seorang Polisi yang bernama Basyir sangat prihatin melihat kondisi yang dialami Ratna. Basyirpun meringankan beban Ratna dengan memberi sejumlah uang untuk mengontrak rumah.
Ratna kemudian pindah rumah dan mengontrak rumah yang kecil, selain karna malu dengan kelakuan suaminya. Ratna sering jadi bahan gosip para tetangganya yang hampir setiap hari menghinanya.
Sejak Ratna pindah rumah. Basyir selalu mengunjunginya hingga terjadi cinta terlarang diantara mereka. Lagi_lagi Ratna lupa diri bahwa ia masih berstatus istri Yudi begitu pula dengan Basyir yang telah memiliki istri keduanya dimabuk asmara yang terlarang.
Yudi suaminya sudah tak dipedulikan lagi hanya dua kali Ratna menengok Yudi di sel.
Dua bulan Ratna menjalani cinta terlarang bersama Basyir hingga suatu hari perselingkuhan mereka di ketahui istri syah Basyir.
Ratna habis_habisan di aniaya istri syah Basyir. Wajahnya memar dan hidungnya berdarah kena hantaman istri syah Basyir. Beruntung warga setempat berhasil menyelamatkan Ratna.
Cap Pelakor kini menjadi identitas Ratna warga setempat dan RT mengusir Ratna untuk pergi meninggalkan kampung nya karena bagi mereka Ratna akan membawa sial.
Basyirpun tak bisa berbuat banyak. Iapun habis dihakimi massa, sebagai oknum polisi yang mencoreng nama baik kepolisian Basyir kemudian diberi sangsi tegas.
Kini Ratna kembali luntang_ lantung dengan membawa keluarganya. Anaknya yang masih kecil harus ia urus belum lagi ibu dan kedua adiknya yang kini menjadi tanggung jawabnya.
Kemana kakinya melangkah. Hidupnya kini seperti seorang pengemis. Air mata penyesalan hanya membuat dirinya berkaca akibat terlalu silau harta dan cinta. Kini Ratna harus menebus semua dosa akibat perbuatannya sendiri.
Ternyata harta yang didapat dengan jalan salah telah membuat dirinya ingat pada kekuasaan Alloh.
Gusti Alloh telah menghukumnya....
Alloh memberi kita akal sehat untuk terus berusaha di jalan yang benar. Sebagai insan yang beriman kita harus selalu menjaga hati dan iman kita.
Panas yang terik membuat Ratna mulai kehausan. Bayi kecilnya mulai merengek karena lapar.
Di ujung jalan ada sebuah mesjid besar merekapun berjalan mendekati mesjid untuk berteduh.
Ratna dan keluarganya untuk sejenak beristirahat di teras Masjid. Bayinya terus merengek hingga seorang bapak tua mendekatinya.
"Neng itu kenapa anaknya nangis terus?"
"Ini pak, kami kelelahan, mungkin anak saya kecapean."
"Memangnya neng mau kemana?"
"Saya..."
Bibir Ratna sudah tak sanggup lagi berkata ia masih trauma atas kejadian yang menimpanya.
Bapa tua kemudian menawarkan minuman pada Ratna yang terlihat memprihatinkan.
Selain memberi minum, pak tua itu juga mengajak Ratna untuk tinggal di pondok pesantren miliknya.
Mendengat ajakan pak tua tentu saja Ratna sangat bersyukur ternyata masih ada orang baik yang mau menolongnya.
Ratna dan keluarganya disambut baik oleh penghuni Pondok pesantren.
Demi membalas kebaikan pak tua. tepatnya Rohman. Nama pak tua yang ternyata seorang Ustad.
Disana Ratna dan keluarganya membantu kegiatan pesantren. Tugas Ratna dan ibunya hanya memasak untuk mengurus makanan murid_murid di pondok itu selama belajar.
Ratna mulai belajar banyak tentang agama disana hatinya mulai damai. Ia tak hiraukan lagi urusan dunia.
Sesekali Ratna mulai mengunjungi suaminya Yudi yang masih dipenjara.
Untuk mencukupi kebutuhan ekonominya. Ratna dan ibunya berjualan donat untuk dititipkan di pasar terdekat.
Ratna mulai bisa menabung dari hasil penjualan donat ternyata uang halal begitu banyak membawa berkah.
Ratna kini bisa mengontrak rumah kecil di dekat pesatren.
Pa Rohman juga sesekali datang untuk menengok keadaan Ratna. kedua adiknya sengaja Ratna ditinggalkan di pondok pesantren untuk belajar ilmu Agama.
Waktu begitu cepat berlalu. Dari hasil berjualan donat Ratna mulai bisa menyetabilkan ekonominya.
Dua tahun kemudian...
Yudi telah bebas dari hukumannya. Memang tak begitu berat hukuman yang diterima Yudi karena ia tak pernah terlibat langsung dengan aksi pencurian. Ternyata usut punya usut. Ia hanya sopir untuk melancarkan temannya jika sedang beraksi. Tapi tetap saja Polisi mendakwanya karena telah membantu aksi perampokan.
Yudi telah bebas dan kembali pada Ratna.
Tapi yang terjadi sungguh di luar dugaan...
Yudi bukannya bertambah baik setelah keluar dari penjara tapi kelakuannya sudah mulai gila. Tiap hari kerjaan Yudi mabok_ mabok bersama temannya.
Yudi juga selalu memaksa Ratna untuk memberinya uang. Tentu saja Ratna sangat sedih melihat sikap suaminya yang keterlaluan. Selain mabuk dan judi. Yudi sering membeli wanita malam.
Pernah satu hari Ratna didatangi PSK yang menagih uang padanya karena Yudi semalam belum membayarnya. Rupanya PSK itu sengaja di suruh Yudi untuk menagih pada Ratna.
Penderitaan Ratna datang bertubi_tubi semenjak Yudi bebas dari penjara.
Penjara bukannya membuat Yudi berubah tapi malah membuat Yudi semakin terlena melakukan kemaksiatan.
Ratna dengan keras banting tulang mencari uang sementara suaminya Yudi terus saja memeras Ratna dengan memaksa meminta uang untuk membeli minuman keras.
Melihat kejadian yang dialami Ratna. Pak Rohman menyarankan untuk bercerai saja dengan Yudi. Jika Ratna sudah tak kuat lagi hidup berumah tangga dengan Yudi.
Tapi Ratna menolaknya. Ia akan selalu berdoa agar Yudi menjadi suami yang baik dan sayang pada keluarganya.
Malam itu seperti biasa Yudi pulang larut dengan mata merah mulutnya berbau alkohol.
"Mah! besok papah minta uang, mah."
"Untuk apalagi pah?"
"Ah! sudah jangan banyak omong! pokoknya siapin uang buat saya!"
Ratna tak meladeni ucapan Yudi yang pikirannya sedang terpengaruh alkohol.
Ratna kemudian membaringkan Yudi yang sempoyongan kerena teler.
Kemudian Ratna memegang kaki Yudi dan bersimpuh di kaki suaminya memohon dan berdoa agar suaminya berubah.
"Pakk, sampai kapan kamu merusak dirimu pak. Tobatlah pah, kita hidup di dunia hanya sementara."
Airmata mengucur di pipi Ratna. Ia tak habis pikir dengan perubahan suaminya. Hanya karena mengganggur dan tak berpenghasilan membuat Yudi merasa terpukul dan terpengaruh oleh ajakan teman_ temannya.
Melihat keadaan Ratna ibunya tak bisa berbuat banyak. Ia hanya menangis melihat nasib anaknya.
Setiap hari Ratna bekerja keras mencari nafkah dengan berjualan donat, tapi suaminya selalu menghabiskannya.
Anaknya yang berusia dua tahun sudah tak diperhatikan lagi oleh Yudi.
Sungguh malang nasib Ratna semakin hari badannya semakin kurus karena tekanan bathin yang dirasakannya.
Tapi Ratna tak lelah berdoa dan selalu bertahajud setiap malam demi menyelamatkan rumah tangganya, hanya dengan bersimpuh di hadapan Alloh. Itu jalan terbaik. Segala keluh kesahnya ia tumpahkan pada yang maha kuasa
Depresi berat yang dialami suaminya memicu Yudi untuk melakukan hal_hal yang membuat hidupnya semakin jauh dari yang maha kuasa.
Kelakuan suaminya yang semakin hari semakin menjadi membuat Ratna hampir setiap malam meratapi nasibnya.
Sampai kapan Tuhan akan menguji keteguhan imamnya. Ia tak pernah ragu akan keadilan Tuhan.
Malam itu seperti biasa Ratna mengerjakan aktivitasnya dengan membuat adonan sampai menjelang subuh .
Setiap hari ia membuat ratusan donat pesanan pabrik, hanya ibunya yang selalu ada dikala Ratna suka maupun duka .
Yudi yang baru tiba membuat onar sambil bicara ngawur tak jelas, Ia selalu marah- marah tak karuan kadang adonan donat yang baru Ratna buat tak luput menjadi sasaran amuk suaminya.
Sering kali Yudi melampiaskan kekesalannya pada Ratna dengan menginjak_nginjak adonan donat buatan Ratna.
"Ah! kerjaannu bikin donat melulu! suamimu pulang tak kau perhatikan! mentang_ mentang saya nganggur ya?"
Teriak Yudi sambil melempar beberapa donat ke wajah Ratna.
"Pak! sadar pak! kalau mamah gak bikin donat darimana kita makan!"
Yudi tak menghiraukan istrinya kerena pengaruh alkohol yang selalu di minumnya setiap malam.
"Sudah! besok papah nyari uang buat kamu! butuh berapa kamu hah! sejuta atau dua juta?"
Seperti biasa mulut Yudi selalu melantur bagi Ratna itu sudah biasa, sikap suaminya yang memang menyebalkan.
Paginya Ratna pergi dengan menyewa jasa Ojek online mengantar Setiap pesanan. Anaknya yang masih kecil selalu dijaga oleh ibunya.
Kehidupan Ratna yang pedih membuat sang ibu menyesal mempunyai menantu yang kejam seperti Yudi.
Siang harinya Ratna baru beres mengantar semua pesanan.
Dilihatnya Yudi masih tertidur. Ratna menatap wajah suaminya yang terlelap kadang ada rasa kasihan jika melihat suaminya karena di cap mantan Napi membuat Yudi sulit mencari pekerjaan.
Di usapnya kening Yudi tapi. Kok badannya panas? Yudi terlihat menggigil seluruh tubuhnya mendadak panas hanya kakinya saja yang dingin.
Ratna mulai cemas dengan keadaan suaminya .
"Pak....pak ..bangun pak, kok papah badannya panas."
Tapi Yudi tak menjawab bibirnya kebiru_ biruan dan matanya mulai menonjol keluar.
"Pak!"
Ratna berusaha membangunkan suaminya.
"Buu....bu ...kemari cepat!"
Ratna berteriak memanggil ibunya, tak lama ibunya datang dan langsung menghampiri Ratna yang berada di kamar.
Ratna terus berusaha membangunkan suaminya tapi Yudi tak meresponnya .
Tubuh Yudi yang tadinya panas justru berubah jadi dingin. Ratna tambah khawatir dengan keadaan suaminya. Ia kemudian berlari ke luar untuk meminta pertolongan tetangganya.
Para tetanggapun berdatangan menghampiri Ratna dan berusaha menolong Yudi untuk dibawa ke rumah sakit terdekat.
"Pak! tolong suamiku pak!"
Teriak Ratna pada pa Duki, tetangga yang bersebalahan dengan rumahnya.
Mereka kemudian membawa Yudi ke rumah sakit dengan memakai mobil milik pa Duki.
Memang pa Duki adalah seorang yang sangat baik ia selalu menolong tetangganya jika membutuhkan pertolongannya.
Beberapa saat kemudian tibalah Ratna di rumah sakit, seorang Perawat langsung menghampiri Ratna dan membawa Yudi ke ruang lGD.
Ratna tak kuasa ketika melihat suaminya dibawa masuk ke ruang IGD, Entah apa yang terjadi pada Yudi, tiba_tiba saja mulutnya berbusa ketika pa Duki membawanya ke rumah sakit.
Ratna terus menangisi suaminya walaupun Yudi selalu bersikap kasar tapi Ratna begitu menyayanginya.
Ratna menunggu dengan gelisah, namun Dokter belum juga memberinya kabar mengenai kondisi Yudi. Pak Duki berusaha menenangkan Ratna yang terus saja menangis.
"Sabar ya bu, semoga suami ibu, baik- baik saja."
"Iya pak, terima kasih, maaf saya jadi ngerepotin bapa."
"Gak apa-apa bu, lagian ibu kan tetangga saya, dengan siapa lagi kita saling tolong kalau bukan sama tetangga dekat kita."
Pak Duki terus saja menenangkan Ratna agar sabar, pa Duki memang sangat prihatin melihat kehidupan Ratna, sebagai seorang istri ia cukup sabar menghadapi suami kasar seperti Yudi.
Tak lama seorang Dokter menghampiri Ratna dan mengatakan bahwa Yudi keracunan, itulah mengapa mulut Yudi mengeluarkan busa karena Yudi mengkomsumsi pil tidur melebihi dosis. Rupanya Yudi berusaha bunuh diri. Kemudian dokterpun mempersilahkan Ratna untuk menemui Yudi.
Ratna sangat terpukul mendengar ucapan Dokter, bagaimana Yudi bisa senekad itu ingin mengakhiri hidupnya.
Ratna kemudian berlari menuju ruang IGD.
"Pa ...."
"Ma...maa...ma..afkan..pa..pa..ya ma ...."
Yudi berusaha bangun dari tempat tidurnya, ia merasa sangat bersalah pada Ratna. Selama ini Yudi selalu bersikap kasar pada Ratna karena tekanan depresi berat yang dialaminya.
"Iya pa, udah mama maafin kok, sekarang papa harus sembuh, ya."
Ratna berusaha menenangkan Yudi yang terus saja meracau, karena kondisinya belum stabil.
Diusapnya kening Yudi, ia tak sanggup jika harus kehilangan suaminya, manusia memang tak ada yang sempurna. Begitupun Yudi, sebagai seorang istri Ratna akan selalu setia menemani suaminya sampai akhir hayatnya.
"Pa, cepat sembuh ya, biar kita bisa kumpul lagi, mulai sekarang kita sama-sama berdoa pada yang kuasa pah."
"Iya mah, pa..pa..janji..tak..akan..nyakitin mama lagi ..."
"Iya pak, sudahlah papa sekarang istirahat dulu ya ...."
Ratna dengan lembut menyelimuti suaminya, matanya menetes di pipinya. Ujian demi ujian yang dihadapinya akan semakin kuat untuk Ratna mengarungi setiap baday yang menghadangnya
Dua hari Yudi dirawat dirumah sakit, tapi darimana Ratna mendapatkan uang untuk membayarnya, tapi Ratna sangat beruntung pa Duki mau meminjamkan uangnya. Pak Duki pun memberi keringanan pada Ratna, untuk mengembalikan uangnya dengan cara menyicil, itupun dengan kesanggupan Ratna seadanya yang dari hasil penjualan Donat.
Yudi sudah mulai pulih, tapi kakinya masih lemah jika bergerak tapi meski begitu Yudi mau membantu Ratna membuat donat, yang memang mata pencaharian satu-satunya yang Ratna kuasai.
Sebulan sudah berlalu. Yudi sembuh dan bisa berjalan normal kembali. Kini Yudi bisa membantu Ratna. Dengan sepeda ontel milik pa Duki, Yudi mengantar setiap pesanan donat pada para pelanggannya.
Sekarang Yudi telah berubah, ia juga tak melupakan kewajibannya pada yang kuasa yang telah memberinya seorang istri yang begitu mulia seperti Ratna.
Ekonomi merekapun mulai meningkat, hutangnya pada pa Duki terbayar lunas, kini Ratna mulai bisa menabung.
Pak Duki begitu senang melihat perubahan yang terjadi pada Yudi, iapun menawari Yudi pekerjaan sebagai Cleaning Service di kantornya.
Tentu saja Yudi dengan senang menerimanya, ternyata memang benar ucapan istrinya, manusia jangan pernah lelah untuk berdoa apalagi sampai berputus asa, kesabaran yang berbuah manis kini sedang dialami Ratna, kini hidupnya bahagia walaupun suaminya bekerja sebagai Cleaning Service, tapi lebih baik daripada ia harus makan uang haram yang dulu pernah Yudi berikan padanya.
Sekian dan terima kasih 🙏🙏
Ingat! jangan pernah lelah untuk berdoa.