.
Istriku... aku sedang sangat terpuruk. Aku benar- benar merasa seperti pecundang dalam rumah tangga kita.
Kukira tidak akan apa- apa menikah denganmu yang karirnya lebih bagus dariku. Denganmu yang menjadi atasanku di tempat kerja. Ku kira aku akan mampu mengatasinya.
Ternyata tak semudah itu istriku. Menjadi OB di tempat kerjamu seringkali melukai harga diriku di hadapanmu.
Ketika bos mu memarahiku hanya karna kesalahan kecil. Yang karna begitu banyaknya pekerjaan aku jadi tak sempat mengerjakan satu pekerjaan. Ketika itu aku hanya bisa menahan rasa maluku di hadapanmu istriku. Dan tanpa kamu bilang pun, aku tahu kamu pun marah aku di perlakukan seperti itu.
Setelah kejadian seperti itu biasanya diam- diam kamu menyemangatiku. Lalu aku tertawa sambil berkata ' anggap saja bos mu orang gila ' lalu kamupun menyetujui gagasanku itu. Akan tetapi tahukah kamu istriku? Orang gila itu benar- benar sukses membuatku merasa rendah di hadapanmu. Dan aku... memilih menelan semuanya sendiri.
Ketika di jam istirahat kamu lebih memilih makan bersamaku. Kadang aku merasa tidak nyaman istriku. Terutama saat rekan- rekan kerjamu menggunjingkanmu. Aku merasa marah. Akan tetapi aku pun menyadari bahwa akulah alasanmu dipergunjingkan. Sementara saat aku memintamu makan bersama rekan- rekanmu, kamu bilang ' sudah seharusnya aku makan bersama suamiku. '
Saat itu... aku sangat bahagia sekaligus merasa bersalah padamu.
Seringkali di sore hari ketika rekan- rekanmu telah pulang. Kamu membersihkan ruang kerjamu sendiri demi meringankan pekerjaanku. Saat itu aku akan langsung bergegas ke ruanganmu dan menyuruhmu untuk duduk saja menungguku bekerja.
Aku... tidak ingin membuatmu tampak rendah sepertiku. Seperti kukatakan. Biarlah aku menelannya sendirian.
Saat tiba waktunya gajian. Akupun begitu malu memberikan gajiku padamu istriku. Karna begitu jauh di bawahmu. Awalnya aku begitu takut kamu meremehkanku akan tetapi akhirnya aku menyadari bahwa perempuan yang membuatku jatuh hati ini begitu rendah hati.
Dengan bahagia kamu menerima gajiku kemudian mengambilnya sedikit untukmu dan sisanya kamu kembalikan padaku. Katamu... sebagiannya untukku dan sebagiannya untuk orang tuaku.
Terima kasih karna bersedia menerima sedikit dariku. Terima kasih karna membuatku menafkahimu selayaknya seorang suami. Meskipun aku tahu itu hanya formalitas demi menjaga harga diriku.
Dan tibalah hari itu. Saat bosmu memakiku di depan seluruh pegawai kantormu. Suaranya begitu keras membentakku. Dia membawaku ke setiap ruangan dan mengomeliku disana. Entah kenapa saat itu aku benar- benar merasa lelah istriku. Aku selalu merasa bosmu hanya mencari- cari kesalahan bahkan yang tak kulakukan.
Hari itu aku bahkan tak mampu menatap matamu karna malu. Aku hanya menunduk sambil memakan makan siangku bersamamu. Makanan itu bahkan terasa sulit tertelan olehku. Hingga beberapa kali kamu sampai menyuruhku minum.
Lalu kamu berkata ' berhentilah bila terasa terlalu berat.'
Dan kuputuskan berhenti istriku.
Hari pertama menjadi pengangguran kurasa masih biasa saja sayang. Semangatku untuk mencari pekerjaan barupun sangat menggebu- gebu.
Rutinitasku kini ialah bangun pagi. Memasak untuk bekalmu dan sarapan pagi kita. Lalu mengantarmu bekerja. Setelah itu aku berkeliling melamar pekerjaan dari satu pabrik ke pabrik lainnya.
Hari demi hari berlalu istriku. Aku hampir putus asa mencari pekerjaan. Tidak ada satupun panggilan interview.
Pandangan tetangga dan mulut mereka pun terasa seperti pisau yang di asah tiap jam. Begitu tajam.
Aku mulai mengerjakan semua pekerjaan rumah dari mulai beres- beres, memasak sampai mencuci baju. Hanya agar kamu bisa langsung beristirahat sepulang bekerja sayangku. Hanya ini caraku membantumu untuk sementara waktu.
Obrolan kita menjadi begitu singkat. Aku membiarkanmu sibuk dengan handphonemu. Meski kadang aku berharap kamu sekedar memberikan pelukan padaku, bertanya bagaimana hariku? Sudah makankah aku?
Tapi untuk meminta hal- hal kecil itu aku sama sekali tidak berani istriku. Aku terlanjur menganggap diriku sebagai beban untukmu.
Keadaan ini jauh lebih horor bagiku daripada setiap hari tertekan di tempat kerja dan seringkali direndahkan bosmu.
Sampai pada hari kemarin sore sepulangmu bekerja. Aku betul- betul ingin berkata padamu bahwa aku sangat- sangat merindukanmu. Sungguh. Aku ingin kamu memelukku sebentar saja istriku. Tolong ambil sedikit risauku dengan pelukanmu.
Tapi kamu terlalu fokus memandang noda pada bajumu karna kesalahanku saat mencucinya. Kemudian tidak sekali aku meminta maaf padamu. Kamu terus saja mengomeliku dan aku mendengarmu sambil berpura- pura sibuk dengan handphoneku.
Aku... hanya tak ingin memperlihatkan mataku yang memerah dan airmataku yang siap jatuh kapan saja padamu. Aku tetaplah seorang pria yang begitu ingin dihargai apalagi oleh istrinya sendiri.
Sayang... hatiku terasa sakit sekali. Sampai dalam tidurku kemarin malam. Airmataku tidak mau berhenti keluar.
Aku tidak menyalahkanmu istriku. Mungkin bukan hanya situasiku yang berat. Mungkin situasimu juga begitu. Aku tidak ingin situasi ini pada akhirnya menjadi racun dalam hubungan kita. Aku tidak ingin semakin sakit hati akan sikapmu. Pun tidak ingin kamu membenciku karna kesalahan- kesalahan kecilku.
Maka ijinkanlah aku pamit sementara waktu. Memberi ruang kebebasan untukmu. Dan belajar bangkit dari keterpurukanku. Aku akan secepatnya bangkit dengan usahaku tanpa menjadi bebanmu.
Sekali lagi ini bukan salahmu. Akulah yang gagal menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab.
Bisakah kamu menolongku selama kita berjauhan sayangku?
Tolong jangan lupa makan. Jika terlalu lelah maka belilah saja. Ingat kamu punya maag.
Tolong jangan telat menyediakan obat sakit kepala dan masuk angin. Karna untuk sementara aku tidak bisa menyiapkannya untukmu.
Tolong sediakan air minum di dekatmu sebelum kamu tidur. Aku tak lagi bisa mengambilkanmu air minum ketika kamu terbangun di tengah malam karna haus.
Dan tolong... berbahagialah.
Aku benar- benar mencintaimu... Istriku.