Hampir tiap hari Linka mendatangi sebuah museum seni di kotanya. Tempat itu bagaikan ladang penenang jiwa dan pikiran. Hanya di tempat itu saja dia bisa tenang dari kejamnya takdir waktu yang menimpanya.
Karena saking seringnya dia ke museum, petugas museum pun sudah hafal dengan wanita berumur 38 itu. Tentunya hal ini telah menumbuhkan sebuah rasa penasaran kenapa Linka begitu rajin mengunjungi museum itu.
Awalnya sih para petugas di museum tidak merasa aneh dengan kedatangan Linka yang sangat sering di situ karena mengingat Linka juga merupakan seorang seniman di kota itu. Namun karena kedatangan Linka di sana begitu rutin dan hampir tidak pernah absen, maka hal itu menjadi tanda tanya besar bagi para petugas museum.
Berbeda dengan pengunjung museum lainnya yang berkeliling ke berbagai tempat untuk melihat beberapa karya seni berharga, Linka justru terpacu dengan satu seni saja yaitu adalah patung seniman terhebat di kota itu. Ia adalah pelukis paling terkenal di negerinya karena gaya dan teknik melukisnya yang unik.
'Cuma sekadar patung, apa hebatnya?' itu yang ada dalam pikiran para petugas museum yang terheran-heran dengan Linka. Menurut mereka Linka terlalu berlebihan mengagumi suatu benda mati. Orang yang tidak mengenal seluk-beluk Linka pasti mengira jika Linka telah mengkeramatkan sebuah patung seni.
Terlihat aneh melihat Linka yang berdiri saling berhadapan dengan patung seni tersebut. Mereka saling menatap. Ingin sekali Linka memeluk patung tersebut. Hanya saja hal itu tidak bisa dilakukan karena adanya larangan pengunjung untuk memegang karya seni di museum.
Kadang Linka terlihat senyum-senyum sendiri menatap patung itu, kadang juga dia menangis di depan patung tersebut seolah-olah dirinya sedang mencurahkan isi hatinya pada patung seni.
Njir, curhat kok sama patung?
Hari demi hari, bulan demi bulan, akhirnya rasa penasaran salah satu petugas museum itu pun sudah mencapai puncaknya. Petugas itu dengan memberanikan diri mencoba mendekati Linka yang sedang terlihat murung di depan patung seni itu.
"Maaf mbak....." Kata petugas itu sambil menepuk pundak kanan Linka.
"Dia pelukis hebat kan? Dia adalah inspirasi dunia. Aku tidak tahu kenapa, tapi dia bisa menjadi lebih hebat dariku. Padahal aku adalah gurunya." Kata Linka dengan nada rendah.
"Sepertinya anda kenal dekat dengannya..."
"Siapa sih yang tidak kenal pelukis hebat bernama Eldraco Zi Renzu? Para pelukis dan pecinta lukisan pasti dan wajib mengenal dia."
"Jadi anda siapanya dia?"
"......."
Tiada jawaban dari Linka. Seolah-olah suaranya telah diredam oleh malaikat kematian yang sebentar lagi menjemput. Lalu dari mata kirinya terlihatlah air mata. Entah air mata kesedihan atau air mata kebahagiaan tak ada yang tahu karena sulit ditebak.
Karena terlihat mengkhawatirkan, petugas itu pun mengantarkan Linka ke rumah. Kebetulan rumahnya terletak tidak jauh dari sana.
***
Sengaja bangun lebih siang waktu itu Linka bermalas-malasan di atas kasurnya. Bahkan dia berani membolos kerja hanya karena malas. Ini memang bukan yang pertama kalinya sih, tapi jika hal seperti ini terulang terus, maka Linka akan dipecat.
Masih saja nyaman di atas kasur sambil berselimut. Linka terus terdiam dalam lamunannya. Ia terus terbayangi oleh sesuatu yang ia sesali.
Kira-kira pukul 12.00 siang, datanglah dua orang ke apartemen Linka yang terletak di lantai paling atas itu. Dua orang itu adalah rekan satu kantor di tempat kerja Linka. Kedatangan mereka ke situ tak lain atas perintah dari bos mereka yang ingin Linka kerja hari itu.
Merasa aneh karena pintu seperti sengaja dibuka agak lebar, mereka berdua pun bergegas masuk ke dalam. Keadaan di dalam begitu berantakan. Terdapat barang-barang yang berserakan di mana-mana. Tentu terlihat aneh apartemen seorang wanita pelukis begitu berantakan, padahal semua karya seninya sangat rapi digarap.
"Lagi-lagi membolos. Kau mau dipecat?!" Kata Marsinah teman sekantor Linka.
"Bos menyuruh kami menjemputmu ke tempat kerja. Ayo berangkat!" Kata Jubaedah anak paling muda di antara mereka bertiga.
"Kenapa kalian repot-repot datang ke mari hanya untuk membujukku ke kantor? Percuma juga berangkat jika tiga jam dari sekarang kantor akan tutup." Jawab Linka dengan nada lesu.
"Iya juga ya... Ngapain juga bos menyuruh kami untuk membujukmu ke kantor?" Kata Jubaedah dengan herannya.
"Setidaknya kau menghargai usaha bos yang masih ingin kamu bekerja di tempatnya! Kau ini kan anak emas bos, jadi jangan kecewakan bos dengan sikapmu ini!!" Kata Marsinah dengan nada tegas.
"Eh yang dikatakan Marsinah itu ada benarnya juga loh. Kau ini paling diistimewakan oleh bos karena kerjamu yang bagus. Kalau karyawan yang lain berani membolos sehari saja pasti akan dipecat. Tapi kamu tidak, dan bos masih sabar padamu."
"Aku tidak peduli mau dipecat atau tidak. Aku mulai bosan dengan alur cerita ini." Jawab Linka dengan nada putus asa.
"Hilih! Pasti ini gara-gara dia ya? Ingat Lin, dia sudah meninggal. Kau harus relakan dia pergi. Move on woi!!!" Kata Marsinah yang mencoba membuat sahabatnya sadar.
"Dia memang sudah meninggal. Tetapi karya seninya akan selalu hidup bersamaku."
"Aku heran deh. Kenapa sih para seniman itu jalan pikirannya berbeda dengan kita?" Kata Jubaedah dengan penuh kebingungan.
Dengan ditinggalnya orang tersayang pastinya telah membuat bekas luka yang mendalam. Apalagi dia merupakan cinta pertama Linka.
Bagi Marsinah dan Jubaedah tentu sangat aneh jika Linka mencintai lelaki yang umurnya sepuluh tahun lebih muda dari Linka. Ya mungkin karena mereka berdua sama-sama seorang pelukis. Bagi mereka hal itu tetaplah aneh.
"Ayolah Lin! Di luar sana masih banyak cowok seniman yang lebih tampan dari dia. Ayo semangat menjalani hidupmu!" Kata Marsinah.
"Tapi yang karyanya sebagus dia itu mustahil ada."
Mereka berdua pun kesal dan kehabisan kata-kata lagi untuk membuat sahabatnya bangkit dari keterpurukannya.
Jelas tidak mudah bagi Linka. Apalagi terlalu dalam kenangan yang terukir manis di memorinya. Seniman hebat seperti dia itu tak tergantikan.
Sulit untuk lupa, apalagi sengaja melupakannya. Hari itu sungguh bersejarah baginya karena hari itu adalah hari pertama Linka diundang ke panti asuhan untuk mengajarkan anak panti melukis.
Ada puluhan anak di sana, namun yang benar-benar serius untuk belajar melukis kurang dari sepuluh orang. Ya anak kalau dipaksa melakukan sesuatu tentunya tidak bisa serius sepenuhnya.
Namun ada satu anak laki-laki berumur 14 tahun yang melukis dengan cara unik. Anak itu melemparkan semua cat warnanya ke kanvas secara acak. Kemudian dengan sebuah kuas di tangan kanannya ia mulai membuat coretan.
Itu terlihat mengerikan bagi Linka. Dengan cara melukis seperti itu dianggap aneh. Melihat keseriusan anak itu dalam melukis telah menumbuhkan tekad pada Linka untuk mengajari anak itu melukis.
Sejak saat itulah keduanya rutin bertemu seminggu tiga kali untuk belajar melukis. Anak itu sangat bersemangat belajar walau awalnya Linka stres karena anak itu sulit diajari.
"Oh iya, kita sudah lama kenal tapi kita masih belum memberitahu nama kita. Namaku adalah Linka." Kata Linka sambil mengulurkan jaba tangan padanya.
"Panggil saja aku Ren."
"Oke Ren, teruslah berusaha menjadi lebih baik lagi!"
Dengan nada bersemangat tekad membara Ren menjawab, "ya tentu aku akan menjadi pelukis hebat seperti kakak."
Sepuluh tahun pun berlalu. Tiada yang menduga jika Ren yang awalnya sangat payah dalam hal melukis, kini dirinya telah menjadi pelukis terkenal. Ren mulai dikenal oleh dunia seni lukis sejak dirinya dapat beasiswa di universitas seni ternama di negerinya.
Ren sangat terkenal dengan karya lukisan abstraknya. Selain itu di dalam lukisan yang dia buat pasti mengandung kode-kode tertentu yang menyimpan sebuah arti pada lukisan tersebut.
Ketenaran Ren sebagai pelukis terus memuncak setelah dia lulus dari universitasnya. Sudah ribuan lukisan yang terjual dengan harga ratusan juta. Tiap kali Ren melukis sesuatu pasti ada-ada saja orang yang mengincar mau membelinya. Tetapi tak semua hasil karyanya mau dijual.
Entah kebetulan atau tidak Ren dan Linka dipertemukan kembali di sebuah acara festival seni. Itu merupakan acara tahunan di kota seni. Di sana terdapat para seniman dengan hasil karya terbaiknya untuk dipamerkan di sana. Berbeda dengan Linka dan para seniman yang lainnya, keberadaan Ren di sana lebih istimewa. Ren di sana sebagai orang yang akan memilih sepuluh karya terbaik untuk diberi penghargaan.
"Sudah bertahun-tahun kita terpisah. Tidak disangka kita bertemu dengan cara seperti ini." Kata Linka.
Aneh rasanya Linka merasa dianggap tidak ada oleh Ren. Mereka telah saling bertemu dan melihat. Baik Ren maupun Linka masih tidak terlihat beda dari yang dulu. Meski keduanya umurnya bertambah, namun hal itu tidak terlalu membuat terluhat asing bagi mereka. Mereka tetaplah sama dengan yang dulu.
Acara pun berakhir. Lagi-lagi Linka dibikin kecewa karena dirinya tidak masuk dalam sepuluh seniman yang mendapat penghargaan. Padahal dirinya sudah susah payah membuat lukisan terbaiknya.
Merasa ada yang aneh Linka mencoba mendekati Ren yang waktu itu mau masuk ke dalam mobil pribadinya.
"Tunggu.....!"
"....." Ren tidak menjawab. Namun dia menoleh ke arah Linka dengan wajah datar.
"Kau lupa sama aku?"
"Orang sepertimu tidak mudah untuk dilupakan."
Kata-kata dari Ren barusan telah memberi rasa lega di benak Linka. Linka kira Ren telah menjadi kacang yang lupa pada kulitnya. Namun nyatanya itu tidak. Tapi tetap saja Linka merasa aneh dengan sifat Ren yang berbeda. Beda sekali dengan yang dulu. Dulu dia terlihat selalu bersemangat dan penuh senyum, namun kini senyuman itu telah terhapus oleh zaman.
"Kalau kau tidak lupa padaku, kenapa sikapmu Seolah-olah seperti tidak mengenalku begitu. Bahkan kau tahu aku berada di dekatmu, namun tak ada sedikit pun niat bagimu untuk menyapa. Kenapa? Apa kau malu pernah kenal denganku?"
"Kau sendiri kenapa juga diam saja? Kalau memang ada yang harus disampaikan, katakan saja langsung!"
"Sumpah kau berubah banget. Sifatmu ini terkesan sangat arogan."
"Baik, sekarang kau maunya apa?"
"Tadinya aku mengobrol banyak padamu. Tapi mengetahui sifat menyebalkanmu ini, aku jadi males."
Merasa kesal karena mendapati perkataan yang tak enak didengar, Linka pun memutuskan untuk pergi dari situ. Ia bahkan tidak mengira akan diperlakukan seperti itu pada mantan muridnya.
Lalu....
"Besok aku diundang menjadi dosen sementara di kampus kuliahku dulu."
Seketika saja langkah kaki Linka terhenti. Lalu ia berkata, "terus apa hubungannya denganku?"
"Jika kau mau, ikutlah denganku mengajar mahasiswa seni. Sebelumnya aku belum pernah mengajari di kelas. Akan merepotkan jika aku mengajar sendirian tanpa didampingi."
"Kupikir kau sudah tidak peduli denganku. Ternyata kau masih butuh bantuanku juga.... "
"Tapi kalau kau tidak mau juga tidak masalah." Kata Ren masih dengan gaya sok keren. Lalu ia pun masuk ke dalam mobil dan melaju kencang dengan mobilnya.
Masih ragu mau datang atau tidak. Lagipula cara Ren meminta tolong juga kurang sopan. Hal itu membuat Linka merasa kesal.
Namun setelah dipikir-pikir kembali rasanya senang juga bisa diberi kesempatan mengajar mahasiswa seni di kampus ternama. Lalu diputuskanlah Linka mengiyakan tawaran daru Ren.
Pagi itu Linka sangat bersemangat. Bahkan ia datang terlalu pagi ke kampus sebelum pembelajaran dimulai. Nampaknya juga Ren yang dikiran sudah datang duluan pun sampai detik itu belum terlihat juga raganya.
Dan betapa kagetnya Linka ketika melihat kedatangan Ren yang nampak tidak layak disebut sebagai dosen pengganti. Jika dosen identik dengan pakaian kemeja dan celana kain yang rapi, kini Ren justri terlihat sebaliknya. Ia malah pakai kaos oblong dan celana jin sobek-sobek. Dan gaya rambutnya pun sengaja dibikin berantakan.
"Eh buset! Gak salah kau mengajar mahasiswa dengan penampilan seperti itu?"
"Kenapa kau kaget?"
"Coba deh kamu ngaca seperti apa dirimu!? Iya sih kau ini cuma dosen pengganti. Tapi bukan berarti......"
"Sudahlah ayo kita masuk!"
"Loh kan masih ada waktu 7 menit sebelum mulai?"
"Dosen bisa memulai kapan saja pembelajaran dimulai."
"Dasar. Padahal dia cuma dosen tamu di sini, eh tapi gayanya seperti sesepuh dosen di sini." Kata Linka dalam hati.
Lagi-lagi Linka kembali dikejutkan dengan isi kelas. Ini semua di luar pemikiran Linka. Linka pikir mahasiswa itu berpakaian rapi dan sopan. Tapi ternyata tidak semua mahasiswa seperti itu. Wajar saja Linka kaget karena dia dulu tidak kuliah, jadi dia tidak begitu kenal dengan dunia perkuliahan.
Sudah bukan hal baru lagi di zaman itu kalau mahasiswa jurusan seni itu diperbolehkan berpenampilan bebas sesuai ekspresi mereka, asalkan mereka tidak telanjang di kampus.
Jadi sangat lumrah melihat anak seni kuliah pakai kaos oblong, bercelana jin sobek-sobek, berambut gondrong berantakan, dan beralas sandal jepit. Ini semua merupakan bentuk ekspresi calon seniman menurut orang-orang di zaman itu.
Kelas pun dimulai. Linka dan Ren sudah berada di dalam kelas. Linka kira Ren akan terlihat gugup dan takut saat berdiri di depan mahasiswa. Namun nyatanya dia cuek saja seolah tak terjadi apa-apa.
"Nah sekarang cepat terangkan pada mereka tentang apa itu seni!"
"Loh kok aku!? Yang jadi dosen kan kamu! Kenapa malah menyuruhku menerangkan?"
"Kan gunanya ada kamu itu untuk ini. Kan tujuanku mengajakmu ke sini kan untuk ini."
"Terus kalau aku yang mengajar, terus kamu ngapain?"
"Kita bagi tugas. Kau yang menerangkan teori pada mereka, lalu aku yang akan mengajarkan prakteknya."
"Bukannya lebih bagus kalau kau langsung praktek saja ya seperti dulu ketika aku mengajarimu...?"
"Jangan kau samakan kuliah dengan kursus melukis. Ini adalah kuliah, meski ini jurusan seni, tapi praktek saja tidak cukup. Mereka juga harus dibekali ilmu teori pengetahuan."
"Iya-iya aku percaya dulu kau pernah kuliah, tapi masa iya kau tidak mau mencoba menerangkan teori pada mereka? Di sini kan kau dosennya?"
"Aku ini pelukis, bukan dosen. Ingat, aku di sini cuma diberi amanah untuk mengisi kelas seni, bukan untuk menjadi dosen beneran!"
Kegiatan pun berlangsung dengan lancar. Walau mereka terlihat tidak kompak, namun Linka dan Ren telah melakukan tugasnya dengan baik.
Sedikit demi sedikit mereka mulai kembali akrab seperti dulu. Linka mulai bisa merasakan hawa kehidupan pada Ren. Walau sifat arogan itu masih tetap menempel pada Ren, tapi tak sepenuhnya Ren berubah sikap. Masih tersisa sifat lamanya yang dulu ada, hanya saja hal itu jarang ia tunjukan.
Seminggu setelahnya mereka dipertemukan kembali di jalan area komplek. Di sana Ren terlihat sibuk dengan sebuah brosur yang ia tempelkan ke tempat yang strategis.
Linka pun dibuat bingung oleh kelakuan Ren di sana. Kemudian Linka mencoba menyapanya untuk menanyakan sesuatu.
"Kupikir kau sudah tidak ada di kota ini."
"Bulan ini aku akan menetap di kota ini. Ya setidaknya sampai proyek seniku berhasil aku kerjakan."
"Proyek seni?"
"Iya ini adalah tantangan terbaruku. Jika biasanya aku cenderung membuat lukisan abstrak, maka kali ini aku mau mencoba yang baru."
"Wah semangat berkarya ya. Lah terus apa hubungannya proyek sama brosur itu?"
"Di brosur ini tertulis sedang mencari model lukisan untuk proyekku. Nanti model yang terpilih akan mendapat imbalan uang 50 juta. Mau tidak membantuku menyebarkan brosur ini?"
"Eh buset banyak banget imbalannya!? Aku juga mau jadi modelnya." Kata Linka dengan kagetnya.
"Kau yakin mau menjadi model?! Padahal aku sudah mencari ke mana-mana tapi tidak ada satu pun yang mau."
"Bodoh banget tuh orang tidak mau jadi model. Padahal kan imbalannya gede."
"Hmm coba deh baca dulu brosurnya! Siapa tahu kau berubah pikiran."
"Gak bakal berubah pikirah deh. Sudah jelas aku sangat mau. Tapi ini bukan karena jumlah imbalan yang besar loh ya. Tapi karena aku sangat terhormat bisa menjadi model lukisan seorang pelukis terhebat sepertimu ini."
"Baiklah. Kalau begitu ayo kita mulai!"
"Eh sekarang?!" Linka tidak mengira jika pada saat itu juga dia mau jadi objek lukis.
"Lebih cepat lebih bagus kan?"
Meraka pun menuju ke rumah Ren untuk melakukan aktivitas melukis. Ini akan memakan banyak waktu karena Ren mencoba melukis dengan sangat detil menyerupai aslinya.
Terasa sejuk dan damai begitu Linka memasuki ruangan pribadi Ren yang dipenuhi oleh benda-benda seni berkelas dan beberapa karyanya yang terpajang di tiap dinding rumahnya.
"Kau sudah siap?" Tanya Ren.
"Siap."
"Kalau begitu buka bajumu!"
Suasana menjadi hening seketika. Linka kira dia salah dengar. Namun setelah didengar lagi, ternyata apa yang dikatakan Ren itu benar apa adanya.
"Kau bercanda?" Tanya Linka dengan nada serius.
"Aku tidak pernah bercanda saat melukis. Apa yang kau tunggu? Cepat buka bajumu!"
Mendengar perkataan itu Linka langsung mencopot salah satu lukisan di dinding, kekudian dengan lukisan itu Linka memukul kepala Ren.
"Kau pikir aku ini wanita apaan menyuruhku telanjang?!" Kata Linka dengan nada marah berkobar-kobar.
"Apa yang salah? Kalau kau tidak telanjang, bagaimana aku bisa melukismu?"
Linka mulai menyadari sesuatu.
"Tunggu dulu! Jangan bilang lukisan yang mau kau lukis itu........ "
"Ya aku akan melukis wanita telanjang. Ini adalah proyek seniku."
"Kenapa kau baru bilang sekarang kalau yang akan kau lukis ini wanita telanjang!? Pantas saja kau tadi bilang tidak ada yang mau. Cuma orang tolol yang mau dilukis telanjang!" Kemarahan Linka makin menjadi-jadi.
"Tadi kan aku sudah menyuruhmu membaca brosurnya, tapi kau cuek saja. Padahal di brosur itu tertera jika model yang dicari itu adalah model telanjang."
"Dih najis. Aku kira kau telah tumbuh menjadi pelukis hebat yang mendunia. Eh tahunya kau malah menjadi pelukis mesum. Maaf saja, aku tidak mau. Aku akan pergi sekarang."
"Dari awal aku tidak memaksamu. Tidak masalah juga jika kau tidak mau. Tapi kalimatmu barusan sangat menghina apa kata arti seni."
"Apanya yang menghina?! Apa yang kukatakan ini benar adanya. Melukis wanita telanjang itu bukanlah seni. Ini terlalu menjijikan untuk disebut seni."
"Kau ini seniman. Seharusnya kau memandang sebuah seni dengan kacamata seni! Kukira teori seni yang kau pelajari itu lebih tinggi. Ternyata.... "
"Sekarang aku mau tanya. Apa bagusnya coba melukis wanita telanjang? Apa ini karena uang? "
"Bagiku seni itu adalah bentuk ekspresi seniman. Soal mendapatkan uang dari sebuah karya seni itu merupakan keuntungan. Dari awal aku mulai melukis aku tidak pernah mengharapkan akan dibayar."
"Baiklah aku mau menjadi modelmu. Tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Jangan kau publikasikan karya ini! Cukup buat pribadi saja."
"Terus apa gunanya karya kalau tidak dipublikasikan? Seni itu disebut berhasil jika seni itu diakui oleh penikmatnya. Jika tidak dipublikasi mana bisa karyaku diakui!?"
"Kalau tidak mau ya sudah! Aku akan pergi sekarang!"
"Baiklah, aku terima syaratnya."
"Tapi ingat ya! Di sini kau hanya melukisku saja, dan jangan sampai ada sentuhan!"
Ren pun cuma bisa mengangguk sebagai jawaban iya. Dan Ren pun memulai aktivitasnya. Ia telah menyiapkan kanvas kosong dan mencoba melakukan coretan dengan kuas yang ia pegang.
Awalnya masih ada keraguan pada Linka soal pilihannya ini. Ya tapi karena Ren adalah sosok yang istimewa, maka dia merelakan tubuhnya dilukis walau harus menahan malu.
Satu persatu pakaian yang dikenakan oleh Linka telah terlepas hingga tiada sisa. Bisa dilihat dengan jelas tubuh polosnya yang bersih tiada noda.
Tidak terdeteksi wajah atau sikap aneh pada Ren. Sama seperti dulu Ren tetap terlihat santai menggoreskan kuasnya ke kanvas.
Merasa malu itu sudah pasti, apalagi ini adalah pertama kalinya Linka menjadi model lukisan telanjang. Yang diharapkan Linka saat itu adalah berharap agar waktu berjalan 100 kali lebih cepat agar momen memalukan ini cepat berakhir.
Namun hal yang terjadi justru sebaliknya. Waktu berasa begitu lambat selayaknya seekor siput sedang balapan.
"Ren kecilin AC-nya dong! Dingin nih..."
"Nanti setelah selesai melukis akan aku kecilkan."
"Serius deh dingin banget. Cepat matikan AC!"
Sejujurnya Ren merasa terganggu konsentrasinya, namun dia bersikap seolah tak terjadi apa-apa agar model yang dia lukis merasa nyaman.
Lalu dimatikanlah AC itu. Beberapa menit kemudian Linka mulai capek dan pegal karena terlalu lama berpose saat proses melukis. Ia pun mencoba menggaruk pantatnya yang gatal.
Namun......
"Eh jangan banyak bergerak! Aku jadi susah melukisnya jika kau banyak bergerak." Ren mulai marah.
"Capek tahu gak berpose selama dua jam lebih. Masa gerak sedikit saja tidak boleh. BTW lama banget sih melukisnya? Kau sengaja dilama-lamain begitu?"
"Ini adalah proyek besar. Jadi aku harus serius melukisnya. Jika terlalu cepat diselesaikan, takutnya hasilnya tidak sempurna."
"Dih alasan! Padahal kau sengaja kan dilama-lamakan biar bisa melihat aku bugil lebih lama?"
"Kuberitahu ya. Tidak ada satu pun laki-laki yang nafsu dengan wanita berdada rata sepertimu, bahkan meski kau bugil."
"Oh gitu? Ya sudah kalau gitu aku pergi saja."
"Eh Iya-iya maaf, aku hanya bercanda. Jangan pergi dulu! Masih belum selesai."
"Makanya cepat selesaikan! Bukanya berterimakasih malah menghina!"
Waktu yang termakan adalah tiga jam setengah. Ini terlalu lama menurut Linka. Biasanya Ren bisa menyelesaikan sebuah lukisan kurang dari dua jam.
Dan ketika Linka melihat hasil lukisannya, Linka merasa malu. Bagaikan melihat foto bugilnya yang terpajang di kanvas. Ya tapi karena lukisan ini hanya untuk pribadi, maka Linka pun merelakan hal ini.
Dan sejak saat itulah hubungan mereka mulai membaik. Linka yang dari awal terus menyangkal perasaannya pun kini telah berani jujur dengan perasaannya.
Sejak awal Ren belajar melukis pada Linka, sebenarnya sudah tertanam benih cinta di hati Linka. Hanya saja waktu itu Linka terlalu gengsi untuk mengakuinya karena perbedaan umur mereka jauh.
Namun karena dia sudah dewasa jadi tiada rasa malu atau gengsi lagi untuk jujur akan rasanya.
Mungkin Linka sudah berani jujur dengan perasaannya, namun tidak dengan nyalinya. Dia tidak berani mengungkapkan walau dia lebih tua dan dewasa daripada Ren.
Suatu kebetulan waktu itu Ren datang ke apartemen Linka karena waktu itu Linka juga ingin bertemu dengan Ren. Tapi siapa sangka kedatangan Ren saat itu memberi pesan buruk pada Linka.
Marah dan kecewa itulah yang dirasakan oleh Linka. Ini di luar perkiraan jika Ren mencoba melanggar janjinya.
"Apa maksudmu mau memamerkan lukisan itu ke pameran seni?!" Kata Linka dengan marah dan bercucuran air mata.
"Tapi ini adalah kesempatanku. Kapan lagi aku bisa memaerkan karyaku di acara resmi seni internasional ini? Ayolah jangan egois! Boleh kan aku pamerkan lukisan ini?!"
Ren tidak mendapat jawaban, tapi yang dia dapatkan adalah sebuah tamparan yang keras di pipinya. Bahkan air mata yang membasahi wajah Linka pun cuma dianggap sebagai pajangan saja dan sama sekali tidak merasakan kesedihan pada Linka.
"Kau bilang aku egois? Yang egois itu kamu!!! Kau tidak kasihan sama aku? Kau tega mempermalukanku? Apa kau tahu apa yang ada di pikiran orang-orang ketika mereka tahu kalau lukisan wanita telanjang itu adalah aku? Mungkin ini seni, tapi seni itu punya budaya. Dan seni seperti ini bukan budaya kita. Tidak semua orang menganggap ini seni. Yang ada nanti membuatku terhina. Padahal alasanku mau menjadi model lukisanmu itu karena kau ini orang istimewa. Tapi sikapmu padaku justru...... "
"Persetan dengan orang sepertimu. Terserah mau setuju atau tidak. Yang jelas lukisan itu tetap akan kupamerkan di acara itu. Jika kau merasa dirugikan, maka aku akan membayar ganti rugi itu."
"Awas saja pokoknya! Jika kau sampai mempublikasi lukisan itu, maka kau akan celaka. Kau akan mati. Kau akan mati oleh hal menjijikan yang kau anggap seni. Orang berengsek sepertimu memang seharusnya mati!"
Tangisan dan amarah itu pecah melanda. Dan anehnya Ren sama sekali tidak terpengaruh oleh hal itu. Bagaikan tiada beban Ren pergi meninggalkan apartemen Linka.
Kemudian tibalah hari yang dinantikan Ren. Lukisan itu telah dipublikasi di acara itu. Dan benar saja Ren seketika mendapat banyak apreasi dari banyak seniman.
Oleh karyanya itulah nama besar Ren makin meninggi. Seolah-olah adalah dewa pelukis, kini Ren menjadi tokoh penting yang mendunia.
Ren tak lagi berada di negeri asalnya. Ia lebih memilih keliling dunia untuk melukis sesuatu yang mustahil untuk dilukis. Namun dikarenakan oleh takdir, maka penjelajahan dunia lukis terpaksa diakhiri.
Linka yang sudah lama hilang hubungan dari Ren pun kini telah mendapat pesan kematian dari berita di TV. Dunia harus kehilangan sosok dewa pelukis. Tiada sebab yang jelas kenapa Ren bisa meninggal. Yang jelas hal yang dulu dikatakan oleh Linka telah menjadi nyata. Ren telah tiada.
Bukannya merasa senang karena orang yang dulu menyakitinya telah meninggal, Linka justru merasa sedih dan menyesal. Dia menyesal telah mengatakan hal buruk itu. Dia sendiri tidak menyangka jika perkataan itu akan menjadi nyata.
Padahal Linka punya harapan suatu saat hati Dewa pelukis itu akan terbuka dan menyadari perasaan Linka. Namun kejamnya rantai takdir Tak dapat dihentikan.
Sesuai wasiatnya. Ren tidak akan dikubur di tanah makam. Ren memilih jasadnya diawetkan sebagai patung seni yang nantinya akan dipajang di galeri seni miliknya di kota kelahirannya.
Di masa ini patung itu disebut sesuai nama lengkap Sang Dewa Pelukis yaitu 'Eldraco Zi Renzu.'