Menjadi pagi memang bukanlah suatu penyesalan, bahkan aku menginginkannya. Karena hanya pagi yang menjadi tempat mu terbangun menyemangati mu meski dirimu sibuk mengagumi senja.
Namaku jingga sipengagum senja, aku hanya wanita sederhana dari keluarga sederhana, si pengagum senja ini mempunyai kepala yang dijadikan sarang penyakit ganas, penyakit ini terus menggrogoti otak ku sakit sangat sakit.
Begitu juga dengan hatiku yang menjadi sarang cinta yang tak sampaikan, cinta bertepuk sebelah tangan.
Ada benarnya juga bila seorang wanita dan pria berteman maka ada kemungkinan salah satunya memiliki perasaan.
Begitu juga dengan ku, aku menyukai sahabat ku bernama refan, siapa sih tak menyukai cowok tampan, sopan, baik, cerdas, ramah, dia laki-laki kedua setelah ayah ku yang bisa membuat ku nyaman didekat nya.
Tapi ketika aku mulai mencintainya, ternyata dia juga mencintai gadis lain bukan diriku namanya marrisa gadis cantik keturunan indonesia-korea bermata sipit, mempunyai senyum manis dengan lesung pipi, dan tentunya ia gadis yang sehat tidak sepertiku yang penyakitan.
semua kisah cinta ku berawal dan berakhir dikala senja.
flashback on
Ketika senja mulai menyapa dua sahabat yang tengah menikmati jingga dengan hangat nya teh dan kopi bercanda tawa bagaikan tiada beban yang melanda.
" jingga!" ucap refan
"apa?" ucap ku
"siapa yang manggil kamu, aku cuman liat senja dengan langit berwarna jingga bukan kamu, Ge-er" ucap refan
yang membuat ku malu sekaligus kesal
"iiiiihh refan, lo nyebelin banget" ucap ku kesal sembari terus memukul bahunya kerass
"hhhaahhaa maaf....maaf..aku cuman godain kamu kok, hheeehhe udah ya jangan pukul lagi sakit banget, cewek ko tenaganya kayak banteng" ucapnya sembari tertawa
"kamu ngatain aku banteng, mana ada banteng pake kerudung, udah ah kesel aku sama kamu" ucapku pura-pura marah
"becanda tau maaf..maaf..lagian mana ada banteng secantik kamu" katanya gombal namun mampu membuat ku tersipu, pipiku memerah
"cieee pipinya merah tuuh" godanya
"eh apaan enggak yaa" bantahku
"iyadeh iya" ucap nya pasrah, lalu memandang ku dan kamipun tertawa.
walau hanya dengan candaan receh, gombalan alay tapi tetap saja semuanya indah dan menyenangkan , apalagi untuk ku yang mencintainya dengan seperti ini malah menambah kadar cintaku padanya.
***
hari-hari terus berganti aku dan dia sangat dekat namun tetap saja aku tak bisa mengungkapkan perasaanku, biarlah waktu yang jawab rasa.
yah perlahan tapi pasti waktu menjawab rasa tapi bukan rasa aku yang terbalaskan tapi rasanya.
ketika aku sedang di perpustakaan tiba-tiba ia datang membawa kabar bahagia untuknya.
"jingga kamu harus tau ini! aku tadi nembak marrisa dan gilanya aku akhirnya di terima setelah ke 6 kali nya aku nembak dia dan akhirnya di terima juga, udah lama aku suka dia" ucap refan keliatan amat bahagia
"pasti kamu gak nyangka kan soalnya aku gak pernah nunjukin rasa suka aku sama dia kalo ada kamu, kamu pasti kaget kan, nah sekarang aku gak jomblo lagi Hheeehhee tinggal kamu cari pacar" ucapnya dengan senyum yang terus merekah dibibirnya
Deg
hatiku bagai dihantam ombak besar, menyakitkan namun aku tak bisa apa-apa, bibir ku kelu mulut ku terasa terkunci, ku pikir asal aku terus bersamanya maka cinta juga akan tumbuh di hatinya, ternyata itu salah, aku keliru.
"hey jingga! jingga" panggilnya
" kok kamu malah ngelamun sih, kami dengerkan apa yang aku bilang" lanjut nya
"ah iya aku denger kok, denger selamat yaa... aku ikut seneng" ucap ku dengan senyum paksa, aku belum bisa menerimanya, sungguh ini terlalu tiba-tiba.
"hhehhhe iya aku kira kamu gak seneng soalnya dari tadi diem aja, nanti aku kenalin ya sama kamu biar bisa akrab" ucapnya
"tapi kamu tau kan aku itu suli-" ucap ku ter
"gak papa dia kan pacar aku, jadi kamu gak perlu malu" potong refan
"eh iya deh"jawab ku
***
di balkon rumah aku menatap senja sendiri, refan bilang ia mau kencan sama pacar nya jadi mau siap-siap dari sore.
aku menatap langit berwarna jingga, indah namun rasa tetap hampa, rasanya ada yang hilang.
namun tiba-tiba kepalaku sakit, sakit yang sangat hebat biasanya memang selalu seperti ini namun tak pernah sampai sesakit kali ini...
tes tes
"darah.." hidungku mengeluarkan darah, mata ku meremang, yang terakhir ku dengar
"mamah bawa ku-, jingga kamu kenapa"
mungkin mama melihat aku terus memegang kepala, semuanya gelap hingga bruukk tubuh ku terjatuh kelantai..
***
perlahan mata ku terbuka, ruangan putih serta bau obat-obatan tercium tajam di penciuman ku.
ku lihat kesamping kanan tidak ada siapa-siapa ketika ku berbalik kesamping kiri terlihat mama ku yang sedang terlelap tidur kulihat jam menunjukan pukul 01.00 dini hari.
"posisi tidur mama pasti tidak nyaman, ah aku juga haus" gumam ku
"ma..mama..bangun mah" ucapku pelan rasanya tidak ada tenaga. kulihat mama ku mulai menggeliyat kan tubuh nya
"kamu udah bangun sayang, alhamdulillah terimakasih ya Allah" mama mengucap syukur
"kamu haus nak? biar mama ambilin minum ya..." mama langsung mengambil minum dan membangun kan badan ku sedikit lalu meminumkan air putih yang diambil di nakas dekat brangkar
"aku sakit apa mah kok kepalaku sakit, terus kenapa dari hidung jingga keluar darah" tanya ku
hiks..hiks...hiks
"kamu yang sabar ya nak" mama menangis sambil memeluk ku
" mama kenapa menangis, aku sakit apa?" tanyaku penasaran
"kamu kanker otak stadium akhir nak hiks...hiks"
Jdeerr
bagai tersambar petir, belum cukup kah kabar tadi siang membuat hatinya sakit, lantas malam harinya ia mengetahui bahwa penyebab ia sering sakit kepala dan mimisan adalah kerena kanker otak.
ya Allah cobaan apalagi ini, bagaimana aku bisa menghadapi cobaan ini, kenapa engkau tidak adil padaku, belum cukup kah engkau mengambil ayah ku sehingga membuat ku dan ibuku menderita, lalu orang yang hadir untuk menghibur nya kini telah memiliki tambatan hati, dan kini ia harus berjuang melawan penyakit ganas yang menggerogoti otaknya.
"Astagfirullah aladzim" sejenak aku mempertanyakan keadilan Allah yang maha adil, ya Allah ampuni aku yang mengeluh dan sering lupa bersyukur.
"nak, kamu sabar ya...ibu akan usahain buat kamu berobat keluar negri, ibu akan kerja lebih giat" ucap mama sembari melepas pelukannya dan menggenggam tangan ku.
sungguh ini adalah kelemahan terbesarku melihat mama menangis, mama sudah cape membiayai ku kuliah, mama banting tulang untuk mencukupi segala kebutuhan nya, aku tak bisa lagi merepotkan mama, sudah...sudah cukup ia menyusahkan mama nya selama ini.
"gak papa ma, kalau emang takdir nya jingga sembuh, jingga bakal lebih lama sama mama tapi kalo Allah manggil jingga mama jangan sedih yaa... mungkin Allah lebih sayang sama jingga" ucap ku karena aku tak mau mama sakit dengan terus bekerja keras untuk ku
"kamu jangan ngomong begitu nak, mama sama siapa kalo kamu gak ada" ucap mama terus menangis
aku hanya tersenyum dan memeluk mama
"mama masih ada refan, dia bakalan jagain mama, aku bakalan minta dia buat selalu ada buat mama"
***
Layung senja telah mencuatkan sinar indah nya, akan tetapi kenapa kamu masih saja tetap di posisi yang sama dan perasaan yang sama.
setelah 3 hari dirawat di rumah sakit akhirnya jingga pulang ke rumah nya, harusnya ia tetap di rumah sakit dan melakukan kemoterapi namun, jingga tak mau. Ia tak mau jika harus menambah beban ibunya biaya pengobatan kanker itu tidak murah, orang tua refan menawarkan bantuan namun jingga menolak nya, biarlah mengalir begitu saja, bukan nya ia tak mau sembuh tapi juka harus melihat ibunya banting tulang ia tak mau.
orang tua refan memang sudah tau, tapi tidak dengan refan, jingga meminta ibunya dan kedua orang tua refan untuk merahasiakannya ia tak mau jika refan tau entah apa alasan jelas nya tapi menurut nya ia tak mau sahabat nya sedih dengan keadaannya, refan sedang bahagia ia tak boleh mencampurkan nya dengan kesedihan dengan kabar penyakit nya.
***
"jingga kamu sakit apa? sampe tiga hari dirawat, maaf aku gak jenguk kamu rissa juga lagi sakit, jadi aku temenin dia, orang tua nya gak ada mereka lagi di luar neg-"
"aku gak papa kok fan cuman kecapean aja, lagian aku ada mamah, bunda sama ayah juga jenguk aku kok bahkan mereka nginep, pacar kamu lebih butuh kamu, kasian dia kalo sendirian lagi sakit" ucapan refan aku potong sungguh aku tak perlu penjelasan jika menyakitkan, ku paksakan bibir ini tersenyum
"gimana sekarang pacar kamu udah sembuh?" tanyaku, membuyarkan lamunan refan entah apa yang sedang ia lamunkan
"eh, eemm belum masih pemulihan, butuh istirahat yang banyak" jawabnya
"emang dia sakit apa fan?" tanyaku
"rissa baru beres operasi usus buntu, jadi aku gak tega kalo tinggalin dia, di rumah nya cuman ada pembantu sama sopir nya" ucap nya
" oohh iya, kamu kenapa ngelamun mulu? lagi khawatir yaa... sama keadaan rissa, kalo kamu khawatir pergi aja kasian dia sendiri gak ada yang nemenin, pasti dia bosan" ucapku padahal dalam hati aku ingin refan tetap disisi ku
" tapi kamu?" tanya nya
"kan aku udah bilang, aku gak apa-apa fan, paling juga besok sembuh. udah sana kasian dia sendiri pasti dia butuh kamu" ucap ku
" ouh ya udah sekarang kamu baring dulu, aku selimutin" refan beranjak dari duduk nya lalu menyelimuti ku dan mengusap kepala ku
"cepet sembuh ya...jangan sakit, aku ikut sedih kalo liat kamu sakit" ucap nya
aku tersenyum
"udah..udah pergi sana" ucap ku mengusirnya
"iyah...iyah dadah aku pergi dulu" pamitnya
sediih itu yang ku rasakan saat aku butuh dukungan darinya ternyata, ia harus mendukung kesembuhan kekasih nya, kalo saja kamu tau penyakit ku fan, apa kamu masih akan tetap pergi walau aku menyuruh mu.
***
dua hari kemudian aku kembali bersekolah, kepalaku sudah tidak sakit walau kadang sakit itu datang, dan hidung ku mengeluarkan darah.
kantin
Ketika aku sedang menikmati makan sembari membaca, tiba-tiba refan datang dan duduk di samping ku. Aku tersenyum bahagia melihat nya namun senyum ku perlahan luntur ketika ku lihat gadis cantik juga duduk di sebelah refan, mungkin ini yang namanya rissa.
"sendiri aja di kantinnya, enggak ngajak-ngajak lagi" ucap refan
"mau ngajak gimana, kamu aja gak keliatan dari tadi" ucap ku malas
"hhheehhe aku tadi jemput rissa dulu, kamu kampus tadi naik apa" tanya nya
"aku naik angkot" jawabku sambil mengunyah
"hah kenapa gak naik gojek aja sih" tanya nya, refan mungkin sedikit khawatir karena aku memang selalu pusing kalo naik angkot tapi kalo naik bus atau mobil pribadi enggak, agak aneh kan
" aku gak punya aplikasi nya " jawab ku
"padahal kamu telpon aku, aku tadi gak bisa jemput kamu karena jemput rissa, mobil nya lagi di bengkel" kata refan
" iya gakpapa kok, lagian aku pake masker biar bau nya gak kecium" jelasku
" ini rissa ya..?" ucap ku mengalihkan pembicaraan kasian dia jika tak ikut di ajak bicara
" ah iya, hallo kamu jingga yaa? sahabat nya refan, dia selalu nyeritain kamu, bener kata refan kamu itu cantik" ucapnya
" ah yang bener refan bilang aku cantik, gak percaya aku" ucap ku dengan candaan
" kamu juga cantik banget rissa, panter refan sampe ngejar-ngejar kamu" lanjut ku dengan melirik refan
" apasih jingga lo bikin malu" ucap nya
kami pun tertawa, saling bercerita, dan bercanda.
ku pikir rissa itu baik, dia juga keliatan nya penyayang. Aku mulai mengetahui sifat nya karena kami sering bersama tentunya refan yang mendekatkan kami berdua.
***
Hari-hari terus berganti penyakit ku makin parah, kepalaku makin sering sakit, tubuh ku mudah lelah. Walau aku sering memakan obat pereda nyeri tapi makin kesini, rasanya itu makin tak berpengaruh.
Sedih aku rasakan melihat ibuku bekerja banting tulang untuk pengobatan ku, mengurusku yang makin sering sakit.
Aku selalu bersedih jika memikirkan akan meninggalkan ibu sendiri aku tak takut untuk meninggal karena pada akhirnya semua mahluk yang bernyawa akan pulang kepangkuan ilahi, tapi aku takut ibu bersedih, ketika ayah berpulang dulu ibu selalu bersedih walau tak pernah memperlihatkan nya padaku, tapi aku tau ibu sering menangis malam hati sambil memeluk baju ayah.
Lalu kalo nanti aku meninggal siapa yang akan selalu menemani ibuku, jika aku pergi nanti.
***
*Dikantin kampus
"Loh kok dari tadi kamu bengong aja sih? ada yang ganggu pikiran kamu? Kalo ada apa-apa cerita sama aku" tanya refan padaku mungkin dia menyadari aku yang dari tadi cuman mengaduk-aduk makanan sambil melamun
" Iya cerita aja jingga kamu kayak banyak pikiran, ada apa sih?" Rissa juga ikut bertanya
"Ah gakpapa kok aku gak ada masalah, cuman lagi banyak tugas aja" jawabku berbohong
" Kalo kamu banyak tugas, jangan terlalu dipikirin entar kamu sakit, aku liat kamu sering banget gak ngampus kata mama kamu mudah kelelahan" ucap refan aku memang menyuruh mama untuk bilang aku kelelahan, atau kecapean saat sakit kepalaku kambuh.
"Kalo ada tugas yang sulit kamu tinggal minta bantuan sama aku, kalo aku bisa pasti aku bantu" ucap rissa, refan beruntung bisa mendapatkan gadis sebaik rissa, aku gak khawatir lagi kalo suatu hari nanti harus ninggalin refan dia udah punya orang baik yang bakal selalu dampingi dia. Walau terkadang rasa iri menyergap di hati coba saja yang di cintai refan itu aku, aku akan sangat bahagia tapi sedetik kemudian aku berpikir bahwa itu tak boleh terjadi akan berat nantinya jika aku harus meninggalkan nya.
"Gak apa-apa kok ris aku bisa, cuman yah emang aku mudah kelahan jadi sering jadi pikiran, kasian sama mama" jelas ku sambil tersenyum
*Note: refan, dan rissa memanggil mama ku dengan sebutan mama juga, dan aku menyebut orang tua refan dengan sebutan ayah dan bunda seperti refan.
***
Tes..tes..tes..
"Jingga hidung kamu berdarah" ucap rissa yang membuat ku dan refan kaget, aku langsung mengusap hidung ku dan benar saja darah ku keluar lagi.
"Kamu kenapa jingga, ayo sekarang kita kerumah sakit" cerca refan sambil memegang tangan ku
"Aku gakpapa refan ini cuman mimisan biasa, mungkin karena aku panas dalem" jelasku berbohong
"Yak tapi setidaknya kita ke rumah sakit dulu, biar di periksa dokter" ucapnya khawatir, ku lihat rissa sedikit kaget mungkin karena refan sangat peduli padaku, aku jadi merasa tidak enak dan melepaskan genggaman nya dari ku
"Aku gakpapa refan, gak usah lebay, ini cuman mimisan biasa" ucap ku
"Tapi kan" ucapan refan terpotong oleh ku
" Aku gakpapa, udah lanjut lagi makannya" kami pun kembali memakan makanan masing-masing, refan masih memaksaku untuk ke dokter, aku terus menolak nya, ku lirik rissa sepertinya sedikit cemburu tapi refan tak peka terhadap keadaan hati pacarnya.
"Yaudah kalo gak mau ke dokter aku anterin pulang sekarang ya..." Ucap refan
"Tapi rissa" ucapku
"Gak papa rissa aku pesenin taxi, gapapa kan yank?" Tanya refan
"Hah, eh iya gapapa kamu pulang di anterin refan aja aku nanti telepon mang ujang biat jemput" ucap rissa, tapi dilihat dari raut mukanya ia terlihat tidak senang, aku merutuki sikap refan yang tak peka, walau jujur dalam hati aku senang refan masih memperdulikan ku walau ada rasa tak enak.
"Ya udah yuk pulang kamu harus istirahat, aku antar pulang dulu jingga ya yank" ucap refan pamit
"Iya" jawab rissa singkat
"Aku pulang dulu ya ris maaf karena aku kamu gak pulang bareng rafan"ucap ku tak enak hati
"Gakpapa kali jingga santai aja, lagian aku juga gak tega liat kamu pulang sendiri" ucapnya dengan senyum
"Iya makasih yaa..." Ucapku
"Sama-sama udah pulang sana, refan udah nungguin" ucapnya
Aku masuk ke mobil dan melambaikan tangan ke arah rissa, begitu juga refan yang menyalakan klaksonnya.
***
Waktu terus bergulir, penyakit ini masih terus menggerogoti otak ku, sakitnya sulit untuk ku tahan, kadang aku menangis dan berteriak saart sakit itu menyerang.
pagi yang baru menyambut ku lagi, aku bersyukur masih bisa melihat dunia dan orang-orang yang ku sayang.
aku bergegas mandi, memakai baju lalu sarapan dan berangkat ke kampus.
Di kampus mata pelajaran pertama bebas dosen tak datang katanya sakit.
Ketika aku sedang berjalan tiba-tiba bola datang kearah ku dan menghantam kepalaku. pusing, sakit, semuanya tampak meremang yang terakhir kudengar hanya...teriakan dari seseorang
"jinggaaa...."
***
Saat aku terbagun, kulihat aku sudah ada di rumah sakit, tercium dari bau obat-obatan yang masuk kedalam rongga hidung ku.
kulihat sekeliling tidak ada siapa-siapa, tapi tiba-tiba
Ceklek..
suara pintu terbuka
kulihat refan, rissa dan juga mama masuk keruangan
"nak ada yang sakit? masih pusing? atau kamu mau minum?" tanya mama kelihatannya di begitu khawatir
"aku udah gapapa ma, udah mendingan" jawab ku
tapi ada yang aneh dengan raut wajah refan dan rissa mereka terlihat ah sulit di definisikan dengan kata-kata
"kalian berdua kenapa?"tanya ku pada rissa dan refan
bukannya menjawab refan malah meminta ibu ku dan rissa keluar
"boleh aku bicara sama jingga berdua?" tanyanya, ibu dan rissa saling pandang lalu mengangguk, kemudian mereka meninggalkan kami keluar
"ada apa kok kaya serius gitu?" tanyaku pada refan yang masih setia dengan diam nya
" kenapa?" tanya nya
"kenapa apanya fan?" tanya ku bingung
"kenapa kamu sembunyiin semuanya dari aku, kenapa kamu BOHONGIN AKU JINGGA?" tanya nya dengan berteriak, sedetik kemudian aku sadar bahwa refan dan rissa sudah tau tentang penyakit ku pasti mama yang memberitahu nya tapi apakah refan juga tau perasaan ku semoga mama tak memberitahunya
"bu-bukan gitu fan... a-aku" aku menjawab dengan tergagap bingung harus memberi alasan apa
"ooh aku tau! kamu gak anggap aku ada, gak anggap aku sahabat kamu, sampe-sampe kamu gak kasih tau sesuatu yang besar ini, kamu anggap AKU INI APA JINGGAAA....." refan berteriak
aku bingung harus jawab apa, hanya bisa terisak
hiks...hiks...hiks
"kenapa diem, kenapa kamu malah nangis bingung mau jawab apa?"
hening hanya isak tangis ku yang terdengar
"aku emang gak ada artinya buat kamu, aku pergi" ucapnya lalu berlalu
"refan...bukan gituu....refaaan dengerin aku...refan jangan pergi" teriak ku namun dia tak minghiraukan nya, ake berusaha mengejar nya namun terhambat selang infus, kulihat ada gunting di meja nakas, aku gunting selang itu, lalu beranjak turun, baru saja kaki ku berpijak pada lantai rasanya lemas hingga bruukk tubuh ku terjatuh, kaki ku lemas kepalaku sakit ditambah darah terus keluar dari hidungku
Ceklek
"JINGGAA...." suara mamah meneriaki ku
"refan tolong angkat jingga..."
refan menggangkat tubuhku, mamah segera menekan tombol darurat, tak lama dokter serta perawat berdatangan.
"maaf pasien akan segera di periksa keluarga dimohon untuk keluar dahulu" ucap dokter
"gak..gak bisa aku mau liat jingga, aku mau temenin dia"
"mohon anda keluar dulu" ucap dokter kembali karena refan tak mau keluar
"refan ayo keluar biar jingga di periksa dulu"
ajak rissa
"iya nak ayo keluar dulu, biar dokter yang periksa jingga" di luar mama menangis begipun rissa yang terus mengusap punggunga mama dan menenangkan nya, sementara refan ia terus mondar-mandir di depan pintu riangan jingga.
ceklek
dokter keluar dari ruang rawat jingga
"gimana keadaan jingga dok? dia baik-baik aja kan?"
"pasien sedang istirahat untuk sekarang, tapi kondisinya sangat mengkhawatirkan, kanker sudah menjalar hampir ke seluruh bagian otak nya, walaupun di kemoterapi ini sudah sangat terlambat, kita hanya bisa menunggu keajaiban tuhan" jelas dokter panjang lebar
"gak..jingga pasti sembuh dokter jangan ngada-ngada" ucap refan marah
"sabar fan...ini kehendak Allah kita gak bisa lawan takdir" ucap rissa dia juga merasa sedih melihat jingga harus terbaring lemah. Sedangkan mama terus menangis.
tak lama kemudian orang tua refan datang, mereka juga ikut sedih bagaimanapun jingga sudah di anggap anak mereka sendiri.
mereka semua masuk keruang rawat jingga, refan duduk di samping brangkar jingga.
"jingga jangan tinggalin aku, aku mohon, kamu bangun yaa.." ucapan refan sungguh sedih sungguh menyayat hati bila yang mendengarnya.
siang hari sekitar pukul 13.55 jingga terbangun, refan memanggil dokter untuk memeriksa jingga, setelah di periksa dokter mengatakan kondisi jingga stabil.
refan duduk di bangku dengan menyuapi jingga ia tak mau pulang, malah menyuruh mama dan juga rissa pulang, setelah makan mereka bercanda tawa agar kesedihan perlahan pergi, walau bagaimanapun dilihat dari raut wajah refan ia sangat khawatir walau di sembunyikan oleh senyuman nya.
"jingga lo harus kuat, lo gak boleh ninggalin gue sendiri" kata refan
"kamu gak sendiri refan masih ada mama, bunda, ayah, juga rissa kamu gak bakal sendiri" ucap ku pelan
" tapi aku pengen selalu ada kamu" ucapnya
"aku gak tau berapa lama lagi aku bertahan, yang pasti aku akan selalu ada buat kamu selama nyawa aku ada, selama nafas aku masih berhembus, takdir tuhan gak ada yang tau fan, aku bahagia selama ini ada kamu" ucap ku tersenyum
refan hanya menunduk setetes air mata meluncur dan mendarat di tangan jingga.
"kok nangis, laki-laki cengeng" ucap ku meledek
"aku gak nangis cuman kelilipan" sangkal nya, aku tertawa mendengarnya.
ibu dan rissa sudah datang mereka juga ikut bercanda tawa dengan kami, beberapa jam kemudian aku tertidur.
***
"eemh keliatan nya udah sore" batinku aku melirik jam sekarang sudah pukul 17.19, ku lihat refan dan rissa baru datang dengan menenteng makanan, mungkin mereka habis dari kantin
"kamu udah bangun" ucap refan
aku hanya mengangguk kulihat mama sedang tertidur di sofa
"fan tolong videoin langit senja dong aku pengen liat" ucap ku meminta tolong, aku sangat ingin melihat nya sudah 2 hari aku tak melihat senja.
"iyaa aku videoin aku keluar dulu ya.." ucap nya
yang dibalas anggukan semangat oleh jingga
sementara itu di dalam ruang rawat
"rissa sini deh" ucapku pada rissa, kemudian dia melangkah dan duduk di bangku sebelah brangkar
"aku mau jujur tapi kamu jangan marah ya..." rissa hanya mengangguk sebagai jawaban
"sebenernya aku tuh udah lama cinta sama refan" kulihat rissa hanya diam saja, apa dia gak kaget ya...
" aku gak pernah ngungkapin perasaan aku, aku pikir dengan kita bersama aja itu udah cukup, tapi ketika aku tau refan nembak kamu dan kalian pacaran hati aku beneran sakit, dan gak bisa terima, cuman aku cukup tau diri cinta ku ini cuman sebelah tangan. dan dihari yang sama waktu kalian kencan, di hari itu juga aku divonis kanker stadium akhir, sakiit banget rasanya. aku gak mau refan tau takut nya dia ikut sedih, aku bilang sama mama, bunda, ayah buat gak kasih tau dia. setiap hari, setiap waktu aku bunuh perasaan aku sama refan dan mencoba ikhlas untuk menerima takdir tuhan. setelah aku bertemu dan mengenal mu ternyata refan dapet cewek yang tepat banget buat ngedampingi hidup nya" kulihat rissa menangis sembari menunduk
"aku gak maksud buat bikin kamu sedih atulau gimana, cuman aku mau kamu jagain refan buat aku, aku pengen kami selalu ada buat dia, dia itu cowok kurang peka jadi kamu harus sabar yaaa...
aku juga pengen kamu jagain ibu aku, anggap mama sebagai ibu kamu juga, jangan biarin dia nangis kalau aku gak ada" ucap jingga
"kamu gak boleh ngomong kayak gitu, kamu harus sembuh" rissa terisak
"aku gak tau ris, hidup mati itu ditangan tuhan, entah aku masih bisa lihat senja esok atau enggak" ucap jingga
"jadi aku mohon sama kamu, penuhin permintaan ku ya..." ucapku pada rissa
dia hanya mengangguk, aku tersenyum melihat kesanggupan nya memenuhi permintaan ku.
tak lama kemudian refan datang dengan hp di genggaman nya, cepat-cepat rissa menghapus jejak air mata di pipinya
" nih pesanan jingga, video senja berwarna jingga" ucap nya seraya memberikan hp nya padaku
kami melihat senja bersama, ibu sudah bangun ia sedang kekamar mandi. setelah selesai melihat senja dari hp refan..
"fan kalo aku pulang jagain mama ya" mohonku
"kamu ngomong apasih kalo kamu pulang ke rumah, kamu sama mama aku bakal jagain" ucapnya tegas
aku hanya tersenyum, lalu pandanganku beralih pada mama.
"mah kalo aku pergi mama jangan sedih berlarut-larut nya, sedih boleh nangis boleh tapi jangan keseringan jangan sampe mama sakit, refan sama rissa bakal jagain mama kok" ucap ku
"kamu mau pergi kemana nak jangan tinggalin mama" mama berkata sambil menangis
"aku nyusul papah" ucap ku
tak lama kemudian monitor yang menunjukan detak jantung jingga, berderit. Dokter dan perawat mulai berdatangan, semua keluarga yang ada di ruangan, di persilahkan keluar.
mama menunggu dengan air mata terus mengalir, begitupun rissa, bunda dan ayah yang baru datang oun ikut bersedih refan tak henti-hentinya ia mondar-mandir di depan pintu
Dokter keluar semuanya mulai bangkit dari duduknya dan mendengar kan penjelasan dokter.
"bagaimana keadaan jingga dok?" tanya refan tak sabar
Dokter menggeleng, jingga telah berpulang kepangkuan ilahi 1 yang lalu mama jingga pingsan, refan terduduk menangis, ia tak pernah menyangka sahabat baiknya telah tiada, bagaimana dengan semua janji jingga yang akan terus bersama nya, dia mengingkarinya, tak bisa lagi berkata semuanya menangis. sementara ayah refan mengurus kepulangan jenazah jingga.
Jingga telah berpulang sekitar pukul 17.48 WIB hari jum'at.
***
Setelah pemakaman jingga, refan hanya terdiam, ia tak pernah menyangka akan secepat ini ia kehilangan seorang sahabat yang ia anggap saudara, tak pernah terbayang bahwa jingga akan pergi meninggalkan nya, ia akan kehilangan sosok wanita tegar itu.
***
Seminggu sudah hidup refan tanpa jingga, hampa seperti langkah tak berjejak, senja tapi tak jingga.
Hari ini ia akan ke rumah mama jingga.
"fan.." ucap mama jingga
"iya mah" jawab refan
"ini ada surat titipan jingga buat kamu, sebelum dia masuk rumah sakit dia nitipin ini buat kamu" ucap mama jingga seraya memberikan surat yang di bungkus amplop biru dongker
"ah iya makasih mah" refan mengambil nya, lalu ia pamit pulang karena sudah malam
***
dikamar refan ia membuka surat itu perlahan
lalu membanca nya dengan teliti.
to refan
kalo surat ini ada di kamu berarti aku udah pulang kepangkuan ilahi, aku titi surat ini ke mama
ini surat aku buat kamu fan, maaf aku gak kasih tau kami soal penyakit ku, aku gak mau kamu khawatir, maafin aku yaa...
fan di surat ini aku mau jujur, aku udah suka sama kamu sejak lama, bukan hanya sekedar suka antara sahabat namun aku mencintai mu. aku gak tau sejak kapan rasa ini muncul yang pasti, ketika aku mengetahuinya rasa ini telah besar.
setiap aku liat kamu sama rissa hati ku sakit fan, tapi aku berusaha menyembunyikan nya, aku gak mau kamu tau dan itu malah membuat mu menjauhi ku atau tak nyaman dekat denganku.
aku masih bisa membunuh rasa cintaku setiap waktunya.
tapi tenang saja aku telah meng ikhlaskan kalian besama, kulihat rissa itu gadis baik, ia juga cantik, dan penyayang. aku harap kalian bisa bersama sampai maut memisahkan.
cinta yang aku punya ini akan aku bawa pulang kepangkuan ilahi, dan untuk itu kuharap kalian bahagia, aku juga sudah mengatakan semuanya pada rissa.
aku tak bisa menulis panjang lebar kepalaku sakit, jika terus berpikir, aku juga bingung mau nulis apa lagi.
aku harap kalian bahagia selalu mama, bunda, ayah, kamu dan rissa aku sayang kalian, hidup lah bahagia, sehat, dan selalu dalam lindungan Allah
sampaikan salam ku pada mereka
selamat tinggal fan, aku akan selalu titip rindu pada senja. jadi tolong nantikan yaa...disetiap sorenya.
TAMAT
JADILAH SEPERTI SENJA YANG KEHADIRANNYA SELALU MEMBUAT KETENANGAN, DAN KEPERGIANNYA SELALU MEMBUAT KERINDUAN