Malam ini entah mengapa aku tak bisa tidur, pembicaran Pak Dokter dengan Ayahku pun terus terngiang di telingaku. Jujur aku tak pernah tahu tentang penyakitku ini Ayah dan Bunda selalu merahasiakan tentang penyakitku kepadaku. Memang akhir-akhir ini aku slalu merasakan sakit yang tak tertahankan di bagian dada, tapi pembicaran Dokter dengan Ayah kemarin mengungkap semua rahasia yang telah disembunyikan oleh Ayah dan Bunda.
Perlahan aku mendengar petikan gitar di serambi rumah, petikan gitar yang sangat khas yang sudah sangat lama tak pernah kudengar lagi, kuberanikan diri untuk membuka gorden yang menutupi kaca jendelaku, tarikan jendela kasar itu tak sedikit pun terdengar oleh sang pemetik gitar misterius itu, dan sekarang dia mulai bersenandung merdu membawakan sebuah lagu yang sangat aku sukai, kudengar sura itu amat sangat kukenal, lagu itu melantun dengan indah di mulutnya, rasa penasaranku pun mulai menggangguku, kulangkahkan kakiku menuju ke luar, dengan tergesa-gesa kuturuni anak tangga yang ada di rumahku, kulihat pintu rumahku terbuka dan kulihat sosok misterius itu masih duduk di sana, kuberanikan diriku untuk mendekatinya dan menyentuh pundaknya.
Matahari mulai menampakan sinarnya menembus celah-celah jendela rumahku, dan membangunkanku dari tidur yang kusangka takkan bangun lagi, semangat pagi yang dulu kurasakan sekarang luntur akibat sebuah rahasia penyakit yang kuderita. Tapi tidak aku harus bangkit dan melanjutkan hidupku dengan semangat seperti biasa, anggap saja penyakit itu hanya mimpi buruk yang akan kulupakan dalam sekajap dan ya…
“Haaaahhh siapa yang membawaku ke tempat tidur?, bukankah aku sedang menemui seorang pemain gitar misterius itu” batinku.
Kuselusuri jalan yang menuju taman belakang rumahku, dan kembali kutemui seorang pemain gitar misterius itu lagi, dan aku harus bisa mengetahui siapa dia, dan kutepuk pundaknya dan ia pun berpaling menghadapku, tapi tiba-tiba dadaku terasa amat sangat sakit dan benda di sekitarkupun terasa berterbangan, “Ara…” jerit orang itu tapi pandanganku pun kabur dan aku tak sadarkan diri.
Aku paksakan membuka mataku yang sangat berat untuk dibuka, bayangan putih mulai berkeliaran di sekitarku, “Di mana aku, apakah aku sudah mati?” ucapku dalam hati, dan bayangan-bayangn itu mulai mendekatiku, aku ingin menjerit namun mulutku tak bisa untuk terbuka dan lama-kelamaan aku mulai bisa melihat sekelilingku, teryanta aku masih hidup dan sekarang aku sedang berada di rumah sakit, perlahan-lahan kubuka mulutku dan mengucapkan “Bunda Ara kenapa?” tanyaku pada Bunda dengan suara lemah, namun bunda hanya menatapku dan tersenyum dan kulihat Ayah di sampingnya juga terrsenyum padaku dan haaahh mataku terbelalak melihat seseorang di samping ayahku yang juga tersenyum padaku “Angga??” ucapku dan laki-laki itu pun menggenggam tanganku, dan berkata “Ya Ara aku di sini”. Senyumku pun mengembang seketika itu. Rangga yang biasa kupangil Angga ini adalah sahabatku sejak lama namun karena ia dan orangtuanya harus pindah ke Jerman aku pun tak pernah lagi menemuinya.
Hari-hariku yang dulunya kelam sekarang sedikt demi sedikit sudah mulai berwarna lagi, namun setelah dua bulan ini dia yang selalu menemaniku setiap hari entah mengapa hari ini tak kelihatan, “Ah, mungkin ia sibuk” pikirku. Namun esok harinya ia juga tak kelihatan, dan sekarang perasaanku mulai tak enak. Di tengah kegelisahanku menunggu kabar dari Angga, Ayah membawa kabar gembira untukku bahwa aku akan segera sembuh dari penyakit yang kuderita selama ini, entah manusia berhati malaikat yang mana, yang telah memberikan jantungnya padaku, namun hati ini masih memikirkan Angga.
Hari itu pun tiba dimana aku harus melakukan operasi, namun Angga tak juga mengabariku apalagi datang menemuiku.
Dua hari setelah masa kritis aku pun bangun, entah mengapa sebelum aku bangun aku bermimpi bahwa Angga menemuiku, dan berpesan kepadaku “Ra jaga diri baik-baik ya, mungkin kita gak bakal ketemu lagi, dan jaga jantung itu baik-baik setiap jantung itu berdetak untukmu, jantung itu juga berdetak untukku”.
Aku terbangun dalam tidur panjang ini kuberharap ketika mata ini terbuka aku ingin melihat senyum itu, senyum yang sangat kurindukan, tapi nihil seyum itu sama sekali tak kulihat hanya senyum Bunda dan Ayah yang kulihat berseri-seri.
Tiga minggu berlalu jatung ini terus berdetak untukku dan entah mengapa setiap kali ku memegang dadaku entah mengapa terasa Angga ada di sampingku.
Hari-hari berlalu, pagi ini perasaanku agak sedikit aneh, pagi ini aku sangat ingin pergi ke taman belakang dan sekarang kaki ini sudah mulai melangkah ke sana, aku terkejut melihat sebuah gitar yang sering dimainkan oleh Angga berada di sana dan di sampingya terletak sebuah kotak hijau muda, perlahan kudekati gitar dan kotak itu, kuulurkan tanganku untuk mengambil kotak itu dan membukaya.
Perlahan air mataku mulai menetes, dadaku terasa sesak setelah kubaca surat dari Angga yang isinya
To: Azahra khofipah Hay cantikku, apa kabar?… heheehhee moga kamu baik-baik aja ya di sana, mungkin saat kamu baca surat ini aku dah gak ada lagi, Ra jaga jantung itu baik-baikya karena jantung itu akan berdetak untuk kita, dan maaf aku gak pamit, plise Ra jangan nangis karena semua ini udah jadi kehendak-Nya, dan jangan pernah merasa sendiri ya Ra karena kamu memiliki banyak orang yang sayang sama kamu.
Ra di sini aku juga mau jelasin kenapa aku gak pernah nemuin kamu lagi akhir-akhir ini, tapi janji ya jangan nangis. Aku sakit Ra dan sekarang aku sudah tenang di sisi-Nya sekarang. Dan jaga jantung itu buat aku, jujur aku iklas walaupun aku di sini hanya bisa lihat kamu di sana. Love u Ara, jangan nangis ya, mana seyumnya Ara?
Cerpen Karangan: Mirna Blog / Facebook: Mirnana