Tawa mereka masih juga terdengar di telingaku, aku tau semuanya telah berbeda. Kumohon sobat!!! Lihatlah aku, lihatlah keberadaanku. Tapi entah mengapa satu kali pun kalian tak melihat keberadaanku, tak melihat rasa sayangku kepada kalian. Kenapa sobat! Kalian justru menganggapku sebagai sesosok wanita yang tak berguna bahkan untuk sekedar menyapaku saja kalian tak mau. Lalu apakah aku harus memohon kepada kalian jika aku ingin diperhatiakan oleh kalian.
Pagi ini suasana tak jauh berbeda, semuanya asik dengan kesibukan mereka, begitupun denganku. Aku tau mungkin ini terakhir kalianya aku melihat senyuman itu, sobat, aku sayang pada kalian semua, aku tak ingin hari ini berlalu begitu saja, andai kalian tau bahwa hari ini adalah hari dimana diriku harus berpisah. Aku tak ingin melewatkannya teman, sungguh!
“Kamu kenapa?” Tanya sasa yang terlihat merasa ada yang aneh dengan diriku hari ini. “Aku hanya ingin melihat senyuman kalian sebelum aku pergi.” “Apa maksud dari perkataanmu?” “Lupakan saja. Sudahlah sana main lupakan aku untuk sejenak saja, dan saat itu kamu akan mengerti posisiku sekarang. Saat dimana keramaian menjadi sebuah keheningan untukku saja. Aku lelah untuk berdiri seorang diri, jangankan untuk berdiri tertawa pun aku tak memperlihatkannya, kamu tau, seandainya kamu dan mereka semua tau. Tapi, nyatanya tak ada satu orang pun yang memahaminya, lalu apakah dayaku sa! Oh ya jika aku terlalu lama tidur berarti aku lelah dan ingin istirahat, jadi jangan bangunkan aku ya sa!”
“Aku tak menyangka bahwa itu terakhir kalinya aku melihat senyuman diana. Terkadang aku sempat berpikir kenapa aku justru tak pernah menyadari bahwa diana adalah satu-satuanya orang yang sangat ingin melihat kita bahagia bahkan sampai berkorban dengan mengaku sebagai kau hilmi, kau lah alasannya kenapa kita semua disuruhnya untuk pulang waktu itu.” semuanya diam dan tertegun mendengarnya. “Karena dia tak ingin kalian melihat itulah terakhir kalinya dia bernafas, dia rela mengatakan pada mereka orang yang sengaja ingin membuhuhmu hil jika dia adalah kamu.”
Semuanya terdiam seribu bahasa menyesali perbuatan mereka yang tak menganggap orang yang hanya memperhatikannya akan melakukan ini semua, melakukan hal yang tak pernah mereka duga.
Cerpen Karangan: Ambar Blog / Facebook: Sri Lidat Lidut