Semua individu di dunia ini pasti pernah merasakan suatu hal abstrak dan fleksibel yang disebut dengan cinta. Cinta membuat seseorang menjalani suatu hal yang biasa maupun tak biasa dalam kehidupannya. Cinta juga kadang membuat seseorang senang dan sedih. Aku juga pernah merasakannya, merasakan jatuh cinta pada seseorang. Orang itu adalah sahabat ku sendiri. Gimana sih rasanya jatuh cinta pada sahabat sendiri. Dia yang aku ajak sejak kecil dan besar bareng ternyata dia orang yang aku cintai dan dia cinta pertamaku dan juga cinta terakhirku. Tetapi aku tidak berani menyatakan cintaku kepadanya karena takut kalau seandainya dia tidak memiliki rasa yang sama denganku. Dan aku takut kalau nantinya persahabatan ini renggang karena perasaan cinta ini.
Sebelumnya kenalin nama aku Mentari Arabelle. Kenapa aku diberi nama Mentari karena ibu ingin aku bagaikan sang Mentari yang selalu bersinar. Sedangkan Arabelle yang artinya cantik.
Aku mempunyai sahabat laki laki yang bernama Langit Alvaro. Aku dan langit bersahabat sejak kami berdua duduk di bangku SD. Langit itu orangnya pintar, baik, gak mudah menyerah, bekerja keras, humoris, ya gak ngebosinlah di ajak bercanda, dan dia hobi main basket, ya karena dia tinggi sih. Aku sering nemenin dia main basket, walaupun aku gak bisa main basket. Padahal aku sering di ajarin sama dia, tetapi tetep aja aku gak bisa. Selain pinter main basket dia juga pinter dalam belajar, aku aja sering diajarin sama dia. Dia juga sering ikut olimpiade, kayak olimpiade sains, matematika dan bahasa Inggris. Sumpah otaknya dia encer bagaikan ice cream gak kayak otak aku beku bagaikan batu. Aku sering nemenin dia ikut olimpiade, kasi dia semangat sampai akhirnya dia menang Olimpiada MIPA tingkat provinsi. Aku bangga banget sama Langit. Aku yang anak tunggal merasa sangat senang karena memiliki seorang sahabat. Rumah kami tidak begitu jauh sehingga kami sering main bersama dan buat tugas bersama. Di sekolah kita duduk sebangku, kita main, makan, buat tugas bareng, dan dulu kita juga pernah dihukum bareng karena telat datang ke sekolah. Semua kita lakuin bersama – sama. Sampai akhirnya kita tumbuh besar dan duduk di bangku SMA.
Aku dan langit memilih sekolah di salah satu SMA negeri. Walaupun kami sudah SMA kami tetap duduk sebangku dan melakukan semua hal bersama – sama. Masa SMA adalah masa yang sangat indah, dimana kita kenal yang namanya cinta. Cinta begitu aneh, kita tidak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta. Sampai pada akhirnya aku jatuh cinta pada sahabatku sendiri yaitu langit. Seiring berjalanya waktu, hari demi hari aku lewati bersama dia, perasaan cinta ini tumbuh dan berkembang sangat besar Tetapi aku memilih memendamnya karena aku takut kalau nanti persahabatan aku dan Langit renggang karena perasaan ini.
Selain Langit aku juga memiliki sahabat yang bernama Kaila. Walaupun aku dan Kaila kenal semenjak MOS di sekolah, tetapi dia juga bisa mengerti aku dan menjadi sahabat aku. Aku, Langit dan Kaila satu kelas dan aku sering bercerita kepada Kaila tentang perasaan aku kepada Langit.
*Di Lapangan Sekolah SMA
Hari ini kelas aku sedang olahraga di lapangan. Aku dan Kaila main bola voli sedangkan Langit bermain basket. Sumpah langit pinter banget main basket sampai aku terpukau melihatnya. Karena saking asiknya liat Langit main basket, kepala aku terkena bola voli dan pingsan di lapangan. Setelah aku sadar dari pingsanku ternyata aku sudah berada di ruang UKS. Langit dengan wajahnya yang begitu mencemaskan aku, yang kulihat pertama saat aku sadar dari pingsanku. Setelah aku sadar Langit dengan cepat mengompres dahi aku yang memar akibat terkena bola tadi. Sikap dia yang manis dan lembut kepada ku membuat aku jatuh cinta kepadanya. Dia memperlakukan aku dengan lembut dan membuat aku seolah olah sosok special baginya. Ini yang membuatku semakin jatuh cinta kepadanya, bahkan seluruh siswi mengira aku dan dia berpacaran padahal kita hanya sebatas sahabat. Akan kah dia memiliki perasaan yang sama denganku ? entah lah aku gk berani terlalu berharap hal itu, karena aku sadar aku dan dia bagaikan bumi dan langit. Dia terlalu tinggi untuk aku gapai.
Setelah selesai di kompres dahi ku oleh Langit, bel pulang pun berbunyi dan kita pulang bareng apalagi rumahku sejalan dengan rumah Langit. Sehingga kami sering pulang bareng.
Hari terus berlanjut, hari demi hari perasaanku semakin dalam untuknya tetapi aku semakin menutupinya dari semua orang karena aku takut dia akan semakin jauh untuk di gapai.
Siang itu, di lain hari kelas kosong tanpa guru dan semua teman sekelas sedang sibuk dengan kegiatan masing – masing. Berbeda dengan langit, dia sedang tertidur dengan tas yang menjadi bantalannya. Aku sesekali mengamatinya. Takut jika dia terbangun dari tidurnya karena waktu itu kelas yang bising. Kenapa aku takut dia terganggu hanya saja aku merasa kasihan kepadanya karena dia bilang lusa dia akan mengikuti Olimpiade Matematika dan biologi. Jadi sejak seminggu ini dia selalu belajar dan sesekali dia belajar sampai larut malam. Darimana aku tau dia belajar sampai larut malam karena aku selalu melihat kantung hitam di bawah matanya setiap pagi. Dia juga sering cerita denganku, aku hanya bisa memberi dia semangat dan mendoakan dia semoga hasil dari kerja kerasnya memuaskan, semoga dia menjadi juara dalam Olimpiade dan membanggakan semua orang. Aku tersenyum melihatnya tertidur, begitu damai wajahnya tanpa guratan di dahi seperti aku lihat ketika dia sedang berfikir mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Sambil sesekali melihatnya akupun menulis sebuah puisi tentang dia dan terburu – buru menyelesaikannya ketika dia sudah mulai terbangun. Tentu saja aku tidak ingin dia sampai mengetahui puisiku. Setelah dia bangun dari tidurnya lalu kami pergi ke kantin bareng dan dengan sengaja dia mengandeng tanganku.
Tiba saatnya hari dia mengikuti Olimpiade, aku datang bersama orang tuanya dan memberikan dia semangat dan selalu mengingatkan dia untuk berdoa sebelum mulai menjawab soal Olimpiade. Lalu dia memasuki ruang olimpide.
Aku dekat dengan orang tuanya karena aku sering main ke rumahnya dan dia juga sering main kerumahku. Orang tuanya sangat baik kepadaku seolah menganggap aku sebagai anak nya juga.
Kali ini Langit mengikuti Olimpiade tingkat Nasional. Aku dan orang tuanya sangat bangga kepadanya dan selalu mendoakan dia semoga hasil dari kerja kerasnya memuaskan, semoga dia mendapatkan juara pada olimpiade ini. Guru – guru dan semua teman – teman disekolah sangat bangga kepadanya.
3 jam berlalu, Langit sudah selesai mengerjakan soalnya dan keluar dari ruang olimpiade. Hasil dari olimpide akan diberitahukan pada hari ini karena olimpide menggunakan sistem online. Aku, langit, guru Pembinanya dan orangtuanya sangat deg deggan dengan hasilnya. Pada akhirnya tiba saatnya pengumuman hasil dari olimpiade. Ternyata Langit mendapatkan Peringkat 2 dalam Olimpiade ini. Wow mantap banget, Langit yang kaget mendengarnya reflex memeluku. Aku bangga banget sama Langit, setidaknya hasil dari kerja kerasnya terbayarkan lunas.
1 tahun kemudian, aku dan Langit sudah kelas 12 SMA dan kami bersiap – siap mengikuti Ujian Nasional. Sampai kelas 12 aku belum bisa mengutarakan perasaan aku kepadanya apalagi dia focus belajar untuk Ujian nanti. Seminggu sebelum ujian dia mengajarkanku semua materi yang akan diujikan. Dia selalu berusaha mengajariku agar aku mengerti semua materinya, karena dia tau aku paling susah buat mengerti materi. Hari ujian pun tiba, aku bisa mengikuti ujianku dengan baik. Sampai akhirnya ujian telah berakhir. Lalu tinggal menunggu pengumuman hasil ujian dan perpisahan sekolah.
Hari Perpisahan sekolah tiba sekalian dengan pengumuman siswa dengan nilai terbaik. Langit maju sebagai murid dengan lulusan nilai terbaik satu angkatan. Gak heran sih, karena dia begitu pintar.
Langit mendapatkan Beasiswa untuk kuliah di Universitas Belanda. Dan dia menerima beasiswa itu. Kali ini aku dan Langit akan perpisah karena kami beda universitas, dia yang kuliah di Belanda dan aku kuliah di Indonesia. Sampai saat ini aku masih menyimpan perasaanku untuk Langit, mungkin cinta pertamaku ini bertepuk sebelah tangan. Nanti dia akan kuliah di Belanda, pasti dia akan menemukan dunia baru dan mempunyai banyak teman baru. Akan kan dia lupa dengan aku ?
Hari disaat dia akan pergi ke Belanda pun tiba, aku dan orangtuanya mengantarkan Langit sampai di Bandara. Aku sangat sedih melepas Langit untuk pergi ke Belanda, gk terasa air mataku terus menetes. Sebelum dia berangkat dia mengatakan sesuatu kepadaku “ Mentari, aku akan pergi ke Belanda untuk melanjutkan ilmuku. Kamu tetaplah bersinar bagaikan sang mentari dan kamu harus rajin kuliah nanti, walaupun kita beda tempat tetapi jangan lupakan aku. Aku hanya pergi 5 tahun dan kembali ke Indonesia, pada saat nanti aku kembali ke Indonesia ada sesuatu yang akan aku sampaikan kepadamu. Jika kamu rindu dengn aku maka hubungilah aku, aku pasti akan rindu dengamu mentari ( sambil mengusap air mataku yang terus menetes)”. Itu ucap Langit kepadaku. Air mataku terus menetes sampai Langit terbang dengan pesawatnya.
Setahun setelah Langit kuliah di Belanda, dalam setahun ini aku masih bisa berkomunikasi kepadanya tapi karena handphone aku rusak dan semua datanya hilang termasuk no handphone Langit. Sehingga aku tidak bisa berkomunikasi sama sekali dengan dia. Aku tidak tau kabar Langit sekarang kayak gimana, apa dia baik – baik saja di sana.
Selama 4 tahun aku merasa kesepian, aku rindu dengan langit, rindu saat dimana dia memelukku dan memegang tanganku. Aku ingat dia pernah menitipkan pesan kepadaku, kalau aku rindu kepadanya maka lihatlah langit biru diatas dan titipkan rindumu disana. Itu pesan Langit kepadaku. Dan sekarang di hadapan luasnya samudera dan birunya langit aku titipkan rinduku untuk dia yang disana, semoga dia baik – baik disana dan bahagia. Sampai sekarang aku masih mencintai Langit dan sangat menyayanginya. Tetapi aku tidak tau apakah disana dia sudah memiliki seorang pacar atau tidak. Aku hanya bisa pasrah jika nanti Langit kembali ke Indonesia dan sudah memiliki pendamping hidupnya. Aku akan bahagia jika dia bahagia.
5 tahun berlalu, sekarang aku sudah menyelesaikan kuliah ku. Seharusnya Langit juga sudah menyelesaikan kuliahnya dan kembali ke Indonesia, tapi aku tidak tau entah dia kembali ke Indonesia atau tidak. Saat wisuda ku tiba, aku berharap Langit datang melihat aku wisuda tetapi itu tidaklah mungkin.
Setelah aku selesai wisuda, aku diajak ke taman oleh mama dan papa. Aku bingung kenapa aku di ajak ke taman. Sesampainya aku di taman, aku melihat dekorasi taman yang begitu indah dengan bunga dan balon yang berwarna warni. Tiba – tiba Langit datang dari belakang dan memelukku. Aku sangat kaget, ternyata Langit lah yang menyiapkan semua ini untukku. Di taman itu juga Langit mengutarakan perasaannya kepadaku. Selama ini dia juga mencintaiku dan sama seperti aku, dia juga tidak berani mengutarakannya. Sampai akhirnya dia mengungkapkan semua perasaanya pada saat itu juga. Akhirnya aku mengetahui perasaan Langit dan ternyata selama ini cinta aku tidak bertepuk sebelah tangan hanya saja aku dan dia yang tidak berani mengutarakan perasaan kami satu sama lainnya.
Setelah 1 bulan kita pacaran, dia mengajak aku ke sebuah bukit yang berada di samping samudera. Disana lah Langit melamarku. “diatas tanah ini, dihadapan luasnya semesta, langit nan biru dan mentari yang bersinar akan menjadi saksi bahwa saya mencintaimu, saya ingin memastikan bahwa kamu akan jadi yang terakhir. So will you marry me ?. Ucap Langit. Kata – kata langit begitu menyentuhku dan aku menerima lamarannya. Lalu kita menikah. Dia berjanji akan menemaniku setiap langkahku dan melengkapi setiap kekuranganku. Cinta tidak perlu memandang kelebihan tetapi saling melengkapi satu sama lainnya. Itulah namanya cinta sejati. Ternyata cinta pertama dan cinta terakhir aku adalah Langit. Semoga kita tak terpisahkan sampai ajal menjemput.
~Tamat~