Kana adalah seorang gadis remaja yang sangat cantik, ia baik dan juga tidak sombong, banyak yang mengidam idamkan sosok kekasih seperti Kana, gadis cantik yang pandai bergaul
menjadikan sebagai orang yang populer, kepopuleran itu didapatkan dari sikapnya yang memang begitu friendly.
Meskipun populer nyatanya gadis cantik itu tidak mempunyai seorang kekasih, mungkin karena ia belum menemukan seseorang yang mampu membuatnya tertarik, namun bukannya ia tidak berusaha, ia juga sangat menginginkan memiliki seorang kekasih.
Suatu hari Kana dan sahabatnya Melandra berkunjung ke panti asuhan, di sana mereka memberikan bantuan sembako serta pakaian yang di dapatkan dari acara gelaran donasi yang mereka selenggarakan, nah disinilah ceritanya dimulai.
Awalnya suasana kunjungan itu biasa saja seperti biasanya mereka berkumpul dengan anak-anak panti itu, namun disinilah Kana merasakan sesuatu yang beda sesuatu yang baru pertama kali ia rasakan selama 18 tahun dalam hidupnya.
"Kamu kenapa Na?"tanya Melan heran melihat Kana menatap taman belakang bangunan itu.
"Heum tidak ada, aku hanya suka suasana disini."jawab Kana berbohong kepada Melan.
"Oh yasudah aku kedepan dulu ya, mau ambil barang yang lainnya."balas Melan pergi meninggalkan Kana.
Kana hanya diam tak menjawab, ia masih melihat apa yang membuatnya penasaran akan sosok lelaki tampan yang sedang membaca buku di bawah pohon rindang, itu tampak seperti gambar potongan sebuah dongeng yang pernah ia baca.
Kana memberanikan dirinya untuk mendekati lelaki itu secara diam diam, ia mengendap endap dari balik pohon besar itu, ia memperhatikan seorang lelaki yang sedang membaca buku tentang angin, memangnya apa istimewahnya angin pikirnya bingung.
"Apa istimewahnya angin?"tanya Kana mengejutkan lelaki itu, tampaklah wajahnya dengan jelas, mungkin lelaki itu lebih tua sedikit darinya.
"Kau siapa?"balas Lelaki itu heran karena ia tidak mengenal Kana, padahal gadis itu sudah beberapa kali mengunjungi panti asuhan itu.
"Aku Kana, lalu siapa namamu?"tanya Kana yang langsung duduk disamping lelaki itu diatas rerumputan tebal.
"Aran."jawabnya datar.
"Aran?"tanya Kana tampak bingung dengan nama yang terdengar aneh di telinganya.
Aran tak menjawabnya, ia melanjutkan kegiatannya membaca buku, namun kehadiran Kana tampak membuatnya risih karena gadis itu terus menyerangnya dengan pertanyaan yang bertubi tubi.
"Apa kau tinggal disini?"tanya Kana melihat wajah Aran yang tampak tak peduli dengan Kana disampingnya.
"Heum."jawab Aran singkat.
"Kenapa?, kenapa kau disini."lanjut Kana bertanya semaunya.
"Menurutmu."balas Aran menoleh menatap mata Kana, seketika pipinya jadi merah merona.
"Ya aku tidak tahu, kau yang harus menjawab bukan."balas Kana memalingkan wajahnya tak ingin menatap mata tajam itu.
Kana bertanya tanya kepada dirinya sendiri, mengapa jantungnya berdetak seakan lebib cepat dan lebih kuat, apakah karena ia belum makan siang pikirnya polos, Kana terlalu tertinggal soal urusan percintaan, karena memang ia belum pernah jatuh cinta.
"Kenapa kau tidak pergi saja, bukannya tugas kalian masih banyak."ucap Aran mengagetkan Kana, ia tak menyangka Aran secara tidak langsung mengusirnya.
"Baiklah aku pergi."jawab Kana agak kesal dengan perlakuan Aran yang angkuh.
"Silahkan, begitu lebih baik."balas Aran membuka kembali bukunya, Kana menatapnya tajam, lelaki ini sudah keterlaluan dengan sikap sombongnya.
Hari itu menjadi hari yang paling menyebalkan, pasalnya ia belum pernah sekalipun diperlakukan seperti itu oleh seorang lelaki, namun dengan dengan sikap Aran yang dingin mampu membuat Kana tertarik, gadis itu mulai memikirkannya.
Aran adalah seorang penulis yang sedang mencari inspirasi, orang tuanya adalah pengurus panti asuhan itu, Aran adalah mahasiswa sastra, ia banyak menghabiskan waktunya untuk menulis, karya karya nya sudah banyak diterbitkan salah satunya adalah True Love yang ia buat selama satu bulan itu menjadi Novel terbaik di tahun 2019.
Singkat cerita, Kana yang baru mengetahui tentang Aran dari ibunya itu merasa terkesan dangan lelaki tampan dengan mata tajam itu, Kana banyak mengetahui tentang Aran dari makana, hobi serta kegiatan Aran setiap harinya, ia juga mengetahui bahwa Aran belum mempunyai kekasih, entah mengapa hati Kana begitu riang akan hal itu, ia selalu tersenyum ketika mengingat sifat dingin Aran, ia bukan sombong, Aran termasuk orang yang menutup diri (introvert).
Setelah beberapa bulan Kana kembali lagi kepanti itu dengan dua alasan, tentu saja alasan utamanya untuk melihat Aran dan mengganggunya, alasan keduanya ialah memberikan bantuan kepada panti yang bukan sekali ia bantu, dengan begitu alasannya datang ke panti sangatlah logis.
"Hai Aran."ucap Kana menyapa Aran yang sedang menulis dibawah pohon.
"Apa kau tidak bosan."tanya Aran dingin.
"Bosan?,maksudmu?."jawab Kana tampak bingung.
"Apa kau tidak bosan menggangguku."balas Aran tambah dingin.
"Haha itu..ee tidak kebetulan aku sedang menjalankan kewajiban bulananku."balas Kana merasa malu, Aran menatapnya dengan tatapan yang sulit ia artikan.
"Ibuku sering menceritakanmu."balas Aran membuat Kana kaget, karena ibu Aran tahu Kana menyukai anaknya Aran.
"Eum...benarkah?"tanya balas Kana merasa malu, jangan sampai ibu Aran memberitahu tentang isi hatinya kepada Aran.
"Ibu bilang kau gadis baik."jawab Aran singkat.
"Ya semoga saja memang begitu."balas Kana.
"Tapi bagiku kau tetap pengganggu."balas Aran menatap Kana yang tampak cemberut mendengar pernyataannya.
"Aku tidak bermaksud untuk
mengganggumu."balas Kana lirih malu karena Aran begitu ceplas ceplos.
"Lalu apa kau tidak mengganggu."jawab Aran yang membuat Kana makin tersudut.
Kana terdiam, perasaannya sangat sedih karena sifat Aran yang begitu seenaknya saja menyindirnya, tampak raut wajah sedih diwajah cantik itu, ia mengambil tasnya lalu berjalan meninggalkan Aran yang hanya tersenyum melihat tingkah laku Kana yang menurutnya lucu.
Kana sangat kecewa dengan perlakuan Aran, selama beberapa bulan ia datang hanya mengantarkan sembako namun tidak lagi datang menemui Aran.
Setahun lebih terlewati, kini gadis cantik itu sudah menjadi seorang mahasiswa, jangan di tanya tentang kepopulerannya, ia menjadi junior idola kampus, bertambahnya usia membuatnya semakin cantik dan semakin memikat dimata lelaki yang memandangnya.
Saat itu Kana kembali berkunjung ke panti, entah itu kunjungan yang keberapa kalinya, yang jelas keluarga Kana selalu membantu panti itu, saat Kana sedang berbicara dengan Ibu Aran ia menanyakan kabar Aran, ternyata dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia sangat mencintai lelaki dingin itu, namun Kana dikejutkan oleh sosok lelaki yang berbeda, lelaki dengan wajah yang sama namun dengan sifat yang berbeda, Aran menjadi sosok yang ramah, ia menyapa Kana dengan senyuman lalu berlalu melewati gadis itu yang tampak terhipnotis.
Kana mengikutinya dari belakang Aran sedang merapikan buku bukunya di dalam ruangan yang penuh dengan buku koleksinya, Kana menjadi agresif, ia mendekati Aran masuk kerungan yang minim cahaya itu.
"Astaga, kau mengagetkanku saja."ucap Aran mengelus dadanya karena terkejut Kana yang berdiri diam di belakangnya.
"Hehe apa aku semenakutkan itu bagimu."tanya Kana dengan wajah polosnya.
Aran tak menjawabnya, entah mengapa ia merasa canggung ketika harus melihat mata Kana.
"Kau datang memberi bantuan lagi."tanya Aran mencairkan suasana kaku didalam ruangan itu.
"Eum..aku juga sekalian ingin melihat sesuatu."balas Kana tersenyum manis.
"Melihat apa?."jawab Aran membalikan badan menghadap Kana, seketika jantung mereka berdegup, pipi mereka memerah.
"Rahasia."balas Kana tampak gugup.
"Oh begitu."balas Aran kembali membersihkan buku.
"Sudah lama sekali ya."ucap Kana membuat Aran menatapnya, namun Kana membalas tatapan itu dengan tatapan yang tampak berharap.
"Eum...semenjak gadis itu tidak datang kesini lagi, aku jadi merasa lebih baik."balas Aran tersenyum membuat Kana cemberut, nyatanya ia masih seperti dulu batin Kana.
Tiba tiba saja ada tikus, Kana berteriak kegelian melompat ke arah Aran yang menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat, tak ada kata yang keluar dari mulut mereka, namun tampak dari keduanya enggan melepaskan satu sama lain, didalam kesunyian hanya degup jantung mereka yang terdengar berdetak lebih keras.
"Selamat datang kembali tuan putri."bisik Aran di telinga Kana, bisikan itu membuat Kana menggeliat geli dan bahagia.
Kana tak menjawabnya, hanya saja pelukan itu seperti tak boleh dilepas, matanya mulai sendu berkaca kaca, entah siapa yang memulainya, Aran mengelus lembut rambut indah Kana, tampak seperti sepasang kekasih yang sudah lama berpisah dan bertemu kembali, dibalik pintu wanita paruh baya itu hanya melihat dengan air mata yang mengalir di pipinya, seorang ibu yang sangat tahu perasaan anaknya.
Mereka berjalan keluar berpegangan tangan dengan raut wajah cerah, tentu saja mereka bahagia.
*****
Jika tak mampu untuk mengucapkan, cukup jalani saja bila disitu ada kenyamanan, masalah status itu akan ada pada saat yang tepat.
Tamat.