"Menjadi pagi memang bukanlah suatu penyesalan, bahkan aku menginginkannya. Karena hanya pagi yang menjadi tempat mu terbangun menyemangati mu meski dirimu sibuk mengagumi senja"
Namaku jingga sipengagum senja, aku hanya wanita sederhana dari keluarga sederhana, si pengagum senja ini mempunyai kepala yang dijadikan sarang penyakit ganas, penyakit ini terus menggrogoti otak ku sakit sangat sakit.
Begitu juga dengan hatiku yang menjadi sarang cinta yang tak sampaikan, cinta bertepuk sebelah tangan.
Ada benarnya juga bila seorang wanita dan pria berteman maka ada kemungkinan salah satunya memiliki perasaan.
Begitu juga dengan ku, aku menyukai sahabat ku bernama refan, siapa sih tak menyukai cowok tampan, sopan, baik, cerdas, ramah, dia laki-laki kedua setelah ayah ku yang bisa membuat ku nyaman didekat nya.
Tapi ketika aku mulai mencintainya, ternyata dia juga mencintai gadis lain bukan diriku namanya marrisa gadis cantik keturunan indonesia-korea bermata sipit, mempunyai senyum manis dengan lesung pipi, dan tentunya ia gadis yang sehat tidak sepertiku yang penyakitan.
semua kisah cinta ku berawal dan berakhir dikala senja.
flashback on
Ketika senja mulai menyapa dua sahabat yang tengah menikmati jingga dengan hangat nya teh dan kopi bercanda tawa bagaikan tiada beban yang melanda.
" jingga!" ucap refan
"apa?" ucap ku
"siapa yang manggil kamu, aku cuman liat senja dengan langit berwarna jingga bukan kamu, Ge-er" ucap refan
yang membuat ku malu sekaligus kesal
"iiiiihh refan, lo nyebelin banget" ucap ku kesal sembari terus memukul bahunya kerass
"hhhaahhaa maaf....maaf..aku cuman godain kamu kok, hheeehhe udah ya jangan pukul lagi sakit banget, cewek ko tenaganya kayak banteng" ucapnya sembari tertawa
"kamu ngatain aku banteng, mana ada banteng pake kerudung, udah ah kesel aku sama kamu" ucapku pura-pura marah
"becanda tau maaf..maaf..lagian mana ada banteng secantik kamu" katanya gombal namun mampu membuat ku tersipu, pipiku memerah
"cieee pipinya merah tuuh" godanya
"eh apaan enggak yaa" bantahku
"iyadeh iya" ucap nya pasrah, lalu memandang ku dan kamipun tertawa.
walau hanya dengan candaan receh, gombalan alay tapi tetap saja semuanya indah dan menyenangkan , apalagi untuk ku yang mencintainya dengan seperti ini malah menambah kadar cintaku padanya.
***
hari-hari terus berganti aku dan dia sangat dekat namun tetap saja aku tak bisa mengungkapkan perasaanku, biarlah waktu yang jawab rasa.
yah perlahan tapi pasti waktu menjawab rasa tapi bukan rasa aku yang terbalaskan tapi rasanya.
ketika aku sedang di perpustakaan tiba-tiba ia datang membawa kabar bahagia untuknya.
"jingga kamu harus tau ini! aku tadi nembak marrisa dan gilanya aku akhirnya di terima setelah ke 6 kali nya aku nembak dia dan akhirnya di terima juga, udah lama aku suka dia" ucap refan keliatan amat bahagia
"pasti kamu gak nyangka kan soalnya aku gak pernah nunjukin rasa suka aku sama dia kalo ada kamu, kamu pasti kaget kan, nah sekarang aku gak jomblo lagi Hheeehhee tinggal kamu cari pacar" ucapnya dengan senyum yang terus merekah dibibirnya
Deg
hatiku bagai dihantam ombak besar, menyakitkan namun aku tak bisa apa-apa, bibir ku kelu mulut ku terasa terkunci, ku pikir asal aku terus bersamanya maka cinta juga akan tumbuh di hatinya, ternyata itu salah, aku keliru.
"hey jingga! jingga" panggilnya
" kok kamu malah ngelamun sih, kami dengerkan apa yang aku bilang" lanjut nya
"ah iya aku denger kok, denger selamat yaa... aku ikut seneng" ucap ku dengan senyum paksa, aku belum bisa menerimanya, sungguh ini terlalu tiba-tiba.
"hhehhhe iya aku kira kamu gak seneng soalnya dari tadi diem aja, nanti aku kenalin ya sama kamu biar bisa akrab" ucapnya
"tapi kamu tau kan aku itu suli-" ucap ku ter
"gak papa dia kan pacar aku, jadi kamu gak perlu malu" potong refan
"eh iya deh"jawab ku
***
di balkon rumah aku menatap senja sendiri, refan bilang ia mau kencan sama pacar nya jadi mau siap-siap dari sore.
aku menatap langit berwarna jingga, indah namun rasa tetap hampa, rasanya ada yang hilang.
namun tiba-tiba kepalaku sakit, sakit yang sangat hebat biasanya memang selalu seperti ini namun tak pernah sampai sesakit kali ini...
tes tes
"darah.." hidungku mengeluarkan darah, mata ku meremang, yang terakhir ku dengar
"mamah bawa ku-, jingga kamu kenapa"
mungkin mama melihat aku terus memegang kepala, semuanya gelap hingga bruukk tubuh ku terjatuh kelantai..
***
perlahan mata ku terbuka, ruangan putih serta bau obat-obatan tercium tajam di penciuman ku.
ku lihat kesamping kanan tidak ada siapa-siapa ketika ku berbalik kesamping kiri terlihat mama ku yang sedang terlelap tidur kulihat jam menunjukan pukul 01.00 dini hari.
"posisi tidur mama pasti tidak nyaman, ah aku juga haus" gumam ku
"ma..mama..bangun mah" ucapku pelan rasanya tidak ada tenaga. kulihat mama ku mulai menggeliyat kan tubuh nya
"kamu udah bangun sayang, alhamdulillah terimakasih ya Allah" mama mengucap syukur
"kamu haus nak? biar mama ambilin minum ya..." mama langsung mengambil minum dan membangun kan badan ku sedikit lalu meminumkan air putih yang diambil di nakas dekat brangkar
"aku sakit apa mah kok kepalaku sakit, terus kenapa dari hidung jingga keluar darah" tanya ku
hiks..hiks...hiks
"kamu yang sabar ya nak" mama menangis sambil memeluk ku
" mama kenapa menangis, aku sakit apa?" tanyaku penasaran
"kamu kanker otak stadium akhir nak hiks...hiks"
Jdeerr
bagai tersambar petir, belum cukup kah kabar tadi siang membuat hatinya sakit, lantas malam harinya ia mengetahui bahwa penyebab ia sering sakit kepala dan mimisan adalah kerena kanker otak.
ya Allah cobaan apalagi ini, bagaimana aku bisa menghadapi cobaan ini, kenapa engkau tidak adil padaku, belum cukup kah engkau mengambil ayah ku sehingga membuat ku dan ibuku menderita, lalu orang yang hadir untuk menghibur nya kini telah memiliki tambatan hati, dan kini ia harus berjuang melawan penyakit ganas yang menggerogoti otaknya.
"Astagfirullah aladzim" sejenak aku mempertanyakan keadilan Allah yang maha adil, ya Allah ampuni aku yang mengeluh dan sering lupa bersyukur.
"nak, kamu sabar ya...ibu akan usahain buat kamu berobat keluar negri, ibu akan kerja lebih giat" ucap mama sembari melepas pelukannya dan menggenggam tangan ku.
sungguh ini adalah kelemahan terbesarku melihat mama menangis, mama sudah cape membiayai ku kuliah, mama banting tulang untuk mencukupi segala kebutuhan nya, aku tak bisa lagi merepotkan mama, sudah...sudah cukup ia menyusahkan mama nya selama ini.
"gak papa ma, kalau emang takdir nya jingga sembuh, jingga bakal lebih lama sama mama tapi kalo Allah manggil jingga mama jangan sedih yaa... mungkin Allah lebih sayang sama jingga" ucap ku karena aku tak mau mama sakit dengan terus bekerja keras untuk ku
"kamu jangan ngomong begitu nak, mama sama siapa kalo kamu gak ada" ucap mama terus menangis
aku hanya tersenyum dan memeluk mama
"mama masih ada refan, dia bakalan jagain mama, aku bakalan minta dia buat selalu ada buat mama"
next~