Malam itu pukul 11:00 ada seorang gadis remaja bernama Zay, berusia tiga belas tahun masih terjaga. Lampu belajarnya masih menyala terang. Dia masih duduk di depan meja belajarnya, di temani dengan playlist lagu masih berputar. Awalnya semua terlihat normal. Tetapi semua menjadi mencekam pada pukul 11:11 malam.
***
Pagi hari di sekolah.
Zay sudah berada di dalam kelas. Seperti biasa kelas selalu ramai dengan celoteh murid di dalamnya. Celotahan itu tidak akan berhenti sebelum ada guru masuk ke dalam kelas.
“Zay... Lo udah kerjain PR matematika?.” Ucap Lala teman sebangkunya.
“Udah.” Jawabnya dingin.
“Lo gak apa – apa kan Zay?.”
Zay hanya menatapn Lala dengan tatapan kosong. Seketika Lala menelan ludahnya dengan berat. Dia takut melihat Zay yang berwajah pucat dan juga cara bicaranya yang tidak seperti biasanya. Kemudian guru datang.
“Anak – anak, ibu membawa berita duka. Telah meninggal tema kalian, yang merupakan murid terajin di kelas ini. Dia di temukan tewas pagi ini di dalam kamarnya. Penyebab kematiaanya kelelahan belajar.” Ucap ibu guru.
“Siapa bu?.”
“Zay Pricilia Nanda”.
Semua langsung menoleh ke arah bangku Zay. Tiba – tiba mereka berteriak histeris. Pintu dan jendela tiba – tiba menutup dengan sendirinya. Kertas, buku berterbangan kemana – mana. Ibu guru yang kebingungan dengan keadaan di dalam kelas.
Kericuhan ini terdengar sampai ke beberapa tetangga kelas. Mereka semua keluar menghampiri sumber suara. Terdengar beberapa guru laki – laki mencoba membuka pintu kelas dengan mendobrak. Bahkan ada juga yang mencoba untuk memecah kaca jendela.
Namun sebelas detik sebelum seorang guru memecah jendela. Tiba – tiba pintu dan jendela terbuka dengan sendirinya. Gerakan tiba – tiba itu membuat beberapa guru yang tadinya mencoba mendobrak jadi terpental jauh.
Kemudian terlihat beberapa murid sedang berteriak – teriak di dalam seperti orang kesurupan. Beberapa lainnya berhamburan keluar kelas. Situasi jadi tidak terkendali sampai seorang paranormal datang untuk menenangkan para murid yang histeris tadi.
Setelah situasi mulai konudusif. Para normal itu sedang berusaha mengumpulkan informasi dari orang yang sudah kesurupan itu. Mereka berkata “Anak ini akan mati.”
Sedangkan guru yang tadi memberikan pengumuman kepada murid di kelas tadi sedang bertanya kepada murid yang sadar.
“Kenapa kalian tadi berteriak?.” Tanya guru.
“Tadi ada Zay di kelas bu. Dia duduk di bangkunya. Bahkan dia tadi tersenyum sampai mulutnya sobek bu.” Jawab seorang murid.
“Iya bu kami yang duduk di belakangnya pun juga bisa melihat senyumannya dia bisa memutar kepalanya tiga ratus enam puluh derajat bu.” Lanjut murid lain.
Guru itu kebingungan. Karena dia tidak melihat Zay hadir di dalam kelas. Sejak masuk, dia hanya melihat bangku kosong.
“Apa hanya para murid saja yang bisa melihat?.” Gumam guru itu.
Satu minggu berlalu.
Lala teman sebangku Zay masih merasa kehilangan. Saat dia melamun tiba – tiba ada Zay di hadapannya. Dia tidak bicara apa – apa. Kemudian alat tulis di depannya bergerak. Pensil itu menuliskan “11:11 malam”.
Lala kebingungan kemudian dia menatap entah itu bayangan Zay atau roh dia tidak tau yang pasti. Zay sedang menyampaikan sesuatu. Kemudian dia juga menuliskan nama – nama beberapa siswa yang kesurupan kemarin.
Dengan sigap Lala memberi taukan teman – teman yang tercantum namanya itu. Dia menceritakan semuanya. Ada yang percaya dengan dengan peringatan Lala ada yang tidak perduli. Setidaknya Lala sudah memperingatkan mereka.
Malam hari pukul 10:41.
Semua handphone para murid yang di sebutkan tadi menyala. Semua hanphone itu membuka suatu link yang sama. Awalnya tidak terlihat apa – apa. Kemudian ada peringatan. “Dengarkan dengan headset kau akan mendapat keberuntungan besok, jika tidak kau akan mendapat kesialan.”
Empat murid yang tergiur langsung menancapkan headset. Hanya ada satu anak yang tidak. Dia memilih untuk meninggalkan handphonenya. Dia teringat oleh peringatan Lala tadi siang.
Empat murid tadi mendengarkan sebuah lagu yang menenangkan sehingga mereka tertidur. Namun tepat pada list ke sebelas, menit sebelas dan detik sebelas. Empat murid itu tiba – tiba kejang – kejang sampai mulutnya berbusa, telinganya mengeluarkan darah dan meninggal dalam keadaan melotot.
Keesokan harinya.
Lala datang ke kelas pagi – pagi sekali. Dia memastikan bahwa teman – teman yang sedang terancam kemarin baik – baik saja pagi ini. Namun ternyata tidak. Hanya ada satu murid yang masuk pagi itu dia langsung menghampirinya.
“Hai. Bagaimana keadaanmu. Apa yang terjadi tadi malam?.” Tanya Lala penasaran.
Murid itu menceritakan semua kejadian yang dia alami tadi malam. Dia merasa ada yang janggal dan hanya dia yang murid yang percaya dengan peringatan Lala. Tiba – tiba bulu kuduk mereka merinding. Tidak lama kemdian guru datang. Lala duduk kembali ke bangkunya.
“Anak – anak, ibu membawa berita duka lagi. Telah meninggal tema kalian, yang bernama ....” Ucap ibu guru.
Lala terkejut mendengar nama itu di sebutkan.
“Jadi peringatan kemarin bukan hanya imajinasku saja?.” Gumam Lala.
Lala mulai ketakutan. Dia takut kalau saja dia akan menjadi korban selanjutnya.
Sudah satu minggu lamanya Lala waspada. Bahkan dia tidak menyentuh handphonenya sama sekali. Selama itu juga Lala memastikan satu murid yang tersisa itu masih masuk sekolah. Namun hari ini ternyata murid itu tidak masuk.
Lala semakin ketakutan. Takut hal itu terjadi padanya. Namun anehnya. Pagi ini ibu guru tidak mengumumkan berita duka. Itu berarti ada kemungkinan murid itu masih hidup.
Siang hari waktu jam istirahat. Tiba – tiba dia di panggil ke kantor polisi sebagai saksi.
“Ada apa ini?. Gumamnya.
Lala menurutinya dan di antar oleh guru ke kantot polisi dan di susul oleh orang tuanya. Disana dia melihat ada murid yang dia cari – cari kehadirannya selama satu minggu ini. Di sana ada juga kakak Zay yang sedang di borgol tangannya.
“Benar ini adek Lala?.” Tanya polisi.
“Iya benar.”
“Menurut keterangan saksi ,sebelum ada kejadian tragis malam itu adek memperingatkan saksi satu untuk berhati – hati pada pukul 11:11 malam?.”
“Iya benar.” Jawab Lala singkat.
“Dari mana adek dapat informasi itu?.”
“Hantu Zay.”
Seketika mereka terdiam. Namun polisi tetap bertanya pertanyaan yang sama ke Lala. Namun jawaban Lala tetap sama. Polisi sudah tidak bisa berbuat apa – apa. Polisi sudah lelah dengan hal berbau magic. Baik pelaku dan saksi ternyata meberikan keterangan yang sama.
Setelah di telusuri. Ternyata korban memang meninggal karena kelelahan. Dia tidak hanya lelah karena belajar. Tapi juga lelah mentalnya. Karena dia di bully di sekolahnya. Di ejek karena dia pandai dan di bilang tukang pamer.
Pelaku pembulian tidak lain empat korban yang meninggal dan satu saksi yang berada di hadapan Lala saat ini.
Malam itu kakak Zay yang mengetauinya adiknya terjatuh tidak sadarkan diri. Mencoba membangunkan adiknya, dia menguncangkan badan adiknya itu. Namun tepat pada jam 11:11 Zay sudah tidak di temukan denyut nadinya. Tidak terima dengan itu. Sehingga dia memanggil Roh Zay untuk menunjukkan siapa yang membulinya. Makanya pada hari itu ada kesurupan masal. Dengan ke ahlian ITnya dia melacak semua inforamasi murid itu.
Setelah data terkumpul. Sesuai rencana kakak Zay meretas handphone siswa itu dan memutarkan lagu relaxasi awalnya. Namun pada list ke sebelas lagu itu bisa merusak sistem syaraf otak pendengar perlahan. Pada menit sebelas dan detik sebelas semua korban di pastikan sudah tewas. Karena pada menit dan detik itu adala puncak dari gelombang elektrik yang menghancurkan sistem syaraf di otak korban. Mengakibatkan korban kejang – kejang, mulurnya berbusa dan telinganya mengeluarkan darah dan tewas.
Setelah mendegar penjelasan dari polisi Lala merasa lega. Dia lega karena dia tidak menjadi korban selanjutnya. Sedangkan pelaku pembulian itu mendapatkan hukuman yaitu di skors dari sekolah selama tiga hari. Dia tidak di penjara karena masih di bawah umur.
Akhirnya pelaku pembulian terhadap Zay meminta maaf secara tertulis ke keluarga Zay. Dia juga berziarah untuk mendoakan Zay agar tenan di sana.
Dengan itu keluarga Zay sekarang lebih tenang. Meski mereka harus merelakan anaknya di penjara karena memang kesalahannya.