Di sebuah planet kecil yang bernama Elkuna, terdapat bermacam-macam kutukan yang di alami oleh penghuninya. Semakin hari kutukan itu semakin bertambah, baik di kota maupun di desa terpencil sekalipun.
Hal itu disebabkan karena negeri itu dikuasai oleh penyihir misterius yang masih tidak diketahui keberadaannya.
Awalnya penyihir itu hanya dianggap mitos oleh semua penghuni planet Elkuna. Namun, setelah banyaknya kutukan yang diterima oleh penghuni planet itu, semakin banyak juga yang percaya bahwa penyihir misterius itu nyata. Mereka memanggil penyihir misterius itu dengan panggilan Nonsa.
Beruntunglah muncul seorang tetua sakti bernama Denisha mengaku bisa berbicara pada penyihir Nonsa. Sejak itu kutukan semakin berkurang, namun dalam setiap kota atau desa harus ada manusia yang ditakdirkan untuk dikutuk selamanya.
Jika manusia yang ditakdirkan dikutuk itu meninggal, maka kutukannya akan diwariskan oleh yang memiliki kutukan itu kepada siapapun yang dia mau.
Di sebuah Desa bernama Hermena ada seorang gadis yang harus mewarisi kutukan itu.
Gadis itu sering dipanggil Andrea, dia harus mewarisi kutukan Ibu tirinya di usia 17 tahun. Andrea yang sudah yatim piatu menjadi sasaran empuk bagi Ibu tirinya untuk dijadikan pewaris kutukan.
Malam itu kakak tirinya Andrea, Julian, menjemputnya untuk segera melakukan ritual pewarisan. Tidak seperti Ibunya yang kasar dan berhati jahat, Julian malah bersikap sangat baik pada Andrea. Lelaki yang banyak digandrungi oleh gadis desa itu selalu menjadi penolong Andrea, ketika dimarahi oleh Ibunya sendiri.
"Sudah siap?", ucap Julian sambil perlahan membuka pintu kamar Andrea.
"Sebentar lagi Kak!", sahut Andrea dengan wajah sembab karena menangis.
Julian terlihat menundukkan wajahnya, karena merasa bersalah pada Andrea. Seharusnya dia yang mewarisi kutukan Ibunya sendiri bukan Andrea.
Saat itu Julian tidak bisa membujuk ibunya lagi, karena keputusan ibunya sudah bulat untuk mewariskan kutukan itu pada Andrea.
Andrea dan Julian saling terdiam, mereka sudah mengeluarkan banyak kalimat ketika pertama kali mendengar kabar ritual pewarisan itu. Yang bisa Julian lakukan adalah selalu berusaha mendampingi Andrea, karena sekarang dialah satu-satunya keluarga yang dia miliki.
***
Ritual dimulai, Denisha sang tetua terlihat sedang mengkomat-kamitkan mulutnya sambil memegang kepala Andrea yang terbaring di batu fosa. Yaitu batu berwarna hitam pekat yang hanya digunakan untuk orang-orang yang terkutuk.
Andrea memejamkan matanya dan berusaha untuk tidak menangis.
Tes Tes Tes
Denisha mencipratkan air khusus pada tubuh Andrea. Membuat tubuh Andrea yang menggigil semakin kedinginan di malam itu.
"Ritual sudah selesai, sekarang kau hanya harus mempersiapkan diri untuk menerima apapun kutukannya", ucap Denisha dengan suara seraknya.
"Apa kutukannya akan sama dengan kutukan Ibu?", tanya Andrea penasaran.
"Kemungkinan besar iya, tapi kita lihat saja nanti", sahut Denisha sambil mengambil tongkat saktinya yang dia lepaskan sesaat.
***
Syut!
Busur panah berapi yang mengarah ke dada Denisha meleset, karena nenek tua itu bisa menghindarinya dengan gesit. Membuat Andrea langsung bersembunyi dibalik batu fosa.
Prajurit Raja Elkuna yang di utus untuk menjadi pelindung Denisha langsung siap siaga melindungi tuannya.
Di atap Andrea melihat seorang lelaki membawa panah di punggungya, lelaki itu terlihat begitu berani dan gesit melawan prajurit raja yang jumlahnya banyak. Tubuh lelaki itu tertutup rapat oleh kain, hingga hanya matanya saja yang dapat terlihat.
Lelaki yang berpakaian seperti ninja itu meloncat ke bawah, kemampuan bela dirinya sangat lihai.
Buk Dhuak! Buk Dhuak!
Lelaki itu melayangkan tinjunya ke kedua prajurit sekaligus. Kedua prajurit itu langsung tumbang.
Ternyata ada tiga orang yang berpakaian seperti lelaki ninja itu yang ikut bertarung dan membantu melawan prajurit.
Lelaki misterius itu mengambil kesempatan untuk menendang dada Denisha, dan langsung membuat wanita tua itu terjatuh menabrak tumpukan kendi yang berisi air khusus. Dia lalu melingkarkan tangannya ke leher Denisha, tatapannya terlihat begitu marah.
Andrea mengambil kendi yang masih utuh, dia berlari dan mencoba menolong Denisha. Dia mengarahkan kendi itu ke kepala lelaki misterius itu. Namun lelaki itu langsung menumpas kendi itu dengan tangannya sendiri, melepaskan cengkramannya dari leher Denisha.
Prang!
Kendi itu menjadi pecah berserakan. Lelaki itu menatap tajam Andrea. Mata elang dengan iris berwarna biru itu, membuat Andrea terdiam menatap lelaki misterius itu.
"Axnan! cepat!", salah satu teman lelaki itu memanggilnya.
"Hei kau harus ikut dengan kami, kalau kau tidak ingin hidup dengan kutukan selamanya!", ucap lelaki itu sambil memegang kedua bahu Andrea dengan kedua tangannya.
Julian yang mendengar keributan itu segera berlari untuk menyelamatkan Andrea. Dia berusaha melewati para prajurit dengan hati-hati untuk segera menjemput Andrea.
Dari jauh Julian melihat bahu Andrea dicengkeram oleh lelaki mencurigakan. Dia langsung mengambil sepotong kayu dan memukulkannya kepada lelaki yang mencengkeram Andrea. Lelaki itu langsung terjatuh ke tanah.
"Ayo Andrea!", teriak Julian di tengah keributan perkelahian sambil memegang erat tangan Andrea. Andrea yang kebingungan memilih mengikuti arahan kakaknya itu dibanding lelaki asing yang baru ditemuinya.
***
"Hya! Hya! Hya!", Julian meemberikan sinyal pada kudanya agar bisa melaju dengan cepat. Andrea yang duduk dibelakang berpegangan dengan memeluk erat pinggang Julian.
Dari belakang tiba-tiba ada api yang membesar, Julian menghentikan kudanya untuk berbalik dan melihat. Andrea dan Julian dibuat kaget karena melihat kebakaran yang sangat besar.
Bagaimana api bisa membakar dengan waktu secepat itu?, pikir Andrea dalam benaknya.
"Aku harap Denisha baik-baik saja", ucap Andrea sambil melihat tempat ritual yang terbakar.
"Untuk saat ini, kau lebih baik khawatirkan dirimu saja dulu!", sahut Julian sambil mengernyitkan dahinya.
***
"An, kalau ada apa-apa kau bisa cari kakak di kamar", ucap Julian sambil beranjak pergi ke kamarnya.
Andrea masih terdiam, pikirannya sedang berkecamuk. Dia tak bisa tidur meski bersikeras memajamkan mata. Saat hari sudah semakin terang, barulah Andrea bisa tertidur.
Julian yang tertidur membuka matanya secara perlahan, dia langsung berdiri untuk melihat keadaan Andrea.
"And. . .", Julian dibuat kaget melihat tubuh Andrea dipenuhi dengan bunga yang tumbuh dari urat nadinya.
Julian menutup mulutnya, sambil mencoba menyentuh Andrea dengan perlahan. Tapi dia kemudian mengurungkan niatnya untuk membangunkan Andrea, karena tak tega membangunkannya yang sedang tidur begitu nyenyak.
Andrea akhirnya terbangun, dia terlihat tidak kesakitan meskipun batang-batang bunga itu menembus kulitnya.
Andrea membelalakkan matanya saat melihat tubuhnya yang sangat berbeda dari biasanya. Dia langsung menangis, Julian memeluk Andrea dengan lembut untuk menenangkannya.
"Mungkin inilah kutukannya. . .", ucap Andrea sambil terisak.
"Sudahlah, semuanya akan baik-baik saja", balas Julian sambil mengusap kepala Andrea dengan lembut.
***
"An, bagaimana kalau kita jalan-jalan keluar?", ajak Julian dengan senyuman lebar mencoba menghibur Andrea yang terlihat murung selama beberapa hari ini.
"Tapi . . .",
"Sudahlah kau pakai jubah ini saja, biar nggak ketahuan!", Julian menutupi tubuh Andrea yang penuh bunga itu dengan jubah bertudung.
"Baiklah aku akan keluar, tapi sendirian!", ucap Andrea yakin.
"Kenapa?", tanya Julian penasaran.
"Karena kau selalu mencuri perhatian orang banyak, apalagi para wanita!", keluh Andrea.
"Memang begitu?", balas Julian tersenyum tipis.
"Iih, sok-sokan nggak sadar!", ucap Andrea mencoba tersenyum pada Julian.
"Ya sudah pergi gih!, tapi hati-hati ya", Julian tersenyum lebar melihat Andrea sedikit lebih ceria.
***
Andrea berjalan menyusuri jalan setapak yang penuh akan rerumputan hijau dan tumbuhan dengan bunga beraneka ragam.
Hatinya merasa sangat senang bisa kembali menikmati pemandangan di desa Hermena. Dia menyentuh perutnya beberapakali karena merasa kenyang, padahal dia tidak makan apa-apa hari ini.
"Hei!, kau anak terkutuk itu ya!", teriak seorang wanita yang terdengar dari belakang Andrea. Andrea pun memalingkan wajah untuk melihatnya. Dia melihat wanita itu sendirian, tapi juga ada beberapa warga desa yang terlihat marah padanya.
"Kutukan itu hanya berdampak padaku saja!, bukankah itu tidak berdampak pada kalian?", ucap Andrea dengan nada tinggi.
"Kau tidak lihat sekelilingmu?", balas wanita itu sambil menunjuk ke tempat di sekeliling Andrea.
Andrea membelalak karena dia kaget melihat semua tanaman yang awalnya hijau dengan bunga berwarna warni seketika berubah menjadi kering berwarna coklat.
Andrea menatap kedua tangannya, dia merasa energi dalam tubuhnya semakin meningkat. Apakah ini sebabnya aku merasa kenyang?, pikir Andrea dalam benaknya.
"Hei anak muda, kalau kau peduli dengan warga desa lebih baik kau pergi dari desa ini!", ucap salah satu lelaki tua.
Tanpa sepatah kata Andrea berlari tanpa arah, tumbuh-tumbuhan yang dia lewati menjadi kering dan mati.
Andrea terhenti di sebuah sungai yang airnya jernih. Dia bercermin di air sungai itu, Andrea dibuat kaget dengan wajahnya sendiri. Dia memiliki wajah yang semakin menawan, bunga yang ada ditubuhnya menambah aura kecantikannya.
Sesaat dia memang terpana, namun wajahnya langsung terlihat sedih ketika melihat kekeringan yang disebabkan olehnya.
"Aku benci bunga yang ada ditubuhku!", Andrea meneteskan air matanya lagi.
~TAMAT~
*Baca cerita "Di Balik Topeng", "The Girl Who Likes Me", "Perjalanan Si anak Buta", dan "The Son of Psychopath"