Nabi Ismail yang dikenal sebagai salah satu anak tersayang dari Nabi Ibrahim ini memiliki kisah tersendiri yang juga mengandung hikmah khusus bagi umat Muslim. Untuk mengetahui bagaimana kisah Nabi Ismail yang dibahas dalam Alquran dan hikmahnya, mari kita simak pemaparan lengkap dalam artikel berikut ini.
ADVERTISEMENT
Kisah Nabi Ismail dalam Alquran beserta Hikmahnya bagi Umat Muslim
Dalam Alquran yang berfungsi sebagai pedoman hidup bagi umat Islam, terdapat pula sederet kisah Nabi dan Rasul yang tertuang di dalamnya. Hal ini sebab kisah-kisha yang diceritakan dalam Alquran tersebut mengandung hikmah dan makna tersendiri bagi umat Muslim.
Ilustrasi kisah nabi ismail. Foto. dok. LV4260 (Unsplash.com)
zoom-in-white
Perbesar
Ilustrasi kisah nabi ismail. Foto. dok. LV4260 (Unsplash.com)
Salah satu kisah yang terkandung dalam ayat Alquran adalah kisah Nabi Ismail. Umat Islam mengenal Nabi Ismail sebagai salah satu Nabi yang memiliki kesabaran dan ketaatan yang tinggi kepada Allah SWT dan kedua orang tuanya. Hal ini dapat kita ketahui dari kisah Nabi Ismail yang menceritakan tentang Nabi Ibrahim yang merupakan ayah tersayangnya diperintahkan Allah untuk menyembelih Nabi Ismail.
Kutipan kisah Nabi Ismail tersebut dijelaskan dalam buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul yang disusun oleh Ridwan Abdullah Sani, Muhammad Kadri (2021: 136) yang memaparkan bahwa kisah Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim dapat diteladani bagi umat Muslim yaitu melakukan penyembelihan hewan kurban untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jika Nabi Ibrahim sanggup mengorbankan putra kesayangannya, Nabi Ismail, untuk menjalankan ketaatan kepada Allah.
Ilustrasi kisah nabi ismail. Foto. dok. cihatatceken (Unsplash.com)
zoom-in-white
Perbesar
Ilustrasi kisah nabi ismail. Foto. dok. cihatatceken (Unsplash.com)
Kisah tersebut rupanya juga dijelaskan dalam ayat Alquran surat As-Shaffat yang bernbunyi:
ADVERTISEMENT
وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِينِ (99) رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109) كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (110) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ (111)
Artinya: “Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami memanggilnya: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. Ash-Shaffat: 99-111).
ADVERTISEMENT
Kisah Nabi Ismail yang tercantum dalam Alquran ini dapat Anda jadikan sebagai bahan renungan untuk memperdalam pengetahuan agama dan juga meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT. (DAP)