Harta,tahta, dan ketampanan. Di dunia ini tiga kata itulah yang selalu berhasil membuat ku bahagia di antara semua kerusakan dan kebisingan yang di ciptakan semua orang ini.
Dunia yang penuh dangan orang-orang yang menggunakan berbagai cara untuk di akui orang lain, tempat kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan dengan uang dan tempat orang-orang yang berbeda dari mereka di kucilkan dan disingkirkan.
Di dunia seperti ini lah aku lahir dan dibesarkan, dulu aku hanya anak dari orang tua tunggal, ibuku bekerja sebagai buruh cuci dan terkadang menjadi tukang cuci puring di sebuah cafe, namun dengan niat ingin mengubah hidup ibuku pergi ke luar negri untuk menjadi TKW (tenaga kerja wanita), setiap bulanya ibu mengirimkan uang dengan sepucuk surant yang menceritakan kehidupanya di sana atau hanya berisi ungkapan sayang dan kerinduanya pada ku.
Namun entah sejak kapan uang dan surat dari ibu tak pernah lagi datang pada ku, para tetangga pun mulai memberikan gogip-gosip buruk tentang ibu. Menurut mereka ibu telah menikah dengan peria di luar negri dan menelantarkan ku, atau ibu mungkin mati karna di siksa majikanya.
Dulu ingin sekali rasanya aku menycabik-cabik mulut-mulut mereka, namun behkan untuk membantah pun aku tak mampu, karna fakta bahwa ibu tak lagi memberi kabar pada ku tak bisa ku pungkiri.
Lama-kelamaan aku mulai memakai paras ku yang cantik untuk mengait peria-peria kaya untuk memenuhi semua kebutuhan ku. Tenang… tak seperti yang orang-orang fikirkan aku tak menjual diri ku pada om-om kaya, karna setidaknya aku cukup pemilih dalam mengencani seorang peria di tambah lagi sikap ku yang tak pernah mau rugi membuat ku menjadi satu-satunya perawan cantik yang bersinar di antara teman-teman ku para rubah yang bisa membuat bangkrut satu perusahaan tampa di sadari sang pemilik uang.
Ah satu hal yang tak terlalu ku sukai dari diri ku, bagaimana pun sempurnanya peria yang ku kencani aku akan bosan hanya dalam hitungan bulan saja, itulah yang membuat peria di hadapan ku malam ini membentak ku dan mengeluarkan upatan dan kutukan yang seakan mampu menutupi sinar matahari besok pagi.
“dasar wanita jalang, kau sama sekali tak merasa bersalah, aku telah memberikan semua yang kau inginkan dan menuruti semua kemauan mu selama ini, dan kau memutuskan ku dengan alasan bosan” ia menatap ku dangan wajahnya yang tiba-tiba terlihat mengerikan seperti iblis
“terserah apa pun yang kau katakana aku tak bisa melanjutkan hubungan ini lagi”
“dasar wanita tak tau malu, aku akan melaporkan mu karna pemerasan” ia mengancam
“ah baiklah bajingan sialan, akan aku perjelas sekarang, aku tak pernah memaksa mu membelikan ku semua barang-barang mahal itu namun kaulah yang selalu memberi ku hadiah-hadiah mahal, dan sekarang kau bilang aku memeras mu, apa kau gila, cukup untuk hari ini aku lelah”
Aku segera meninggalkan peria yang sekarang memiliki gelar mantan ku itu, jika di tanya bagaimana perasaan ku entahlah sepertinya aku juga tak tau apa yang ku rasakan, karna ini sudah terlalu sering terjadi di hidup ku, aku kembali ke apartemen ku dengan menghempaskan tubuh ku ke Kasur yang lebih nyaman dari pelukan ibu yang telah ku lupakan sejak lama.
Matahari bersinar dengan terang di pagi hari yang indah ini, aku datang ke studio teman ku untuk foto majalah remaja yang akan terbit bulan depan. Dan tapat seperti yang di janjikannya pada ku sebelumya, aku bertemu dengan peria tampan yang baru memulai karirnya sebagai model hari ini.
Peria itu masi terlihat kaku di depan kamera yang membuatnya mendapatkan teguran dari si fotografer, meski masi terlihat kaku namun ku akui aura yang ia miliki mampu membuat jantungku yang lama tak berdetak kembali berdetak dengan hebat membuat perut ku terasa di kelilingi kupu-kupu cinta.
“aku mulai mendekatinya dan mengajaknya berbincang, namun tak seperti peria lain ia menghindariku seakan aku lalat kotor yang hendak hinggap di pergelangaan tangannya. Namun satu hal yang tak ia ketahui tantang ku, bahwa apa yang ku inginkan akan aku kejar hingga aku mendapatkanya.
Satu tahun berlalu, aku masi mencoba mandekatinya dengan membelikan minum atau menjelaskan hal-hal baru tentang modeling, lama kelamaan ia mulai terbuka pada ku, dan saat itulah aku mengetahi jika ia bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan uang, tak seperti yang ku harapkan teryata ia tak memiliki harta apalagi tahta yang bisa ku peras, dia hanya tampan, ya mungkin hanya itu yang dia miliki.
Namun semangkin aku mengenalya aku merasakan ada hal yang berbeda darinya, dia istimewa, ia selalu berhasil membuat orang di sekitarnya merasa nyaman, semangkin lama aku melihatnya aku semangkin berambisi pada peria ini.
Dan hal yang kutunggu-tunggu terjadi ia menyatakan cintanya pada ku di malam valentine disertai bunga dan coklat yang membuat ku saakan melayang ke awan menemui sang bulan yang indah untuk memamerkan peria ku padanya, suasana yang membuat ku terdorong untuk mencium peria tampan ku itu kami bebincang dengan jantung berdebar dan pipi merona.
Ini perasaan yang terasa asing bagi ku namun aku sangat menyukai perasaan berdebar ini. Hari mulai larut ia mengantarkan ku pulang. Beberapa menit kemudian aku mengirinkan pesan untuk menanyakan apakah ia sudah tidur… namun tak ada balasan mungkin dia sudah tidur fikir ku
Aku terbangun dari tidur karna ponsel ku yang tak kunjung berhenti berdering begitu banyak pesan masuk dan beberapa panggilan tak terjawab.
Aku pun membuka pesan-pesan itu, dan seakan aku harus membayar mahal kebahagiaan yang baru ku dapat, aku menemukan pesan bahwa kekasih ku di bunuh oleh peria berengsek yang ku putuskan tahun lalu.
Si peria berengsek itu telah di bawa ke kantor polisi, dan tampa fikir panjang aku bergegas ke rumah sakit tempat jasad kekasih ku di otopsi, saat tiba di rumah sakit dengan tubuh terguncang aku melihat wajah pucat yang berlumbur darah itu tampak seakan tidur dengan damai tampa menghiraukan aku yang menagis dan berteriak frustasi melihatnya….
-TAMAT-