“Aku malu, Mas!”
Keluhan yang sama lagi-lagi terucap dari bibirku. Bagaimana tidak, sudah memasuki bulan keenam dan suamiku belum juga mengurus surat-surat pernikahan kami ke Pengadilan Agama.
“Untuk apa malu?!” Mas Seno mengelak.
“Tentu saja aku malu. Lihat si Vivi … walaupun dia nikahnya karena dijodohin, tapi pesta pernikahannya meriah. Semua teman-temanku diundang. Mereka semua memuji Vivi adalah wanita beruntung.”
“Sedangkan aku, hanya bisa tersenyum kecut saat teman-temanku bertanya mengenai kapan pesta pernikahan kita,” ungkapku.
Mas Seno beranjak dari duduknya. Aku tahu ia sedang menghindar dari pembahasan ini. Ia bahkan tinggalkan kopinya yang baru ia minum setengah cangkir. Tak ingin pembicaraan pagi ini sia-sia, aku putuskan untuk ikuti ke mana Mas Seno pergi.
Rupanya Mas Seno ke belakang untuk mengambil perlatan memancingnya. “Mas!” seruku. “Kamu dengerin aku enggak sih?!”
“Kamu ini terlalu banyak memikirkan perkataan orang. Ingat, kita hidup bukan dari mereka,” lanjutnya lalu kembali sibuk mengelap alat pancing kesayangannya.
Aku hanya bisa menghela napas saja. Selalu seperti itu jawaban dari Mas Seno. Tak tahu saja dia, bagaimana Ibu dan Bapakku tiap hari menanyakan hal itu. Aku bahkan sudah sebulan ini tak mengunjungi mereka karena tak bisa lagi memikirkan alasan saat mereka bertanya.
“Ya udah, jadi kapan Mas akan mengurusnya?” tanyaku dengan intonasi suara yang mulai melunak.
Aku akan mencoba bersabar lagi dan berharap pintu hati Mas Seno terketuk, lalu ia akan segera mengurus proses isbat nikah kami.
“Nanti, Sayang. Kerjaanku di kantor masih numpuk,” jawabnya.
Mas Seno memang memiliki seribu satu cara untuk membujukku jika sedang merajuk. Ia usap lembut puncak kepalaku. Ia belai dengan lembut surai lurusku yang tergerai. Ah … aku selalu lemah dengan sikap Mas Seno yang seperti ini. Pria dengan sejuta sikap manisnya.
Karena itulah aku bersedia menikah dengannya. Meski awalnya kedua orang tuaku menentang. Sebab Mas Seno yang mengaku sebagai anak yatim piatu, hanya bisa menikahiku secara siri. Alasannya kala itu karena tak ingin menimbulkan fitnah jika kami sering bertemu.
“Tapi, janji ya … bulan depan Mas harus sudah mendaftarkan pernikahan kita,” tegasku sekali lagi yang dijawab oleh Mas Seno dengan satu kecupan di keningku.
…
Hari menjelang siang, Mas Seno sudah rapi dan sudah siap pergi dengan segala peralatan pancingnya. Memancing adalah hobi suamiku, bahkan sebelum kami menikah.
Setiap akhir pekan, Mas Seno akan pergi bersama teman-temannya. Mereka akan naik kapal ke tengah laut dan memancing di sana. Itu yang aku tahu dari cerita Mas Seno, karena aku tak pernah mau ikut jika diajak. Aku tak suka memancing, tapi aku menyukai setiap hasil tangkapan Mas Seno saat pulang memancing.
Kubantu Mas Seno memasukkan barang-barang ke mobil. Hari ini aku memasak semur daging kesukaannya sebagai bekal.
“Aku pergi dulu ya, Sayang,” pamitnya diakhiri dengan kecupan di keningku.
“Hati-hati ya, Mas. Besok pulangnya jangan larut malam,” balasku yang diangguki oleh beliau.
Kupikir Mas Seno sudah akan melajukan mobilnya, tanpa kuduga dia malah keluar dari mobil lalu mencuri satu kecupan di bibirku.
“Mas!” seruku.
“Biarin, daripada nanti aku rindu,” ucapnya.
…
Hari minggu, jika orang lain menghabiskannya dengan pergi berlibur atau sekedar jalan-jalan melepas penat. Berbeda denganku yang selalu menghabiskan waktu seorang diri di rumah.
Sore hari biasanya aku merawat bunga anggrek kesayanganku sembari menunggu Mas Seno pulang. Dari halaman rumah aku bisa mendengar ponselku yang terus berdering. Aku abaikan saja, paling malas menerima panggilan telepon saat hari libur.
Namun, dering ponselku itu tak kunjung berhenti. Karena mulai merasa terganggu, akhirnya kuputuskan untuk masuk ke dalam rumah dan menerima panggilan itu.
“Si Siti ngapain nih telepon sampai belasan kali gini,” monologku.
“Halo, Siti.”
“Ren, kamu di mana?” tanyanya dari seberang telepon.
“Di rumah,” jawabku singkat.
“Aku kirimin foto-foto suami kamu. Tapi, please … please banget kamu jangan sampai jantungan ya,” ucapnya dengan terburu-buru.
“Foto Mas Seno? Fo-“ ucapanku tak dapat kulanjutkan sebab Siti sudah memutuskan sambungan telepon kami.
Tak lama berselang, ada belasan foto-foto dikirimkan oleh Siti. Betapa terkejutnya aku, sepertinya peringatan Siti benar-benar akan terjadi.
Rasanya aku benar-benar aku akan terserang penyakit jantung. Dadaku terasa sangat sakit, napasku sesak. Tanganku bahkan bergetar memegang ponsel.
Dari belasan foto itu, bisa kulihat Mas Seno yang sedang tertawa, tersenyum, dan bersikap mesra pada seorang wanita dan seorang anak perempuan yang kutaksir berusia sepuluh tahun.
“Si-siapa mereka? Mungkinkah ….”
Sejak melihat foto-foto itu, tangisku pun pecah. Air mataku terus berlinang tanpa bisa kuhentikan. Aku bahkan lupa jika sebelumnya aku sedang merawat bunga-bungaku dan belum mandi setelahnya.
Aku hanya menangis, menangis, dan menangis. Tak bisa menenggak walau hanya setetes air apalagi untuk menelan makanan. Aku tak sanggup.
Hingga pukul sebelas malam, Mas Seno pulang. Sepertinya dia merasa heran sebab pintu rumah tak terkunci. Lampu ruang tamu dan teras pun tak menyala.
“Sayang, kamu belum tidur? Kamu nungguin aku, ya?” tanyanya seraya menyalakan lampu ruang tamu.
Betapa terkejutnya Mas Seno saat melihat aku yang duduk di sofa dengan mata yang sembab dan masih terus terisak. “Sayang, kamu menangis? Apa terjadi sesuatu selama aku pergi?” tanyanya.
“Seharusnya aku yang bertanya padamu, Mas!”
“Dari mana saja kamu? Apakah sekarang kamu memancing di Mall? Apakah teman memancingmu itu adalah seorang wanita dan seorang anak perempuan?”
Saat kucecar pertanyaan, Mas Seno tampak terkejut. Dia sudah mulai paham apa maksud dari pertanyaanku. Namun, dia masih berusaha mengelak.
“Apa maksudmu, Sayang?” tanyanya. Jelas sekali jika dia kini sedang gugup.
Kutunjukkan foto-foto di ponselku. Wajah Mas Seno berubah merah padam. Aku tak tahu apakah itu karena ia malu, takut, atau marah.
“Kamu yang jelaskan padaku, Mas. Siapa mereka?”
Mas Seno menunduk cukup lama. Lalu ia genggam kedua tanganku. “Mereka adalah keluargaku. Wanita itu adalah istriku dan anak perempuan itu adalah anak kami,” jawabnya.
Tangisanku semakin menjadi-jadi. Akhirnya aku mengerti apa alasan Mas Seno hanya bisa menikahiku secara siri.
“Jadi, selama ini jika kamu pergi memancing, apakah kamu menemui mereka?” tanyaku yang dijawab anggukan oleh Mas Seno.
“Aku pulang menemui keluargaku tiap akhir pekan,” jawabnya.
“Apa mereka tahu keberadaanku?” Dan Mas Seno menggeleng sebagai jawaban.
“Gila! Kamu gila, Mas!” pekikku. Aku memberontak agar tubuhku lepas dari pelukannya.
“Kamu sadar enggak sih, kamu enggak hanya menyakiti aku. Jika mereka tahu kamu punya istri siri, mereka juga pasti akan sangat tersakiti,” ucapku.
Mas Seno kembali menggenggam tanganku. “Maka kita rahasiakan dulu hubungan kita, Sayang. Tunggu sampai waktu yang tepat, lalu aku akan ungkap semuanya pada istri pertamaku.”
“Tidak, Mas. Cukup sudah kamu membohongiku juga membohongi keluargamu,” ucapku.
“Sekarang pilih, kamu akan tetap bertahan denganku di sini atau pulang kembali ke rumahmu!”
Mas Seno mengusap wajahnya dengan kasar. “Sayang, tolong pikirkan lagi,” pintanya. “Kamu sekarang lagi emosi.”
“Keputusanku sudah bulat. Sekarang semuanya kuserahkan padamu!”
Mas Seno berdiri, ia memukul dinding dengan keras untuk melampiaskan emosinya. “Ren …” panggilnya.
Aku menoleh dan tersenyum kecut. Ini pertama kalinya Mas Seno kembali memanggilku dengan nama setelah kami menikah. Tentunya aku tahu apa maksudnya itu.
“Maafkan aku, Ren. Tapi, aku akan mengantarmu pulang pada kedua orang tuamu,” ucapnya.
Aku paham maksud Mas Reno. Itu berarti, malam ini juga statusku sebagai istri siri berakhir sudah.
—- END ——