Destiny and fate. We can change destiny, but we can't change fate.
*****
Dublin, Irlandia
Jari jemari Reana bergerak lincah diatas papan keyboard macbook-nya. Kata-kata tersusun indah di layar monitor. Setelah selesai menulis, ia menggulir layar, membaca kembali tulisannya sebelum dirinya mengklik tombol posting di pojok kanan bawah. Layar pun menampilkan tampilan beranda sebuah website dan tulisannya terpampang yang paling atas. Reana merenggangkan jari tangannya untuk menetralisir kekakuan sesudah ia berkutat dengan pekerjaannya itu. Reana Putri Atmaa adalah seorang penulis di sebuah majalah website yang telah berlangsung satu tahun terakhir ini. Dia berjalan menuju dapur untuk mengisi kembali teh yang telah habis ia minum saat menemaninya menulis. Suara ponsel yang tergeletak di meja ruang tengah apartemen menghentikan langkahnya yang menuju dapur. Ia segera menuju letak dimana ponselnya berada dan menerima panggilannya setelah melihat siapa si penelepon.
"Ya, Eric." Jawabnya.
"Reana, apa kau sudah memposting beritanya?" Tanya Eric di sebrang sana.
"Ya, aku sudah mempostingnya."
Terdengar Eric tertawa di sana, "Bagus, Re. Aku yakin berita kita akan menjadi hot topic malam ini dan hari-hari selanjutnya."
Reana tak menanggapi apa yang dikatakan Eric, ia lebih ingin pembicaraan ini segera berakhir agar dapat segera menikmati teh di saat senja yang selalu ia lakukan di akhir pekan. "Apa ada yang ingin kau katakan lagi?" ucapnya.
"Ah maaf Reana, aku mengganggu waktu akhir pekanmu dengan meminta menuliskan berita ini. Aku hanya tidak sabar kita membuat keguncangan untuk para wanita di Dublin." terdengar Eric tertawa lagi, sebelum ia melanjutkan ucapannya. "Hanya itu yang ingin aku sampaikan. Sampai ketemu di kantor Reana, dan happy weekend."
"Happy weekend." balas Reana, lalu mematikan panggilannya.
Reana menghembuskan napas lelah. Ia tak menyangka jika hari tenang yang ia dapatkan di akhir pekan terkacaukan oleh ulah Eric Marlo rekan kerjanya yang selalu mencarikan berita untuk diterbitkan di website. Dirinya mendudukan diri di sofa dan menyalakan televisi di depannya. Untuk hari ini ia akan menikmati detik-detik akhir pekannya dengan menonton tayangan TV saja, karena dirinya sudah tidak mood lagi untuk menikmati detik akhir pekan dengan melihat senja dan secangkir teh dari balkon apartemennya.
***
Keesokan harinya, berita yang Reana tulis di halaman website Freshflowall sangat menghebohkan seluruh kota Dublin. Bahkan dari hasil berita itu banyak menjadi pembicaraan di dunia maya dan tentunya pemburu berita mulai berdatangan dan berlomba mendapatkan lebih informasi tentang hal itu.
"Jonathan dan wanita tersebut memasuki butik perancang gaun pernikahan yang terkenal yaitu Regina Rotter. Apakah Jonathan Smith yang digilai wanita Dublin telah memutuskan menikah dengan wanita tersebut?" Seorang pria tersenyum sinis membaca berita tersebut. "Menggelikan." komentar Jonathan yang membaca gosip tentangnya yang tidak bermutu itu.
"Sir, Mr. Walker ingin berbicara dengan anda sambil makan siang di tempat biasa." ucapan Andra--asisten pribadi pria itu membuat Jonathan teralihkan dari kertas di tangannya.
"Kamu sudah mencari tahu siapa yang menulis berita menggelikan ini, Andra?" Tanya Jonathan pada Andra.
"Reana Putri Atmaa yang menulisnya." Jawab Andra.
"Atmaa? anak Mudiana Atmaa?"
"Iya, anak bungsu lebih tepatnya."
Jonathan tidak pernah tahu jika Mudiana Atmaa memiliki anak ketiga, karena setiap acara yang diadakan oleh pria itu, dirinya hanya sering bertemu dengan Nicholas dan Andres saja. Sehingga membuatnya berpikir Mudi hanya memiliki dua anak.
"Bilang pada George aku tidak bisa makan siang bersamanya. Juga sampaikan pada Darco untuk bersiap-siap, aku akan pergi ke suatu tempat." ungkap Jonathan.
"Apa kamu akan menemui Reana?" Andra yang tidak tahan akan penasarannya langsung bertanya pada Jonathan. Kali ini ia berperan sebagai teman bukan asisten pribadi sang sahabat.
"Mana mungkin aku tidak akan menemui orang yang mengacaukanku dengan tulisan sialan itu. Kamu pasti sudah tau apa yang akan aku lakukan saat memintamu menemukan si penulis ini."
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?"
Mendengar pertanyaan Andra, langsung saja senyum miring tersunging di bibir Jonathan. "Menghukumnya."
Andra menghela napas kasar mendengar niatan Jonathan. "Aku hanya akan mengingatkan dirimu, ingat ada nama Atmaa di belakang nama wanita itu. Dan nama Atmaa adalah orang yang harus kita jaga, mengingat Andres Atmaa sedang menjalin kerja sama dengan perusahaan kita yang di Madrid."
"Aku paham, Andra Kusmo. Kenapa kamu begitu cerewet seperti wanita saja." kata Jonathan dengan dengkusan kesal.
"Aku akan menjadi cerewet jika menyangkut hal keselamatan pekerjaanku. Aku tidak mau harus kehilangan gaji yang besar yang selama ini kudapatkan."
"Sialan. Dasar matre."
"Terkadang kematrean sangat di perlukan bagi kelangsungan hidup. Sudahlah, aku malas meladeni kamu lagi. Aku akan sampaikan dua perintahmu itu."
Jonathan menggeleng melihat tingkah Andra yang sensitif akhir-akhir ini. Sepertinya karena istri temannya itu sedang hamil, hingga kesensitifan wanita hamil menular padanya juga. Dia segera merapikan meja kerjanya dan turun ke bawah untuk pergi menuju kantor freshflowall menemui Reana.
Sepanjang perjalanan, Jonathan tak hentinya tersenyum membayangkan rencana untuk menghukum wanita itu. Kini gedung lima lantai yang terdapat beberapa perusahaan terpampang di depannya. Ia keluar dan menuju resepsionis di depan. Kehadiran Jonathan tak luput dari orang-orang yang berlalu lalang, bahkan beberapa wartawan yang mengikutinya sejak dari kantor bersiap sedia dengan hal yang akan mereka tangkap. Tentunya Jonathan menyadari itu semua, dan ia biarkan saja karena mereka juga termasuk kedalam rencananya.
Sesudah menemui resepsionis yang meminta menghubungi kantor freshflowall untuk membuat Reana menemuinya, Jonathan dengan santai duduk di sofa lobi. Tak lama munculah Reana yang berjalan menuju resepsionis. Langsung saja Jonathan berdiri dan bersiap memulai aksinya.
"Reana, baby, I'm here." perkataan Jonathan yang lantang membuat semua orang melihatnya tak terkecuali Reana yang terkejut dikonter resepsionis.
Jonathan berjalan mendekati Reana. "Sayang, kenapa kamu tidak menjawab teleponku? sehingga aku meminta bantuan resepsionis untuk memanggilmu." kata Jonathan sambil tangannya terulur merapikan rambut Reana yang keluar dari kunciran dan menghalangi wajah cantik wanita itu.
"Kau ..." Reana tidak menyelesaikan ucapannya. Wanita itu terlihat berpikir, mungkin mengingat siapa dirinya.
"Apakah kamu masih marah hingga tidak mengenaliku yang merupakan kekasihmu."
Wartawan yang bersembunyi langsung keluar menghambur padanya dan Reana sesaat Jonathan mengucapkan bahwa dirinya kekasih Reana secara jelas dan keras.
"Jonathan Smith." ucap Reana lemah saat mengingat siapa dirinya.
"Iya, sayang. Aku Jonathan Smith, kekasihmu." balas Jonathan dengan senyum menawan.
Para wartawan pun mulai meliput dan mengajukan beberapa pertanyaan. Seperti rencanya, pikir Jonathan.
"Dia Reana Atmaa kekasih saya dan orang yang menulis pemberitaan palsu tentang saya. Wanita yang bersama saya waktu itu adalah Jenice Hudson, ia adalah tunangan sahabat saya George Walker yang akan melangsungkan pernikahan di sini. Saya hanya mengantarnya menemui Regina Rotter, karena sang calon mempelai pria berhalangan menemaninya. Dan Reana, kekasih saya marah ketika ada orang yang memotret dan memberikan foto kebersamaan kami padanya. Saya tahu pemberitaan itu adalah bentuk kemarahannya pada saya. Juga saya akui saya salah karena tidak memberitahu dan meminta ijin padanya jika saya akan pergi bersama Jenice." Jonathan berkata sambil merangkulkan tangannya di pinggang Reana.
"Apa maksud kamu?" bisik Reana sarat akan kekesalan.
Jonathan menggenggam tangan Reana sangat erat dan menatap Reana lekat, "Ayo makan siang."
Mereka pergi meninggalkan para wartawan yang masih mengajukan pertanyaan. Jonathan mendorong Reana masuk kedalam mobil yang diikuti dirinya. Mobil melaju pergi meninggalkan area tersebut.
"Maksud kamu apa?! Kenapa kamu malah membuat skandal dengan mengatakan kita sepasang kekasih?!" jerit Reana yang marah.
"Menutupi gosip murahan yang kamu tulis." balas Jonathan dengan tenang.
"Dengan skandal murahan yang kamu ciptakan?"
"Setidaknya, ciptaanku tidak sejelek ciptaanmu."
Reana menggeram mencoba meredam kemarahannya. Setelah tenang wanita itu kembali berucap, "Apa yang anda mau Mr. Smith? Jika ini persoalan gosip yang saya tulis, anda bisa menyangkalnya tanpa membuat skandal seperti ini."
Jonathan menyipitkan matanya mendengar Reana yang sekarang berbicara dengan formal sekali. "Apa salahnya?"
"Tentu saja salah, karena saya bukan kekasih anda."
"Jadi kamu ingin menjadi kekasih saya?"
Reana memejamkan matanya merasa terjebak dengan ucapannya sendiri. Sial, pria ini sangat pintar bersilat lidah, batin Reana. "Tentu saja saya tidak mau menjadi kekasih anda."
Senyum miring tersungging di wajah Jonathan. "Kalau begitu mulai saat ini kamu kekasih saya,"
"Saya tidak ma--" bantahan Reana terpotong oleh Jonathan.
"In contract." Lanjut ucapan Jonathan.
"Apa?" Reana yang terkejut sehingga membuatnya bingung dengan situasi yang dimainkan Jonathan.
"Mulai saat ini kita sepasang kekasih hanya di depan publik. Dan kamu harus menerimanya tanpa bantahan." putus Jonathan yang membuat kemarahan Reana kembali muncul.
***
Sudah dua minggu Reana menjalani permainan yang dimulai Jonathan. Selama itu dirinya kerap diajak Jonathan menghadiri beberapa acara yang tentu saja ia mendapinginya sebagai kekasih sandiwaranya. Ia juga di ajak menghadiri pernikahan wanita yang di gosipkan yaitu Jenice dan George. Para rekan kerjanya tak hentinya memberikan pertanyaan seputar setatusnya sebagai kekasih dari Jonathan disaat ada kesempatan. Eric yang memburu berita Jonathan begitu semangatnya mengolok ia dengan sebutan kekasih yang pencemburuan. Kehidupannya menjadi kacau akibat ulah Jonathan.
"Ada apa kamu kemari?" Tanya Reana pada Jonathan saat melihat pria itu yang telah menunggunya di depan apartement saat ia baru saja kembali dari supermarket.
"Masuk." Jawab Jonathan sambil membukakan pintu untuknya.
Tidak mau ada perdebatan-perdebatan lagi, dengan pasrah dirinya masuk kedalam mobil pria itu.
"Kenapa kita ke bandara?" tanya Reana saat tahu mobil memasuki bandara. "Jon!" panggilnya karena Jonathan tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
Mobil berhenti di dekat sebuah pesawat. "Ke Paris." Jawab Jonathan sebelum keluar dari mobil.
"Paris? mau apa?" ucap Reana yang menyusul langkah Jonathan.
"Foie gras."
"Apa kamu gila hanya ingin memakan Foie gras sampai terbang ke Paris? Disini pun kita bisa menemukannya." Reana tak habis pikir dengan kegilaan Jonathan. Untuk menikmati Foie gras saja bisa di dapatkan di restoran Prancis yang ada di Dublin.
Reana menghentikan langkahnya, ketika Jonathan berhenti dan berbicara dengan Andra.
"Ayo." ajak Jonathan padanya sambil menyeretnya menaiki tangga pesawat.
Pemandangan pesawat yang mewah masuk penglihatannya. Reana tidak bodoh untuk mengetahui jika ini adalah pesawat pribadi milik Jonathan. Keluarganya juga mempunyai pesawat sejenis ini yang sekarang berada di Madrid mengingat kakaknya, Andres yang lebih sering menggunakannya untuk melakukan perjalanan bisnis. Seketika ia paham maksud Jonathan membawanya ke Paris.
"Apa kamu ada pertemuan bisnis di Paris?" tanya dirinya yang telah duduk nyaman di kursi pesawat yang bersebrangan dengan Jonathan.
"Ya begitulah." Jawaban mengesalkan meluncur dari mulut Jonathan.
"Kenapa kamu tidak bilang sebelumnya, tahu begini aku akan bersiap. Lihat aku sekarang, penampilanku sangat berantakan." cerca Reana. Tentunya siapa yang rela pergi ke Paris hanya dengan sandal jepit, celana jeans pendek, kaus putih yang agak kebesaran, dan tentengan belanjaan di tangan. Ah, kenapa ia tidak meninggalkan belanjaannya di mobil Jonathan tadi. Saking amarahnya membuat ia menjadi bodoh sepertinya.
"Tenang, kamu masih cantik."
Ucapan Jonathan membuatnya terperangah. Entah kenapa pendengarannya selalu sensitif dikala ada seseorang mengatakan hal baik padanya, sehingga tidak perlu memintanya untuk mengulang. Jonathan yang mengatakan dirinya cantik, membuat Reana tersipu.
"Pasang seatbelt, pesawat akan segera take off." kata Jonathan.
***
Paris, Prancis
Reana tengah duduk di restoran hotel Le Meurice, salah satu hotel mewah di Paris. Ia dengan khidmat menikmati Foie gras di piringnya sambil sesekali melirik Jonathan yang sedang berbincang dengan rekan bisnisnya di salah satu meja yang agak jauh darinya. Sebenarnya Jonathan memaksanya untuk ikut bergabung dengan mereka, namun dengan tegas dan ngotot Reana menolaknya. Manamungkin ia mengikuti pertemuan tersebut dengan pakaian santai begini.
Beberapa waktu berlalu, Jonathan terlihat selesai dengan pertemuannya. Tiba-tiba Jonathan menoleh ke arahnya yang diikuti oleh rekan bisnisnya. Sepertinya ia paham Jonathan secara tidak langsung sedang mengenalkannya sebagai kekasih pria itu.
Selanjutnya adalah hal yang tak terduga bagi Reana. Jonathan dan rekan bisnisnya menghampiri dirinya. Membuat dirinya reflek berdiri di samping Jonathan yang langsung merangkul pinggangnya.
"Wah, dia sangat cantik, Jonathan." ucap pria paruh baya pada Reana dengan senyuman di wajahnya.
Reana tersipu mendengar pujian itu. " Terima kasih, Sir." Balasnya dengan malu-malu.
"Ya, dia sangat cantik." Jonathan ikut menanggapi. dan itu semakin membuat wajahnya merona. Setelahnya mereka pamit dan berpisah di lobi hotel.
"Ayo kita keliling Paris." Ujar Jonathan.
Reana mengerutkan dahinya, merasa aneh dengan tingkah Jonathan yang tiba-tiba baik. Reana langsung mengangguk menyetujui ajakan Jonathan tanpa pikir dua kali atau menanyakan memastikan ajakan pria itu. Ia takut nantinya Jonathan malah membatalkan ajakan itu.
Reana terlihat senang berjalan di kota Paris dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. Mereka beberapa kali menyinggahi tempat yang membuatnya penasaran. Senyum Reana luntur saat merasakan sebuah genggaman di tangan kanannya. Ia menatap tangannya yang di genggam Jonathan, lalu menatap pria itu yang sedang asik menikmati Paris. Jantung Reana berdebar tiba-tiba dan gugup pun melanda dirinya.
Saat asik menikmati degupan jantungnya, rintik hujan turun mengenai mereka. Jonathan membawanya berlari di bawah hujan menuju sebuah toko bunga. Tautan tangan terlepas, ketika Jonathan membereskan rambut tergerai Reana yang agak kacau akibat rintik hujan. Tangan Jonathan menyingkirkan rambut-rambut yang menghalangi wajah Reana. Jonathan menatapnya lekat, membuat Reana segera memalingkan pandangan ke depan dan menghalau kegugupannya.
"Paris dan hujan. It's like a song, Paris in rain." kata Reana sambil melihat hujan. Ia tersenyum ketika memikirkan suasana ini seperti lagu dari Lauv yang pernah ia dengar.
Reana yang terbuai dengan hujan tidak menyadari jika Jonathan tak pernah berhenti menatap wanita itu. Tatapan hangat yang tak pernah Reana lihat, terpancar dari mata Jonathan.
Jonathan tersenyum melihat keantusiasan Reana yang tengah menengadahkan tangannya guna merasakan tetesan hujan ditangannya.
"Kamu tahu arti bunga itu?" Ujar Jonathan yang menarik perhatian Reana.
Reana melihat Jonathan lalu mengalihkan pandangannya pada bunga yang di tunjuk Jonathan. "Apa itu?" tanya Reana dengan penasaran. Karena dirinya memang tidak tahu menahu soal bunga.
"Baby breathe, memiliki makna I love you forevermore." Jawab Jonathan.
"It's beautiful meaning," ungkap Reana dengan tersenyum di hadapan Jonathan.
Jonathan membeku melihatnya. Menatap Reana lekat. "Aku tidak dapat menahannya lagi." setelah ucapan itu lolos, Jonathan langsung menangkup wajah Reana dengan sebelah tangan dan tangan yang lain merangkul pinggang wanita itu.
Mata Reana membulat. Jonathan sedang menciumnya saat ini. Ciuman yang lembut tanpa sadar membuat ia terbuai dan tak lama membalasnya. Lama kelamaan ciuman itu berubah semakin menggebu. Jonathan menciumnya dengan sangat bergairah, sehingga Reana sedikit kesulitan mengimbangi ciumannya.
Napas Reana memburu tepat sesudah Jonathan melepaskan bibirnya. Reana merasa bibirnya yang sedang di sapu oleh jari Jonathan membengkak. Mata mereka saling bertatapan dengan diiringi napas memburu dari keduanya.
"Reana ... Kamu membuatku gila." kata Jonathan yang setelahnya langsung kembali menyatukan bibirnya dengan bibir candu Reana.
***
Satu bulan berlalu sejak ciuman mereka di Paris. Saat kepulangan dari Paris, Jonathan membawa Reana ke apartemennya. Hingga kini Reana tinggal disana atas paksaan Jonathan. Hubungan mereka pun berubah. Kini mereka menjadi selayaknya sepasang kekasih sesungguhnya. Berciuman setiap saat, bermesraan setiap saat, dan tanpa ragu mereka tidur di satu ranjang yang sama.
Reana dan Jonathan memasuki sebuah ball room hotel, mereka menghadiri sebuah acara dari salah satu rekan bisnis Jonathan.
"Aku rasanya menyesal menghadiri ini." bisiknya pada Reana. Ia sangat marah saat melihat beberapa pria tak hentinya menatap Reana dengan tatapan memuja. Serasa dirinya ingin menusuk bola mata mereka hingga buta. Dia juga kesal pada Reana yang tidak mau mengganti gaunnya yang sangat terbuka, bagian punggung terbuka, bagian dada yang sedikit memperlihatkan belahan dadanya dan bagian kaki kiri yang membelah sampai paha. Kalau saja Reana tak memberinya ancaman untuk tidak memberinya 'jatah' malam ini, ia pasti sudah merobek dan membakar gaun itu.
Reana tersenyum, "Tapi dia rekan bisnismu yang penting kan?"
"Gaunmu--"
"Sudahlah, jangan cerewet. Atau nanti aku tak memberimu 'jatah'. Sebaiknya kita temui pemilik pesta, lalu kita pulang dan kamu akan cepat mendapatkan apa yang kamu mau." Senyum nakal Reana berikan pada Jonathan.
Jonathan menghela napas kasar melihatnya. Gairahnya mulai tersulut melihat senyuaman nakal Reana. "Ayo!" Dengan semangat ia mengajak Reana bertemu si tuan rumah. Kini yang ada di pikirannya hanya ingin segera merobek gaun Reana dan menjalankan fantasi liarnya.
Sesuai perkataan Reana, mereka langsung melesat pergi tak lama setelah menemui sang pemilik pesta dan bercakap basa basi sebentar. Sesampainya mereka di apartemen, Jonathan langsung menyerangnya dengan ciuman liar sambil menuntun Reana menuju ruang kerjanya di lantai bawah.
Reana yang terduduk di meja kerja hanya menatap Jonathan yang sedang melepaskan jas, dasi dan kemejanya sambil menggigit bibir bawahnya.
"Don't bite your lips, love." bisik Jonathan di depan bibir Reana ketika telah berada di hadapannya. Tanpa kata lagi Jonathan langsung mencium kembali bibir Reana yang telah memerah dan membengkak.
Jonathan terus mencumbu Reana dan merangsang gairah wanita itu. Tibalah pemikiran yang telah ia pikirkan sejak pesta terlaksana. Ia merobek gaun yang Reana kenakan. "Akhirnya," ucapnya sambi tersenyum miring.
"Jadi perkataanmu siang tadi yang ingin kita bercinta di meja kerja ini bukan main." Ungkap Reana pada Jonathan yang sedang dengan asyik menurunkan celana dalam wanita itu. Setelah Reana telanjang di hadapannya, giliran ia yang menanggalkan celana yang masih menggantung di pinggulnya.
"Ofcourse. Sudah lama aku membayangkan fantasi ini, sayang."
Terdengar pekikan Reana saat Jonathan memasukinya. kini ruangan kerja pun terisi oleh desahan, geraman dan suara gesekan tubuh mereka berdua. Sampai lenguhan panjang dan geraman kuat terdengan, menandakan mereka telah mencapai kepuasan yang mereka inginkan.
***
Jonathan merenungi apa yang terjadi pada dirinya. Sejak pertemuan awalnya dengan Reana, perasaan tertarik menghinggapi dirinya kala pertama mereka bertemu. Lalu debaran yang selama ini tidak ia rasakan, kembali terasa saat bersama Reana. Tanpa sadar Jonathan telah jatuh cinta pada Reana. Saat ia menyadarinya, Jonathan berusaha menahan perasaan itu karena ini akan berakhir menyakiti mereka berdua. Puncaknya ketika mereka di Paris, ia kalah terhadap perasaannya yang membuncah saat itu.
"Sudah aku duga kamu akan seperti ini." perkataan Andra membuat Jonathan sadar dari renungannya.
Jonathan meneguk vodka di gelasnya sebelum bicara, "Aku pun."
Andra yang duduk di sampingnya meminta bartender memberikan gelas, lalu menuangkan vodka pada gelasnya yang langsung ia teguk perlahan. "Kalau kamu sudah menduganya, seharusnya kamu menghentikannya."
"Aku sudah mencobanya, tetapi tetap saja aku kalah."
"Kamu sadar kan ini akan menyakiti Reana."
"Aku tahu, apa salah jika aku mencintai Reana. Aku sangat mencintainya."
Jonathan menunduk frustasi. Ia sama sekali tidak menyesali perasaannya yang mencintai Reana. Namun, dia menyesali keadaan dirinya yang pasti akan menyakiti wanita itu.
Andra yang melihat Jonathan begitu sedih dengan keadan temannya itu. Siapa sangka hal yang tidak di lakukan Jonathan menjadi bumerang saat ini.
"Seharusnya kamu menceraikan dia saat itu, jangan ikuti kata kasihan pada hatimu. Akhirnya itu menjadi bumerang bagimu saat ini kan?"
Masih dengan menunduk Jonathan menjawabnya, "Menurutmu aku akan tega menceraikan Helen ketika ia mengalami kecelakaan dan jatuh koma."
Helaan napas Andra lepaskan. Helen Park istri Jonathan yang mengalami kecelakaan saat di Seol satu tahun lalu menyebabkan wanita itu koma sampai saat ini. Padahal dari pihak kedua keluarga sudah menerima jika mereka bercerai. Bahkan keluarga Helen telah mengetahui perselingkuhannya.
"Untuk apa kamu berbaik hati pada wanita berselingkuh itu?" dengkusan kasar menandakan Andra yang kesal.
Jonathan mendongakan wajahnya. "Aku tidak bisa setega itu, Andra." ucap Jonathan lemah.
"Dan menyia-nyiakan hidupmu untuk wanita tukang selingkuh itu seperti yang ibumu katakan."
"Aku harus bagaimana Andra, aku tak mau kehilangan Reana."
"Ceraikan Helen saat ini juga."
***
*Flashback Satu tahun lalu*
Seol, South Korea
Jonathan melihat Helen yang berangkulan mesra dengan seorang pria dan sesekali terlihat kecupan keduanya memasuki sebuah hotel. Sudah cukup lama ia tahu jika istrinya berselingkuh dengan pria itu yang merupakan mantan pacar Helen. Awal dirinya mengetahui Helen selingkuh, ketika satu bulan lalu tepatnya lima bulan pernikahan mereka. Sebuah pesan yang datang pada ponsel Helen malam dirinya melepas rindu sehabis ia satu bulan penuh di Dublin membangun perusahaannya. Pesan yang membuat dunianya hancur dan ingin membangunkan Helen yang sedang terlelap, meneriakinya tentang pesan yang tidak senonoh mereka lakukan.
Sejak mengetahui perselingkuhan itu, Jonathan langsung memilih terbang ke Dublin pada malam itu juga dan menetap di sana mengurusi perusahaan barunya sambil mengumpulkan bukti perselingkuhan Helen dengan bantuan detektif swasta.
Hantaman di hatinya semakin menjadi saat mengetahui jika hubungan keduanya telah terjalin sebulan sebelum mereka menikah. Amarah meluap seketika di diri Jonathan. Sialan, ia pikir Helen baru memulai affair-nya saat-saat ia sibuk dengan pembukaan perusahaan di Dublin. Namun ternyata istrinya telah berselingkuh pada saat dirinya masih tetap berada di Seol dan marajut kasih dengannya. Pertanyaan tentang Helen yang tak kunjung hamil, padahal mereka sama sekali tak mengalami masalah apapun terjawab sudah. Ternyata Helena selama ini melakukan kontrasepsi demi menutupi perselingkuhannya. Dirinya merasa frustasi telah dibodohi wanita itu.
Kini bukti terakhir dan saksi ia dapatkan untuk memudahkan persetujuan gugatan perceraian yang ia kirimkan ke pengadilan tiga hari lalu. Jonathan melirik kedua mertuanya dari kaca spion. Terlihat wajah ayah Helen yang mengeras dan ibunya yang terkejut sambil menahan tangis.
"Jadi alasan kau menggugat cerai Helen karena ini." lirih ibu Helen.
Dengkusan kasar ayah Helen terdengar jelas sarat amarah. "Kami setuju kau menceraikannya. Dan kami siap sebagai saksi bagi mu."
"Terima kasih." balas Jonathan dengan penuh kelegaan.
Hari dimana Helen akhirnya tahu ia menggugat cerai wanita itu tiba. Helen mendatangi kantornya dan marah-marah di ruangannya menyuarakan tak mau bercerai. Hingga ia menuduh Jonathan yang telah berselingkuh dengan seseorang di Dublin. Jonathan memang tidak mengungkapkan perihal ia yang tahu perselingkuhan Helen, karena Helen langsung berlalu pergi setelah meluapkan kemarahannya. Pada saat itulah terjadi kecelakaan yang mengakibatkan ia koma hingga kini akibat cedera di kepalanya.
Empat bulan kondisi Helen tak menunjukan hal baik. Dirinya yang tidak bisa terus-terusan bolak-balik Dublin--Seol akibat perusahaan yang baru berkembang di Dublin memerlukan perhatiaannya, memutuskan Jonathan membawa Helen ke Dublin bersamanya. Gugatan yang ia ajukan ia tangguhkan karena tak tega jika harus menceraikan Helen di saat kondisi seperti ini, walaupun dicercai tentangan keluarga terhadap keputusannya. Akhirnya hati nurani mengalahkan ego dirinya. Yang saat ini hal itu menjadi bumerang bagi Jonathan.
*Flashback End*
***
Jonathan memasuki kamarnya dengan sempoyongan. Matanya melihat Reana yang tengah tertidur di atas ranjang mereka. Ia berjalan mendekat dan merebahkan diri di kasur, lalu memeluk Reana dari belakang dengan erat.
Merasakan ada seseorang yang memeluknya membuat Reana terbangung. Aroma parfum yang familiar dan bau alkohol tercium olehnya. Reana membalikan tubuhnya menghadap Jonathan.
"Jon, ada masalah apa sampai kamu minum-minum?" Tanya Reana. Ia sudah paham kebiasaan Jonathan yang akan melarikan frustasinya di saat ada masalah yang terjadi pada alkohol. Selama satu bulan mereka tinggal bersama, membuat Reana memahami pria itu.
"Jangan tinggal aku, Reana." gumam Jonathan mengeratkan pelukannya.
Reana bingung apa hal yang terjadi pada pria ini. Ia harus menanyakannya nanti saat Jonathan dalam keadaan sadar. "Aku tidak akan meninggalkan kamu, Jon." Balasnya sambil balik memeluk Jonathan.
Jonathan membuka matanya dan menatap Reana. "I love you Reana." ucapnya.
Dirinya tersenyum mendengar ungkapan cinta pria ini, "Love you too, Jonathan."
Jonathan memajukan wajahnya, mencium bibir Reana sekilas lalu merebahkan kepalanya di ceruk leher Reana. Dengkuran halus terdengar olehnya, membuat ia kembali memejamkan mata mengikuti Jonathan tidur.
Pagi tiba, Reana pun terbangun. Dirinya bangkit dari ranjang dengan hati-hati agar tak membangunkan Jonathan. Setelah membersihkan diri ia turun menuju dapur untuk menyiapkan sarapan bagi dirinya dan Jonathan. Namun langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita paruh baya yang tengah berkutat di dapurnya. Wanita itu mendongak dan melihat ke arahnya.
"Reana, duduk. Ibu sudah membuat sarapan untukmu dan Jon." kata Sinta Danatama Smith pada Reana.
Reana tersenyum pada wanita Indonesia itu yang merupakan ibu dari Jonathan. Pantas saja Jonathan pandai berbahasa Indonesia, karena ia juga besar dan lahir serta keturunan Indonesia, meskipun hanya dari pihak ibu saja. "Seharusnya ibu tidak usah repot membuatkan kami sarapan." ujar Reana sambil berjalan menuju meja makan.
"Ibu tidak repot sama sekali. Oh ya, Jonathan mana?"
"Ia masih tidur bu. Sepertinya ada masalah terjadi lagi di perusahaan hingga membuatnya pulang larut."
"Oh ya sudah kamu makan saja duluan, biar ibu bangunkan Jonathan."
"Tidak ibu, biar Reana saja."
"Tidak papa, lagian ada hal yang ingin ibu bicarakan padanya." Reana hanya bisa menatap kepergian Sinta yang berjalan menaiki tangga.
Sinta memasuki kamar anaknya, dan tak melihat Jonathan berbaring di ranjang. Sepertinya Jonathan telah bangun dan tengah mandi. Ia mendudukan diri di pingir ranjang menatap sekeliling kamar yang terlihat barang wanita tertata di sana. Ia tahu kini Jonathan dan Reana tidur di kamar yang sama.
Pintu kamar mandi terbuka memunculkan Jonathan yang terkejut melihat Sinta.
"Ibu." panggil Jonathan.
"Cepat pakai bajumu, ada hal yang ingin ibu bicarakan." kata Sinta.
Jonathan menuruti perkataan ibunya. Ia segera mengambil pakaian dan memakainya di kamar mandi.
"Hal apa yang ibu ingin bicarakan?" tanya Jonathan setelah berpakaian.
"Apa kamu dan Reana tidur seranjang?"
Jonathan menaikan alisnya merasa aneh dengan peetanyaan ibunya. Tanpa Sinta tanyakan pasti tau jika dirinya dan Reana tidur seranjang, melihat pernak-pernik make-up Reana terdapat di meja rias di salah satu pojokan kamar. "Iya, bu." Jonathan tetap saja menjawabnya.
"Apa... kalian sudah melakukan hubungan ranjang?" Tanya Sinta kembali.
"Iya, kami melakukannya." Jujur Jonathan.
Sinta sudah bisa menebak jika Jonathan dan Reana telah melakukan hal itu. Ia ingin marah, tapi tak bisa karena ia paham dengan kondisi dua orang yang sedang dimabuk cinta tidur satu kamar adalah hal mustahil untuk tidak melakukan hubungan ranjang. Karena ia pun pernah mengalaminya.
"Apa kamu mencintai Reana?" lagi Sinta bertanya.
"Tentu, aku mencintainya. Bahkan sangat mencintainya." Tegas Jonathan.
"Kamu tahu resiko dari semua ini kan?"
"Ya, aku tahu. Maka dari itu ibu, aku melanjutkan gugatan perceraian yang ku tangguhkan. Aku akan menceraikan Helen entah dalam keadaan koma. Aku tidak mau kehilangan Reana."
Jawaban panjang Jonathan membuat Sinta terdiam berpikir. Ia tahu Jonathan telah jatuh hati pada Reana saat pertamakali ia melihat Jonathan membawa Reana ke sebuah pesta. Perempuan yang ia perkenalkan secara tak langsung ke publik untuk pertama kalinya. Saat dulu bersama Helen, anaknya tak pernah menggandeng wanita itu karena Helen selalu memiliki alasan untuk tidak mengikutinya. Meskipun pada saat itu Reana bersetatus kekasih sandiwaranya, tapi Sinta tahu jika Jonathan memiliki perasaan pada Reana. Sampai di pertemuan kedua kalinya dengan Reana ia paham hubungan mereka telah berubah. Tapi sekarang masalah muncul kepada mereka.
"Jonathan, wanita itu sudah bangun dari koma sejak satu minggu lalu." Ungkap Sinta.
Jonathan membeku mendengarnya. "Kenapa bisa pihak rumah sakit tidak memberitahu aku?"
"Ibu yang meminta agar tidak memberitahumu. Ibu harus meluruskan perasaanmu dan tidakanmu pada permasalahan ini. Kini ibu sudah tahu jawabannya."
"Ibu,"
"Temui Helen dan selesaikan hubungan kalian baik-baik. Karena Helen masih tak menginginkan percerain ini. Apalagi saat tahu kamu masih peduli saat ia jatuh koma."
***
Reana mendengar jelas jika Jonathan akan menceraikan wanita koma bernama Helen demi dirinya. Jadi selama ini, Jonathan telah menikah. Dan ia menjalin hubungan terlarang bersama Jonathan. Air mata meluncur tiba-tiba dari matanya. Sakit hati menderanya saat tahu Jonathan telah menipunya. Tanpa mau mendengar perkataan yang lebih menyakitkan lagi, Reana memutuskan pergi secepatnya dari apartemen Jonathan.
Ia menyetop taksi dan memaksa supir untuk segera pergi dari sana. Tangisan tak henti Reana membuat sang supir menuruti keinginannya walau belum di beritahu tujuan sang penumpang tersebut. Reana kalut, ia tak tau harus kemana. Ke apartemennya pasti akan dengan mudah Jonathan menemukannnya, ke hotel pun sama saja. Akhirnya ia teringat pada Miranda rekan kerjanya di freshflowall yang ramah dan tak pernah bergosip tentangnya soal hubungan ia dan Jonathan. Dengan nekad ia akan meminta bantuan wanita itu untuk menampungnya walau mereka bukan teman akrab.
***
Seminggu Jonathan mencari keberadaan Reana. Ketika mengetahui kepergian Reana, awalnya ia merasa biasa saja. Namun sejak beranjak malam tak menemui keberadaannya di apartemen, barulah Jonathan menyadari ada yang salah. Dengan panik ia menghubungi nomor Reana yang terdengar deringnya di kamar karena ponsel wanita itu tergeletak di meja rias.
Akhirnya Jonathan menyadari Reana pergi meninggalkan dirinya. Ia tak hentinya terus mencari Reana, yang keberadaannya tak tercium sama sekali. Dia juga tahu jika Reana telah mengetahui siapa dirinya, melihat kepergiannya yang diiringi tangis saat terekam cctv. Sepertinya Reana telah mendengar percakapannya dengan ibunya.
Pikirannya pun yang kacau semakin kacau dengan kekeras kepalaan Helen yang tidak mau bercerai dengan dirinya. Tiba-tiba juga perusahan yang di Madrid mengalami masalah, membuat pikirannya bertambah kacau.
Ia pun mengikuti saran Andra untuk lebih memikirkan dulu perusahaan. Walau dia enggan meninggalkan Dublin sebelum permasalahannya dengan Reana terselesaikan. Tapi perusahaan adalah yang harus ia utamakan saat ini mengingat banyak orang yang bergantung hidup mereka pada perusahaan. Untuk perceraian ada tim legal yang mengurusinya. Sedangkan untuk urusan Reana, untuk selama ia di Madrid akan meminta bantuan pada Andra yang tetap di Dublin.
***
"Aaarrrgghh!" Jeritan kesal Helen terdengar di penjuru hotel saat Jonathan tak mengangkat pangilan yang kesekiannya.
Satu bulan ia sembuh total, Helen langsung pergi ke Madrid menyusul Jonathan yang tidak pernah muncul sejak dirinya terbangun dari koma. Ia masih berusaha menghentikan Jonathan untuk menceraikannya. Selama itu pula ia mengetahui jika Jonathan telah berselingkuh saat dirinya koma. Alasan perceraian mereka pun telah ia ketahui. Kedok yang ia jalani dengan Ji Hoon telah diketahui oleh Jonathan. Ia akan meminta maaf pada Jonathan dan meminta Jonathan melupakan hal itu. Karena ia pun akan memaafkan dan melupakan soal perselingkuhan Jonathan. Selama dua minggu dirinya di Madrid, masih tetap tak memberikan hasil untuk mendekat pada Jonathan yang selalu mengabaikannya.
"Helen, sebaiknya kamu hentikan usahamu itu. Lepaskan Jonathan, jangan mengekangnya lagi." Ucap ibunya yang melihat Helena masih saja keras kepala.
"Tidak, eomma. Aku yakin kita masih saling mencintai. Jika tidak, mana mungkin Jonathan mau mengurusku selama setahun aku koma. Peristiwa perselingkuhan kita? itu akan terlupakan seiring waktu." balas Helena.
"Dia sudah tidak menginginkanmu sejak ia tahu kamu berselingkuh. Ia hanya merawatmu karena rasa kasihan."
"Eomma salah!"
"Sebaiknya kamu tanda tangani surat percaraiannya, dan kita kembali ke Seol, Helen. Dia tidak mencintaimu lagi."
Helena terlihat marah sekali dengan apa yang di usulkan ibunya. Menceraikan Jonathan? tidak akan pernah terjadi, pikirnya keras. "Terserah jika ia masih mencintaiku atau tidak, Jonathan akan tetap menjadi suamiku!" jeritnya.
Helaan napas lelah keluar dari mulut ibunya Helen. Ia tak habis pikir dengan Keras kepalanya Helen. Ia menyesal menuruti kemauan Helen datang kemari yang berjanji akan menyelesaikan masalahnya dengan Jonathan dan melepaskan pria itu. Saat itu Helen terlihat meyakinkan akan hal itu. Tapi ternyata benar apa yang dikatakan suaminya, Helen tidak akan pernah berubah secepat itu. Dengan terpaksa ia akan mengungkapkan hal yang pasti menyakitkan bagi Helen tapi setidaknya akan membuat anaknya sadar.
"Helen, bagi ibu hubungan kalian sudah tidak ada dalam tahap pernikahan lagi. Perceraian di tangguhkan karena kondisi kamu yang koma, dan artinya tetap saja kamu sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan Jonathan, hanya status pasangan yang sedang menjalankan proses perceraian." ibu Helen menjeda ucapannya, dan tersenyum sinis pada Helen. "Apa kamu tahu, selama ini tak ada yang tahu tentang kebenaran Jonathan telah menikah karena kamu yang tidak mau dimunculkan di muka umum. Semua orang hanya tahu Jonathan baru menjalin hubungan asmara dengan wanita itu yang tidak sepertimu tidak mau memunculkan diri takut diketahui berselingkuh. Dalam permainan ini, kamu telah kalah Helen. Wanita itu mendapatkan pengakuan semua orang, mendapatkan hati Jonathan, dan yang terpenting mendapatkan buah hati dari Jonathan. Sedangkan kamu, apa yang akan membuat Jonathan bertahan padamu?"
Wajah Helen memucat saat mendengar kalimat terakhir yang ibunya ucapkan, "Wa ... wanita ... i-itu ... hamil?" tanya Helen dengan terbata.
"Kamu paham kan? kamu telah kalah Helen. Sekarang tanda tangani surat perceraianmu, lepaskan Jonathan dan kita pulang ke Seol."
Tubuh Helen merosot ke lantai, air matanya berjatuhan dengan deras. Ia telah kalah dari wanita itu. Apa yang di katakan ibunya benar. Dulu saat bersama Jonathan ia menolak di perkenalkan di muka umum, karena saat itu ia secara diam-diam berselingkuh dengan pria lain yang juga tidak tahu akan statusnya. Ia memakai kontrasepsi karena tidak ingin perselingkuhannya terkuak. Seharusnya ia menghentikan kesenangannya itu sejak ia telah bersama Jonathan.
Kenangan-kenangan kebersamaannya dengan Jonathan bermunculan di pikirannya. Saat mereka pertama kali bertemu di makan malam bisnis perusahaan dimana ia terpesona dan jatuh cinta pada Jonathan. Saat dipertemuan selanjutnya Jonathan meminta ia menikah dengannya. Lalu kenangan manis lain kebersamaan mereka berputar dengan jelas.
Ia tidak bisa memaksakan semua ini, apalagi ada seorang anak yang akan menjadi imbasnya. Ia tidak akan tega untuk mendapatkan Jonathan dan menyakiti anak itu. Karena ia tahu bagaimana rasa sakitnya jika tumbuh tanpa ayah ataupun wanita lain merebut ayahnya.
"Eomma," ucap Helen lirih. "Aku ingin pulang ... dan melepaskan Jonathan." dengan masih berderai air mata Helen mengucapkannya.
***
Dua bulan berlalu, Jonathan tak lagi mencari dirinya. Satu minggu awal ia pergi, pria itu gencar mencarinya. Tapi kini pria itu menghilang perlahan begitu saja seperti pelangi. Jonathan hadir memberi keindahan di hidupnya dan perlahan pergi meninggalkan bekas pahit di hidupnya. Reana mengelus perutnya yang masih datar sambil matanya memandang pelangi yang tampak di langit kota Dublin.
"Reana, apa ada hal yang kau inginkan untuk kubawa pulang nanti?" tanya Miranda yang baru saja keluar dari kamar.
Dirinya memandang Miranda yang terlihat rapi dan cantik dibalut gaun hitam selutut yang sederhana. Malam ini adalah perayaan ulang tahun freshflowall tempat dulu ia bekerja. Ya, Reana telah berhenti bekerja sejak hari dimana ia pergi dari apartemen Jonathan. Keputusan spontan yang awalnya sedikit ia sesali, sekarang tidak lagi karena ada alasan yang harus ia jaga.
"Tidak usah, aku tak menginginkan apapun." jawabnya dengan senyum. Sudah cukup ia merepoti Miranda selama dua bulan ini.
"Maaf Reana, apa kamu tidak akan memberitahunya soal kehamilanmu?"
Reana tersenyum kecut. "Aku tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang, Miranda."
"Tapi bayi yang di dalam kandunganmu membutuhkan pengakuan ayahnya?" belum sempat Reana menjawab, Miranda kembali melanjutkan ucapannya "Lupakan ucapanku, terserah padamu. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan calon keponakan kecilku ini."
"Terima kasih."
Bunyi ponsel Miranda menggema, wanita itu mengambil ponsel dari tasnya melihat siapa yang meneleponnya. "Reana, kak Andres menelepon." ucap Miranda sambil mengulurkan ponsel.
"Tapi kau kan--"
"Masih dini untuk mengahadiri pestanya, aku akan berada di kamar."
Setelah kepergian Miranda ke kamar, Reana menerima telepon tersebut.
"Ya kak Andres."
"Re, ada apa? kenapa kamu tiba-tiba menginginkan pulang dengan pesawat pribadi kita?" pertanyaan Andres langsung memberondongnya.
"Aku hanya ingin pulang dengan pesawat kita, apa salah?"
"Tidak salah, hanya... tidak pernah kamu seperti ini. Kamu selalu berpergian menggunakan pesawat komersil, anti menggunakan pesawat pribadi."
Reana tahu yang dimaksud Andres, dan sangat mengerti hal itu. Tapi entah kenapa kali ini ia ingin pulang ke Jakarta dengan pesawat pribadi. Sepertinya ini keinginan si janin. Mendengar kata pesawat pribadi, mengingatkannya pada Jonathan yang lebih senang bepergian dengan pesawat pribadi.
"Apa kak Andres tidak mau meminjamkannya padaku?"
"Tidak, saat ini pesawat sedang menuju Dublin. Sekitar satu jam lagi pesawat akan pakir dengan cantik di bandara." balas Andres dengan cepat.
"Yasudah aku akan bersiap-siap."
"Reana, ada apa?" tanya Andres di sebrang telepon yang masih mempertanyakan keanehannya.
Ia ingin bercerita pada Andres, namun ia menahannya. Lebih baik nanti saja berceritanya. "Aku akan ceritakan saat di Jakarta nanti." jawabnya.
Terdengar helaan napas Andres dari telepon. "Baiklah. Jangan bercerita sebelum aku ada di Jakarta."
"Baik, kak."
"Ya sudah, kakak harus pergi rapat. Jangan lupa kabari kakak saat akan pergi."
"Iya kak. Thanks ka."
"Apapun untukmu, aku tak masalah." kata Andres sebelum mengakhiri percakapan telepon mereka.
Reana menghela napas. Dirinya memang selalu berkomunikasi pada Andres melalui ponsel Miranda. Ponsel miliknya tertinggal di rumah Jonathan. Kini tinggal ia mengatakan kepergiannya pada Miranda.
***
"Reana akan pergi ke Jakarta dengan pesawat pribadi." Beritahu Andra pada Jonathan di sebrang telepon.
"Ya aku tahu. Beberapa jam lalu Andres mengatakannya." Jawab Jonathan sambil sesekali terdengar suara desisisan dari mulutnya.
Andra mengernyitkan dahi, "Kau kenapa?" Tanya Andra.
"Aku tidak apa-apa." Balas Jonathan.
Hembusan napas berat Andra keluarkan sebelum berucap. "Lalu, apa yang akan kamu lakukan? Kamu akan menyusulnya ke Jakarta?"
"Tidak."
"Jonathan, kamu harus menjelaskan semuanya pada Reana agar ia tahu."
"Aku tahu, Andra. Aku--" Tiba-tiba panggilan terputus sepihak dari Jonathan.
Andra merenung sejenak memikirkan sahabatnya itu. Bagimana keinginan dan perasaan Jonathan pada Reana. Serta penderitaan sang sahabat akibat luka patah hati yang disebabkan sang mantan istri yang berselingkuh. Ia harus melakukan sesuatu. Setidaknya ia harus membantu Jonathan dalam meluruskan apa yang terjadi pada Reana. Layaknya Jonathan membantunya dikala dulu istrinya pergi karena kesalahpahaman. Dengan tergesa Andra segera pergi untuk menemui Reana di apartemen Miranda. Semoga saja wanita itu belum pergi meninggalkan Dublin.
Saat Andra tiba di halaman sebuah gedung apartemen ia melihat sebuah mobil sedan hitam terparkir tak jauh di depannya. Ia yang melihat Reana dengan seorang pria paruh baya berjalan menuju mobil tersebut, langsung berlari mendekatinya.
"Reana! ... Reana! ... Reana!" Teriak Andra. Pada teriakan ketiga, Reana berbalik dan terlihat terkejut saat melihatnya.
"Andra?" Panggil Reana sesaat Andra telah ada di hadapannya.
"Reana bisa kita bicara sebentar?" Tanya Andra penuh harap.
Reana terlihat berpikir, lalu berbicara pada pria paruh baya di sampingnya. "Paul, bisa tunggu sebentar? Aku ingin berbicara dengannya."
"Baik nona, kalau begitu saya akan menunggu di dekat mobil" Pria itu pun pergi meninggalkan Andra dan Reana.
"Jadi ada hal apa yang ingin kamu katakan?" Tanya Reana pada Andra.
"Ini soal Jonathan. Dia--"
"Stop, Andra. Kamu tidak usah membantunya memberi alasan apapun padaku. Aku akan pergi."
Sebelum Reana berjalan menjauh Andra kembali bekata. "Jonathan sangat mencintaimu, Reana." Dan kata-kata itu berhasil membuat Reana berhenti. "Reana, bisakah kamu mendengarkan saja apa yang aku katakan, terserahmu dalam menanggapinya. Tapi aku mohon dengarkan aku." Lanjut Andra.
Reana berbalik menghadap Andra. Ia terdiam seakan menyetujui permintaan Andra untuk mendengarkan perkataannya.
Andra tersenyum saat Reana menurunkan ego untuk mendengar segala penjelasan tentang Jonathan.
***
Reana termenung di sepanjang jalan menuju bandara. Pikirannya terus terngiang oleh apa yang diceritakan Andra padanya. Semua tentang Jonathan yang ia tidak tau dikatakan pria itu. Hal yang entah kenapa membuat beban di hatinya meluap begitu saja. Segala terkaan buruknya pada Jonathan terpatahkan.
'Apa yang harus ia lakukan?' Kini pertanyaan itu terus memenuhi kepalanya dan batinnya.
Seketika air mata berjatuhan dari mata Reana. Membayangkan hal-hal negative yang membuat ia tak bersama pria itu. Tak mau menyesali hal yang akan menyakitinya. Reana telah memutuskan sesuatu. Mobil pun berhenti tak jauh di hadapan pesawat milik Atmaa Group.
"Paul," Panggil Reana yang berjalan di depannya.
"Ya, nona." Balas Paul ketika menghadap Reana.
Dengan masih sesekali berderai air mata, Reana mengungkapkan keinginannya. "Aku ingin pergi ke Madrid, bukan pulang ke Jakarta."
Paul terdiam lalu sedikit senyum tergambar di wajahnya, "Baik, nona. Saya akan bicarakan pada pilot kita untuk mengubah tujuan kita." Setelahnya kembali melanjutkan langkah untuk menghampiri sang pilot yang berada di luar pesawat.
Reana sendiri melangkahkan kakinya tergesa memasuki pesawat. Saat telah mencapai dalam pesawat, dirinya terdiam membeku melihat seseorang yang berdiri tak jauh di hadapannya.
"Jonathan?" Lirih Reana yang heran melihat pria itu ada di dalam pesawat, bukannya berada di Madrid.
"Hi." Sapa Jonathan dengan tersenyum yang diiringi desisan di akhir.
Reana masih terkejut melihat Jonathan. Pria itu berpenampilan berantakan, dengan luka lebam di pipi kiri dan lecet di sudut bibirnya. Apa yang terjadi pada pria itu? pikirnya.
Tanpa kata lagi, Reana berlari menghambur memeluk Jonathan. Dan dirinya menangis tersedu di pelukan pria itu.
"Aku senang kamu masih mau memelukku." ucap Jonathan sambil membalas pelukan Reana dengan erat. Usapan lembut di rambutnya, membuat Reana merasa nyaman.
Jonathan mengurai pelukan mereka. "Jangan menangis. Maaf aku membuatmu menangis seperti ini." Kata Jonathan sambil menghapus air mata di pipi Reana.
Reana menggelangkan kepalanya dan berkata, "Aku memang menangis karenamu, senang bisa melihatmu lagi."
"Reana, aku minta maaf. Aku--" ucapan Jonathan dipotong oleh Reana.
"Aku tahu ... Andra sudah menceritakan semuanya. Maaf aku begitu egois tidak mau mengetahui atau mendengar apa yang ingin kamu jelaskan. Aku memilih melarikan diri tanpa mengetahui semuanya."
Jonathan menatap Reana dengan sangat lekat. "Tidak, kamu tidak perlu minta maaf. Apa yang kamu lakukan tidak salah ... Reana, I truly love you."
Reana menatap manik Jonathan yang memancarkan perasaan cinta yang besar serta kelembutan terpapar di sana. "Aku tahu ... Aku mencintaimu juga Jonathan." balasnya.
Seulas senyum terbit di bibir mereka. Dengan perlahan Jonathan mendekatkan wajahnya pada Reana, sampai bibir keduanya bertemu. Mereka berciuman dengan ritme lembut dan curahan perasaan cinta tersemat di sana.
"Auch!" Ringisan Jonathan menghentikan ciuman mereka.
"Kenapa?" Dengan kekhawatiran Reana menanyakannya.
Jonathan memegang sudut bibirnya yang terluka. "Tidak apa-apa." Ujarnya sambil tersenyum.
Dirinya menyipitkan mata saat mendengar jawaban Jonathan. "Tidak apa-apa gimana, bibirmu terluka dan pipimu lebam. Apa yang terjadi? Siapa yang memukulmu?"
Jonathan tak menjawabnya. Pria itu hanya menatapnya dan tersenyum saja.
"Jonathan!" panggil Reana karena pria itu yang terus membungkam.
"Andres." Sebut Jonathan.
"Kak Andres?" Bingung Reana.
"Ya, aku menceritakan semuanya kepada dia apa yang terjadi pada kita. Dan Andres memukulku, meluapkan amarahnya. Aku sadar itu memang pantas Andres lakukan, karena ia sangat menyayangi dirimu, Reana."
"Tapi seharusnya dia tak berlaku bar-bar." Kata Reana dengan sedikit amarah dan kekesalan tergambar. Siapa yang tidak marah, ada orang yang memukul wajah tampan prianya, semua wanita pasti akan begitu bukan? pikirnya.
Jonatahan tertawa. Sedangkan Reana semakin kesal, "Kenapa kamu tertawa? Kamu tidak tahu perasaanku?" dengkusan kasar keluar dari mulutnya.
"Aku tahu kamu khawatir, tapi itu tidak penting. Yang lebih penting adalah ini." Lalu Jonathan mengelus perutnya dan lanjut berkata " Apa dia baik-baik saja selama ini? Maaf aku tak berada di sampingmu saat dua bulan ini. Pasti sangat berat menghadapinya sendirian."
Reana terkejut dengan Jonathan yang mengetahui dirinya hamil anak mereka. "Kamu tahu?
"Tentu saja aku tahu sayang, manamungkin aku tidak tahu. Walaupun aku jauh darimu, tapi aku tak pernah putus mendengar kabarmu ... Aku sangat bahagia dengan kehadirannya."
Mulutnya menganga mendengar perkataan Jonathan, "Kau ... memata-mataiku selama ini?"
Jonathan hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Reana. Pria itu terlihat mengambil sesuatu dari saku celananya, lalu berlutut di hadapannya.
"Reana Putri Atmaa, Will you marry me? Aku berjanji akan selalu mencintaimu dan menyayangi anak-anak kita, selamanya." Ujar Jonathan yang menyodorkan sebuah kotak yang terbuka berisi cincin bermata berlian biru seperti warna mata pria itu.
Reana terpaku, dan menatap penuh haru pada Jonathan. "Kenapa secepat ini?" tiba-tiba pertanyaan ini terlontar dari bibirnya.
"Tentu saja harus cepat-cepat, ada dia yang harus segera diakui." Jonathan menjawabnya dan memandang perut Reana dengan lembut. "Dan ini yang paling penting ... Aku sangat mencintaimu hingga tak mau kehilanganmu. Reana, you are my world, without you, I'm lost."
Hati Reana sangat senang mendengar ungkapan cintanya Jonathan terhadap dirinya. Tanpa pikir panjang lagi dirinya langsung memberikan tangan kananya dan menjawab lamaran pria itu. "I will Jonathan. Mari menikah."
Wajah Jonathan langsung berubah cerah. Langsung saja pria itu menyematkan cincinnya di jari manis Reana dan memeluk wanita itu.
"I love you so much, Reana."
"Love you more, Jonathan."
Reana tak menyangka bahwa kisahnya dan Jonathan akan berakhir bahagia seperti ini. Memang kita akan bertemu dengan orang yang tepat atau orang yang menjadi takdir kita, disaat waktu yang tepat pula. Seperti dirinya yang bertemu dengan Jonathan, begitu pun Jonathan yang bertemu dengan Reana di saat hatinya merasa hampa.
*END*