“Ga usah sok hebat di luar sana, tapi di rumah ga bisa apa-apa!”
Seminggu sudah kalimat itu terngiang di kepala pria yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan buku. Di otaknya terus mereka adegan ketika istrinya berkata dengan nada yang sedikit tinggi.
Dirinya masih bertanya-tanya, apa maksud dari kalimat itu. Padahal selama ini ia selalu berusaha bekerja sebaik mungkin untuk bisa membawa pundi-pundi rupiah demi keluarga tercinta.
Memang benar, sering kali saat pekerjaan terasa berat, ia hanya berganti pakaian lalu membaringkan diri di ranjang. Namun meski kondisi yang sangat lelah sekalipun si pria masih berupaya untuk bercengkerama dengan istrinya.
Soal pekerjaan rumah, ia mencoba membantu meski tidak sebanding istrinya. Si pria sadar betul kalau mengurus rumah sangat melelahkan dan tidak ada selesainya. Jadi ia berpikir dengan tidak meninggalkan gerabah kotor sehabis makan, dengan tidak menaruh handuk sembarangan, dengan tidak bolak-balik ganti pakaian, dengan menaruh barang ke tempat asalnya, itu akan membantu meringankan beban istrinya mengurus rumah. Namun kalimat yang keluar dari mulut istrinya jauh berbeda dari apa yang diharapkan si pria.
Keresahan hati dan otak membuat dirinya tak bisa fokus bekerja. Tak jarang ia membuat kesalahan yang kadang kala membuat bebannya kian menumpuk. Seperti apa yang baru saja terjadi.
Hampir tiga bulan penuh ia bergelut di depan komputer dari pagi sampai petang. Memijit deret huruf pada keyboard demi mengedit naskah yang lolos seleksi. Hanya karena satu kesalahan kecil yang tidak disengaja membuatnya harus kehilangan file berharga yang isinya naskah yang telah dieditnya selama tiga bulan ini di sela-sela menyeleksi naskah yang masuk.
Sungguh hancur hati karena jerih payah berhari-hari menjadi tiada berarti. Apalagi bila mengingat deadline yang tersisa dua hari. Bagai anjing terjepit pagar dan ayam kena kepala.
“Sudah berakhir. Aku pasti akan dipecat,” ujar si pria.
Dengan wajah kusut dan badan lesu, ia memilih pulang. Meninggalkan urusan kerja yang kacau tak terkira.
”Tumben pulang gasik?” tanya istrinya di pelataran sedang mengangkat jemuran.
Si pria hanya memandang sebelum akhirnya masuk ke rumah.
“Ada masalah apa Mas?” si istri masih bertanya, sedang suaminya duduk lesu di ruang tengah. Matanya sayu, badannya lemas, otaknya dipenuhi kehampaan, sementara hatinya terus berusaha menggenggam erat amarah.
“Mau makan?”
Si pria menggeleng pelan.
Dengan kelembutan si istri mengelus pundak suaminya. ”Kalau ada apa-apa, kamu cerita aja ke aku. Siapa tahu aku bisa bantu,”
Mata si pria kini tertuju ke istrinya.
“Tapi kalau emang aku ga bisa bantu, setidaknya itu bisa bikin hatimu lega,”
Si pria mengatur napas sebelum akhirnya berkata, ”Aku masih kepikiran,”
Kalimat si pria berhenti sampai situ, sampai membuat istrinya kembali bersuara. ”Soal apa, Mas?”
Napas si pria kian berat. Ada sesak yang teramat di dadanya. Ia khawatir kalau-kalau apa yang keluar dari mulutnya akan membuat hati istrinya terluka.
”Ngomong aja Mas,”
”Kenapa kamu bilang kalau aku sok hebat di luar?” Akhirnya pertanyaan itu muncul juga setelah tertahan sekian lama.
“Yang kapan?”
“Seminggu yang lalu. Kamu bilang, ‘Ga usah sok hebat di luar sana, tapi di rumah ga bisa apa-apa!’ Ga bisa apa-apa gimana sih?” tanya si pria dengan nada sedikit meninggi.
“Kamu inget kan, tiap pulang kerja kamu pasti inginnya istirahat,”
”Ya karena aku cape,”
Si istri mengembus napas. ”Bahkan hampir tiap hari libur, kalau ga buat ngurus kerjaan ya pasti buat istirahat,”
”Kan aku udah bilang ke kamu kalau aku cape. Kalau aku kerja di hari libur itu berarti ada kerjaan yang emang mesti diselesaiin cepat-cepat,” ujar si pria berargumen.
”Terus kamu kapan ga capenya Mas?”
”Sadar ga, kalau pertanyaanmu itu bikin aku sakit!”
”Terus harusnya aku tanyanya kayak apa Mas?”
”Aku, pria, mirip kayak telur. Jika dipecahkan dari luar, kehidupan di dalamnya akan berakhir!”
”Terus bagimu aku ini kayak apa, Mas? Kalau pria kayak telur, kalau wanita kayak apa Mas?”
“Aku tahu kalau wanita gampang sakit karena hal sepele. Tapi bukan berarti pria ga gitu!”
”Iya, terus hubungannya sama kamu cape apa, Mas?”
Si pria menghela napas. “Kerjaanku lagi berat banget. Udah jelas kalau pulang-pulang aku istirahat. Aku juga selalu bilang kalau ada apa-apa di kantor!” si pria sedikit berseru.
“Kalau kamu cape terus setiap hari, kapan kamu ada waktu buat aku?”
”Jangan bilang gitu! Aku selalu ada waktu buat kamu. Buktinya, saat jamnya pulang aku langsung ke rumah, ga ikut makan dulu di luar bareng sama anak-anak kantor. Buktinya aku ga nongkrong kayak pria lain. Buktinya aku ga pernah minta main sendiri,”
”Dengan kamu di rumah dan tidur, itu bagimu waktu buat aku?” si istri bertanya dengan nada yang terdengar hampir menangis.
”Iyalah!” si pria membentak. “Toh tiap sebelum tidur kita pasti ngobrol dulu, kan?”
“Waktu buat aku ga cuma ngobrol Mas, tapi aku butuh otak dan hati kamu fokus buat aku. Aku ga butuh kok kita banyak uang. Aku cuma butuh kita ngabisin waktu bersama, kayak dulu,”
“Kita sekarang udah ga kayak zaman kuliah yang terus ngabisin waktu tanpa mikir duit! Sekarang apa-apa selalu butuh—”
“Aku ngerti! Itu kenapa aku ga minta makan di luar, tapi masak sendiri di rumah. Itu kenapa aku ga minta dibeliin kosmetik, baju, perhiasan, barag-barang baranded. Itu kenapa aku ga minta jalan-jalan. Semua itu demi menghemat pengeluaran kita Mas,”
”Kamu nyesel nikah sama aku?!” Luapan amarah dari si pria akhirnya meledak juga, tak kuasa lagi ditahannya. Dengan alis meruncing dan dahi berkerut si pria kembali berseru: ”Udah ngomong aja!”
”Engga!” istrinya balas membentak.
Si pria bangkit dan menggenggam kedua pundak istrinya sembari mencemooh dengan suara melengking. “Ngomong!”
“Engga!” istrinya masih berusaha membuat suaminya sadar, walau itu sama sekali tak merubah wajah bengis pria di hadapannya.
“Kamu maunya apa sih?!”
“Kamu yang maunya apa, Mas?!” Air mata meledak mengalir deras dari pelupuk mata si istri. Namun bagai orang kesurupan si pria sama sekali tak memedulikannya.
”Aku mau kamu ngomong?!”
”Ngomong apa Mas?!”
”Jujur kalau kamu nyesel nikah sama aku!”
”Enggaaaa!” si istri berteriak sejadinya, rengekan dan ratapan yang tak dipedulikan suaminya membuat ia setengah gila. Bagaimana tidak, satu-satunya pria yang menjadi tempat sandaran kini bagai orang asing yang terus memaksa dirinya mengakui hal yang sama sekali tak pernah terlintas di benaknya. Bak buruk muka cermin dibelah.
“Aku ga pernah nyesel nikah sama kamuuuu…. aku ga nyesel! Aku ga nyesel! Aku ga nyesel nikah sama kamu!” Si istri terus berkata-kata, meski terbata-bata.
Namun, lagi-lagi pria di hadapannya sama sekali tak berempati. Ia terus saja mengeluarkan kalimat yang sama, ”Jujur aja kalau kamu nyesel nikah sama aku?”
Energi negatif yang mengumpul dalam ucapan suaminya membuat emosi si istri melebihi batas maksimal. ”Nyesel, nyesel, nyesel ... nyesel.... NYESEL! Itu terus yang kamu omongin!”
”Emang kamu nyesel nikah sama aku, kan?!”
”Kalau iya kenapa?!” Kalimat itu akhirnya keluar juga. Si istri tak tahu bagaimana lagi cara membuat suaminya sadar. Hatinya sudah sangat hancur. “Apa?! Kenapa kalau aku nyesel, HAH?!”
Si pria diam, dia hanya memandang istrinya.
“APA?! JANGAN DIAM AJA!”
Ia tetap bergeming, membiarkan istrinya meledakkan emosi.
“Mas…. kalau kamu nyesel nikah sama aku, ngomong aja! Ga usah paksa aku ngakuin itu! Aku udah bilang kalau aku ga nyesel nikah sama kamu! Kamu kenapa sih?! Kamu kenapa kayak gini?! Aku habis salah apa sih?! Aku minta apa sih?!” si istri berkata-kata dengan cucuran air mata yang tak mau berhenti sambil memukul pelan dada suaminya.
”Apa aku salah, minta waktu kamu Mas?! Salah kalau istri minta waktu suaminya?! Salah?! Salah, HAH?! Emang yang boleh minta waktu kamu cuma bosmu apa, Mas?! Cuma penulis-penulis itu, Mas? Iya?! IYAAAAAA?!”
Si pria mengembus napas. Emosinya kian turun. Ia mulai tersadar akan perlakuannya barusan. Jadi ia menanggapi dengan gelengan kepala.
“Berapa sih harga waktu kamu Mas? Sini aku bayar! Berapa sih harganya?! Aku mau beli waktu kamu! AKU MAU BELI SEMUA WAKTUMUUUUU….”
Si pria menunduk kepala.
“Aku ga boleh beli?! AKU GA BOLEH BELIIII....”
”Kamu ga perlu beli,”
”Kalau ga beli, gimana aku bisa dapat waktumu HAH?!”
”Ma-maaf,” ucap si pria sambil memeluk istrinya.
Si istri berusaha melepaskan, tapi tenaga suaminya lebih besar. Sambil menangis, ia mulai merasakan kehangatan, ke-nyamanan, dan kasih sayang dari suaminya. Rasa yang begitu lama tak ia dapatkan.
“Kenapa sih Mas? Kenapaaaa…. kenapa kamu gini?! Kenapa kamu tega bentak aku?! Kenapa?! Aku salah apa, Mas?”
Si pria masih mengatup mulut rapat. Kini ia benar-benar sadar kalau pria bagaikan telur yang tampak kuat dari luar, tapi bila dipecahkan dari luar maka kehidupan di dalamnya akan berakhir. Sementara wanita bagaikan telur tanpa cangkang, sangat mudah hancur dengan satu hal kecil.
”Mas.... aku ga nyesel nikah sama kamu. Engga! Aku cuma rindu! Aku rindu kamu Mas! Aku rindu kamu fokus ke aku! Aku rindu perhatianmu! Aku rindu belaianmu! Aku rindu.... aku rindu kamu, Mas!”
”Maaf,”
Jemari si pria menyeka wajah istrinya. Dengan penuh kesadaran ia berusaha membuat wanita di hadapannya meng-hentikan tangisnya, menghentikan semua kesedihan yang menyelimuti.
”Aku, benar-benar minta maaf. Aku nyesel,”
Si istri tak bersua. Ia tengah hanyut dalam peluk kasih sayang suaminya. Membebaskan segala rindu.
Beberapa waktu kemudian si pria berkata, ”Aku, salah. Aku nyesel....”
Si istri menatap tajam suaminya. ”Percuma punya uang banyak kalau sendiri-sendiri. Nikah itu menyatukan kita Mas. Jadi persis kayak apa yang aku bilang ke kamu dulu, ’Aku cuma mau ngabisin sisa hidupku sama kamu.’”
”Iya, aku salah. Aku sadar kalau aku salah, aku minta maaf,”
Si istri mengangguk.
”Mau minum?”
Lagi-lagi si istri mengiyakan tanpa kata.
Keduanya duduk berdampingan. Dengan air mata yang mulai mereda, si istri kembali berkata. ”Mas, jujur, kamu ada masalah di kantor?”
Si pria menunduk. ”Iya. Maaf, aku malah melampiaskannya ke kamu,”
Senyum si istri berkilat. ”Ga papa Mas. Yang penting kamu mau ngomong, mau jujur sama aku, mau mengakui salahmu, dan mau berubah. Aku senang banget Mas,”
Mendengar itu si pria tak kuasa menahan tangisnya. Ia sadar betul betapa besar cinta istrinya kepada dirinya. “Maafin aku. Aku benar-benar—”
“Aku udah maafin kamu Mas,”
”Ta-tapi—”
”Udah.... yang udah, ya udah. Yang penting kamu ga ngulangin kesalahan itu lagi,”
Si pria mengangguk.
”Sekarang, aku mau tahu masalahmu di kantor Mas, boleh?”
”File kehapus,”
”Hah?”
”Aku ga sengaja ngehapus file yang isinya naskah yang lagi aku kerjain. Mana deadlinenya Senin besok lagi,”
”Di recycle bin ga ada?”
Si pria menggeleng lesu. “File dari flashdik kalau kehapus ga masuk ke recycle bin,”
”Flashdisk yang mana sih, Mas?”
“Yang warna merah,”
“Yang ada gantungan basket itu ya?”
”Iya, kenapa sih?”
”Bentar ya,” Si istri bangkit. Meraih laptop, membuka jendela drive lalu menampilkan file yang baru saja diupload hari sebelumnya. ”Coba Mas, yang ini bukan?”
Si pria mendekat ke layar laptop. Mengamati apa yang ditunjuk istrinya dan matanya terbelalak. Dilihatnya nama file doc. yang dieditnya selama ini, bahkan ketika dibuka isinya persis seperti yang telah dikerjakannya kemarin.
”Kok bisa?”
Si istri senyum. ”Tiap kamu pulang kerja, aku upload file terbaru di flashdisk kamu ke drive. Kan kamu dulu minta ke aku, supaya kalau ada file yang ga sengaja kehapus masih ada copy-annya,”
Kegembiraan memenuhi hati si pria. Dipeluk erat istrinya sembari berkata, “Terima kasih sayang, kamu penyelamatku!”
”Aku cuma bantu kamu mecahin telur dari dalam.”