"Kenapa memilih membiarkanku hidup?" elf bersayap putih menyembunyikan rasa terimakasihnya pada laki-laki ras iblis yang baru saja menyelamatkannya dari jurang dunia fana.
Laki-laki yang diajak bicara tetap mengunyah seonggok daging rusa yang baru diburunya, membuat elf bersayap menelan ludah karena ngeri.
"Siapa namamu tadi? Hua Bi? Nama yang aneh!"
Pipi Hua Bi memerah, "Memang siapa namamu hingga berani congkak?"
"Namaku Arthur" jawabnya singkat.
Hua Bi menutup mulut, tak menyangkal namanya kalah unggul. Dia mengutuk raja langit yang memberinya nama seperti perempuan saat ia mendapat misi keabadian.
"Kenapa kau bisa bertahan di alam fana, makhluk seperti kita akan melemah di dunia ini"
Arthur mengibaskan tangan, "Menjadi kuat dan hidup dalam keabadian tak membuat hidup kita lebih baik"
"Tentu saja membuat hidup lebih baik, kita tak perlu memikirkan hal-hal remeh seperti makan"
Arthur mengangkat secuil daging yang masih tersisa di tangannya.
"Maksudmu ini?"
Hua Bi segera menjauh, amis darah benar-benar membuatnya mual. Arthur tertawa melihat ekspresi panik elf itu.
"Aku tahu kau sedang mengejar keabadian, tapi sayapmu yang merepotkan itu akan patah jika terus kau duduki!"
Hua Bi menyadari tubuhnya menindih separuh sayapnya, pantas saja sejak tadi dia merasa kesakitan. Hua Bi belum terbiasa dengan sayap yang baru didapatkannya beberapa hari yang lalu.
"Aku harus segera pergi!" Hua Bi memandang langit yang menggelap, merentangkan sayap bersiap untuk terbang.
"Apakah keabadian sangat penting untukmu?" tanya Arthur saat Hua Bi sudah beberapa meter di atas tanah.
"Tentu saja!" balas Hua Bi dengan teriakan.
Arthur menggeleng melihat elf itu terbang menjauh. Baru kali ini ada bangsa elf yang tak mengeluarkan pedang saat melihatnya.
***
1000 tahun kemudian
Bangsa elf mengalami perang besar dengan bangsa iblis sekali lagi. Perang yang menyebabkan dunia fana merasakan dampaknya.
Anak-anak kecil berkerumun ketakutan di belakang laki-laki berbaju hitam yang dihunus pedang sekelompok elf bersayap perak.
"Mereka makhluk yang abadi, aku tak bisa bertarung dalam waktu lama" Laki-laki itu mengepalkan tangan, memikirkan nasib anak-anak yang berlindung di belakangnya.
"Tunggu! Biarkan mereka berlindung!" teriak laki-laki itu setengah mengancam.
Para elf yang mengepung tertawa mengejek.
"Iblis menyelamatkan manusia?" Tanya salah satu elf pada teman-temannya yang membalas tertawa.
"Makhluk rendah sepertimu tak pantas hidup di dunia manapun, kami tak peduli meski harus menghabisi anak-anak itu untuk membunuhmu!"
"Kau yang akan menanggung dosa atas kematian mereka!" tambah yang lain.
Laki-laki itu menggigit bibir, negosiasinya tak berhasil. Dia segera membisikkan sesuatu pada salah satu anak yang paling tua. Mereka lari sambil bergandengan tangan menuju rumah terdekat.
"Ahh, manis sekali, apa kau tahu dalam situasi apa dirimu sekarang?"
Laki-laki itu menjawab dengan menghunuskan pedangnya. Pertarungan sengit segera berlangsung.
Setelah satu jam berlalu, beberapa elf mengalami luka ringan, berbanding terbalik dengan keadaan si laki-laki yang kini tubuhnya dipenuhi luka.
Pantulan cahaya keemasan menerangi gang sempit itu. Seorang elf dengan sayap emas mendarat anggun di tengah mereka. Sayap emasnya segera menghilang setelah mendarat.
Beberapa elf bersayap perak segera berlutut memberi hormat.
"Aku yang ambil alih!" kata elf bersayap emas itu singkat.
Para elf segera pergi menuju pertarungan lainnya. Elf bersayap emas menghampiri laki-laki yang hampir sekarat itu dan mendudukkannya.
"Kenapa kau bisa berakhir seperti ini?"
Laki-laki itu tersenyum, "Kau terlihat lebih hebat daripada terakhir kali, hanya saja namamu tetap payah"
Laki-laki itu tertawa, mengharuskannya memuntahkan darah beberapa kali setelahnya.
"Arthur, kau masih saja bisa menghina di kondisi seperti ini!" Hua Bi menggelengkan kepala.
Dirinya sempat khawatir pada teman lamanya itu, tapi kekhawatirannya segera hilang melihat Arthur masih bisa mengeluarkan kata-kata hinaan.
"Kenapa kau tak membunuhku?"
Hua Bi menggaruk kepala, merasa pernah mendengar pertanyaan serupa.
"Dulu kau menanyakan itu" Tambah Arthur menebak ekspresi berpikir Hua Bi.
"Ya ampun, kau benar, bagaimana aku bisa lupa"
Hua Bi menghentikan langkahnya saat menyadari sesuatu.
"Kau tidak serius menanyakan itu bukan? Aku tahu kau jauh lebih tua dariku, jadi tak mungkin aku mampu membunuh ras iblis sepertimu"
Arthur tersenyum lebar, "Kalau begitu coba hunuskan pedangmu, aku ingin tahu seberapa hebat pedang elf yang sudah menjalani keabadian!"
Hua Bi menggeleng, merasa tak perlu melakukannya, jawabannya pasti tak mungkin membunuh Arthur hanya dengan menancapkan pedang di dadanya.
Mereka berjalan hingga mencapai titik dimana para elf tak bersayap berkumpul. Hua Bi mulai panik karena tahu meskipun tak bersayap mereka adalah para elf yang sudah menjalani semua tahap keabadian.
Hua Bi menarik Arthur menjauh, tapi temannya itu bergeming di tempat hingga para elf menoleh.
"Iblis!" seru salah satu elf, mereka segera menatap tajam Hua Bi dan Arthur.
Arthur maju selangkah di depan Hua Bi sambil menghunuskan pedang pada temannya itu. Hua Bi masih tak memahami apa yang dilakukan temannya hingga mendengar bisikan di telinganya.
"Ini saatnya kau menguji kekuatanku!"
"Apa kau yakin?" tanya Hua Bi ragu dengan tetap memperhatikan para elf yang menatap tajam mereka.
Arthur mengangguk sambil tersenyum lebar, membuat Hua Bi tak ragu lagi karena yakin tak akan melukainya.
Hua Bi memunculkan pedang dengan mengayunkan tangannya. Elf itu pun menyerang Arthur tanpa berkedip. Hingga puluhan tebasan yang sebagian ditangkis dan sebagian lagi mengenai tubuh temannya itu.
"Tunggu apa lagi, tusuk jantungnya!" seru salah satu elf disambut tawa elf lainnya.
Hua Bi merasa sedikit ragu melihat temannya yang sudah bersimbah darah. Dia meyakinkan hatinya bahwa Arthur tak akan mati semudah itu.
Pedang Hua Bi menembus jantung Arthur, tapi dia segera menyesali perbuatannya setelah melihat temannya itu terkulai tak sadarkan diri. Dan itu menjadi akhir hidup sang raja Dunia bawah.
Setelah itu sayap Hua Bi menghilang, tanda dia telah menyelesaikan tahap akhir keabadiannya dengan membunuh petinggi iblis.
***
Epilog
Arthur melihat kepergian Hua Bi dengan sayap putihnya yang masih bernoda tanah. Seseorang yang sejak tadi bersembunyi di balik pecahan batu besar menghampirinya.
"Tuanku, apa perlu kubunuh elf itu?"
Arthur mengibaskan tangan, "Kau berniat membunuh makhluk yang sudah kuselamatkan?"
"Maaf atas kelancangan saya"
Arthur mengibaskan tangan kembali, menyuruhnya pergi, dia ingin menikmati matahari terbenam sendiri.
"Elf bodoh yang menganggap iblis sebagai teman" Arthur menyeringai.
"Kelak meskipun aku harus jadi musuhnya, tak jadi masalah bagiku!" gumamnya.
🤘 Devil is not a friend, but your friend is a good relationship that you made 🤝