👄penulis: Tiara RaaSE
Matahari baru saja muncul dari peradabannya, terdengar suara jeritan dari sebelah timur desa. ibu, ayah dan bibi sudah meninggalkan rumah sejak suara jeritan pertama terdengar, sementara aku tetap dirumah sesuai perintah ibu.
aku melanjutkan pekerjaan rumah yang masih menanti untuk aku kerjakan dan beberapa tugas sekolah yang harus aku kerjakan secara online.
--------
"ada apa to Bi? kok ibu belum pulang?" tanya ku.
bibi yang baru datang menengok padaku sambil membereskan belanjaan.
"itu loh non, anaknya yu' Sam mau melahirkan. tapi bayinya ga mau keluar dari tadi pagi", ujar bibi.
"ga dibawa ke kota aja bi? kan ada rumah sakit?"
jauh lah non, malah ngeri ada apa-apa to dijalan. udah di tolong sama Mbah mijan kok. tapi ya itu masih nunggu bayinya mau keluar" jawab bibi sambil memotong sayuran.
"kasihan ya Bi, lama banget loh. ini sudah jam 12 siang" tanya ku lagi.
"ya begitu lah non. perjuangan seorang ibu. makanya non Tiara jangan suka bantah sama ibu. perjuangan mengeluarkan non waktu kecil juga susah. sakit lagi."
"iya Bi" jawabku singkat.
Aku merasa kasihan pada mbak Ijah, anak yu' sam. Ibu sering berkata, melahirkan benar-benar seperti perjuangan hidup dan mati, mungkin itu benar. Aku juga sering melihat ditayangan-tayangan televisi bagaimana ibu yang berjuang melahirkan menahan sakit yang teramat sangat. Rasanya seperti 20 tulang dipatahkan bersamaan atau setara dengan 57 Del (Del:satuan rasa sakit), sementara kemampuan manusia normal menahan rasa sakit hanyalah 47 Del. sungguh menakjubkan sekaligus menakutkan.
mengingat nasehat guru ngajiku,sebab amal yang mereka lakukan di dunia lah, yang membuat wanita dunia lebih baik dan diutamakan daripada para bidadari surga., sungguh adil rasanya bila melihat bagaimana perjuangan berat menjadi seorang ibu.
---------
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. ibu dan ayah belum juga pulang kerumah. sejujurnya aku mulai khawatir dengan keadaan ini.
"Bi, aku nyusul ibu ya".
"iya non. hati-hati, sudah malam. pakai jaketnya non."sahut bibi sambil menonton televisi.
"iya Bi"
--------
Kerumunan orang sudah berkumpul di luar rumah yu' sum, lirih ku dengar suara yu' Sam memohon pada anaknya untuk tetap terjaga. aku terkejut segera menutup mata ku, ketika ku lihat mas Andi, menantunya yu' sam tidak memakai selembar pun pakaian, berlari mengelilingi rumah sembari sesekali memukul mukulkan sapu lidi ke tembok rumah. anak-anak kecil tertawa dan beberapa orang dewasa terus menyemangatinya. ada apa ini, batin ku.
aku segera menerobos kerumunan warga dan mencari ibu ku di dalam rumah yu' Sam.
"ijaahhhhhh........!!!!!!!" jerit yu'sam membuat mendadak suasana kembali mencekam.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un", ucap warga bersamaan.
aku berusaha menerobos kembali, masuk kedalam kamar anak yu' Sam. ku lihat mba Ijah sudah tergolek tidak bernafas dengan bagian bawah tubuh terbuka. disebelahnya terdapat bayi yang juga sudah tidak bernyawa. disudut ruangan, tidak jauh dari tubuh mba Ijah ku lihat wanita yang menurutku asing, duduk disana menatap padaku. mungkinkah itu salah satu keluarga dari suami mba ijah. ku abaikan tatapannya dan kurasakan suasana pilu meledak seketika. air mataku pun turut mengalir bersama tangisan para warga yang tidak tega melihat kondisi mba Ijah yang sudah tidak bernyawa.
hanya Mbah mijani yang tetap cekatan membereskan peralatan yang di gunakan untuk melahirkan. sebilah bambu kecil masih ada noda darah, membuatku bergidik ngeri dan menjauhi kamar mba Ijah. aku duduk di kursi ruang tamu, sambil mencari keberadaan ibu ku.
"getihe ora Ono yu" ujar warga sambil berbisik
"Iyo. bener dugaanku koyoane"lainnya menimpali
"dugaan opo to?"
"Yo di isep ambek kuntilanak. kan pirangpirang Dino muter ae. warga Yo di Deni to"
iso ngono Yo yu'
Yo isok lah. mangkane Yen Menteng iku mesti ati". Ojo turu sore. Ben bayi kan ibu ne selamet".
samar, ku dengar warga mulai lirih bergosip. teganya, batin ku. suasana berduk kok teganya membicarakan orang yang baru saja meninggal. Tiba-tiba mataku menangkap pergerakan wanita yang berada di sudut ruangan kamar yu'sam seperti berjalan ke arah ku dan seketika aku merasa sangat takut. ibu.. ibu kamu dimana.. ibu.. tolong aku.. ibu...,, batin ku.
"nduk..!" ujar ibu sembari menepuk bahuku.
"ibu..!!"ku peluk erat tubuh ibu ku.
tubuhku bergetar hebat ketakutan.
"uwes ndukk.. ayo muleh . ayoo..
---------
non,,diminum teh hangatnya" ujar bibi cemas sambil menyelimuti ku
ibu mengkompres keningku dengan air hangat. nyaman sekali rasanya.
"Ono opo to nduk?kok keweden koyok ngono"
aku menggeleng. rasanya bingung mau bercerita mulai darimana. apa yang kusaksikan di rumah yu'sam membuat kepalaku terasa penuh.
"itu hal biasa nduk, hidup, mati, rezeki, jodoh sudah ada yang mengatur. kita,manusia hanya menjalani apa yang sudah di takdirkan oleh Gusti Allah "
aku bangkit untuk duduk.ku letakkan kain basah di keningku di dalam baskom berisi air hangat.
"ada yang mau aku tanyakan Bu. boleh?"
iya, ada apa nak? apa yang membuatmu ketakutan seperti tadi?
Bu, tadi sebelum ku aku masuk aku lihat mas Andi tidak pakai baju berlari keliling rumah yu'sam sambil memukul sapu lidi. apa itu ritual tertentu Bu?
ibu tidak tau nduk, tapi memang tadi Mbah mijani menyuruh suaminya untuk melakukan itu. katanya supaya bayinya cepat lahir. kalau kamu tanya benar atau tidak. tentu saja menurut logika tidak ada pengaruhnya. itu hanya mitos.
lalu Bu, kenapa mba Ijah melahirkan tapi tidak ada darahnya? apa bener di hisap kuntilanak?
"hehh...ngawur. siapa yang bicara seperti itu. tentu saja ada darahnya. ibu yang ikut menemani mba Ijah melahirkan. memang ketika bayi dikeluarkan sudah tidak ada lagi darah. tapi darah sudah banyak keluar sebelumnya. sebenernya ibu sudah sarankan untuk dibawa ke rumah sakit. tapi pihak keluarga menolak.
usia mba Ijah itu masih dibawah umur. seumuran kamu to? rahimnya belum sempurna jadi ketika dipaksa melahirkan ya pendarahan. bukan karena di hisap kuntilanak. ngawurr" jelas ibu
"Bu, apa disini tidak ada bidan? kenapa harus Mbah Mijan yang membantu? memang Mbah Mijan bidan? mana pakai bambu lagi. aku ngeri Bu" ucapku sambil memeluk guling disebelah ku.
ibu menghela nafas panjang. ada wajah enggan menjawab pertanyaan ku.
"kalo soal itu, tentu saja ada nduk, bidan desa. Bu Rini itu kan bidan. tapi ya itu.. masyarakat kita masih susah menerima. mereka lebih baik lari kedukun beranak.alasannya ya..karena turun menurun. dukun itu pernah membantu ibunya atau sodaranya melahirkan. berat nak merubah tradisi." ujar ibu.
aku tau ibu dan beberapa warga desa yang sadar kemajuan zaman sebenarnya sudah sering kali memberikan penyuluhan ke warga-warga desa tentang pentingnya ilmu kesehatan. termasuk didalamnya tentang ilmu ke pasutri an.
"warga masih takut Bu, kalo melahirkan di Bu bidan nanti motongnya pakai pisau karatan ya mending pakai bambu to bu" celetuk bibi.
"ya ga mungkin to Bi, bidan itu Lo sekolahnya mahal, orang-orang pinter semua. mereka pasti pakai pisau yang sudah sudah dikasih obat jadi ga ada kumannya. Yo to nduk?" tanya ibu meminta persetujuan ku.
aku mengangguk mengiyakan. aku mendadak teringat sosok wanita aneh yang membuatku ketakutan tadi saat di rumah yu'sam. ingin rasanya aku menceritakan nya pada ibu, tapi entah kenapa aku tidak tega membebani ceritaku yang mungkin konyol bagi orang lain. ahh...mungkin aku tadi sedang berhalusinasi karena syok melihat keadaan mba Ijah.
DISCLAIMER: BASED ON TRUE STORY
kunjungi tulisan-tulisan ku yang lain yuk guys🥰