Setelah senja sadrah pada gelap, seorang perempuan berlari menyusuri jalanan gersang dan berbatu. Lambat laun langkah kakinya melambat. Tubuhnya dibasahi keringat tak terkecuali wajahnya. Perih itu yang dirasakan.
"Shh, aduh perih." Ujar nya tatkala keringat membasahi jerawat di wajahnya.
Wajahnya yang dipenuhi jerawat berhasil mengeluarkan ringisan dari mulut kecilnya. Tak ayal dia merawaba wajahnya dan menekan pelan jerawat yang telah bernana itu. Dan juga bagian wajahnya yang lain. Make up yang dipakainya meninggalkan bekas di tangannya.
Selain perih di wajahnya, dahaga juga ia rasakan. Tepat disamping dia berhenti terdapat sebuah warung. Memasuki warung itu, dan memesan teh manis. Tegukan demi tegukan hingga lanjut ke tegukan terakhir dapat menghilangkan rasa haus. Tak ada yang sisa, namun bekas lipstik membekas di bibir gelas itu. Dengan usapan jari jempol akhirnya menghilang sekejap. Istirahat 10 menit, setelahnya kembali melanjutkan perjalanan. Kini, ia tidak lari melainkan berjalan cepat.
Dihadapan rumah beton dengan lampu cahaya menghiasi, ia berhenti dan masuk. Perlahan langkahnya memasuki bangunan itu agar tak ada yang terganggu akibat kehadirannya yang malam tiba. Tanpa sepengetahuan ia dikejutkan oleh kehadiran sang ibu.
"Malam bangat pulangnya. Kemana aja Nak?" Tanya wanita dengan rambut pirang.
"Tadi Bu, Hazella mampir di warung. Istirahat sebentar tadi," jawabnya dengan senyuman tulus.
Wanita itu mengangguk mengiyakan jawaban putrinya.
"Segera mandi Nak. Jangan lupa jerawat nya di obatin ya." Suruh sang ibu,sambil melangkah ke dapur.
"Siap Bu."
Di kamarnya Hazella berdiri dihadapan cermin besar dengan meraba setiap jengkal wajahnya dan menekan-nekan pelan. Wajah berjerawat tertutupi make up serta bibir kering dan hitam diperindah lipstik. Jerawat dengan nana telah berkumpul di wajah itu. Mencuci muka dengan sabun muka selepas itu mengoleskan dengan obat jerawat. Jangan lupakan dengan badan gemuk, serta hitam. Tak luput dari dirinya sendiri. Hazella hanya bisa tertawa akan hal itu. Waktu berjalan cepat ia tidur diranjang nyaman miliknya. Dengan guling sebagai benda yang dia peluk. Ia berharap bunga tidurnya akan indah.
Malam berganti pagi perempuan dengan segala kekurangannya itu, bangun dengan semangatnya yang membara. Karena hari ini adalah waktu untuk pergi menulis fiksi dan non fiksi di perpustakaan nasional berjarak 500 meter dari rumahnya. Kembali lagi menggunakan make up, lipstik dan pakain yang mampu menutupi bodynya. Walaupun begitu, dia sangatlah cantik dimata ayah dan ibunya. Dan dia juga tak melupakan untuk membawa laptop, dan handphone nya.
Berjalan kaki menyusuri jalanan dia bersenandung indah dengan bersiul-siul indah. Melompat-lompat kecil dan memutar. Aneh memang tapi itu yang dia sukai. Sampai dihadapan bangun besar yang berisi banyak buku. Senyum merekah.
"Saatnya menulis. " Katanya dengan semangat 45.
Duduk di kursi plastik, menyalakan laptop serta handphone. Sebelum menulis dirinya mencari buku yang harus dijadikannya sebagai referensi untuk artikel yang kali ini dia tulis.
Berada di rak buku yang menyimpan buku yang cocok untuknya. Dia gapai naas semua usai karena tingginya rak tersebut. Mencari kursi namun semua telah dipakai pengunjung lain. Berusaha kembali saat ingin menggapai tangan seseorang berhasil mendahului tangannya. Mengarahkan pandangannya ke arah kanan. Sungguh plot twins baginya. Laki-laki tampan berhasil menatap mata hazelnya. Sama-sama tak berkedip beberapa sekon. Hingga sekon ke 59 laki-laki itu mengeluarkan kata pertama.
"Sadar." Seakan tersihir perempuan di hadapannya langsung menatap ke arah bawah. Malu itu yang dia rasakan saat ini.
"Nih, buku." Katanya dengan segera meninggalkan perempuan itu.
Perempuan itu menerima masih tetap menunduk. Tak ada keberanian dirinya langsung minder. Dengan ketampanan orang itu, Hazella merasa tidak nyaman karena dia tau akan keadaan fisiknya. Bukan apa-apa tapi inilah kenyataanya.
Dirasa laki-laki itu telah menjauh ia bergegas menjauh dan kembali ke tempat duduknya. Sepertinya ini hari kesialan nya sudah dipertemukan dengan laki-laki tampan yang membuatnya minder, sekarang laki-laki itu, duduk di kursi yang berada di sebelah dimana Hazella meletakkan laptop dan handphone nya.
"I'm not lucky." Ucapnya pelan dengan tarikan nafas tiga kali dan memberanikan diri mengambil barang-barangnya.
Melangkah pelan dan mengambil barang-barangnya dia bersorak ria, sampai saat ini laki-laki itu, belum terganggu akan kehadirannya.
Saat berbalik dengan langkah pertama suara seseorang menghentikan langkahnya. Orang itu tak lain laki-laki yang berada di sebelah kursinya.
"Ngapain kamu, mau pindah? Terganggu dengan kehadiran ku? Tanyanya dengan pandangan menuju perempuan yang menggaruk lehernya gelisah.
"Bukan begitu." Jawabnya.
"Lalu, kau takut dengan ku? Tanyanya kembali.
Tak ingin berkomunikasi lebih panjang dengan orang baru ini, Hazella kembali ke mantan kursinya. Aktivitasnya dia lakukan, menulis beberapa kata dengan menambahkan gambar pada beberapa bagian paragraf. Jarinya menari-nari diatas keyboard. Hal ini sangat menyenangkan dimana dia mampu mengeluarkan ide dari brain yang tersimpan.
Jangan lupakan laki-laki yang berada disampingnya sedari tadi dia hanya pura-pura tak memperhatikan. Nyatanya dia tertarik kepada perempuan dengan kegigihannya berkutat dengan media elektronik.
"Selesai, tulisanku akan ku muat ke blog pribadiku." Ujarnya sedikit kuat. Sepertinya dia lupa dengan kehadiran orang lain disekitarnya.
"Banyak orang disini,pelankan suaramu." Ucap laki-laki yang berada di samping perempuan itu.
"Sorry." Katanya dengan menunjukkan deretan gigi.
Setelah itu, Hazella merapikan semua barang bawaannya. Saat akan melangkah, semua berhenti setelah laki-laki itu berbicara.
"Kita sama. Ayo."
Keluar bersama dari perpustakaan, banyak pasang mata yang berbicara.
"Beda value gak sih!"
"Oh my gosh, kayaknya gue mimpi."
"Fiks, besok bakalan gue santet tuh cewek. Bisa-bisanya jalan sama laki-laki tampan."
Suara-suara itu, mengusik pendengar Hazella.
Seakan tau apa yang dirasakan perempuan di sampingnya, dia berkata.
"Gak usah didengar. Btw, nama kamu siapa?" Tanyanya.
"Aku Hazella, kalau kamu?" Tanya Hazella dengan menatap ke arah lain tak berani memandang laki-laki itu
"Axel." Ujar laki-laki itu singkat.
Hazella mengiyakan.
Sampai di persimpangan."
"Kita sampai disini bersama. Rumah aku ke arah kanan ini." Ujar Hazella sambil menunjuk arah kanannya.
"Ok, hati-hati." Balas Axel.
Disetiap langkah Hazella, Axel memperhatikannya sampai dimana Hazella melangkah sebelum bangunan menutupinya. Laki-laki itu tersenyum jangan lupakan lesum pipi diwajahnya. Seandainya Hazella melihatnya, perempuan itu akan minder kembali.
Sesampainya dirumah Hazella bergegas masuk kamar dan melompat ke arah ranjang nyamannya.
"Rrrww, argh gila tampan bangat." Teriakan histeris sambil menggigit bantal guling miliknya.
"Dewi Fortuna, please pertemuan aku dengannya lagi. Hati ini menginginkan." Serunya dengan tutur kata lembut. Tanpa sadar dia menggesekkan wajahnya ke bantal guling dan meninggalkan bekas make up. Biarlah seperti ini pikir Hazella.
"Nama dia Axel. Axel. Si tampan bangat. Kira-kira dia punya kekasih ngak sih." Ujarnya sambil melipat tangan didada.
"Pasti pacarnya cantik juga. Se value pasti." Ujarnya kembali.