Judul: HateLove!
Cermin... Ayana mengmati dirinya dalam pantulan cermin yg terletak di depannya.
"Bagus!" Serunya sambil tersenyum
Ayana Hurairah, gadis- ah bukan, lebih tepatnya wanita berumur 23 tahun itu merasa tak ada yg kurang dari dirinya, ia merasa wajah tidak begitu buruk, kepribadinnya juga,ia hanya merasa sedikit penakut dan sedikit ceroboh.
Namum di umur seperti ini dia merasa tidak punya apa-apa, perempuan itu merasa tidak memiliki keahlian atau ketertarikan dalam bidang apapun. Keinginan melakukan keinginan sehari-haripun itu di dorong dari keluarganya yang selalu mengharapkan Ayana mengerjakan berbagai macam hal.
Senyum mengembang di pantulan cermin itu perlahan-lahan mengendor, tubuhnya yg tadinya duduk dengan tegap langsung terbungkuk. Punggung itu perlahan bergetar, bulir-bulir bening satu persatu berjatuhan dari pelupuk matanya.
Ia menangis, namun ia tidak tau sebab apa yg membuat tangisan itu makin lama makin menjadi. Kedua tangannya bergerak kasar menghapus buliran air mata yg terus-terusan berjatuhan di kedua sisi pipinya.
"Kenapa?... menangis lagi?... ada apa denganmu, Ayana?... Aku tidak mau menangis, berhentilah menangis dasar cengeng"
Bukannya berhenti, tangisan itu makin besar dan membuatnya makin terisak.
Akan lebih baik jika dirinya menangis karena masalah cinta, akan lebih baik jika dia menangis karena putus dari seseorang yg telah lama bersamanya. tapi bukan itu alasan tangisannya. ini lebih dari itu, ia merasa takut pada dunia dan dirinya sendiri, ia menangis karena begitu membenci cinta, baginya cinta adalah hal yg tidak boleh ada dalam hidupnya.
cinta menjadi seperti sebuah racun yg sangat mematikan, tapi walau seperti itu... adakah di dunia ini manusia yg sanggup hidup tanpa adanya cinta? Ayana sendiri tidak tau.
***
"Assalamualaikum... kakak? kakak ada di rumah?" gadis berkerudung dengan seragam restoran tempatnya bekerja masih melekat di tubunya terlihat berjalan memasuki rumah.
Sebelah tangannya menenteng kantong plastik yg sepertinya adalah makanan, sedangkan sebelah tangannya menaruh kunci motor pada gantungan kunci di belakang pintu. Setelah menyelesaikan kegiatannya itu, ia beralih membuka sepatu yg masih melekat pada kakinya.
"kau sudah pulang?" Ucap Ayana yg baru saja keluar dari kamarnya dan menutup pintu tersebut. Ia memaksakan senyumnya begitu pandangannya bertemu dengan wajah sang adik.
"Kak Ay..." panggil Anggi-adik Ayana- dengan tatapan yg serius
"Hmm?" Sekali lagi Ayana harus memaksakan senyumnya.
Anggi pasti sudah tau. Bagaimana tidak? Melihat mata kakaknya yg memerah dengan senyuman yg begitu kaku, matanya juga berkali-kali menghindari tatapannya, Anggi tidak mungkin tidak menyadarinya.
"Ayo kak! Kita makan, aku bawain ayam goreng kesukaan kak Ayana" seru perempuan 21 tahun itu sambil merangkul sang kakak dan mengajaknya memasuki rumah.
Walau tau, Anggi lebih memilih untuk tidak membahasnya sekarang. Ia tau bagaimana watak kakaknya, pasti ada masalah yg membuatnya tidak bisa menahan semua itu, dan ia pikir jika langsung membahasnya sekarang Ayana mungkin akan sektika meledak.
"Oh iya! Ayah, Ibu, Bang Adam belum pulang?" Tanya Anggi begitu mereka tiba di meja makan
Ayana menggeleng.
"Benar-benar kelakuan mereka semua! Masa kakak di tinggal sendiri lagi?" Anggi berkacak pinggang dengan ekspresi seolah ia benar-benar marah pada anggota keluarganya itu.
"Iya, kan mereka kerja, Gi" sedangkan Ayana membalas dengan sedikit terkikik, melihat ekspresi Anggi malah membuatnya sedikit terhibur.
"Iya... emang klo Bang Adam, tapi ibu? Ayah? Mereka gak pulang?!"
"Gak papa, biarin aja dulu, nanti juga pulang sendiri kok"
Keluarga Ayana entah sejak kapan jadi seperti ini?, ibu dan ayah Ayana sebenarnya sudah lama bercerai dan saling tidak berkomunikasi, tapi dalam hari-hari tertentu ayahnya akan pulang bahkan biasa akan menginap di rumahnya. Seperti kemarin ia pulang karena ualangthun Ayana, tapi setelah itu ia akan pergi lagi entah kemana dan tanpa adanya kabar. Sedangkan sang anak pertama, Adam, kakak dari kedua perempuan ini setelah perceraian orangtua mereka ia menjadi dingin dan acuh tak acuh pada keluarganya.lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah dan menjadi orang asing bagi mereka.
Bisa di bilang diantara keluarganya, Ayana hanya paling dekat dengan sang adik, dalam keadaan apapun Anggi selalu menemaninya, Anggi tidak pernah mamaksa Ayana melalukan apapun, bagi Anggi melihat kakaknya dan keluarga bahagia saja itu sudah sangat cukup.
Orang-orang kerap meeasa cemburu pada hubungan adik kakak mereka, seharipun rasanya mereka tidak pernah bertengkar ataupun berdebat. Orang-orang kadang mengira mereka bukan saudara melainkan sahabat, bahkan sahabat tidak ada yg sedekat ini, bukan?
Hal ini yg membuat Ayana bersyukur, walau keluarganya menjadi seperti ini, ia bersyukur memiliki adik seperti Anggi.
***
Malam harinya, hanya ada Ayana dan Anggi dirumah. Di Ruang tengah dengan di temani teh juga gorengan serta tontonan kesukaan keduanya, begitulah mereka menghabiskan waktu bersama. Seperti itu hampir setiap hari mereka lakukan, tertawa dan sesekali mebahas suatu hal yang serius. Seperti kali ini, Anggi menatap cukup lama sang kakak yang tampak bahagia menonton serial tv kesukaannya. namun, di mata Anggi kakaknya itu sedang menutupi sedihnya.
"Kak Ay..." Anggi memanggil Ayana dengan selembut mungkin agar kakaknya itu tidak merasa tersinggung
"Hmm?" Ia menyahut, tapi matanya masih menatap layar tv di depan.
"Kak Ayana jangan terlalu membenci mereka, ya?" Ucap Anggi tiba-tiba
Mendengar itu, Ayana yg sedari tadi fokus pada layar tv langsung beralih menatap Anggi. Seketika Ayana merasa sulit untuk tersenyum, ia menunduk sambil memainkan tangannya, ia tidak tau harus bereaksi bagaimana.
Anggi mendekat dan tiba-tiba memeluk kakaknya itu dari samping, Ayana terkejut. Walau mereka berdua begitu dekat, tapi ini adalah pertama kalinya Anggi bersikap seperti ini, ia bukan hanya memeluknya tapi ia terdengar menagis.
"Anggi..." sungguh Ayana tidak tau harus berbuat apa
"Tidak apa-apa, Kakak. Semuanya akan baik-baik saja, Aku tau kakak membenci Ayah dan ibu, aku juga sama. Tapi Kak, hidup kita akan terus berjalan, kalau kita terus melihat kebelakang apa yg akan terjadi dengan kehidupan kita?" Ucap Ayana sambil sesekali menepuk punggungnya
Sekarang Ayana sadar betapa egoisnya dia selama ini, ia hanya memikirkan dirinya sendiri, menyalakan semua hal buruk yg terjadi dalam hidupnya pada orangtua yg sudah membuatnya menjadi seperti ini. Ia bahkan membenci cinta karena kedua orangtuanya terus berjalan di tempat dengan melihat kebelakang, ia tidak memikirkan ada Anggi juga Adam yang sama tersiksanya dengan semua ini.
"Anggi... maafin kakak, kakak gak pernah jadi kakak yang benar buat kamu. Anggi, Maafkan kakak" pada Akhirnya Ayana juga ikut terisak sambil terus mengatakan maaf.
Ayana pikir ia membenci cinta, ia pikir cinta adalah sesuatu yg buruk. Ia hanga melihat patokan cinta itu dari kisah ayah dan ibunya yg setelah lama saling mencintai malah berakhir begitu saja.
Nyatanya dia hanya belum mengerti, cinta sebenarnya memiliki arti yg begitu luas. Cinta tidak hanya harus hubungan antara dua orang, cinta juga adalah teman, sahabat, dan keluarga. Cinta bahkan adalah sesuatu yg tak bisa terlihat.
—Fin—