Spring
Cerpen oleh Bulan Separuh
Pagi ini untuk pertama kalinya dalam tahun ini ku dengar derik serangga-serangga pohon bernyanyi. Pucuk-pucuk hijau muda di dahan mulai tampak. Sebuah keceriaan di balik jendela yang baru ku buka.
“Mau kemana, sayang?”
“Memasang lonceng angin,” jawabku menuju ke teras.
“Sudah waktunya ya?” dia pun bangkit dari baringnya, mengintip ke jendela dengan mata yang masih ia picingkan, kesilauan.
Aku menarik kursi, kemudian ku naiki sebab tubuhku tak cukup tinggi untuk memasang lonceng angin ini di tepi plafon teras.
“Hati-hati,” ucapnya.
Sejak kapan pemuda manis ini ada di sini, bukankah tadi dia baru saja bangun? Cepat sekali datangnya.
Dia pun memegangi kursi yang aku naiki. Kakiku berjinjit. Sudah naik kursi pun tanganku masih belum sampai ke ujung pengait di plafon.
“Hati-hati, hati-hati!” ia panik, seiring dengan kakiku yang gemetar menahan keseimbangan di ketinggian yang tak seberapa.
“AAAA...”
Aku terjatuh, untungnya dia menangkapku dengan tepat.
Dia adalah Naoto, pacarku. Kakak angkatku juga. Teman lamaku yang pernah hilang. Entahlah, hubungan kami terlalu rumit untuk dijelaskan.
Semua bermula saat aku kembali ke Sendai beberapa bulan lalu. Kampung halamanku sebelum Kakek Akito mengajakku tinggal bersamanya, bersama keluarga besarnya di Tokyo.
*
Sudah lama sekali aku tidak ke Sendai, kira-kira sekitar 13 tahunan. Ketika itu aku berjalan-jalan mengunjungi pasar, ada sebuah kedai kopi di sana. Pemiliknya begitu mengenaliku.
“Namira? Kau Namira gadis keramba mutiara itu kan?” panggil lelaki tua yang sedang mengelap meja di depan kedainya.
“Iya, benar. Bapak mengenali saya?”
“Tentu, dulu ayahmu adalah pelanggan setiaku. Wajahmu itu begitu mirip dengannya, makanya aku yakin kau pasti adalah putrinya yang sering ia ceritakan itu.”
“Wah, apakah aku sepopuler itu? Hahaha.”
Pemilik kedai pun mempersilahkan aku duduk di dalam kedai, ia menjamuku dengan menu-menu kudapan terbaiknya. Ia mengatakan bahwa betapa ia merindukan ayahku, sahabatnya yang sudah belasan tahun tiada.
Saat bercakap-cakap dengan pemilik kedai, aku mendapat sekelibat penglihatan di balik jendela. Seseorang yang wajahnya begitu familiar bagiku.
TOK TOK TOK...
“NAOTOO KUN!” aku memanggilnya dari balik jendela.
Aku begitu senang bisa bertemu Naoto, cucu Kakek Akito yang sejak lama bersekolah di Inggris. Sewaktu SMP dulu kami selalu bersama, melakukan banyak hal-hal konyol, sama-sama dihukum, pokoknya bersama dengannya adalah keseruan yang tak terlupakan.
Naoto pun menatapku bingung. Secepat itukah ia melupakanku? Namun ia menunjukkan keramahannya, ia tersenyum kepadaku. Aku lalu permisi kepada pemilik kedai dan dengan antusias menghampiri Naoto.
Sangking gembiranya, kata-kataku tidak kunjung putus, terus kuujarkan dengan cepat secepat kereta Shinkansen. Aku ingat saat itu Naoto hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya kebingungan menghadapi ocehan-ocehanku.
Aku dan Naoto pun menghabiskan waktu bersama di Sendai. Mumpung aku baru saja lulus kuliah, Kakek Akito pasti tidak keberatan kalau aku tinggal berlama-lama di Sendai.
Aku bilang aku liburan bersama Naoto. Berkali-kali Kakek Akito tidak percaya, dan kesal mengapa Naoto tidak mengabarinya. Bukannya pulang ke Tokyo Naoto malah liburan ke Sendai. Sejak dulu hubungan mereka memang selalu tidak akur dan jarang berkomunikasi.
Beberapa hari pun berlalu, aku mengungkapkan perasaanku kepadanya. Sudah sejak lama sebenarnya aku menyukainya. Hal yang jadi kejutannya, ternyata Naoto menerimaku sebagai pacarnya.
Menurutku ini tidak masalah, sebab kami tidak punya hubungan darah. Kalau ada yang disalahkan atas hubungan ini, perasaan cintalah yang lebih tepat untuk disalahkan, bukan aku. Setiap orang tidak bisa mencegah kepada siapa panah asmara dihujamkan oleh dewa cinta.
Waktu pun berlalu, liburan usai. Aku kembali ke Tokyo tanpa Naoto. Aku beraktivitas di Tokyo, mendapatkan pekerjaan atas rekomendasi Kakek Akito.
Beberapa bulan berlalu, baru Naoto pulang ke kediaman keluarga besar Kakek Akito. Ia mengomeli Naoto habis-habisan, mengapa tidak kembali malah berlibur ke Sendai diam-diam.
Naoto ketika itu tidak kunjung mengaku. Aku pun hampir percaya dengan ekspresinya yang tampak meyakinkan, benar-benar seperti baru pulang dari Inggris. Mungkin setelah Naoto berlibur di Sendai ia kembali ke Inggris, entahlah. Tidak penting menurutku, yang penting Naoto yang tampan ini sudah kembali.
Serumah dengan Naoto, aku sering mengajaknya berjalan-jalan berdua. Namun terkadang ku rasa Naoto terasa asing. Beberapa kali aku menunjukkan sikap manja kepadanya, ia hanya diam lalu menggeleng.
*
Waktu pun berlalu, suatu ketika Naoto mengutarakan perasaannya padaku. Bukankah kami sudah berpacaran? Lalu buat apa dia mengutarakan perasaannya? Apakah tingkahku terlalu kekanakan dan tidak menunjukkan sikap seorang pacar?
Bagaimanapun juga aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Terkadang Naoto memang suka jahil memperdayaiku. Ternyata benar, mungkin dia sedang memperdayaiku. Nyatanya Naoto mengungkapkan di depan keluarga besar bahwa ia ingin menikahiku.
Kakek Akito sangat setuju. Sebuah alasan baginya ketika Kakek menjadikan aku cucu angkatnya adalah ingin menjadikanku sebagai bagian dari keluarganya. Kakek ingin berhutang budi kepada ayahku yang pernah sangat berjasa menyelamatkan perusahaan Kakek yang bangkrut.
Ayah adalah pengrajin mutiara yang memberikanmasukan-masukan kepada Kakek untuk mendirikan kembali perusahaan aksesoris wanita yang kini berkembang besar. Ketika ayah meninggal dunia di usiaku 10 tahun, maka Kakek membawaku ke Tokyo.
Pernikahanku dengan Naoto sangat didukung oleh Kakek Akito. Dulu Kakek pernah berandai-andai bagaimana kalau menjodohkan aku dengan Naoto, ternyata sekarang malah benar-benar terjadi.
Naoto baru saja selesai pada pendidikan militernya dari Inggris. Ya, Naoto adalah seorang pilot angkatan udara. Aku sudah bisa membayangkan akan seperti apa aku nanti dibawanya terbang mengendarai pesawat jet. Anganku terlalu lancang, tapi Naoto selalu mengiyakan apapun yang aku katakan walau hanya berpura-pura.
*
Menjelang pernikahan, Naoto ada panggilan dinas dadakan beberapa hari lagi. Ia berjanji ini tidak akan lama, jadi dia meyakinkanku dengan mengajakku berlibur ke pantai selama 2 hari, menyambut musim panas. Dan kini di sini lah kami berada. Sebuah cottage sewaan di padang tepi laut yang indah.
*
“Sudah, aku saja yang memasangkan lonceng angin ini! Dasar pendek,” ucap Naoto mengataiku. Padahal baru saja aku didekapnya mesra, tiba-tiba keromantisan itu hilang begitu saja, malah mengataiku pendek.
“Nah, sudah,” ucap Naoto. Kami pun memandangi lonceng angin yang digantung. Angin membuat talinya bergoyang-goyang membentur-bentur kaca, menghasilkan bunyi-bunyian indah, khas penyambutan musim panas.
Kami pun melanjutkan aktivitas, mandi, makan, jalan-jalan, jajan es krim, pokonya sangat menyenangkan.
Liburan pun usai, Naoto harus berangkat. Aku mengantarnya ke bandara. Bukan sebuah perpisahan tapi rasanya aku tak rela melepasnya pergi. Bagaimana pun juga pernikahan kami akan berlangsung sebentar lagi, ketika Naoto pulang.
Keberangkatan Naoto pun tiba, di pintu keberangkatan kami saling beradu pandang dan melambaikan tangan.
“NAOTOO.. AWAS YA KALAU KAU TAK KEMBALI! KAU AKAN AKU HAJAR!” teriakku.
“ENAK SAJA! AKU AKAN PULANG, TUNGGU AKU YANG AKAN MENGHAJARMU DI RANJANG!” balasnya.
Astaga memalukan sekali. Dia malah tertawa puas melihat raut wajahku. Apakah dia tidak merasa malu berteriak menyebut-nyebut ranjang seperti itu? Tapi ini memang salahku juga, sebab aku yang terlebih dahulu meneriakinya.
Aku pun berlalu. Aku berjalan di pusat jajanan di bandara. Tiba-tiba...
“Namira,” panggil seseorang. Jelas itu namaku. Aku pun berbalik dan...
“Naoto? Bukan Naoto?” batinku seraya terpaku menatapnya. Perlahan air mataku tumpah tetes demi tetes, tubuhku mematung dari ujung kepala sampai kaki.
Lelaki itu begitu mirip Naoto, tapi tubuhnya lebih kurus, kulitnya lebih gelap, tapi gaya rambutnya sama.
“Aku datang dari Sendai sengaja untuk menemuimu. Kau ada di sini, apakah kau sudah tahu aku akan datang?” ucapnya.
Aku hanya terdiam. Lelaki itu mendekat lantas langsung memelukku.
“Tidak perlu sampai menangis. Sebesar itukah rasa rindumu kepadaku?” ucapnya.
Siapa lelaki ini? Sontak aku langsung mengingat ekspresi ketika Naoto baru datang dari Inggris ke kediaman keluarga besar. Ia benar-benar tampak meyakinkan, berulang kali menjelaskan bahwa Naoto tidak pernah pergi ke Sendai.
Naoto juga awal-awal kepulangannya dari Inggris begitu terasa asing, sedikit menjaga jarak dan merasa aneh dengan sikap manjaku. Naoto mengungkapkan perasaannya kepadaku, lalu ternyata benar bahwa orang yang aku ‘tembak’ waktu itu bukan Naoto, tapi lelaki ini.
Sepanjang perjalanan, aku hanya diam, sesekali memandanginya. Lelaki ini bicara begitu lancar, sebenarnya siapa dia?
Mobil sewaan yang kami tumpangi pun berhenti di tepi jalan. Itu adalah kawasan hutan.
“Hujan, tidak baik berkendara di jalan berliku di depan, sebaiknya kita tunggu reda dulu,” ucapnya.
Pikiranku masih sibuk mencari-cari jawaban atas kebingunganku. Tiba-tiba lelaki itu melajukan mobilnya perlahan memasuki jalan kecil ke dalam hutan dan ia pun menghentikan mobilnya di dalam hutan.
“Kenapa dari tadi kamu diam saja?” tanya lelaki itu.
“Si-siapa sebenarnya dirimu?” tanyaku.
“Aku Naoto,” jawabnya. Sontak aku menggeleng pelan.
“Aku adalah lelaki yang membuatmu jatuh cinta sehingga kau mengutarakan perasaan kepadanya,” lanjutnya.
Memang benar, lelaki ini adalah lelaki yang membuatku jatuh cinta. Dialah yang lebih dahulu aku temui sebelum Naoto pulang.
“Si-siapa namamu?” tanyaku gemetar.
Lelaki itu mendekat dan memelukku erat. Pelukan yang begitu kurindukan. Pantas saja pelukan Naoto kemarin dan semua bahasa tubuhnya begitu terasa berbeda saat kami bersama.
“Hayate,” bisiknya.
Ia mencoba mendekatkan mulutnya, namun aku memalingkan wajahku.
“Aku akan menikah dengan Naoto, bukan Hayate,” ucapku pelan.
Namun, selanjutnya justru Hayate merenggut sebagian kesadaranku. Irama rintik hujan di luar juga semakin semarak, menenggelamkanku pada dekapan dan irama dansanya. Tubuh kami berdansa, aku tidak dapat mencegahnya. Aku merasakan kembali jatuh cinta yang benar-benar kurindukan.
Setelah semua terjadi, ia pun mengantar aku pulang. Ia pergi untuk kembali menemuiku. Aku tanya kapan, ia tidak menjawab.
Di rumah, aku menemui Mama Sakura. Aku menanyakan perihal Naoto, apakah Naoto punya saudara kembar. Mama menjelaskan dengan penuh emosional, bahwa dirinya memang pernah melahirkan bayi kembar.
Ayah biologis kedua anak kembar itu adalah lelaki miskin yang pernah berbuat lancang kepada Kakek Akito. Kakek Akito tidak ingin anaknya menikah dengan seorang brandalan. Ayah Naoto pun menyulik saudara kembar Naoto sebagai akibat dari tidak direstuinya pernikahan mereka. Hingga kini Kakek Akito tidak mengijikan siapapun membahas hal ini apalagi menyebut-nyebut nama lelaki itu. Ia melarang siapapun untuk mencari bayi yang diculik itu.
“Hayate,” ucapku.
“Hah?” Mama Sakura terkejut.
“Nama kembaran Naoto adalah Hayate,” lanjutku.
“Dimana dia? Dimana? Tunjukkan kepada Mama! Mama begitu merindukannya,” ucap Mama Sakura. Namun, aku hanya bisa menggeleng.
*
Naoto pun pulang. Sesuai rencana, kami akan melangsungkan pernikahan. Aku merasa berat dengan pernikahan ini. Selama Naoto pergi aku sudah beberapa kali bertemu janji dengan Hayate, ya, kami diam-diam melakukan hubungan gelap.
Sesaat sebelum pernikahan berlangsung, saat aku sudah sampai di depan altar. Kakek Akito sudah selesai mengantarku berjalan ke altar dan menyerahkanku ke Naoto dan pendeta.
“HENTIKAAAN!”
Hayate datang. Semua orang sontak berdiri terkejut. Mereka membanding-bandingkan kedua wajah yang sangat mirip itu.
“Namira akan menikah denganku!” lanjut Hayate.
“Namira?” ucap Naoto.
“Mama?” ucap Naoto lagi penuh tanda tanya di matanya.
Mama Sakura meneteskan air mata. Kakek Akito terlihat marah. Ia pun mengusir Hayate. Dua orang petugas menyeretnya keluar.
“Maaf Tuan, pernikahan belum bisa dilangsungkan sampai masalah ini selesai,” ucap pendeta.
Pernikahan aku dan Naoto pun ditunda. Padahal rencana Naoto sudah cukup matang, ia akan membawaku pergi ke Eropa sesaat setelah menikah. Sebab, Naoto akan melangsungkan tugas kemiliterannya di sana.
Ketidakjelasan pernikahan ini membuatnya memutuskan untuk pergi seorang diri ke Eropa. Ia begitu kebingungan, namun Mama Sakura akhirnya membuka cerita lamanya itu hingga semua anggota keluarga pun tahu.
Diam-diam aku masih berhubungan dengan Hayate. Hingga suatu ketika...
“Breaking News hari ini. Sebuah pesawat sukoi yang sedang melakukan barikade latihan jatuh di teluk Skandinavia. Pilot yang diketahui tewas bernama Hachisan Naoto berkebangsaan Jepang.”
Suara penyiar di TV membacakan berita itu membuat seisi rumah heboh.
Namun, cucu Kakek Akito tidak hanya satu, lantas aku pun berterus terang kepadanya bahwa aku menjalin hubungan dengan Hayate.
Kakek Akito sangat marah. Aku dicap sebagai penghianat, ia mengata-ngataiku sejadi-jadinya. Ya, sebab aku hanya cucu angkatnya yang sudah ia biayai, sekolah kuliah, diberi lingkungan yang baik, diijinkan tinggal di rumah besar ini, dan aku berkhianat.
Aku pun diusir dan dipecat dari perusahaan tempat aku bekerja. Tiada lain yang aku datangi tentu saja Hayate. Hayate pun menikahiku. Kami hidup dalam kesederhanaan di sebuah desa kecil di Sendai.
*
Suatu ketika kami sedang kesulitan perekonomian. Hidup dalam kemiskinan adalah bagian dari keseharian aku, dan Hayate. Aku bekerja sebagai guru, dan Hayate sebagai tukang kayu. Hutang keluarga Hayate belum lunas sampai sekarang. Semakin dicicil, waktu semakin bergulir maka bunga hutang juga selalu mengalir.
Suatu ketika, rumah satu-satunya milik kami diambil paksa oleh penagih hutang. Kami diusir. Kami jadi bahan olok-olokan masyarakat. Keluarga Hayate sejak dahulu memang terkenal brandal, sebagaimana ayahnya dulu yang kini sudah tiada.
Sebuah mobil mewah datang sesaat setelah kejadian dramatis pengusiran itu berlangsung. Dari dalam mobil keluarlah Kakek Akito. Ia sadar akan kesalahan yang dilakukannya. Tidak semestinya Kakek Akito menolak kehadiran Hayate di keluarga, sebab di diri Hayate juga mengalir darah Kakek Akito. Yang dibenci adalah ayah Hayate, seharusnya kakek tidak perlu ikut membenci Hayate.
Kakek pun menyesal telah mengusirku. Sejak kecil niat kakek adalah mengangkatku dari keterpurukan untuk membalas budi jasa ayahku, namun ia justru membuat kesalahan karena terlalu emosi waktu itu.
Aku dan Hayate pun dibawa ke Tokyo. Hayate diberi kepercayaan untuk mengurus perusahaan kakek. Rencananya kakek akan pensiun dan memberikan jabatannya kepada Hayate, sebagai CEO.
Tamat