Sarah dengan semangat menyiapkan keperluan sang suami untuk pergi ke kantor, bahkan pagi-pagi sekali dia sudah memasak makanan kesukaan suaminya.
"Semua udah siap, aku mandi dulu. Biar gak bau bawang," kekeh Sarah, dia masuk ke kamar mandi karena Raymond belum bangun.
Sepuluh menit kemudian, Sarah sudah selesai mandi dan bergegas merias diri agar terlihat lebih cantik. Pernikahan Sarah dan Raymond sudah berjalan tiga tahun dan belum diberi kepercayaan seorang anak. Namun, itu semua tak membuat Sarah patah semangat.
"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Sarah basa-basi, namun Raymond hanya menatap sekilas dan masuk ke kamar mandi.
Sarah menatap pintu kamar mandi yang tertutup, dia bertanya-tanya kenapa suaminya berubah? Apa dia melakukan kesalahan? Tapi apa? Walau terus berpikir, dan hasilnya tak menemukan jawaban akhirnya Sarah memutuskan untuk menyiapkan sarapan yang sudah dia masak sebelumnya.
"Sayang ayok kita sarapan, aku udah masak makanan kesukaan kamu." Ajak Sarah dengan antusias, patuh Raymond pun duduk di hadapan Sarah. Dengan telaten Sarah mengambilkan makanan untuk Raymond.
"Lain kali jangan menyiapkan semuanya, aku bisa sendiri dan jangan pernah bawakan aku bekal lagi." Jelas Raymond, mulai menyantap makanannya.
"Kenapa, mas?" tanya Sarah dengan lirih.
"Kamu masih nanya kenapa? Aku malu Sar, semua teman ku gak ada yang bawa bekal. Mereka selalu beli di cafe atau kantin kantor," bentak Raymond membuat Sarah menunduk.
"Maaf." Sahut Sarah.
"Sudahlah, aku gak nafsu."
Raymond beranjak dari duduknya, dan meninggalkan Sarah tanpa membawa bekal makan siang buatan Sarah.
Sarah memeluk kotak makan siang tersebut, dan menangis terisak. Entah mengapa akhir-akhir ini Raymond begitu emosional dan selalu berkata kasar pada dirinya. Dia selalu bertanya masih adakah, cinta untuknya?
Jam makan siang, Raymond memutuskan untuk membeli di kantin perusahaan dia bekerja di Halime Grup sebagai Manager pemasaran.
"Ray, tumben gak bawa bekal?" ujar Imam.
"Engga, istri lagi sibuk." Kilah Raymond.
"Ohh ... Gitu dong, kali-kali makan sama kita-kita." Celetuk Rafi.
"Ayok udah jangan banyak bicara, gue udah lapar." Ajak Raymond, saat mereka akan memasuki lift.
"Tunggu," pekik Nila, mantan Raymond saat SMA.
"Rese kalian gak ajak gue," kesal Nila.
"Ya sorry, gue kira lo udah pergi sama pak bos." Kekeh Imam.
Nila menatap Raymond dan tersenyum sangat manis, saat di perusahaan mereka menjaga jarak. Tapi saat di luar perusahaan mereka sangat mesra bagai pasangan suami istri selayaknya.
Sementara itu di rumah, Sarah sudah selesai mengerjakan pekerjaan rumah tengah bersantai sambil menonton drama Korea kesukaannya. Ketukan di pintu membuat Sarah cepat bangkit dari duduknya.
"Gitu aja lama," omel Lasmi ibu dari Raymond.
"Maaf bu," jawab Sarah.
Lasmi menerobos masuk ke dalam rumah, dia melihat-lihat sekeliling rumah dan memeriksa kebersihan rumah dan isinya.
"Bagus, lumayan bersih." Ucap Lasmi.
Dia duduk manis di ruang tengah, beruntung Sarah makan dari toples dan tak berserakan. Ibu mertuanya ini, cukup perfect dalam hal tata letak perabot dan kebersihan rumah.
"Ini bu tehnya." Sarah menyimpan minuman untuk Lasmi, dia pun duduk di sebelah Sarah.
"Kapan kamu akan memberikan anak?" tanya Lasmi tanpa basa basi.
"Sarah udah berusaha bu, tapi Tuhan belum mempercayai Sarah dan mas Raymond untuk di beri momongan." Tutur Sarah menunduk.
"Tapi berapa lama lagi? Kamu tahu, ibu dan bapak udah tua. Sudah pengen gendong cucu dari Raymond," tegas Lasmi.
Sarah menunduk tak menanggapi ucapan Lasmi.
"Baiklah ibu akan beri solusi, kamu cinta sama Raymond kan?"
Sarah mengangguk, bahkan saking cintanya pada Raymond. Dia sampai menentang orang tuanya, dan pergi dari rumah.
"Jika kamu cinta, maka biarkan Raymond menikah lagi. Dia sudah mengenalkannya pada ibu namanya Nila." Cetus Lasmi, membuat Sarah mendongkak menatap ibu mertuanya.
"Ma-maksud ibu apa?"
Sarah sedikit tahu tentang Nila, dia adalah mantan Raymond saat SMA.
"Raymon sudah melamar Nila ke rumahnya, dan mungkin satu minggu lagi mereka akan menikah." Jelas Lasmi tanpa rasa bersalah.
"Tapi bu..."
"Sudah jangan tapi-tapi, masih untuk anakku mau menampung mu yang miskin dan mandul." Cibir Lasmi, membuat Sarah menunduk dengan mata berkaca-kaca.
Sejak menjadi istri Raymond, entah mengapa Lasmi tak menyukai dirinya bahkan adik iparnya pun memusuhi dirinya.
"Ya sudah, ibu pamit ingat jangan mempersulit anakku untuk menikah lagi. Kalau Raymond dan Nila punya anak, enak kamu tinggal urus." Celetuknya, lalu pergi meninggalkan rumah sang anak.
Sore harinya, Raymond pulang tepat waktu biasanya dia pulang larut malam. Saat masuk ke dalam rumah, tak ada sambutan dari Sarah membuatnya heran tapi Raymond tak peduli.
"Sarah?" panggil Raymond, saat melihat Sarah di meja makan.
"Kenapa kamu tidak menyambut ku?"
"Maaf mas, aku gak dengar." Sahut Sarah, dia bergegas mengambil tas kerja Raymond dan dia simpan di kamar lalu membuatkan Raymond minum.
Raymond yang selesai membersihkan diri, menatap Sarah dengan lekat ada yang aneh darinya.
"Kamu kenapa?" tanya Raymond, duduk di depan sang istri.
"Kenapa apanya?"
"Tingkah mu aneh,"
"Aku memang begini, kamu saja yang gak tahu." Ujar Sarah.
"Kamu belum masak?"
Sarah menghela napas dengan pelan, sangat jengkel mendengar pertanyaan dari Raymond.
"Aku gak masak tiap sore, memangnya suami ku selalu pulang jam segini? Setiap aku masak, kamu pulang selalu saat aku tidur!" kesal Sarah, dia meninggalkan Raymond sendiri.
"Sarah," bentak Raymond membuat Sarah berhenti.
"Berani kamu, membantah ku hah?"
"Ya aku berani, aku lelah hidup dengan mu! Kamu tidak menghargai aku akhir-akhir ini!" teriak Sarah dengan napas naik turun, menahan amarah.
"Apa kurangnya aku sampai kamu, ingin menikah lagi?"
Pertanyaan Sarah berhasil membuat Raymond membeku, tenggorokannya tercekat.
"Dari mana dia tahu?" tanya Raymond dalam hati.
"Aku rela meninggalkan orang tua ku demi kamu, tapi kamu mengkhianati ku. Jika kamu ingin menikah lagi dan mempunyai anak, maka ceraikan aku!" Tegas Sarah.
"Sarah aku..."
Namun sebelum Raymond melanjutkan kata-katanya, Sarah sudah pergi meninggalkan Raymond terlebih dulu tanpa kata. Tangis Sarah pecah di dalam kamar, apalah arti kebersamaan mereka selama dua tahun sebelum Raymond berubah.
Keesokan harinya, seperti biasa Sarah menyiapkan keperluan Raymond. Dia hanya membuat sarapan seadanya, Raymond menatap Sarah yang diam saja.
"Aku sudah selesai, aku berangkat." Ucap Raymond.
"Ya," jawab Sarah singkat, namun Raymond tak peduli.
Setelah Raymond pergi kerja, Sarah memutuskan untuk pergi ke kediaman Graham. Rumah orang tuanya, beberapa puluh menit kemudian Sarah sudah sampai di perumahan Bukit Hill.
"Pak," panggil Sarah.
"Non Sarah," ujar penjaga dengan terkejut.
"Aku ingin bertemu dengan daddy." Saat menyebut nama sang ayah, suara Sarah bergetar menahan tangis ingat saat sang ayah mengingatkan bahwa Raymond bukan yang terbaik untuknya.
"Emm ... Non, tuan sedang tidak ada di rumah."
"Pak aku mohon, aku tahu daddy ada di dalam." Mohon Sarah, dia akan berlutut namun penjaga rumah Sarah melarangnya.
"Baiklah non, ayok masuk." Ajak penjaga tersebut, karena dia tak tega pada Sarah bagaimana pun dia anak majikannya.
"Berani kamu menunjukan muka di depan saya!" teriak Axel Graham, setelah Sarah masuk.
"Daddy maaf..."
"Jangan panggil aku daddy, aku tidak punya anak seperti mu. Bagiku Sarah sudah mati," jelas Axel dengan dingin, membuat air mata Sarah mengalir dan merasakan sesak.
Di sisi lain dari kejauhan Maria, ibu dari Sarah menatap sendu penuh kerinduan pada sang anak. Dia ingin mendekat, namun sang suami melarangnya.
"Maafkan aku tuan," ucap Sarah pada akhirnya, dia pun beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan rumah tersebut karena tak ingin berlama-lama di rumah orang tuanya.
"Dad, dia putri kita satu-satunya," lirih Maria.
"Biarkan dia pantas mendapatkan semuanya, anak tidak tau diri dan pembangkang." Axel meninggalkan sang istri, yang menatap kepergian sang anak.
Sarah berjalan gontai menuju jalan raya, dia tak memiliki arah dan tujuan lagi. Semua telah meninggalkannya, orang tua dan suami tak menganggapnya. Lalu untuk apa dia hidup lagi?
Sarah menatap jalan raya yang sangat ramai, lalu ada niatan untuk mengakhiri hidupnya. Dengan pandangan kosong Sarah melangkah ke tengah jalan, namun sebelum sampai mobil menghantam dirinya. Sarah di tarik oleh seseorang, yang langsung memarahi dirinya.
"Apa kamu gila hah?" marah Aaron, yang Sarah kenal adalah asisten sang ayah.
"Aaron, kenapa kamu menolong ku? Biarkan aku mati Aaron," teriak Sarah.
Dia memukul tubuh Aaron, agar Aaron melepaskannya.
"Lepas ... Lepas," pekik Sarah, Aaron mendekap Sarah dengan erat berusaha menenangkan anak dari bosnya tersebut.
"Lepas Aaron, gak ada yang sayang sama aku. Semuanya meninggalkan aku bahkan suamiku sendiri akan menikah lagi," isak Sarah, membuat Aaron terkejut mendengarnya.
"Kamu tenang Sarah, masih ada aku." Kata Aaron menenangkan.
Sarah menangis terisak dalam pelukan Aaron, sudah lama Aaron sangat mencintai Sarah. Setelah tenang Aaron mengantar Sarah pulang.
"Terima kasih Ar," ucap Sarah.
"Sama-sama, jangan sungkan meminta bantuan Sar. Bagaimana pun aku adalah temanmu," ujar Aaron, hanya di balas anggukan oleh Sarah.
Di dalam kamar, Sarah membereskan semua barang-barangnya. Dia tak siap untuk di madu, jadi dia lebih memilih mengalah saja dan akan menggugat cerai Raymond. Sarah menatap rumah yang sudah dia tempati selama tiga tahun ini, rumah yang memberikan banyak kenangan bagi Sarah dan Raymond.