#Cintai_Aku_Ustadz
#Part07[ menerima kenyataan pahit]
Ku kira kedatangan nya mampu menghadirkan bahagia, namun ternyata salah dia hadir menghadirkan luka yang begitu hebat nya.]
-Anisa Khunisa
Aku mencintai seseorang dengan begitu dalamnya, hingga aku terlupa, bahwa orang yang sering membuatku bahagia dengan kehadirannya. dia jugalah yang akhirnya membuatku terluka, hingga aku sadar aku tenggelam dalam harapan hampa, aku sangat mengharapkan nya, Aku selalu bermimpi bisa bersatu dengan Ustadz Reyhan namun Aku salah besar Ustadz Reyhan telah menikah. dengan seseorang wanita pilihan nya pahit, sakit dan perih. dan itu yang sedang ku rasakan. saat ini.
Ketika pertama kali mendengar sang pujaan hati ini telah memiliki sang pendamping hidupnya, badan rasanya lemas.hati rasanya rapuh, hancur. pahit memang namun itu kenyataan nya. Andai ini mimpi Tolong siapapun, bangun kan Aku.
Aku sadar diri, Aku hanyalah seorang Santriwati jauh dari kata Sholehah. dan aku pun sadar diri dia adalah seorang Ustadz, putra dari Pak kyai yang memiliki pondok pesantren ini, Aku tidak pantas. tapi kenapa Ya Raab begitu sakit. Ya Allah Kuatkan Aku.
***
POV Author
Entah mengapa, Beberapa hari ini Nisa
tidak berbicara sepatah kata pun. Sepanjang mata pelajaran berlangsung, ia hanya diam dengan tatapan kosong.
Sahabat - sahabat nya juga tampak curiga, Karana tidak seperti biasanya Nisa seperti ini. beberapa hari ini Nisa sering ngurung ketika sahabat nya mendekat. Namun, entah kenapa Nisa selalu menjauh seolah-olah dia ingin banyak waktu Sendiri. di tambah lagi muka gadis itu tampak pucat.
"Kamu kenapa, Nis?" Tanya Azizah memegang pundak Nisa.
Nisa mencoba menutupi semuanya, ia mencoba Tersenyum, dapat di artikan Senyuman hanya palsu belaka."Aku gak papa kok, Zah," jawabnya.
"Bohong nih kayanya," ucap Rahma
"Nis, kita ini sahabat kamu. udah beberapa hari ini kamu sering ngurung kenapa ? Nis, jujur."Sambung Jihan.
"Yups betul," Sahut Santi.
" Atau,Kamu sakit?" Tanya Azizah.
"Aku gak papa kok temen-temen. Makasih udah perhatian," Nisa tersenyum ke arah mereka.
"Trus, kamu kenapa?, oh iya Aku tau Nisa kenapa. pasti gara gara Ustadz Reyhan kan?" Rahma kembali bertanya.
Nisa Tampak menunduk lesu, Ia hanya bisa mengunguk lemah.
"Yang Sabar. Mungkin Ustadz Reyhan bukan yang terbaik kamu harus kuat, percaya pasti kamu bisa." Jihan mencoba memberi semangat.
"Nis, kamu harus bangkit. percuma kamu sedih, nagis . Sekarang kan Ustadz Reyhan telah memiliki pasangan hidup." Ujar Azizah.
Santi menghela kan Nafas panjang "Sudah ku bilang dari awal, jangan terlalu percaya diri. minimal perbanyak sadar diri." Sahut Santi. kata kata nya begitu tajam, dan mampu menambah kan Luka di hati Nisa. namun percaya atau tidak itu lah yang di katakan Santi.
""Santi!" Pekik Rahma
"Aku gak suka ya kalo kamu kayak gitu!." bentak Azizah.
"Emang kenapa? Itu kan Fakta nya . benar kan harus banyak sadar diri." Jawab Santi membela diri.
"Udah, jangan berantam harusnya kita itu Semagati Nisa, bukan malah gini. dan kamu Santi, kamu jadi orang sensian banget." jelas Jihan.
"Aku kecewa sama kamu san." Ucap Rahma
"Terus Ajah kalian bela Iin dia! kalian berdua berubah. Aku gak di Anggap lagi!!" Teriak Santi cukup keras.
Nisa bangkit dari duduknya "Stop!!" Bentak nya, dengan air mata yang bercucuran. Suaranya begitu parau.
"Ada apa ini?" Tanya Seseorang wanita yang memasuki Ruangan Tersebut.
Hening..
Suasana berubah menjadi hening kedatangan Ustadzah Zahra. mampu membuat keadaan yang tadinya ricuh atas perterkeran kini menjadi hening.
Ustadzah Zahra menghampiri Nisa yang sedang menunduk lesu "Nisa kamu kenapa? kamu habis nagis ? ya," Ustadzah Zahra mengangkat wajah Nisa yang semberi dari tadi menunduk.
"Nisa gak papa Ustadzah."
Ustadzah Zahra mengusap pelan wajah Gadis itu "Tadi Ustadzah, lewat dengar suara pertengkaran. kalian berentam?" Ustadzah muda itu memandang secara bergantian Santriwati yang ada di hadapannya.
Semuanya Terdiam tidak berani menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Sang Ustadzah.
Tapi tidak dengan Nisa Ia Tersenyum lalu mengatakan "Semuanya baik baik Ajah Ustadzah. Afwan, Ustadzah. Nisa boleh gak minta izin Uantuk pulang beberapa hari?"
Jihan, Rahma dan Azizah. Tampak kaget dengan yang di katakan oleh Nisa. namun, beda dengan Santi Ia Tersenyum Bahagia.
Ustadzah Zahra mengerutkan keningnya. " Loh, kenapa ko tiba-tiba banget? kamu Sakit?" Ustadzah Zahra menempel kan Tangan nya di kening milik gadis itu.
benar saja kening Nisa begitu panas " Astaghfirullah, kening kamu panas . kamu demam. Ustadzah Akan panggil petugas kesehatan." Ujarnya Panik.
Jihan, Rahma dan Azizah. juga tampak panik "Kenapa kamu tidak mengatakan kalau kamu sedang sakit?" Tanya Rahma
"Nisa gak papa, Ustadzah gak usah repot-repot. Nisa mau Pulang ajah." Ucap Nya.
"Nisa beneran mau Pulang?" Tanya Ustadzah Zahra lembut.
Gadis itu mengunguk "Ya sudah kalau begitu, Nisa Ikut Ustadzah ke kantor." Ucap Ustadzah Zahra.
"Na'am, Ustadzah. Nisa minta waktu beberapa menit untuk pamit."
"Azizah, Jihan Rahma. Aku pamit."
"Iya, cepat sembuh." Ucap Azizah
"Kita pasti kangen kamu, Nis."sahut Rahma
"kamu hati hati." Peringat Jihan
Nisa, Tersenyum dan memuluk sahabatnya.
***
Kini Nisa sedang menuju perjalanan pulang. Ia di jemput oleh supir keluarga nya, tiba-tiba di pertengahan jalan mobil yang Ia tumpangi berhenti entah kenapa.
"Kenapa Pak?"
"Aduh, Non mobil nya mogok." Sahut laki laki paruh baya itu.
Gadis itu menghela kan Nafas kasar "Pasti lama yah pak?"
"Gak tau juga Non."
"Ya udah Nisa mau cari Taxi ajah ."
"Aduh Non, tapi non lagi sakit"
"Insya Allah Nisa gak papa." Ucap gadis itu hendak turun.
***
'Duaaarrrrrr'
Petir menggelegar dengan datangnya hujan yang sangat deras. Angin bertiup kencang menerbangkan dedaunan kering di sekitar jalan. Nisa terus berlari kecil melewati hujan yang turun membasahi tubuh nya yang mungil ini. Ia masih berupaya untuk mencari Taxi namun nihil Ia tidak menemukan nya. Di tambah lagi hujan yang begitu deras membasahi wajah pipinya. Tampa Ia sadari di Depan ada sebuah Truk yang melaju begitu cepat.
Bruuk!
Terjadi lah sebuah kecelakaan, Nisa terpapar lemas dan jatuh pingsan di atas aspal kening nya bercucuran dengan darah.
Pandangan nya mulai buram.
***