Mendadak cinta
Maira adalah seorang gadis yang berprofesi seorang guru. Namun Maira belum juga menikah di usianya yang menginjak 26 tahun. Maira sibuk dengan dunianya di pendidikan.
Sampai akhirnya seorang pria yang bernama Juan berhasil menaklukkan hatinya saat itu ,walaupun banyak perjuangan yang harus dilakukan Juan untuk bisa bersama dengan maira.
Pada suatu pagi maira yang akrab disapa Ira itu pun pergi ke tempat kerjanya yang lumayan jauh dari kediaman nya saat itu. Maira melajukan motor matic nya dengan kecepatan tinggi, Namun ditengah perjalanan maira melihat sebuah motor besar yang terus berada dibelakangnya.Namun dia tak ingin ambil pusing.karena jalan raya itu milik semua orang.
Namun tiba-tiba motor itu malah mepet dengan dirinya, dia tentu kaget dan memberhentikan motornya secara mendadak. Dan motor itu pun ikut berhenti. Pria yang tadi mengendarai motor besar turun dari motornya.
Jujur saja hati Ira saat itu begitu takut, dia takut kalau itu adalah begal. Tapi dia tepis perasaan itu rasanya tidak mungkin kalau begal karena lelaki itu menggunakan seragam TNI-AD yang terlihat dari celana nya. Lelaki itu mendekat kearahnya namun tidak membuka helm nya saat itu.
"Ada apa? Apa yang bapak ingin kan?" Tanya ira sambil mencoba menahan getaran suaranya karena rasa takut.
Namun bukannya menjawab pria itu hanya diam dan tak membuka helm nya saat itu. Dia hanya mengeluarkan handphone nya dan memfoto dirinya yang sedang berdiri.
"Hei apa yang anda lakukan, hapus foto saya." Ira mulai marah dan mencoba meraih handphone pria tak dikenal nya. Namun pria itu malah menggenggam tangannya.
"Lepaskan!" Ira mencoba meronta.
Saat itu dia berpikir kalau pria dihadapannya sedang ingin berbuat jahat kepadanya.
"perkenalkan saya Juan!" Ucap nya.
Namun bukan menjawab, bahkan Ira tampak tidak perduli menarik tangannya dengan paksa.dan Ira langsung naik ke motornya dan meninggalkan pria itu sendirian dipinggir jalan.
Ira sempat melirik ke arah spion nya, dan melihat pria itu melambaikan tangan ke arah nya.
"Dasar orang stres." Ucap Ira sambil melakukan motor meninggalkan tempat itu.
Sesampai disekolah perasaannya terus terganggu dengan kejadian itu, namun Ira berusaha fokus pada pekerjaannya. Sampai tiba waktunya pulang.
Ira seperti biasa melajukan motornya menembus jalanan disinag yang panas saat itu. Dia sudah lebih tenang dan melupakan kejadian tadi pagi. Tentu saja Ira berharap tidak akan terulang lagi.
Namun harapannya salah, ditengah perjalanan Ira melihat motor itu berada dibelakang nya lagi. Ira melajukan motornya lebih kencang. Namun motor juga melakukan hal yang sama. Dan Ira memutuskan untuk berhenti disebuah cafe dipinggir jalan. Untuk menghindari pengendara motor misterius itu.
dia berpikir mungkin ini sudah aman. Namun dia salah prinitu ikut masuk dan duduk dihadapannya. Ira masih berusaha untuk tenang.
"Apa mau anda?" Tanya nya pelan.
"Buka helm anda sekrang juga, kalau tidak saya akan teriak di tempat ini."
Tak ada jawaban. Namun pri dihadapannya tiba-tiba membuka helm nya dan ternyata MasyaAllah, pria itu begitu tampan.
Namun Ira langsung tersadar kembali, karena menurutnya pria itu tidak sopan. Pria yang berkulit putih dengan rambut cepak itu menatap ke arah nya, Dan tersenyum begitu manis.
Akan tetapi Ira seakan tak perduli. Dia ingin memarahi pria itu akan tetapi pelayan cafe itu datang membawa menu. Ira pun langsung memesan segelas minuman dan kentang goreng. Begitu juga dengan pria itu.
"Anda ini siapa?" Tanya ira
"saya Juan, bukankah kita sudah berkenalan?"
"Bukan itu maksud saya." Jawab Ira dengan lembut.
Karena sebenarnya itulah karakter Ira, berbahasa santun dan lembut, hanya saja mungkin sikap Juan membuatnya sedikit bernada tinggi.
"Lalu?"
"Anda ini kenapa mengikuti saya dari pagi tadi?"
"Saya hanya ingin berkenalan, ibu maira arsyila." Ucap Juan.
"Darimana anda tau nama saya?"
Juan menunjuk name tag Yang Ira pakai. Ira terlihat menepuk keningnya pelan. Dia lupa kalau dia menggunakan tanda pengenal.
"Kalau begitu kita sudah kenal. Jangan ikuti saya lagi."
"Kita hanya sekedar tau nama , belum kenal."
"Maaf tapi saya tidak ingin mengenal pria asing."
Juan menyodorkan tangannya, namun Ira tak menyambutnya.
"Maaf kita bukan muhrim." Jawab Ira singkat.
Juan tidak terlihat marah, dia tersenyum ke arah Ira, ada kekaguman luar biasa dalam hatinya. Ternyata dia tidak salah taksir.
Begitulah pikir Juan saat itu.entah kenapa dia yakin kalau wanita dihadapannya belum menikah.apalagi Ira Taka memakai cincin pengikat dijarinya.
Setelah pesanan datang, Ira segera menghabiskan minumnya. Dan izin lebih dulu setelah Juan juga memaksa membayarkan minuman nya.
Malam itu, Ira kepikiran juga dengan lelaki yang bernama Juan itu, apa yang sebenarnya dia inginkan , kenapa dia mengikutinya.
Dan sebuah notif pesan masuk ke handphone nya.
" Assalamualaikum Bu guru!"
"Siapa ini?" Tanya ira pada dirinya sendiri.
"Waalaikum salam!" Balas Ira karena berpikir wajib menjawab salam.
Dan handphone nya kembali berdering, kali ini sebuah telpon masuk dari nomor yang tadi mengirimkan pesan. Dengan ragu Ira menjawab telpon tersebut.
"Assalamualaikum!" Suara pria diseberang sana.
"Waalaikum salam!"
"Apa saya bisa bicara dengan suaminya Bu guru?" Tanya pria itu.
"Maaf anda salah sambung, saya tidak punya suami pak." Jawab Ira jujur.
"Maaf kalau begitu, maksud saya apa boleh saya menjadi calon suami untuk buk guru?"
Ira terdiam, dia sedikit kesal, tapi tetap tenang. Tapi dia merasa pernah mendengar suara itu.
"Maaf saya mau istirahat." Jawab Ira.
"Kalau Bu guru menjawab iya, maka besok saya akan ada didepan rumah Bu guru bersama orang tua saya." Ucapa lelaki itu lagi.
"Maaf, jangan bermain-main tentang hubungan yang melibatkan Allah."
"Saya serius."
"Maaf saya izin matikan handphone nya, Assalamualaikum." Ucap Ira.
Dan Ira langsung mematikan handphone nya, memang sejak pertunangan nya gagal Ira tak lagi ingin jatuh cinta dengan siapapun. Dia tak ingin kecewa. Ira hanya berharap bertemu dengan jodohnya tanpa perlu proses pacaran.
Keesokan hari nya, Ira kembali melakukan aktivitasnya seperti biasa. Pagi itu dia bersyukur karena Tak ada yang mengikutinya. Begitu juga pulangnya kerumah.
Namun begitu Ira sampai didepan rumah nya dia melihat sebuah motor yang tak asing untuk nya, Ira hanya berpikir mungkin itu tamu papa nya.
"Assalamualaikum!" Ucapa Ira.
"Waalaikum salam!" Jawab mama dan papanya yang kebetulan ada dirumah.
Karena sejak papa nya pensiun dari kantornya, papa hanya dirumah saja.
Ira berjalan mendekat ke arah kedu orang tuanya dan mencium tangan Mereke. Dia pun mengalihkan pandangan ke arah tamu yang duduk disebelah papanya.
"Astaghfirullah!" Ucap Ira dalam hati.kenapa lelaki yang bernama Juan itu ada dirumah nya.
"Ini teman kamu nak!" Papa memberitahu Ira.
Ira hanya tersenyum ke arah appanya dan mengangguk kan kepala nya.
"Duduk lah dulu disini nak!" Pinta mama Ira.
Ira menurut dan duduk dismaping mamanya. Sebenarnya kedua orang tua Ira saat itu begitu senang. Karena mereka khawatir kalau Ira tak lagi ingin menikah.
"Papa dan mama tinggal sebentar, mungkin kalian ingin bicara."
"Tapi ma!" Ucapan Ira terputus.
"Nanti mama kembali."
"Jangan terkejut kenapa saya bisa berada disini."
Ira masih diam. Tak menanggapi perkataan juan.saat itu dia hanya bingung dengan lelaki dihadapannya.
"Kenapa pak Juan sampai kerumah saya?" Tanya ira.
"Jangan panggil saya pak, panggil saja mas!"
" Saya kesini untuk bicara serius!" Ucapa Juan to the point.
"Ada apa?" Tanya ira.
"Apa kamu bersedia, menjadi istri saya?" Tanya Juan blak-blakan.
Ira terlihat kebingungan. Bagaimana bisa orang yang tak dia kenal memintanya menjadi istri.
"Jangan permainkan pernikahan."
"Apa saya terlihat main-main?" Tanya Juan.
"Saya jujur, tertarik dengan kamu, karena hati saya mengatakan kamu adalah wanita baik-baik."
"Berapa usia anda saat ini?" Tanya ira karena Ira tau Juan itu lebih muda dari dirinya dari perawakannya.
"24 tahun."
"Apa anda tau berapa usia saya?"
"Saya tidak perduli kan hal itu."
"Tapi saya tidak ingin menikah dengan lelaki yang lebih muda."
"Jangan memandang keseriusan dari usia nya."
"Minggu depan saya akan melamar kamu maira, dan akan segera mengurus persiapan kita menikah secara militer."
"Tapi saya tidak memberikan persetujuan."
"Tapi hati saya sudah mantap, untuk menjadikan kamu istri dunia akhirat saya."
"Tapi!"
"Mintalah mahar sesuai yang kamu inginkan."
"Bukan itu permasalahan nya."
"Lalu apa?"
"Kita itu tak saling kenal satu sama lain, bagaimana kita akan hidup bersama."
"Kita akan saling mengenal disaat kita sudah sah menjadi suami istri."
Ira terdiam, dia tak lagi mampu bicara apapun. Karena do'anya selama ini terjawab sudah. Dia memang selalu meminta jodoh yang mengajaknya untuk terus mengikat hubungan.