#cerpen #Gadis_manis_berkepang_ dua Semoga suka. Di sebuah desa, di rumah sederhana, terdengar suara tangis bayi yang baru lahir. "Eak..! Eak...!" Suara bayi yang masih berlumuran darah. Matanya bulat, pandangannya tajam, bibirnya sangat imut. Ya.. dialah Dewi Aulia Putri. Kerap di panggil Dewi. Dia lahir dari sepasang suami istri yang hidupnya sederhana. Asman nama ayahnya. Surtini nama ibunya. Satu tahun berlalu, Dewi pun sudah bisa berjalan, dia terlihat lucu dan imut saat itu. "Mama mamam ma m" ucap Dewi, yang masih belum bisa bicara. "Iya sayang, sebentar lagi Ayah mu pulang," kata Surtini penuh kelembutan. "Hee.. mamam..iyeah... Ehek." Bayi itu pun berbicara dengan ke lucuannya. "Tuh.. Ayahmu sudah pulang" ucap Surtini sambil menunjuk ke arah pintu. "Assalamualaikum" ucap Asman. "Walaikumsalam" sahut Surtini "Eh... Anak Ayah udah cantik " ucap Asman.sambil mencubit lembut pipi Dewi yang caby. "Ba babab ba ehek " Dewi pun berbicara lagi dengan ekspresi imutnya. Asman pun merasa bahagia karna mempunyai seorang anak yang sangat lucu. Dua tahun setengah sudah usia Dewi. Ia pun sudah mulai bisa bicara dengan jelas. Dia pun sudah bisa berlari-lari. "Prang...!" Dewi pun tak sengaja menjatuhkan vas bunga yang ada di meja. Surtini pun langsung memeriksa kedepan. "Dewi....! Apa jangan lari-lari, Nak. Nanti kamu jatuh lo.." tutur Surtini lembut. "Iya, Bu. Maafin Ewi ya, Bu sudah ngejatohin pas nya." Sesal Dewi. "Iya.. lain kali kamu harus hati-hati ya" ucap Surtini sambil tersenyum Surtini pun membereskan pecahan vas tersebut. Dewi memang anak yang kuat, sedari masih bayi, dia memang jarang sekali menangis. Empat tahun sudah Dewi menjalani hidupnya. Dia sudah masuk PAUD saat itu, Dewi adalah anak yang cerdas. Pagi itu, sebelum Asman berangkat kerja, dia pun menasehati Dewi terlebih dahulu. "Nak... Pesan ayah, kmu jangan nakal ya di sekolah, kamu harus nurut sama guru" tutur Asman sambil merapikan baju anak kesayanganya itu. "Baik, Ayah Dewi janji gak akan nakal" ucap Dewi yang tetap saja lucu. "Ayo, Nak. Nanti telat lo sekolahnya" kata Surtini. "Ayu, Bu. Kita berangkat... Dah .. Ayah." Dewi pun melambaikan tanganya. Dewi gadis kecil yang memiliki wajah imut, dengan rambut yang di kepang dua, pun berngkat ke sekolah. ***** "Selamat pagi anak-anak" ucap Pak Ardi guru di salah satu Sekolah Dasar di Desanya "Pagi, Apk" jawab semua murid dengan serempak. Saat itu, Dewi sudah duduk di kelas Dua SD. Dengan rambut yang di kepang dua, membuat ciri khas tersendiri bagi Dewi. Saat itu Pak Ardi sedang bercerita tentang kancil dan buaya. "seperti itu ceritanya" ucap Pak Ardi. "Sekarang kerjakan soal ini di rumah ya anak-anak" sambung pak Ardi. "Baik, Pak..." Jawab semua murid. Hari itu adalah hari minggu. Dimana aktivitas sekolah pun libur. Bahkan sang Ayah yang bekerja sebagai petani pun libur bekerja. Mereka bermain di halaman belakang rumah. Ketika ada sebuah pesawat yang melintas di langit tepat di atas rumah mereka. "Ayah..Ayah.." kata Dewi "Iya sayang" jawab sang Ayah. "Apakah pesawat itu ada yang menyupir ?" tanya Dewi yang belum mengerti. "Ada sayang... Pesawat itu ada yang mengendalikannya atau menerbangkannya, namanya pilot" jelas sang ayah dengan penuh kasih sayang. "Apakah pilot itu ada yang perempuan, Yah ? "Ada dong... Emang kenapa sayang ?"tanya sang Ayah. "Dewi pengen jadi pilot, Yah " ucap Dewi. "Jadi pilot..! Kenapa Dewi ingin jadi pilot ?" tanya sang Ayah. "Biar bisa mengajak Ayah dan Ibu terbang, melihat rumah kita dari atas, Yah" jawab Dewi dengan wajah polosnya yang membuat sang Ayah kagum. "Iya... Mangkanya kamu sekolahnya yang rajin, biar keinginanmu tercapai" jelas sang Ayah. Sang ibu yang sedari tadi mendengan sekaligus memperhatikan putri kesayangannya pun hanya tersenyum. "Ayo... Makan dulu... Makanannnya sudah siap" kata Surtini memanggil suami beserta anak nya. "Ayo, yah. Kita makan,..!" Seru Dewi sambil berlari ke arah ibunya. ****** Delapan belas tahun berlalu, gadis ber kepang dua pun sudang menjadi remaja. Dia berparas sangat cantik, sifatnya yang rendah hati, menjadi pelengkap ke anggunannya. Hari itu adalah hari dimana Dewi sangat bahagia, dimana dia telah menerima kertas putih bertuliskan kelulusan. "Ayah....! Ibu.......!" Teriak Dewi sambil berlari. "Ayah...! Ibu...! Dewi pulang.... Ayah...! Ibu..!" Karna tidak ada jawaban, Dewi pun mencari ke belakang. Namun dia tak menemukan apa yang ia cari. "Pasti kesawah.." ujar Dewi dalam hati Dewi pun langsung menyusul ke sawah. "Ayah....! Ibu...!" Teriaknya dari jauh. "Dewi.. kenapa sma anak itu ?" Ujar Asman. "Iya... Bikin kaget saja.!" Ujar Surtini. "Ayah...! Lihat deh...!" Seru Dewi sambil menyerahkan selembar kertas. "Alhamdulillah.....! Kamu mendapat peringkat satu,!" Ucap Asman dengan bangga. "Iya, Ayah, Ibu" ucap Dewi. Mereka pun tersenyum bahagia melihat putri nya yang dulu ber kepang dua, kini ia akan segera masuk kuliah. ***** Hari-hari pun berlalu, minggu berganti bulan, bulan pun berganti tahun. Dewi, si gadis ber kepang dua pun kini tengah mengenakan toga dan berdiri di atas podium, dia lulus di Universitas negri di Bandung. Dan telah mendapat gelas sebagai Insinyur. "Terimakasih Ayah, Ibu. Aku sangat menyayangi kalian. Dengan semua jerih payah yang kalian lakukan untuk membahagiakan ku. Lihatlah Ayah, Ibu. Gadis mu yang dulu ber kepang dua, kini telah menjadi orang yang sukses. Aku sayang kalian, Ayah, Ibu" ucapnya penuh ketulusan dan air mata bahagia pun tak tertahankan. Semuanya terharu akan ucapan Dewi, tepatnya Ir Dewi Aulia Putri. "Maaf..... Jika Dewi gagal menjadi pilot" sambung Dewi sambil tersenyum. Dewi pun turun dari podium dan langsung memeluk Ayah dan Ibu tercintanya seraya berkata " aku sayang kalian semua" "Ayah dan Ibu pun sangat sayang padamu, Nak. Kami bangga, gadis ber kepang dua kami telah menjadi insinyur." Ucap sang Ayah. "Walau pun Ayang sedikit kecewa karna gagal terbang untuk melihat rumah kita dari atas" sambung sang Ayah dengan candanya. Mereka pun akhirnya pulang membawa sejuta kebahagiaan. Gadis berkepang dua pun sudah berubah menjadi sarjana. ***Sekian***