Dosa kepada ibuku.
Semenjak menikah dengan suamiku aku sudah jauh tinggalnya dan kadang hanya menelp ibuku dengan hand phone saja dan setiap natal kami jarang sekali pulang bahkan aku hanya pulang ketika melahirkan dulu dan tinggal di rumah ibu mertuaku dan pada waktu itu kandunganku sudah pas sembilan bulan dan tentu sebem hari kelahiran babynya kami harus pulang ke kampung halaman karna adikku pengen sekali aku melahirkan di kampung kami dan aku juga sebenarnya malas untuk pulang kasana karna mahar utang adat belum kami bayar dan otomatis kami malu untuk pulang dan suamiku selalu mengatakan tidak usah malu yang penting bagaimana kita aja katanya dan aku selalu diam dan tidak membahas utang adat itu.
Untuk beberapa hari kami tinggal di rumah ibu mertuaku karna ini adalah cucu pertama di keluarga suamiku dan otomatis akan menjadi penerus marga dan tidak enak kalau utang adat belum.di bayarkan jadi untuk semuanya tidak bisa kami jalankan sama seperti tujuh bulanan dan yang lainnya ketika anakku lahirpun tidak bisa di pestakan dan aku hanya merendahkan hatiku dan sabar.
Tepat jam 21.00 anakku lahir berjenis kelamin laki - laki berkulit hitam dan beratnya 3,8 kilo dan panjang 49 cm dengan perjuangan yang sangat hebat dan berusaha lahir normal tetapi harus di operasi di meja bedah dan rahimku sudah biru semuanya karna anakku terlalu lama di jalan lahir dan disana aku merasa sangat sakit sekali dan sudah meminta maaf kepada ibuku dan suamiku karna anakku belum juga lahir dan akhirnya aku di bawa ke rumah sakit besar dan melahirkan secara operasi dan disana aku lihat ibu dan bapakku menemaniku sampai selesai operasi begitu juga mertua dan yang lainnya sehingga aku juga segan karna aku tidur di bangsal dan mertua dan suamiku tidur di lantai. Kami sudah memesan kamar untuk kelas 1 tetapi kosong dan ada saja keluarga yang mengatakan bahwa kami pelit membiarka mereka tidur di lantai dan sekali lagi kamipun harus sabar kembali. Sudah tiga malam aku di rawat di rumah sakit dan tentu saja hari ke empat kami harus pulang ke rumah dan ibu mertuaku mengatakan akan membawa kami ke rumahnya dan aku mengatakan kepada ibuku bahwa aku akan di bawa ke rumah suamiku dan bukan ke rumah ibuku, kulihat ibukupun mengiyakan karna kalaupun aku pulang adikku masih banyak yang masih gadis tentu saja bisa membantu merawat anakku apalagi mereka adalah bidan yang sudah bekerja di pemerintahan dan kulihat ibuku sedih ketika aku mengatakannya bahwa aku di bawa kesana.
Setelah membersihkan seluruh badanku dan mengambil resep dokter dan perban serta semuanya kebutuhan yang di perlukan maka kamipun balik ke ruang rawatan lagi dan kami sudah menunggu mobil jemputan yang di sewa oleh bibiku tidak datang dan ibuku sudah menarik napas panjang dan mengatakan bagaimana kalau kita pakai mobil bibimu saja daripada kuta menunggu lama dan aku di saat itu melihat ibu mertuaku dengan tajam dan tentu saja menahan untuk tidak marah dan dengan teganya dia mengatakan bahwa mobilnya tidak bisa datang untuk menjemput dan aku hanya melihat suamiku yang selalu saja mengatakan sabar padahal sebenarnya ada amiku juga sudah berusaha mengendalikan diri agar tidak marah dan berusaha membesarkan hatiku dan kamipun ke rumah mertuaku.
Aku bertanya di dalam hatiku entah apa yang di lakukan mertuaku ini, sehingga ngotot membawa aku dan anakku supaya ke rumah mereka dan lihatlah makan malam ini kataku kepada suamiku cuma ada sop dan hanya tulangnya saja dan sayurnya hanya lauk sayur putih tanpa garam dan besok tahu goreng saja dan tidak ada daging sama sekali. Bagaimana aku bisa menjadi sehat sedangkan untuk makananku saja yang di kasih tidak ada yang bergizi dan seolah ibu mertuaku ini sangat susah sekali mengeluarkan uang untukku padahal aku baru melahirkan dan aku tau dia mempunyai uang banyak tetapi malas mengeluarkan uangnya beda ibu dan bapak ku akan memberikan berapupun asalkan kami sehat saja bahkan biaya rumah sakit juga mau di bayarkan dan aku sangat sedih sekali selama berada di rumah mertuaku itu.
Setelah beberapa hari suamiku kembali ke tempatnya bekerja jadi aku meminta kepada suamiku untuk kembali ke rumah ibuku dan sudah penat rasanya di rumah mertuaku ini yang sangat pelit sekali dan memang kami saat ini kami belum mempunyai uang lebih untuk membahagiakan mereka dan untuk membayar operasipun aku harus mengumpulkan uang untuk di tabung dan belum tiket pesawat terbang dan di hamil yang besar aku masih bekerja untuk biaya melahirkan anakku yang ganteng ini. Tiba di rumah ibuku akupun segera menggoreng telur dadar dan memandikan anakku karna aku sudah terbiasa untuk memandikan dan mengurus bayi, disini di rumah ibuku aku merasa tenang sekali dan tidak ada tegang kepala dan untuk vitamin.
Tiga bulan cuti dikampung halaman aku banyak bersama ibuku dan sering kami bercerita tentang suka duka dan sering sekali kami di suruh ya ke rumah ibu mertuaku padahal aku sudah mengatakan aku tidak nyaman disana dan tidak tau amau apa dan tidak pernah merasa nyaman karna aku sangat tertekan sekali untuk bisa tertawa saja aku harus melihat tempatnya karna ibu mertuaku ini sangat sensitif sekali. setelah tiga bulan suamiku menjemputku pulang ke rumah ibuku dan membawa kami naik pesawat terbang dan di pesawat anakku menaggis keras dan entah kenapa aku tidak bisa menenangkannya dan anakku terus saja menaggis sehingga semua orang di pesawat jadi terganggu dan pramugari mengatakan kepadaku bahwa getaran dari pesawat itu menggangunya dan membuatnya menanggis dan suamiku saat itu bukan menenangkan ku tetapi malah memaki - makiku dengan sumpah seraoh dan yang sangat menyakitkan sekali dan mengatakan kepadaku jika aku bukan ibu yang mengerti keadaan anaknya dabnaku berusaha tegar dan diam tetapi nalarku masih bisa kujaga dengan senyuman ibu - ibu pramugari itu dan aku berdoa agar anakku tidak terjadi pecah gendang telinganya karna dari menaggisnya dia sangat kesakitan dan kami sudah turun di bandara kamipun melanjutkan ke hotel memginap semakan saja karna harus lanjut naik kapal lagi kesana dan ibu mertua itu tidak yang pernah mengunjungi kami atau bertanya apakah aku bahagia untuk itu dan tidak pernah sama sekali dan dia hanya diam saja.
Untuk apapun dia tidak pernah mau tau dan seakan bahwa Kamilah yang berusaha untuk hidup kami di kala sudah dan senang bahkan jika.kami.tidak.pulang kmapungpun dia hanya diam saja dan sungguh itu sangat melukai hatiku beda ibuku yang selalu mengirimkan belanja untuk kami bahkan susu untuk anakku tetapi selalu saja mengatakan jangan beritah ke saudaramu yang lain katanya bahkan di saat anaknya sakit di rumah sakit ibu mertuaku tidak pernah memberikan kami uang dan aku harus mengirit untuk makan dan untu biaya kost dan hidup kami dan itu sungguh membuatku sakit dan untuk itulah aku malas untuk.pulanh karna keluarga suamiku yang terlalu diam dan tidak pernah mau tau dan ibunya sangat pelit sekali dan aku hanya bisa menanggis saja.
Sudah sepuluh tahun aku tidak pulang dan entah mengapa ibuku menelpku untuk pulang bahkan 7ntuk.ongkos saja ibuku yang menanggungnya katanya tetapi suamiku dan kami.harus pindah lagi untuk kepindahan kami juga membutuhkan waktu yang lama sampai sekolah anakku selesai dan rencana aku baru mau kembali lagi, tetapi sakit ibuku tidak bisa.di tolong lagi dan ibuku di bawa ke rumah sakit kota dan ketika dia berbicara aku masih bisa melihatnya tersenyum dan aku bisa tersenyum ketika aku melihatnya tersenyum dan begitu juga dengan adik - adikku karna waktu kami vidio call aku melihat adiku yang paling kecil disana menemani dia beserta calon suaminya dan aku tidak berani meminta pulang kepada suamiku karna kondisi kami juga sangat tidak mungkin untuk dan aku hanya bisa menanggis di malamku yang panjang. Pagi harinya aku mendengar kondisi ibuku semakin buruk dan disini masih banyak yang peduli kepadaku dan aku belum berani mengatakan kepada suamiku bahwa kondisinya semakin buruk karna pada saat itu suamiku juga lagi ada atasannya yang melakukan.kunjungan ke kantornya dan tiba - tiba adikku mengatakan bahwa ibuku sudah masuk ICU dan aku hanya bisa menanggis saja dan tidak bisa berpikir dengan baik lagi dan tentu saja aku sedih dan berharap ibuku bisa sehat kembali tetapi ibuku sudah pergi pada waktu kami melakukan perjalanan dengan pesawat dan aku tidak bisa berkata apa lagi dan aku memang sudah sangat rindu dengan ibuku dan sanga yg merindukanmu ibu dan semuanya yang kau berikan aku sungguh bahagia dan dengan pergi bersama Tuhan segala sakitmu hilang dan maafkan dosaku ibu, aku mencintaimu.
Aku tidak bisa kembali ke Jawa karna boaknjuga harus di rawat dan sepertinya bapak juga kehilangan ibuku sampai jatuh sakit dan tentu saj aku menjaganya sampai anaku sekolah kembali dan benar saja bapak sembuh dan kamipun kembali ke Jawa dengan pesawat lagi dan setahun ibuku pergi bapak juga harus pergi meninggalkan kami dan dirawat di rumah sakit tak lama bapakoun pergi dan ketika itu aku melihat dua kuburan orang yang kukasihi sudah pergi dengan meninggalkan kami semuanya dan tidak ada yang bisa menggantikannya di dalam hatiku walaupun aku punya ibu dan bapak mertuaku yang masih hidup tetapi rasanya tidak sama, dosa memang tetapi mana lebih disa lagi jika kita berpura - pura baik padahal.sebenarnya kita tidak menyukainya.
Hari ini genap sudah dua tahun bapak meninggalkan kami dan ibu juga sudah tiga tahun tetapi aku masih merasa ibuku bersamaku walau kadang cuma di dalam mimpi.
Aku selalu mengingatnya pesan dan semua nasehahnya karna suatu hari nanti aku juga pasyinakan pergi, karna kita dari tanah dan akan kembali menjadi tanah.
Kasih dan sahangmu ibu yg tetap masih ada, maafkan aku yang dosa ini jika tidak bisa membuatmu bahagia dan kami juga belum bisa memberikan yang terbaik untukmu dan penjelasan ku yang panjang, kenapa aku tidak pulang dan merawat ibu dan bapakku hingga mereka pergi dan aku sangat rindu, sungguh bahkan rinduku akan kubawa sampai aku bertemu dengan ibu di sana, maafkan aku ibu jika dosaku sudah terlalu banyak untukmu dan selalu membuatmu sedih dan kecewa ibu....
Aku sebagai anak merasa gagal dan aku merasa berdosa kepada orangtuaku pada waktu itu ibuku tidak ada merawat bahkan ibuku kesepian dan tidak ada anaknya yang peduli padanya dan ketika sakit juga anak - anak mungkin tidak ada uang peduli bahkan ibuku mengatakan cuma memakan mie saja dan tidak ada air minum di rumahnya dan kami saat itu sudah sangat jauh dari ibu, kalaupun pulang harus menunggu Sam libur sekolah dulu dan aku merasa ibu masih muda di usianya yang sudah 60 tahun, sungguh aku menyesal ibu tidak kembali pulang untukmu dan bahkan waktu itu masih covid 19 dan ketika pulang pemeriksaan banyak sekali dan aku sungguh merasa berdosa ibu dan ketika kau pergi aku mencium.kakimu ibu dan mohon maaf segala kesalahanku karna saat ini aku cuma bisa menanggis.
Pergilah dengan damai bapak dan ibuku sayang dan mungkin kita bertemu di tempat yang baru nanti, salam sayangku untukmu ibu.
Namamu akan selalu terukir indah dan aku selalu mengingatmu.
Beberapa jam yang lalu mertuaku menelp kami dan menanyakan kapan kamimakan pulang tetapi aku tidak mau pulang karna menurutku kalaupun pulang biaya yang di keluarkan banyak dan tentunya tidak ada rindu buat mertua ketika kami sampai di Medan juga tidak yang menyambut kami dengan senyuman yang ramah dan tidak ada yang rindu untuk kami dan aku sudah menutup semuanya dan mudah - mudah di berikan jalan agar kami bisa pulang dan pindah ke Medan lagi,paling tidak acara adat kami harus selesai karna itu permintaan ibuku sebelum.meninghak dulu dan aku akan selalu mengingatnya tetapi mertuaku seolah tidak akan paham dan enaka Saj berbicara sesuka hatinya.
Lelah aku berpikir dan aku tidak pulang kalau tidak ada acara yang mendesak dan sekarang aku sadar jika orang yang selalu menyayangi kami sudah pergi dan yang selalu membantu kami sudah tidak ada ada.
Kami harus berjuang untuk bisa kembali berdiri dan jikapun pulang maka kami akan ke rumah ibu dan bapak tentunya walaupun sudah tidak ada lagi dan rumah itu kosong aku akan membersihkannya dan entah kapan itu mungkin tahun depan kami akan pulang dan mungkin tahun depannya lagi.
Sungguh aku rindu ibu walaupun.melihat pusaramu dan aku hanya bisa tersenyum dan membersihkan pusaramu dan kata Sam anakku Titing enak kali tidurnya dan tidak bangun lagi katanya dan ya benar Titing tidak akan bangun sayang dan Tuhan lebih sayang padanya dan kita juga sama nanti ketika sudah bersama dengan Tuhan.
Salam cinta dan peluk cium ku ibu dan bapak dan kami mencintaimu selalu.
Kota B. 24 Juni 2023. 20.18 WIB