Pernahkan kalian menyukai seseorang? Begitu dalam sampai tak bisa melupakannya? Ini lah yang dirasakan oleh Jane, menyukai seseorang tanpa disadari oleh orang itu sendiri. Baginya dialah orang paling tampan, cukup tinggi hingga membuatnya terlihat menawan. Pria itu bernama Revaldo, orang yang berhasil mencuri hati Jane. Mungkin inilah yang disebut cinta pada pandangan pertama, pertemuan mereka terkesan singkat hanya sebatas berpapasan dijalan. Sejak awal menyadari perasaannya Jane tidak mempunyai keberanian untuk mendekati pujaan hatinya duluan dan selalu menggali informasi dari temannya yang berteman dengan kakak kelas. Sungguh hatinya ingin menjadikan Revaldo sebagai pasangannya, namun karena tidak adanya keberanian Jane hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Jane yang menemukan cinta pertamanya perlahan mulai merubah sikapnya, ia jadi lebih sering merenung dan mengintrospeksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Daripada memikirkan cara untuk mendapatkan Revaldo, Jane lebih memilih untuk memantaskan dirinya untuk Revaldo. Seperti mulai mengerjakan pekerjaan rumah, dari yang tomboi menjadi lebih feminim, dan bahkan Jane memiliki kesabaran yang sangat amat sedikit kini berubah menjadi penyabar. Waktu demi waktu berlalu, kini Jane sudah duduk di bangku kelas 3 SMP dan Revaldo yang berada satu tingkat diatasnya sudah masuk SMA lain. Meski tidak bertemu untuk waktu yang cukup lama, itu sama sekali tidak mempengaruhi sedikit pun perasaan Jane padanya yang terus memujanya dua tahun belakangan.
Bagaimana rasanya menyukai seseorang? Hanya dengan melihanya saja rasanya sangat senang, bahkan dari kejauhan pun Jane akan langsung tau jika itu Revaldo. Jantung mu akan berdebar lebih cepat dan kamu akan merasakan sensasi yang aneh ditambah dengan perutmu yang seperti dikelitik ratusan bahkan ribuan kupu-kupu. Jane sudah merasakan semuanya, dengan perasaan yang dimilikinya terhadap Revaldo. Terkadang memang Jane berpikir bahwa mungkin saja ia tidak pantas bersama Revaldo, atau lihat saja mantannya yang lebih wahh ketimbang dirinya atau kemungkinan terburuknya Revaldo menyukai orang lain. Memikirkan semua hal itu saja membuat Jane pasrah dan menerima kenyataan, rasa tidak percaya diri muncul dan selalu merasa bahwa ia tidak cocok jika bersamanya. Tapi perasaan ini sangat sulit dihilangkan, Jane sudah memikirkan banyak kemungkinan terburuk tapi tetap saja perasaannya akan kembali membaik dan melupakan semua pemikiran buruknya jika sudah melihat tambatan hatinya. Saat acara perpisahan angkatan Revaldo diadakan di sekolah, Jane lebih memilih untuk bolos entah apa yang ada dipikirannya yang jelas feeling-nya benar-benar tidak ingin berada disana. Tapi sialnya, keesokannya Jane menyesal dan rasanya ingin memutar waktu untuk kembali dan mengabaikan egonya lalu menghadiri acara, dengan begitu setidaknya ia akan bertemu Revaldo untuk yang terakhir kali.
Tahun ajaran kali ini menjadi lebih sulit untuk Jane, penyemangat sekolahnya sudah berada jauh darinya. Biasanya Jane akan melihatnya jika menunggu diparkiran, dan sekarang bahkan Jane tidak bisa menemukannya. Waktu terasa lebih lambat dan berat, kerinduan yang menumpuk tidak ada habisnya. Yang bisa Jane lakukan hanyalah menunggu waktu cepat berlalu dan menyusulnya dengan masuk ke SMA yang sama. Tugas sekolah, ujian semester, ujian praktek dan yang di tunggu-tunggu ujian nasional. Akhirnya Jane akan segera lulus dan ia sungguh tidak sabar untuk bertemu cinta lamanya itu.
Tidak seperti yang ia bayangkan, Jane kesulitan untuk menemui Revaldo karena jam mereka yang berbeda. Di SMA Jane yang baru kelas 10 dijadwalkan masuk pagi dan pulang siang sedangkan Revaldo yang kelas 11 dijadwalkan masuk siang dan pulang sore, yang artinya Jane hanya bisa bertemu dengan Revaldo saat ia pulang. Setelah mengetahui kenyataan pahit itu, Jane sempat patah semangat namun ia terus menghibur dirinya dengan keyakinan ia akan melihat Revaldo saat pulang sekolah nanti. Bel pulang pun berbunyi, semua siswa kelas 10 dan 12 terlihat keluar dari kelas sedangkan siswa kelas 11 menunggu di depan kelas sampai kelas benar-benar dikosongkan. Murid di sekolah ini bahkan dua kali lebih banyak dari murid di SMP, Jane terus memperhatikan sekeliling dan ia kesulitan menemukan keberadaan Revaldo. Jane terus berjalan perlahan, dan ia melihat Revaldo sedang menunggu di salah satu kelas. Jane tersenyum kecil akhirnya penantiannya selama ini terbayar lunas, Jane berdiri termenung tidak jauh dari kelas Revaldo. Teman Jane segera mengajaknya ke parkiran untuk pulang dan Jane mengiyakannya dengan terpaksa.
Hari-hari berlalu seperti biasa, yang berbeda hanyalah Jane yang terus berharap dapat bertemu dengan Revaldo setiap waktu. Tempat yang terlalu ramai, jam sekolah yang berbeda, dan tugas kelompok yang menumpuk membuat Jane sulit mencari waktu untuk sekedar melihat semangat hidupnya. Terkadang ia senang melakukan kerja kelompok disekolah, dengan begitu ia bisa sesekali melihat ke kelas Revaldo tapi tidak jarang juga Jane jadi malas dan tidak bersemangat, itu karena tempat kumpul dengan teman-temannya yang berjauhan dari kelas belahan jiwanya. Jane yang sedari SMP tidak pernah mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, sekarang malah bergabung menjadi anggota PMR. Tidak ini bukan sepenuhnya karena Revaldo, melainkan drama Korea yang ditontonnya belum lama ini mengisahkan seorang dokter cantik yang pacarnya seorang tentara, dan sialnya darama itu malah memberikan Jane referensi dengan imajinasi jika Revaldo sakit dan harus ke UKS maka Jane bisa merawatnya, pemikiran gila yang membuat Jane berdebar sendiri padahal kenyataan sesungguhnya adalah adanya jadwal piket yang berarti Jane tidak akan berjaga di UKS setiap hari dan belum lagi ia akan pulang lebih sore. Dan kalian tau apa yang terjadi dengan pengorbanan Jane? Yaa ia tidak pernah kedatangan orang yang ia tunggu-tunggu, bahkan saat ke kantin pun Jane tetap tidak melihatnya. Menyesal? sudah pasti, ia kelelahan, tugasnya menumpuk, dan harapannya tidak berjalan mulus. Jane pun menjalani masa kelas 10 nya dengan sangat sibuk, tapi disaat beruntung ia akan bisa bertemu Revaldo.
Ada sebuah kejadian yang cukup membuat Jane terluka, dimana disaat itu ia sedang berada dilantai 2 menunggu pintu ruang les komputer dibuka dan tidak sengaja ia melihat kebawah. Awalnya ia senang mendapati Revaldo, tapi tunggu ada yang aneh dengannya. Revaldo menggunakan gelang tali berwarna merah di tangan kirinya, dan itu sama dengan gelang wanita yang masuk ke kelas, setelah Revaldo melihatnya masuk kelas, ia segera berjalan menuju kelasnya sendiri. Tunggu.... Situasi apa ini? Aku terdiam dan berusaha memahami situasi, aku tidak percaya dengan yang ku lihat barusan, ini terlalu menyakitkan untukku. Penjaga pun datang dan membuka pintu ruang komputer, Jane segera masuk walaupun kakinya sulit beranjak dari sana.
Tidak terasa kini Jane sudah ada di kelas 11, untungnya Jane bisa berpikir jernih dan tidak terlarut dalam rasa sakitnya. Memangnya kenapa jika Revaldo punya pacar? Apa ada yang akan berubah? Toh aku juga tidak berniat merebutnya, tidak ada salahnya bukan menyukai seseorang asalkan itu tidak merugikan orang itu. Dan Jane pun bisa melalui hari-harinya seperti biasa. Mungkin ini takdir jika aku perkirakan ini bahkan belum setahun sejak aku melihatnya dan pacarnya, kini gelang itu hilang bersama dengan hubungannya. Aku tidak merasa senang sedikitpun, rasanya biasa saja tapi aku masih tetap menyukainya.
Cinta yang terpendam kau takkan mengerti rasanya, kebahagiaan dan rasa sakit terasa bersamaan. Melihat kau dengannya di hadapanku membuktikan cintaku hanyalah sebuah kebodohan, tapi entah kenapa aku hanya terus melihat ke arahmu tanpa dapat berpaling. Semangatku, tujuan hidupku, harapanku semua tertuju padamu walau aku tau itu salah.
Aku tidak bisa menghalanginya, juga tak bisa memaksakan diri mengejarnya. Revaldo yang sudah duduk di bangku akhir mulai mempersiapkan ujian dan universitas selanjutnya. Dari informasi yang Jane dapat, Revaldo kemungkinan akan berkuliah di kota Yogyakarta, situasi saat ini pasti akan terjadi dan Jane sudah memantapkan hatinya untuk melepaskan perasaannya, walau sulit ia akan berusaha yang terbaik. Tibalah hari perpisahan sekolah, ini akan menjadi terakhir kalinya Jane melihat Revaldo. Jane datang dengan penampilan terbaik dan ia melihat Revaldo ada disana, dengan jas hitam yang melekat ditubuhnya membuat Revaldo terlihat lebih tampan. Jane hampir menangis tapi di sisi lain ia juga bahagia, melihat orang yang dicintainya bahagia dan mengejar mimpinya. Perasaan ini sangat sulit di jelaskan, tapi satu hal yang pasti bahkan sampai akhir pun Jane tetap tak mampu mengungkapkan perasaannya. Semua berlalu begitu saja, dan Jane menyelesaikan masa SMA nya tanpa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Kini sudah setahun Jane bekerja disebuah perusahaan manufaktur, dan jujur saja ia masih bimbang dengan perasaannya. Terkadang Jane memikirkan bagaimana kabar orang yang pernah mengisi hatinya itu atau apakah ia mengalami kesulitan, apakah ia sudah punya pacar atau bahkan sudah menikah. Bayangan Revaldo serta kenangan yang bahkan hanya ia simpan sendiri sering kali terlintas diingatannya tapi di satu sisi ia tidak merasakan apa pun lagi, apakah Jane masih menyukai Revaldo? Atau perasaan itu perlahan menghilang? Satu hal yang pasti, Jane baru bisa yakin dengan perasaannya jika ia bertemu lagi dengan Revaldo. Tapi apakah hal itu mungkin terjadi? Lalu jika bertemu terus apa yang akan Jane lakukan? Bahkan Jane tidak menaruh harapan lagi bisa bertemu dengannya.
Kesedihan yang timbul karena dirimu selamanya kau tak akan mengerti, mengapa aku harus memaksakan diri mencintaimu. Mengalirkan air mata demi dirimu, membuat perubahan apa pun demi dirimu, padahal aku tau jelas dirimu tak akan mungkin meninggalkannya. Bahkan kamu tidak atau apa yang sudah ku lakukan selama ini, tapi aku dengan bodohnya menunggu suatu hari akan ada keajaiban. Aku pernah berpikir mungkin suatu hari akan menyesali perbuatanku, tapi aku tetap tak bisa melepasmu, ingin berada di sisimu dan selalu memandangmu.