"Periku, kemari," Vans membimbing Asfa untuk berdiri di depannya, lalu memejamkan mata, "Ya Allah berikan seluruh kebahagiaanku untuk periku, dan ambillah dukanya hanya untukku. Semoga senyuman selalu menghiasi wajah mungil bidadari ku. Amiin."
Doa yang ia panjatkan diakhiri dengan meniup ubun-ubun Asfa, lalu satu kecupan hangat mendarat menyentuh kening perinya. Perlakuan Vans begitu menggambarkan cinta kasih, membuat pria yang berdiri di balik dinding kamar tersenyum puas.
Malam yang panjang menjadi akhir dari kesedihan berganti sinar hangat yang menyapa menyambut pagi dengan suara riuh di seluruh mansion. Suara orang hilir mudik sudah menggemparkan istana megah tempat kediaman mafia Phoenix. Hanya saja dalang kerusuhan masih sibuk memberikan perintah ini dan itu tanpa peduli lingkaran hitam yang mulai nampak di bawah matanya.
Tiba-tiba saja secangkir kopi dengan aroma menggoda menyegarkan suasananya. Apalagi orang yang memberikan kopi sudah tampil cantik dengan balutan gaun yang ia pesan dadakan. Senyuman manis terkembang sempurna menghiasi wajah istrinya.
"Makasih, ya, Hubby. Pernikahan Queen dan dokter Vans sangat berarti buatku. Aku bahagia. Sebentar lagi, keluarga kita lengkap dengan kebahagiaan semua orang," ucap Rania seraya menggenggam tangan kanan Varo.
Varo tersenyum lega, "Thanks untukmu juga, istriku. Tanpa dukunganmu, keluarga kita tidak akan lengkap."
"Apa kalian melupakan, Papa?" tanya Tuan Luxifer dengan langkah kaki menghampiri putra dan menantu pertamanya.
Rania tersenyum menyambut sang ayah mertua. Begitu juga dengan Varo. Ketiga anggota keluarga sudah berkumpul, tapi mempelai pria dan wanita masih blum terlihat batang hidungnya. Para pelayan dan bodyguard bahu membahu memberikan persiapan pesta pernikahan penuh suka cita.
"Sayang, jaga Rose selama acara. Varo kamu persiapkan Vans, dan Papa akan persiapkan putri raja kita," Ucap Tuan Luxifer membagi tugas masing-masing, tapi Rania menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju.
"Pa, izinkan aku yang merias Queen. Please," pinta Rania dengan mata memelas, sontak saja di hadiahi cubitan hidung tangan nakal suaminya sendiri.
"Hubby, nakal...,"
"Sudah, sudah, Papa akan jaga Rose. Pergilah bangunkan Asfa!" titah Tuan Luxifer mengakhiri perdebatan singkat yang bisa saja menjadi panjang kali lebar.
Obrolan ketiga anggota terhenti demi melanjutkan tugas masing-masing. Varo berjalan menghampiri kamar mempelai pria, Rania menuju kamar Asfa, dan Tuan Luxifer kembali ke kamarnya sendiri. Yah, putri raja termuda memang di bawah pengawasannya sendiri. Meskipun ada banyak penjaga, tetap saja keamanan sang cucu paling utama.
Dua jam berlalu.
Mansion mewah itu berubah menjadi hamparan bunga mawar. Lampu gantung menjuntai dengan hiasan bulan sabit menyinari seluruh ruangan. Dibawahnya terdapat sebuah meja kaca yang diapit empat kursi berhadapan. Tiga tiang berselimut tirai biru langit dengan lilitan bunga lili yang menambah keindahan mandat tempat ijab nanti.
Deretan kursi mengelilingi mandat. Kini penuh oleh para bodyguard dan juga pelayan yang berpakaian rapi dan santai. Terlihat wajah semua orang begitu bahagia dengan rasa syukur. Apalagi ketika sorot lampu terarah ke tangga. Dimana gaun putih mengembang membalut tubuh wanita cantik pemilik mata biru laut yang hari ini semakin menunjukkan inner beauty.
Langkahnya perlahan menuruni tangga satu persatu bersama pendampingnya sang kakak ipar. Semua tatapan mata tak bisa lepas dari nona muda mereka. Siapa sangka wajah cantik dengan kepribadian tegas queen kembali mengisi kehangatan di dalam mansion. Kenangan selama satu bulan terakhir menghilang begitu saja berganti rasa syukur yang tiada tara.
Di saat Rania membantu Asfa duduk di tempatnya. Varo mendampingi Vans menyusul menuruni tangga, penampilan pria satu itu juga tak kalah memukau. Ada decak kagum, tapi lebih dari itu hanya turut bersuka cita atas kembalinya queen mereka. Pak penghulu yang terpana dengan pasangan pengantin pun harus merasakan tepukan mendarat di bahu nya.
Tuan Luxifer menyerahkan Rose ke pangkuan Rania, karena kali ini. Dia sendiri yang akan menikahkan putri rajanya, "Pak, mari dimulai acaranya."
Asfa duduk bersebelahan dengan Vans, sedangkan Tuan Luxifer duduk bersebelahan dengan Pak Penghulu. Urutan tata cara sebelum melangsungkan pernikahan akhirnya dimulai. Termasuk doa dan pidato singkat untuk memberikan arahan bagi calon pengantin baru.
"Silahkan saling berjabat tangan," kata Pak Penghulu memberikan arahannya.
Tuan Luxifer mengulurkan tangan kanannya yang langsung disambut baik Vans tanpa menunggu ditegur. Keduanya saling menatap menyelami keseriusan akan hubungan suci nan sakral. Kepercayaan yang menjadi awal pelepasan tanggung jawab seorang ayah pada calon suami putrinya, hingga Pak Penghulu mempersilahkan akad nikah untuk dimulai.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Vans Al Burhan bin Zavier Al Burhan dengan anak saya yang bernama Queen Asfa Luxifer binti Luxifer dengan mas kawinnya berupa villa pelangi, tunai.”
Tuan Luxifer mengucapkan ijab dengan lantang bersambut dengan satu hentakan tangan, lalu Vans memasang wajah serius menghadirkan senyuman tipisnya. Satu tarikan nafas dan mengucapkan qabul tanpa ada kesalahan.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Queen Asfa Luxifer binti Luxifer dengan mas kawin tersebut, tunai.”
Seketika semua orang teriak, hingga Pak Penghulu mengambil mikrofon dari atas meja, " Bagaimana para saksi? Sah?"
"SAH." Jawab serempak semua orang yang menghadiri pernikahan, disambut pembacaan doa yang dilanjutkan dengan sesi tukar cincin kawin.
"Periku, hari ini adalah hari terbaik sepanjang hidupku. Namun, sekali lagi, aku ingin bertanya. Maukah kamu menghabiskan sisa umurmu menjadi teman dan sandaran hidupku?" tanya Vans sebelum memasangkan cincin di jari manis tangan kanan sang istri.
Asfa membalas senyuman Vans, "Assalamualaikum, Suamiku."
Jawaban Asfa menggetarkan hati pria yang dengan haru memasukkan cincin ke jari sang istri. Lalu ia mendekat memberikan kecupan singkat yang mendarat ke kening Asfa, "Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Istriku."
----------------
Kisah cinta bagiku sama seperti kisah milik Queen Asfa Lucifer.