Salam Kenal Penghuni Baru
"Kita mau kemana sih, bu..Kok dari tadi ngga sampai-sampai" tanyaku untuk kesekian kalinya.
Ibu hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Mita sembari menyeka keringat yang hendak mengucur dari keningnya. Padahal kami baru berjalan sekitar 1 km tapi aku merasa aku sudah berjalan berkilo-kilo mil lamanya, kalau di lihat-lihat dari cuaca saat ini. Matahari juga nggak melotot-melotot amat, karena memang suasana masih dikatakan pagi belum menjelang siang.
"Hadeuh, manja amattt si gendut ini, tinggal jalan aja kok susah amat" gerutu lelaki yang tepat berada di sampingku.
" Syuiuuiit, bisa ngga berisik (meletakkan jari telunjuk di depan bibir) bantahku. "Sudah-sudah tidak usah ribut, bentar lagi juga nyampek sabar aja,"
Yah, hari ini ibu memutuskan mencari kontrakkan dekat kota. Kebetulan jadwal kampus ku lagi kosong dan adikku sedang libur sekolah itu sebabnya kami setuju untuk menemaninya. Bukan perihal tidak punya tempat tinggal, namun ibu sudah jauh-jauh hari memikirkan akan berpisah dari ayah. Kenapa ayah dan ibu berpisah?? Mungkin itu pertanyaan datang terbesit dipikiran kalian, apa yang terjadi dengan keluargaku sebenarnya??
Ayahku sebenarnya bukan ayah kandungku, tapi..yapp!! Dia ayah sambungku. Ibuku menikah dengan ayahku sudah berkisar 6 tahunan. Namun perlakuan ayahku terhadap ibuku sangat kasar bahkan bukan sekali dua kali ia menganiaya ibuku.
Dikarenakan kami bertiga masih status pelajar dan membutuhkan uang untuk keperluan sekolah, ibuku mencoba bersabar dan bertahan. Mungkin ini adalah puncaknya ibu harus rela meninggalkan ayah yang seperti itu. Bukan hanya itu, ayah juga tidak pernah membiayai kami bertiga sekolah semuanya ditanggung ibu.
Untung saja saat itu kakak mendapat pekerjaan paruh waktu selesai kuliah, jadi dapat membantu meringankan beban ibu.
"Nah, ini dia rumahnya" ucapnya seraya menunjuk rumah bercat pink itu.
Rumah yang akan kami kontrak ini kebetulan tidak jauh dari lintas pasar, hanya letakknya masuk gang dipertengahan rumah. Bangunan dengan gaya arsitektur klasik itu tidak memiliki pagar besi disekelilingnya, melainkan ditembok setengah badan.
Dapat dilihat dari sekeliling rumah diapit dua rumah yang berjejer dan berhadapan langsung dengan rumah didepannya yang ditata rapi berentet, bisa dikatakan rumah perumahan.
Namun rumah yang berada di depan rumahku tidak berpenghuni ada tiga baris berjejer. Mataku terfokus pada rumah yang tepat didepanku, bangunan itu sudah tidak layak dipakai, ini dapat dilihat dari tanaman yang tinggi menjuntai ruai telah memenuhi bibir depan teras rumah. Pintunya yang rusak sudah tak layak dipakai, begitu pula asbesnya yang bolong melompong. Mungkin rumah itu sudah lama ditinggal oleh pemiliknya.
"Mit, ayo masuk. Kok bengong didepan situ?? " ucap ibu membuyarkan lamunanku
"Ehh,, iya bu... sebentar lagi Mita masuk" kataku sambil bergegas beranjak dari depan rumah seram yang ku definisikan tadi.
Hari berlalu dan akhirnya kami sekeluarga pindah ke rumah kontrakan yang baru. Tiba saat malam pertama kami menginap di rumah itu, aku merasa ada yang aneh dari tempat itu.
Kenapa hawa di dalam rumah terasa ngapp sekali, padahal hari sudah berganti malam tapi serasa matahari masih berada diluar. Aku juga bingung apa hanya aku yang merasakan gerah disekujur tubuh.
Lalu aku bertanya pada kakak dan ibu apakah mereka merasakan hal yang sama. Tanpa diduga mereka pun mengatakan bahwa mereka merasakan hal yang sama sepertiku.
"Ada apa ya bu sebenarnya?? Apa kita mau gejala akan sakit? " tanyaku
"Hussh, mungkin saja karena efek rumah kita yang menghadap terbenamnya matahari, oleh sebab itu gerahnya masih terasa hingga sekarang."titah ibu menjelaskan
Aku pun mengiyakan pernyataan Ibu dan bergegas untuk tidur karna memang hari sudah larut malam. Waktu berputar, jam dinding menunjukkan jam 12.06 itu tandanya waktu semakin larut namun mataku tidak bisa terpejam.
Aku gelisah dan gerah. Keringat berkucuran dari punggung badanku. Aku merasa suasana semakin panas. Ku lihat kakak sudah terlelap beberapa jam lalu. Kerongkonganku terasa kering, aku memutuskan mengambil air minum di dapur yang letaknya melewati kamar mandi utama. Saat aku hendak minum,tiba-tiba aku mendengar gemericik suara air dari dalam kamar mandi. Aku pikir mungkin itu Ibu atau kakak yang sedang berada dalam kamar mandi.
"Bu.. Ibu.. Ibu di dalam?? " aku mengetuk pintu berkali-kali tapi tidak ada sahutan dari dalam
"kakak.. Kak!! " aku pikir karena tidak ada sahutan yang di dalam adalah kaka, namun beberapa kali aku mengetuk pintu tak kunjung dibuka. Aku jadi penasaran, kutarik knop pintu lalu kubuka,namun tidak ada orang di dalam. Yang hanya ada suara air keran mengalir. Aneh, aku merasa tadi ada orang didalam kamar mandi bukan hanya suara air mengalir.
Tapi ada suara orang menyiram lantai keramik. Mungkin itu hanya persaanku saja, pikirku. Namun tiba-tiba aku merasa hawa panas itu datang lagi, aku menoleh kebelakang dan ternyata aku melihat ada bola api yang melayang-layang diudara, seperti akan menghampiriku.
Aku bergegas lari dari arah kamar mandi dan menuju ruang tamu tempat kami tidur. Kenapa kami tidur di ruang tamu? Karena kamar di kontrakkan yang kami tempati ini hanya satu.
Dengan nafas yang masih ngos-ngosan aku menarik selimut dan segera menutupi sekujur tubuhku karena ketakutan, hingga akhirnya aku terlelap dengan sendirinya.
Keesokan harinya aku menceritakan hal tersebut kepada keluargaku, apa yang aku lihat semalam, tapi mereka semua tidak ada yang percaya dengan apa yang aku lihat kemarin malam. Aku sudah menduga pasti mereka takkan percaya karena aku tak ada bukti. Mereka kira aku hanya melindur.
"Yah, kalau tidak percaya ya sudah. Orang jelas-jelas aku melihat dengan mata kepalaku sendiri" ujarku kesal
"Makanya kalau mau tidur itu berdoa dulu biar di jauhkan dari yang aneh-aneh, Mit. " ucap kaka meledekku
Hari berganti hari, tak terasa aku dan keluargaku sudah seminggu menempati rumah kontrakkan itu. Aku tidak lagi dinampaki bola api itu namun hawa panas didalam rumah semakin semeromong yang terkadang membuat kami tak betah berada di dalam rumah saat malam. Malah terkadang saat sesudah menjelang magrib kami memutuskan untuk duduk-duduk didepan teras rumah.
Hingga pada saat itu Ibu pergi kerumah paman untuk pengajian keluarga yang mengharuskannya untuk menginap selama 2 hari lamanya, sedangkan adikku sedang PKL yang membuatnya harus mengekos. Tinggallah aku dengan kakak perempuanku dirumah.
"Kak ren, kayanya ada yang manggil" ucapku sambil beranjak sambil mengintip dari jendela. Tapi apa yang aku temukan, nihil tidak ada orang. Suasana malam hari ini hujan begitu lebat bahkan pohon jambu yang menjuntai kering kerontang di depan rumahku malambai-lambai sangkin derasnya di terpa angin kencang,
"ngga ada siapa-siapa di luar kak" celutukku kesal
Selang beberapa menit ada suara samar-samar orang manggil kembali, aku mutuskan kakak untuk mengintip kembali bergantian. Dan
"Akhhhh... "" jeritnya membuatku melonjak kaget berdiri dan mendekati kakak yang mengintip dari jendela
"Ada apa kak, kok teriak-teriak" tanyaku
"Dek Mit, ituu.. Ituu ada " ucapnya terbat-bata sambil menutup mata dan menunjuk keluar jendela
"Iya apa, ngga ada siapa-siapa juga" ujarku kesal
"Tadi.. Tadi ada perempuan berbaju putih bediri dirumah kosong itu"
"Masa sih kak, mana?? Nggak ada siapa-siapa. Gelap. Jangan-jangan hantu rumah angker depan rumah itu"
"Mungkin aja kan rumah itu kosong ida lama pasti uda ada penunggunya. Ihh serem... "
"Uda lah kak, nggak usah ngomongin hantu uda tau aku penakut juga. Ntar kalau aku nggak bisa tidur gimana?? "
"iya-iya, maaf" ucap kakak berlalu pergi kekamar dan aku pun mengikutinya
Dua hari telah berlalu dan Ibu sudah pulang, aku dan kaka kembali menceritakan hal aneh yang kami alami selama ibu berada di rumah paman. Ibu pun tak percaya bahwa rumah yang mereka tempati saat ini berhantu.
Untuk itu ibu menasehati kami agar kami lebih mendekatkan diri kepada Allah agar senantiasa selalu menjaga dari segala macam bahaya yang terlihat maupun abstrak. Sejak saat kejadian itu, kami lebih sering mengerjakan salat dan membaca ayat kursi di rumah, dan lama kelamaan rasa panas yang kami rasakan perlahan mulai menghilang dan kami pun tidak pernah diganggu hal-hal aneh di dalam rumah. Hingga pada saat itu, datanglah kakek yang merupakan Ayah angkat dari Ibuku yang kebetulan rumahnya tidak jauh dari rumah kami.
Kakek memiliki indra keenam, beliau menuturkan bahwa rumah kami ini berpenghuni makhuk berbentuk bola api kalau orang jawa bilang medi kemamang. Jenis makhuk tak kasat mata ini menjadikan suasana di sekitar menjadi panas dan membuat kita tidak betah di dalam rumah.
" Pantas saja kek, kami selalu merasakan hawa panas yang begitu semeromong jika berada didalam rumah" ucapku memberitahu kakek apa yang kami alami selama ini
"Sebenarnya rumah ini juga sudah lama tidak di tempati orang. Dikarenakan hawa panas dari makhluk itu sendiri, makanya orang tidak betah tinggal disini. Tapi sekarang ia sudah tidak berada di dalam rumah ini, dia sudah diluar tepatnya di dalam rumah kosong depan rumah kalian itu. Bukan hanya satu bahkan di dalam rumah itu banyak penghuni nya seperti kuntilanak" ujar kakek menjelaskan
"penuturan Bapak sama dengan masyarakat sekitar pak. Banyak orang yang ngontrak disini tidak betah. Mungkin karena kami selalu rajin ibadah pak, makanya ia sudah tidak di sini lagi" kata Ibu
"Selain rajin ibadah, mungkin karena kalian selalu menjaga kebersihan makanya ia tidak mengganggu lagi dengan hawa panasnya. Energi negatif tidak akan masuk jika kita selalu menjaga kebersihan rumah" timpal kakek
Mulai saat itu semua saran kakek kami lakukan, kami pun tidak pernah diganggu akan hal-hal yang aneh seperti dulu. Mungkin karena bola api itu sudah tak berada di dalam rumah lagi. Kata kakek makhluk panas itu sudah pindah ke rumah kosong tepat di depan rumah kami.
Namun kami terkadang sering mendengar suara-suara aneh jika malam tiba didalam rumah itu, tapi kami menganggap sudah menjadi hal biasa dan tak pernah takut lagi. Wajar saja makhluk halus dan manusia selalu hidup berdampingan. Saat siang manusia beraktivitas begitu pun sebaliknya dengan makhluk tak kasat mata tersebut.