Secarik Kertas Lusuh
Hidup terkadang memang sulit. Tidak ada satu pun orang yang bisa menentang takdir yang telah diberikan Tuhan kepada masing-masing umatnya. Jika kita berada di titik terendah dari kehidupan, jangan risau, jangan pernah membandingkan hidup mereka dengan dirimu. Karena semua takdir sudah diatur porsi dan takaran sesuai dengan kesanggupanmu.
Begitulah kata kiasan mewakili kehidupan Raka yang dialaminya hingga kini. Siapa sangka, ia berada dalam skenario hidup yang tak kunjung berujung. Ia merasa putus asa. Ia merasa sendiri. Walaupun keluarga dan sanak saudara selalu mensuport akan kesembuhannya.
Pernah terbesit di dalam pikirannya untuk mengakhiri hidup yang sedemikian rupa. Namun rencana yang ia lakukan selalu gagal dan gagal lagi.
" Rak, kamu uda minum obat pagi ini?? " suara lembut membuyarkan lamunanku
" Sudah bu, Raka sudah minum sedari tadi""
"Kamu pasti bohong. Kamu selalu aja ada alasan kalau sudah disuruh minum obat" ucapnya dengan seraya mengelus rambutku
Ibu benar, aku selalu berbohong jika harus disuruh minum obat. Apalagi jika Bi Ijah yang menyuruhku. Aku selalu berbohong, dan ia percaya. Mungkin karena beliau hanya sebatas ART yang tak berani melawanku sebagai majikannya.
Lain pula dengan wanita di hadapanku saat ini. Sekeras apapun aku menolak perintahnya, ia tetap sabar dan telaten mengurusku. Memang benar kata pepatah kasih Ibu sepanjang masa. Jika melawan Ibu akan terkena imbasnya.
"Raka, Ibu sangat berharap jika kamu mau menyetujui usulan dari Pakde kemarin malam. Semua itu mereka lakukan semata-mata karena mereka semua sayang sama kamu. "
"Raka tau bu, Raka hidup sampai sekarang cuman jadi beban kalian. Raka anak yang nggak berguna untuk Ibu dan yang lainnya. Untuk itu Ibu setuju dengan usulan mereka semua,bukan??"ucapku dengan nada menyinggung
"Bukan begitu nak, Ibu sayang sekali sama Raka. Rasa sayang yang Ibu berikan melebihi apapun didunia ini. Ibu juga ingin melihat kamu bahagia hidup bersanding dengan wanita yang baik dan sholeh. Agar kelak Ibu tenang dan tidak khawatir lagi jika yang maha kuasa secara tiba-tiba mencabut nyawa Ibu. Misalkan saja saat ini Ibu dipanggi menghadap sang ilahil siapa yang akan menjagamu" cecarnya terisak
"Maafkan Raka,bu. Raka selalu membuat Ibu gusar. Mulai saat ini Raka berjanji tidak akan mengecewakan Ibu lagi. Raka juga berjanji akan mematuhi apa yang Ibu minta. Asalkan hal itu membuat Ibu bahagia dan tidak bersedih lagi" ucapku seraya memeluknya
*****
Siang ini aku sengaja meminta izin pulang lebih awal dari biasanya. Setelah selesai mengajar, aku pun segera mengemasi barang-barang milikku dan segera pulang. Sambil menunggu bis kota lewat pikiranku melayang teringat akan perkataan Ayah dan Bunda yang membuat isi kepala seraya mau pecah. Kata-kata mereka lantunkan seakan menari-nari di otakku.
***flashback
"Dijodohin??? Ayah becanda,kan?? Masa iya aku mau dijodohin sama orang yang nggak kukenal" ucapku bersunggut-sunggut kesal
Bayangkan saja usiaku masih berkisar 22 tahun. Usia gadis belia,bukan?? Bahkan baru saja kemarin aku mendapatkan pekerjaan sebagai guru honor di salah satu SD negeri di kotaku. Dan itu pun belum menikmati hasilnya, alias belum gajian. Uda disuruh menikah saja. Emang iya, selama ini aku masih menjadi beban keluarga. Tapi kan konsepnya nggak begini amat" batinku ngedumel sendiri
"Ayah serius, nak. Ayah akan menjodohkan kamu dengan kemenakan teman paman. Dan Ayah yakin dia adalah sesosok lelaki baik dan bertanggung jawab dalam membimbingmu membangun bahtera rumah tangga"
"Bener ndok, mereka juga dari keluarga yang baik-baik. Bunda yakin mereka bisa menerimamu menjadi bagian dari keluarga mereka. Bagaimana ndok,kamu mau kan menerimanya?? Katanya sambil menggenggam erat tanganku penuh harap
"Ika belum bisa memutuskan. Ika butuh waktu untuk berfikir"
"Baiklah, Ayah akan memberikan ruang untuk kamu berfikir. Tapi Ayah minta tolong sama kamu besok lusa keluarga Pak Barul ingin berkunjung. Sambut mereka dengan baik. Kebetulan Ini adalah moment yang tepat buat kalian berdua untuk saling mengenal satu sama lain. Bapak berdoa agar kalian cocok dan bisa melanjutkan kejenjang yang lebih serius" ujarnya dengan mata penuh harap
"Baik,yah. Ika menyetujui perjodohan ini" titah Malika terpaksa
"Alhamdulillah... "ucap mereka berdua serempak menangis bahagia
****flashback off
"Dusun tiga.. Dusun tiga.. Mbak mau kemana mbakk?? " ucapnya membuyarkan lamunan panjang seraya menepuk pundakku
"Ee-ehh iya pak" kataku sambil berjalan mendekat ke arah bis untuk naik
Setelah melewati panorama persawahan dan permukiman warga, sampailah aku di tempat kediaman Bapak Rojali. Rumahku tepatnya. Kemudian Bunda menyuruhku untuk segera bersiap-siap agar nanti ikut menyambut kedatangan keluarga Pak Barul.
*****
Dilain tempat pada waktu yang bersamaan Raka sudah siap dengan stelan kemeja lengan panjang abu muda senada dengan celana yang ia kenakan. Hari ini ia terlihat begitu tampan dari biasanya.
Tokk.. Tokk.. Tokk suara pintu diketuk
"Masuk, pintunya tidak dikunci"perintahku dari dalam
"Waduh.. Waduh.. Anak Ibu ganteng sekali hari ini. Gimana sudah siap untuk ketemu calon isteri" ucapnya menggodaku
Aku hanya mengangguk lesu tak bersemangat. Pikiranku masih berkecambuk antara menerima atau bahkan membatalkan perjodohan ini. Aku tak tau. Tapi yang jelas aku sudah mengatur strategi agar perjodohan terhenti.
Akhirnya kami sekeluarga tiba dirumah Bapak yang akan dijodohkan kepadaku. Aku pun segera turun dari mobil dengan dibantu Ibu memapahku naik ke kursi roda yang menjadi tumpuanku hingga saat ini.
Baru berjalan beberapa langkah, muncullah sepasang suami istri datang menghampiri pakde dengan berjabat tangan dan saling berpelukan. Secara bergatian juga menyapa Ibu dengan begitu ramah tamah sambil berbincang-bincang menanyakan tentang keadaan beliau.
"Ini pasti Raka. Lebih cakep aslinya ini, mah daripada di foto"ucap wanita paruh baya itu memuji
Aku hanya tersenyum kecut menanggapi. Kemudian mereka berdua menyuruh kami sekeluarga untuk masuk. Di ruang tamu terlihat sudah tersusun apik beberapa jenis kue dan minuman. Mataku menangkap sosok makhluk cantik yang sedang sibuk bergulat dengan nampan yang dibawa dan aku sangat yakin dia lah yang telah menyiapkan jamuan ini semua.
"Malika, sini ndok mendekat" pintah wanita itu kepada seseorang yang dipanggil Malika tersebut
Ia pun meletakkan nampan di atas meja kemudian mendekat menghampiri kami. Menebarkan senyuman dan memberi salam kepada pakde, bude kemudian terakhir Ibu.
"Kenalin Ika, ini Raka calon suami kamu. Raka ini Malika" cetus bude gamblang
Ia pun merespon dengan sembari tersenyum kepadaku. Mungkin dia orang yang ramah kepada setiap orang, pikirku. Kemudian kami berdua cuman saling tatap. Tanpa kusadari semua mata tertuju padaku dan dirinya.
"Kayanya uda ada yang cocok nih, bisa-bisa lusa uda ijab kabul" kalimat menyohok pakde meledekku
"Hushh, si Bapak. Mereka kan mesti kenal lebih dekat dulu kalau kata anak muda sekarang PDKT" ledek bude menambahi
Akhirnya suasana rumah menjadi sangat riuh dengan kedatangan kami.
"Ya sudah kalau gitu kasih mereka ruang agar mengenal lebih dalam satu sama lain. Ika ajak ngobrol sana calon suamimu biar ndak suntuk" pinta Ibunya
"Baik bu, Ayo mas saya bantu"
"Tidak usah saya bisa sendiri" ujarku menolak tawarannya
Kemudian ia pamit pergi disusul dengan aku yang mengikutinya dari belakang.
"Tuh kan, apa aku bilang mereka itu kelihatan sangat cocok. Nggak salah aku mengusulkan perjodohan ini jauh-jauh hari"
"Iya bener, aku nyesel banget baru menyetujui perjodohan ini kalau tidak, mungkin kita sudah menimang cucu" ucap Rojali yang membuat semua terkekeh
****
"To the point aja, sebenarnya apa tujuanmu menyetujui perjodohan ini" ucapku ketus memulai obrolan
"Maksud mas, apa?? Saya tidak mengerti"
"Katakan saja kalau kamu setuju dengan perjodohan ini karena prihatin dengan keadaanku, bukan. Jika itu alasanmu, lebih baik kamu batalkan saja. Aku tudak buruh rasa simpati darimu"
"Astaqfirullah, Mas nggak boleh berpikir seuzhon begitu terhadap saya. Saya juga sebenarnya mau menentang perjodohan ini, tapi saya nggak tega melihat Ayah dan Bunda merasa kecewa dengan keegoisan saya"
"Mengapa pernyataan wanita ini sama dengan yang aku lakukan saat ini?? Ngga boleh, aku ngga boleh lemah dihadapannya"Pikirku
"Kamu harus cari solusi agar perjodohan ini tidak berlanjut. Saya tidak mau tau bagaimana pun caranya"
"Kok jadi saya yang harus memikirkan hal semacam itu, kan masalah mas yang keberatan dengan perjodohan ini. Mas saja yang mencari alasan untuk itu. Saya ngga mau ikut-ikutan"bantahnya
"Kamu ya, benar-benar. Akh.. Sudahlah saya males bedebat dengan wanita. Semuanya sama saja" ujarku berlalu pergi
*****
Setelah pertemuan keluarga saat itu, keluargaku lebih sering berkunjung ke rumah Malika. Lebih tepatnya membicarakan tentang pernikahan ku yang sudah semakin dekat. Semua persiapan sudah dirancang seapik mungkin. Seperti halnya saat ini, Ibu menyuruhku menemani Malika fitting baju. Sejujurnya aku juga malas keluar,kalau bukan Ibu yang terus-menerus mendesakku.
Segala rencana sudah aku lakukan untuk membuat pernikahan ini batal, namun hasilnya selalu gagal. Hingga detik ini perjodohan ini masih berlanjut.
"Mas, gimana baju yang aku kenakan ini. Cocok,bukan??"tanyanya saat keluar dari ruang ganti dengan mengenakan gaun pengantin pilihannya
"Heeemmm"sahutku malas
"Ntah sudah keberapa kalinya ia meminta pendapat tentang gaun yang ia kenakan, aku hanya menanggapinya dengan gumaman.Tapi tak sedikit pun ia marah dan murka terhadapku. Apa benar wanita memiliki stok kesabaran yang banyak?? " batinku
"Mas, cobain deh jas ini. Kayak nya cocok sama mas. Model dan warnanya juga meching dengan gaun yang aku pakai" pintah Malika padaku
"Uda dibungkus saja mbak, nggak perlu dicoba" ucapnya padaku sambil menyuruh pegawai butik
"Ngga boleh, jas ini harus mas pake dulu baru kita beli. Aku juga mau lihat cocok tidak kalau mas yang pake" perintahnya lagi
"Aku nggak mau pake, pokoknya bungkus saja"bantahku
"Apa perlu Ika yang pakein, mas" ucapnya dengan nada menggodaku
"Beginilah kalau sudah berurusan dengan wanita, mereka makhluk yang seenaknya sendiri" ucapku ngedumel dan segera mengambil jas yang dibawakan Malika
Perkataanku membuat seisi butik tertawa, termasuk Malika.
*******
"Saya terima nikah dan kawinnya Malika Atmevia binti Rojali dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai" ucapku dengan satu tarikan nafas
"Bagaimana saksi SAH... "
"SSAAAHHHHH..."sorak para tamu undangan yang datang ke acara ijab kobul
Dan akhirnya aku dan Malika sah menjadi suami isteri. Hal yang tak pernah terbayangkan akan bersanding di pelaminan bersama wanita yang tidak kucintai. Bukan perihal tak bisa mencari pendamping hidup untuk diri sendiri. Namun karena insiden kecelakaan 5 tahun silam, yang membuatku lumpuh dan tidak bisa berjalan normal lagi. Semua harapan dan mimpiku seakan hancur lebur. Karena insiden ini juga Novia memutuskan hubungan yang sudah lama kami jalin yang membuatku semakin terpuruk. Aku juga memutuskan mengasingkan diri dari khalayak ramai dan lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah bersama orang-orang terdekatku. Begitu pula dengan bisnis dan perusahaan yang sudah lama aku rintis mulai dari nol semuanya aku percayakan pada Ilham anak pamanku. Paman yang menjodohkanku dengan Malika.
Tak terasa hari berganti hari, usia pernikahan aku dan Malika sudah beranjak 2 bulan lamanya. Tapi sikap dan perilaku ku masih tetap sama. Perkataan kasar selalu kulontarkan padanya. Tapi ia selalu selalu menyikapinya dengan lemah lembut. Apa yang terjadi padanya?? Kenapa ia tidak meninggalkan diriku saja?? Aku sadar bukan pria yang pantas untuknya?? Mengapa ia masih bertahan sejauh ini??
"Mas, kita makan yuk. Aku uda masakin makanan kesukaan kamu. Aku yakin kamu pasti suka"ajaknya
"Aku tidak lapar. Kamu makan saja sendiri"cetusku
Dia hanya tersenyum. Lalu ia pergi. Kemudian tak selang beberapa menit ia datang dengan sepiring nasi lengkap dengan lauk-pauknya. Aku pura-pura membuang pandanganku dari hadapannya saat ia datang mendekat.
"Ini mas, makanlah. Aku tau kamu pasti lapar" pintahnya yang segera kutepis membuat piring yang dibawahnya pecah berserakkan di lantai
Ia tidak memarahiku, bahkan ia masih bisa tersenyum membalas perlakuanku. Wanita ini hatinya terbuat dari bajakah?? Apakah tidak merasa sakit hati sedikit pun atas semua perilaku ku selama ini,batinku.
Malika segera membersihkan pecahan piring dan sisa-sisa bekas makanan yang jatuh tadi. Setelah selesai mengemasinya ia pun segera pergi. Dan kemudian balik lagi dengan membawa sepiring makanan lengkap dengan lauk pauk yang sama namun dengan wadah yang berbeda. Yaitu piring plastik.
"Aku sengaja membawakan kamu makanan lagi mas. Aku tau kamu pasti lapar" ujar Malika seraya meletakkannya di atas meja kasur dan pergi
Sekilas aku melirik ke arah makanan itu, Malika benar aku lapar. Aku bangkit duduk mencoba mengambil makanan yang dibawakan Malika tadi dan melahapnya. Makanan yang ia masak setiap kali memang sangat lezat. Tanpa ia sadari dari kejauhan Malika mengintip dari celah pintu yang tidak ditutup rapat dan tersenyum.
"Maafkan aku mas, maafkan aku.. " ucapnya dengan nada bergetar
*****
Pagi ini aku sudah bersiap untuk berangkat ke kantor karna mulai hari ini juga aku akan mengambil ahli kembali perusahaanku yang dipegang sepupuku. Ilham. Kenapa demikian?? Sebab Ilham sudah mengambil ahli perusahaanku yang memiliki cabang di singapura. Dan rencana ia akan menetap disana.
"Mas, nanti selesai mengajar aku jemput kamu ya di kantor.Biar kita pulang bareng"
"Tidak usah, kamu pulang saja dulu. Aku ngga mau ngerepotin orang lain"
"Aku kan isteri kamu mana mungkin ngerepotin. Ya sudah, aku turun duluan ya. Mas hati-hati dijalan.Oh, iya nanti kalau sudah sampek kantor mas kabari aku ya"
Aku hanya diam tak menanggapi seperti biasa. Ia kemudian mengintruksikan kepada pak supir agar tidak ngebut saat mengantarku ke kantor.
"Lagi-lagi dia membuatku semakin kagum" batinku lirih
Sesampainya dikantor Raka disambut hangat oleh semua karyawan dan staff perusahaannya. Mereka sangat senang dengan kembalinya Raka memegang ahli atas perusahaannya yang menurut mereka sedang kacau. Sebab di saat kepemimpinan Ilham semua berjalan tidak baik. Mulai dari segi kinerja, pelaporan distributor yang abstrak, sampai laporan keuangan yang tidak sehat. Bahkan jika staffl komplain akan hal tersebut, mereka akan diancam akan di PHK secara sepihak tanpa pesangon sedikit pun.
Sebenarnya Raka sudah tau banyak tentang keadaan perusahaannya, tapi ia menunggu waktu yang tepat. Ia juga tidak mau menuduh seseorang tanpa mengumpulkan bukti-bukti terkait tuduhan kepada Ilham, sepupunya. Bagaimana pun juga pakde dan bude sudah menganggap Raka sepertii layaknya anak kandung. Raka tidak mau membuat mereka kecewa dengan sikap Ilham.
"Bagaimana, kamu sudah melakukan tugas yang saya berikan tempo hari"
"sudah pak, kebetulan hari ini adalah jadwal penangkapannya. Sebelum saudara Ilham tiba di bandara ia akan dikepung pihak polisi"
"Kerja yang bagus, Terima kasih kamu telah membantu saya membongkar kebusukan Ilham selama ini, ya sudah kamu boleh pergi "
"Baik pak, saya permisi dulu"
Sekarang Raka mulai merasa lega, tidak ada lagi rasa mengganjal di hatinya. Semua masalah yang bertahun-tahun disimpannya akhirnya terselesaikan.
Kemudian diambilnya benda pipih berlogo apel separuh disaku kanan jasnya. Dicarinya kontak seseorang yang ia rindukan.Yah, Raka sudah mulai menyukai Malika, isterinya.
"Apa perlu aku meneleponnya? Ia tadi berpesan agar aku memberinya kabar, Tapi apa harus?? Ahh, sudahlah biarkan saja" lirihnya gundah
Tak menunggu waktu yang lama, tiba-tiba benda mati bernilai ratusan juta itu pun berdering. Kulirik sekilas ke layar handphone ternyata orang yang sangat kunanti menghubungiku. Sigapku tekan tombol hijau, dan saatnya berakting.
"Haloo mas.. "ucapnya lembut dari sebrang sana
"Iya haloo, ada apa?? " ucapku ketus
"Aku lagi dijalan menuju kantor kamu. Kebetulan siang ini aku ada pertemuan di aula. Sekalian lewat kantor kamu aku bawain makan siang biar kita bisa makan bareng"
Degg...
Jantungku berdetak begitu kencang. Aku gugup apa yang akan aku katakan lagi. Sejujurnya aku sangat senang jika ia akan datang, tapi apalah dayaku tak bisa mengungkapkan semua perasaanku padanya. Selama ini aku sadar kalau aku hanya jadi beban untuknya, bukan sebaliknya.
"Haloo mas.. Haloo.. Haloo kamu masih disana kan?? " tanya Malika dengan nada khawatir
"I-iiiyaaaa" jawabku gugup
"Ya sudah aku tutup teleponnya,ya. Taksinya sudah sampai didepan kantor kamu"ucapnya seraya mengakhiri percakapan
Dengan perasaan gembira, aku pun berinisiatif untuk menyusul Malika di Lobi. Saat aku berjalan menuju lift, karyawan yang berpapasan denganku menawarkan bantuan namun aku tolak secara halus.
Sampailah aku di lobi, tapi tak kulihat Malika disekitar sana. Kujelajahi pandanganku kesana kemari sampai aku menangkap sosok wanita yang kucari. Ia baru saja turun dari taksi yang ditumpanginya dan hendak menyebrang. Lalu aku menghampirinya keluar gedung agar aku bisa menyambutnya. Kulihat ia melambaikan tangan kearahku dan tersenyum. Aku pun segera mendekatinya. Tiba-tiba mobil kencang datang menghampiriku. Aku sangat panik tak terkontrol. Namun dengan sigap seseorang mendorong kursi roda yang kukenakan. Dan BBRukkkkkk...
Malika tergeletak tak berdaya dengan kepala yang mengeluarkan banyak darah. Aku syok dengan apa yang terjadi di hadapanku. Semua orang lari berhamburan mendekat meminta tolong. Ku hampiri Malika kuletakkan kepalanya dipangkuanku.
"Malika.. malika bangun sayang. Buka mata kamu. Kamu harus kuat, jangan tinggalin aku. Malika bertahan ya sayang. Kamu pasti bisa"ucapku lirih sambil kuelus rambutnya, kukecup keningnya tak terbendung air mata menahan pedih yang kurasa saat ini
"Sayang jangan tinggalin aku,. Aku sayang sama kamu,jangan tinggalin aku. Malika.. Malika"
"Mmmassss, jaangggan sediiihhh. Akkuhuuujugggaa saaaay"
"Malika... Malika.. "
****
Sebulan sudah Malika meninggalkanku, tetapi aku bisa merasakan kehadiran Malika masih berada di dekatku. Aku masih tidak menyangka hal buruk itu harus menimpa keluargaku. Walaupun insiden kecelakaan ini disengaja oleh sepupuku sendiri,Ilham. Raka tetap menuntut keadilan dari pihak yang berwajib.
Sekarang Raka sedang berada di dalam kamar miliknya, ia sedang mengemasi sebagian barang-barang Malika yang masih layak dipakai ke Yayasan Panti Asuhan. Raka hanya menyisihkan barang yang menurutnya berharga yang akan dijadikan kenangan untuknya. Saat Raka sedang beberes ia tak sengaja menjatuhkan buku diary berwarna pink. . Mungkin ini milik Malika,gumamnya.
Raka tak menduga ternyata di zaman era digital begini masih ada orang menulis cataatan di diary, padahal itu adalah cara yang kuno menurutnya. Buku itu terlihat sangat usang, catatannya pun sangat banyak dan hampir semua full terisi. Sebelum Raka membaca isi diary satu persatu, ia menjatuhkan sebuah foto yang terselip diantara lembaran catatan.
Ternyata foto tersebut adalah foto pernikahan mereka, dibalik foto tertulis "I always love you". Satu kalimat yang membuat air mata Raka tiba-tiba menetes. Selama ini ternyata isterinya begitu tulus dan sangat mencintainya. Bahkan baru-baru ini Raka sadar akan perasaannya, itu pun ia belum sempat mengutarakan isi hatinya pada Malika. Raka betul-betul sangat menyesal akan perlakuannya selama ini.
"Kenapa kamu pergi begitu cepat, Malika. Tidak bisakah Tuhan memutar waktu untuk takdir kita yang belum usai"lirihnya pilu