Tautologi
Gaya bahasa pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya atau pengulangan gagasan, pernyataan, atau kata secara berlebihan dan tidak perlu.
Contoh:
Aku berjanji akan selalu di sampingmu dalam suka dan duka, dalam tawa dan tangis, dalam bahagia dan nestapa.
Penjelasan:
Pada kalimat di atas terdapat kalimat 'suka dan duka' memiliki makna yang sama dengan kalimat 'tawa dan tangis', 'bahagia dan nestapa'.
Contoh pada novel bucin:
Alkisah, ada sepasang kekasih yang sedang duduk berimpitan di semak belukar beralaskan jaket kulit sang pria setengah tampan. Keduanya tampak saling bertatapan dalam jarak lima centimeter.
"Sayang ..., aku ingin mendengar kamu bilang aku mencintaimu, katakan lagi sekali lagi," lirih pemuda setengah tampan penuh harap.
Sang gadis tersenyum lembut menanggapinya lalu berkata,
"Abang, aku sangat menyayangimu, bahkan aku sangat mencintaimu lebih dari yang kautahu. Sungguh!"
Kebahagiaan semu terukir dari wajah si pemuda setengah tampan setelah mendengar ungkapan sang pujaan hati. Ia semakin berani mendekatkan wajahnya sampai hidung keduanya melekat erat.
"Tahukah kamu, aku hanya ingin menemuimu, hanya sekadar berjumpa denganmu. Melihatmu, menatapmu, dan memandangimu dari dekat setiap harinya," ujarnya lalu memiringkan wajah beriringan dengan tertutupnya dua pasang mata kedua sejoli dalam memadu kasih di tempat yang tak semestinya.
Sungguh nahas, romantisme kedua insan yang sedang memadu kasih harus terhenti tatkala salah seorang dari tiga pria berseragam yang sedari tadi mengendap di semak-semak memberikan wejangan.
"Kahade, Jang. Gaaancet!" celetuk seorang pria berperut buncit mengingatkan.