Tak terbayangkan sama sekali dalam benak Shita, gadis berusia dua puluh empat tahun asal kota metropolitan Jakarta itu, jika keputusannya bersama ketiga temannya untuk mengisi liburan akhir tahun dengan mendaki ke gunung Slamet, akan membawanya mengalami kejadian diluar nalar selama dalam perjalanan pendakian ke puncak tertinggi di Jawa Tengah itu.
Mitos yang mengatakan bahwa rute yang mereka pilih untuk mencapai puncak gunung Slamet dengan melewati jalur Bambangan adalah rute yang dipenuhi aura mistis itu tak menciutkan nyali mereka.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih delapan jam dari Jakarta, Shita dan ketiga teman masa kuliahnya tersebut memutuskan untuk beristirahat di basecamp yang ada untuk melepas lelah dan mengembalikan stamina untuk melakukan tracking esok paginya.
"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵𝘬𝘢𝘯... 𝘗𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩..." Sebuah bisikan halus, tiba-tiba terdengar di telinga Shita.
Shita langsung mengedarkan pandangannya ke area kamar yang menjadi tempat istirahatnya. Namun dia tak menjumpai siapapun disekelilingnya. Karena Shita adalah satu-satunya yang perempuan dalam pertemanan empat sekawan itu, jadi Shita memilih satu kamar dia sendiri yang menempati. Sedangkan ketiga sahabatnya yakni Angga, Ijal, dan Edo menempati kamar yang lain.
Seketika bulu kuduk Shita meremang, mendengar bisikan tanpa wujud tersebut. Namun, sedetik kemudian Shita lebih memilih tak acuh. Bukan baru satu kali ini dia naik gunung, bahkan beberapa gunung di pulau Jawa yang terkenal angker pernah ia dan beberapa teman sesama pecinta tracking taklukan.
*********
"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵𝘬𝘢𝘯... 𝘗𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩... " kembali, suara bisikan halus membuat Shita yang tengah menunggu Angga sang ketua tim melakukan registrasi pendakian langsung terhenyak.
Sungguh, bisikan itu membuat Shita sedikit merinding dan terganggu. Haruskah Shita menuruti bisikan halus tersebut untuk tak melanjutkan pendakian yang sudah ia dan teman-temannya rencanakan sejak lama? Tidak. Shita tak akan terpengaruh hanya karena sebuah bisikan tak jelas.
"Ngapa lu bengong Ta? Awas kesambet lu! Kita kan mau naik gunung." Ijal menepuk pundak Shita yang nampak termenung sendiri.
"Lu juga jangan sembarangan ngomong dong Jal. Awas kalau sampai terdengar makhluk astral penghuni tempat ini. " Edo yang berada di dekat Ijal tak setuju dengan tindakan sang teman.
"Betul Mas. Walaupun belum mulai mendaki, kita harus tetap menjaga ucapan kita. Tempat ini kan juga sudah masuk dalam bagian gunung yang akan kita daki. Sebagai pendatang, kita harus menjaga sopan santun kita." salah seorang calon pendaki lain yang ada didekat mereka menasihati.
Shita, Ijal, dan Edo mengangguk sopan mendengar penuturan tersebut. Tak lama, setelah Angga sang leader menyelesaikan proses administrasi, mereka segera memulai tracking yang sudah lama mereka rencanakan itu.
Hal pertama yang mereka jumpai setelah melewati gerbang pendakian adalah hamparan kebun sayur yang luas milik warga sekitar. Hijaunya sayuran yang tumbuh subur di kebun itu cukup bisa memanjakan pandangan para pendaki yang melewati area itu.
Jalanan yang mendaki dan sedikit licin mendominasi perjalanan mereka. Dari Pos 1 hingga Pos 3, candaan terkadang masih menemani. Hingga akhirnya di Pos 3,mereka memutuskan untuk beristirahat dan memanfaatkan sumber air yang terdapat tak jauh dari warung milik warga yang menjual makanan dan beberapa kebutuhan pendaki.
"Inget guys. Di Pos 4 nanti kita tidak boleh berhenti barang sejenak. Apapun yang terjadi nantinya, kita tetap harus terus berjalan hingga melewati Pos tersebut." Angga sang ketua tim menasihati, yang ditanggapi anggukan setuju teman-temannya.
"Ta, lu denger kagak? " tanya Angga sembari menyenggol bahu Shita yang nampak tak fokus.
Shita yang tengah termenung karena bisikan halus yang terus saja mengganggunya sedari basecamp hingga tempat mereka beristirahat saat ini pun sedikit terkejut.
"Eh..., iya Ga. Gue udah ngerti, kan tadi udah dikasih tahu ama penjaga basecamp. " jawab Shita nyengir.
Pos 4 yang lebih dikenal dengan nama Pos Samarantu adalah Pos yang dikabarkan bukanlah Pos biasa. Penduduk sekitar meyakini jikalau tempat tersebut adalah adalah pintu gerbang menuju alam ghaib.
Disarankan untuk para pendaki agar tidak beristirahat atau bahkan mendirikan tenda ditempat tersebut. Dan diharapkan agar selalu menjaga segala tindak tanduknya selama melakukan pendakian.
Setelah dirasa cukup melepas lelah dan mengisi kembali energi yang sudah sedikit berkurang, empat sekawan itu pun melakukan perjalanan dengan berbaur dengan beberapa tim pendaki lain yang juga hendak melanjutkan pendakian.
Dua buah pohon besar yang berdiri kokoh mengapit jalan, tampak seperti pintu gerbang yang menyambut mereka sesampainya di Pos 4.
"Guys, kaki gue rasanya pegal nih. Capek banget. Kita bisa istirahat sebentar gak sih? " tanya Shita ketika entah kenapa tiba-tiba dirinya merasa lelah.
"Sssttt... jaga ucapan lu, Ta! " bisik Angga.
Suasana yang tadinya cukup ramai yang didominasi obrolan beberapa pendaki, tiba-tiba menjadi sepi. Semua nampak terdiam. Bahkan angin sepoi dan suara beberapa serangga dan hewan lain yang tadi menemani perjalanan mereka seketika mendadak hilang. Sunyi.
Suara bisikan halus yang tadinya selalu muncul di telinga Shita pun tak terdengar lagi. Suasana benar-benar sunyi, membuat bulu kuduk Shita seketika berdiri.
Shita tertegun, ketika pandangan matanya menangkap sosok burung gagak hitam yang bertengger disalah satu dahan pohon besar tampak mengunci pandangan kearahnya.
"Lu kenapa Ta? Kok pucet gitu? Lu hipo yah? " tanya Angga khawatir ketika mendapati wajah Shita yang memucat dengan badan yang dingin ketika Angga menyentuh bahunya.
"Angga, kita lanjutin jalan aja. Gue gak apa-apa. " sahut Shita.
"Tapi badan lu gak fit gini. Yakin mau lanjut? Atau kita turun aja? " tanya Angga tak yakin.
"Kita lanjut aja. Kasihan Ijal ama Edo. Cepat kita susul mereka." jawab Sita yakin ketika melihat kedua temannya sudah berjalan duluan di depan dengan pendaki dari tim lain.
Langkah Shita terasa berat. Gerimis yang mengguyur area itu walaupun tidak deras, namun cukup membuat jalur jalan yang mereka lalui menjadi licin. Udara pun terasa menjadi sangat dingin. Membuat perjalanan yang dilalui Angga dan Shita jauh dari kata mudah.
Burung gagak hitam yang Shita lihat pun ternyata terus mengikuti langkah Shita dan Angga, membuat Shita makin merinding.
Dengan bersusah payah, Shita dan Angga akhirnya bisa melanjutkan perjalanan hingga Pos 5. Nampak Ijal dan Edo tengah menunggu mereka.
"Kalian berdua kok lama banget jalannya? " tanya Ijal sesampainya Shita dan Angga didepannya.
"Kalian berdua yang jalannya kecepetan. Nih tadi Shita seperti kena hipotermia." jawab Angga sembari melepas lelah dengan duduk di sebuah akar pohon yang menjulur keluar tanah.
Langkah Shita tiba-tiba terasa ringan kembali. Ketika Shita menoleh kebelakang, burung gagak yang sedari tadi terus mengikutinya pun sudah tak nampak.
Perasaan Shita lega. Mereka berempat pun memutuskan mendirikan tenda untuk mereka beristirahat.
Hingga mereka melakukan summit kepuncak gunung Slamet, bisa mereka lalui dengan selamat. Meskipun jalanan yang cukup terjal dan tak mudah untuk mereka taklukkan, tetapi perjalanan yang mereka lakukan terasa cukup menyenangkan. Apalagi ketika mereka berhasil mencapai puncak tertinggi di Jawa Tengah itu, segala rasa lelah mereka seolah lunas terbayarkan dengan suguhan pemandangan yang cukup menakjubkan.
Kumpulan bunga Edelweis yang tengah mekar bukanlah pemandangan biasa, hingga berhasil membuat pendaki yang saat itu berhasil mencapai puncak gunung dibuat terpesona.
Puncak gunung Sindoro, gunung Sumbing, dan gunung Prau yang letaknya cukup berjauhan dengan gunung Slamet nampak muncul ditengah hamparan samudera awan menambah ketakjuban mereka.
**************************
"Sumpah, gue gak percaya!" ujar Edo ketika mendengar cerita dari Shita perihal hal diluar nalar yang dialaminya ketika mereka mendaki di gunung Slamet.
Saat ini Shita, Angga, Edo, dan Ijal tengah nongkrong dikafe saat akhir pekan.
"Gue juga gak percaya kalau gak ngalamin sendiri, pe ak! " sungut Shita.
"Lah, waktu di pos Samarantu kan gue ama Edo ngajak terus jalan, tapi lu ama Angga malah asyik ngobrol berdua. " ujar Ijal.
"Asyik ngobrol apaan? Saat itu gak tau kenapa, perasaan gue bener-bener gak enak. Kaki gue berasa berat buat ngelanjutin perjalanan. Eh, lu berdua malah ngacir duluan,kagak peduli dengan keadaan gue. Untung aja gue bareng ama Angga. Kalau enggak, mungkin gagak hitam itu bakal bikin gue tersesat." ujar Shita sedikit merinding.
"Mungkin gak sih, saat itu gue ama Shita lagi di alam lain? Lu tau sendiri kan mitos pos Samarantu yang katanya adalah portal ke alam ghaib? " heran Angga.
"Bisa jadi. Soalnya saat itu gue ama Edo udah ngajak kalian terus jalan, tapi kalian malah kelihatan asyik ngobrol, sama sekali gak peduli dengan kita-kita. Bahkan ajakan beberapa pendaki lain juga gak kalian hiraukan." Ijal pun dibuat heran dengan pengalaman mendaki mereka beberapa waktu yang lalu itu.
"Jangan-jangan bisikan yang gue dengar saat itu benar-benar peringatan agar gue gak lanjutin perjalanan. " ujar Shita.
"Syukur deh, biarpun lu nekat buat terus jalan, tapi kita semua masih diberi keselamatan. " Angga berucap penuh syukur yang diangguki teman yang lain.
"Udah ah. Gue mau cabut duluan, ayank gue udah nunggu nih di depan. " Edo segera meraih kunci mobilnya sesaat setelah membaca pesan singkat di HP nya.
"Astagaaa... gue lupa. Anya minta dijemput di salon langganan dia. " seru Ijal tak jauh beda dengan Edo.
"Isshhh... Apaan sih lu berdua? Gak asyik tau gak?! Pacar mulu yang kalian prioritasin?! " kesal Shita.
"Makanya, kalian berdua cari pacar juga donk!! Hahaha... " seru Ijal sembari berlalu meninggalkan meja tempat mereka nongkrong.
Namun, tak lama tiba-tiba Ijal kembali menghampiri Angga dan Shita.
"Eh..., mending kalian berdua pacaran aja deh. Kalian berdua kan sama. " ujar Ijal nyengir.
"Sama apanya? " tanya Shita tak mengerti.
"Sama-sama gak laku-laku. Hahaha.... " seru Ijal sembari berlari menjauh, sebelum terkena guyuran air dari gelas Shita.
"Eh..., kampret!! Sialan lu yah?! " kesal Shita.
Namun tiba-tiba suasana antara Shita dan Angga menjadi hening. Shita yang mendapati Angga terus menatapnya sembari tersenyum menjadi sedikit salah tingkah.
"Ngg.... Lu ngapain sih Ga? Gak lucu tau! "
"Lu cantik Ta... "
"Dih... Lu pasti ketularan sengkleknya Ijal ama Edo."
"Kita jadian aja yuk.... "
_TAMAT_