Menikah dengan orang yang kita cinta dan mencintai kita adalah suatu anugrah terbesar dalam sebuah rumah tangga. Cinta, kejujuran dan kepercayaan adalah fondasi awal sebuah rumah tangga yang bahagia. Lalu bagaimana jika kedua insan menikah bukan karna cinta melainkan sebuah keterpaksaan karena tekanan dari pihak lain? Apakah diantara keduanya bisa bahagia atau justru saling menyiksa?
Aida dan Julian adalah salah satu korban keegoisan orang tua. Mereka harus menikah untuk menyelamatkan keuangan perusahaan yang berada dalam keadaan kritis. Lebih tepatnya perusahaan ayah Aida. Awalnya Aida menolak perjodohan ini. Namun karena ingin berbakti kepada orang tua dia pun mau di nikahkan dengan Julian. Lelaki mapan yang berprofesi sebagai CEO di perusahaan milik ayahnya. Dengan imbalan investasi besar untuk menyokong keuangan perusahaan. Keadaan itu juga yang membuat Julian memandang sebelah mata Aida. Gadis cantik berumur 19 tahun yang baru lulus SMA. Umur Julian yang lebih tua 7 tahun dari Aida tak membuatnya menjadi sosok yang melindungi tapi justru selalu menindas Aida. Memperlakukannya layaknya barang dagangan yang begitu mudahnya di perjual belikan.
Malam pertama yang begitu di impikan oleh mayoritas pengantin baru nyatanya tak membuat Aida dan Julian termasuk di dalamnya. Mereka terjebak dalam pertengkaran dengan mempertahankan ego masing masing.
"Mas Yan.. Bisa tolong bukain resliting gaunku gak. Susah nih" pinta Aida yang begitu kesulitan membuka gaun pengantin yang mengembang itu. Aida berusaha bersikap biasa saja karena sejauh ini Julian tak pernah bersikap kasar kepadanya dihadapan kedua orang tua mereka. Ia tak berharap banyak pada Julian. Hanya ingin berhubungan baik layaknya seorang teman yang saling menguntungkan. Tapi tanggapan Julian sungguh diluar ekspektasi. Ia menghina Aida dengan kata kata kasar yang menyayat hati.
"Loe mau goda gue? Sorry ya gue gak nafsu sama tubuh perempuan murahan kayak elo" Jawab Julian ketus.
"Apa elo bilang? Gue murahan? Maaf ya. Gue gak serendah itu" jawab Aida tak terima
"Terus perempuan yang di jual buat nyelametin perusahaan yang mau bangrut itu apa namanya kalau bukan murahan. Elo itu sama hinanya dengan pelacur yang menjajakan tubuhnya di pinggir jalan"
Sontak tangan Aida melayangkan sebuah tamparan di pipi Julian.
Yang di tampar bukannya kesakitan. Justru tertawa terbahak.
"Berani ya elo nampar gue. Udah lupa sama jasa ayah gue yang nyelametin perusahaan elo. Kalau gak ada gue sama ayah, pasti elo udah jadi gelandangan sekarang."
Aida tak bisa menjawab apapun. Ia hanya bisa menangis sesenggukan meratapi nasip hidupnya.
Memang benar kata Julian. Dia berjasa besar dalam hidupnya. Tapi apakah layak jika ia menyamakan istri yang baru di nikahinya tadi pagi dengan seorang pelacur? Sungguh Aida tak terima dengan penghinaan itu. Ia berjanji akan meluluhkan hati Julian walaupun harga dirinya sebagai taruhannya.
"Gue mau keluar. Kalau elo gak bisa buka gaun minta tolong WO buat bukain. Gue gak sudi." Julian keluar membanting pintu kamar membuat tangis Aida semakin keras. Untung kamar tersebut kedap suara sehingga tak membuat orang lain mendengar pertengkaran mereka.
Malam semakin larut. Aida masih menangis di kamar hotel yang seharusnya jadi saksi peraduan mereka berdua. Tubuhnya yang lelah nyatanya tak membuat kantuk itu datang. Ia tetap terjaga hingga dini hari saat Julian kembali dengan keadaan mabuk.
"Ngapain loe nangis disitu?" Tanya Julian sambil menunjuk ke arah Aida yang menangis di lantai dengan lulut di tekuk.
"Kenapa masih pakai gaun itu?"
"Gak bisa buka?"
"Atau sengaja nunggu gue buat bukain semua. Obsesi elo sebesar itu ya sama gue. Ayo gue ladenin." pertanyaan itu lolos begitu saja tanpa meminta jawaban dari Aida. Aida masih menangis dan tak berniat menjawab semua cecaran Julian. Membuat Julian yang setengah sadar terpancing emosi. Ia segera mengangkat Aida ke ranjang yang diatasnya penuh kelopak bunga mawar itu. Membaringkanya, lalu dengan membabi buta menanggalkan semua kain yang menempel di tubuh Aida.
"Apa yang mau loe lakuin? Tolong jangan siksa aku. Ampun.. Aku bakal nglakuin apa aja permintaanmu. Asal jangan kau renggut kesucianku. Biarlah ini untuk orang yang tulus mencintaiku" Rengek Aida yang berusaha melepaskan diri dari kungkungan Julian. Namun tenaganya kalah untuk melawan Julian yang sedang mabuk dan di penuhi nafsu itu.
Aida tak tahu apa yang terjadi di luar sana. Julian yang tadinya menolak dan mengatakan tak sudi dengan dirinya justru sekarang menggagahi tubuhnya dengan ganas.
"Ini kan yang elo mau? Memberikan tubuh ini sebagai imbalan mahar 100 juta ku." Kata Julian yang masih sibuk melancarkan aksiya. Aida hanya bisa menangis menerima perlakuan kasar Julian.
Sakit di tubuh Aida tak ada apa apanya jika dibandingkan dengan hatinya yang remuk redam. Ia di hina, di rendahkan bahkan dilecehkan oleh orang yang seharusnya mengayomi dirinya. Kesucian dan kehormatan yang ia jaga nyatanya direnggut paksa oleh suaminya dalam keadaan mabuk.
Berubungan suami istri bagi pasangan yang sudah menikah memang halal. Tapi jika ia melakukannya tanpa cinta yang ada bukan lagi kenikmatan yang menjanjikan pahala. Justru kesakitan yang terus mengalirkan air mata. Menggoreskan sebuah luka yang entah kapan dan dengan apa menyembuhkannya.