Krrkkk..krrkkk..
Terdengar suara seperti kuku mencabik kayu pintu kamar.
Grey menutup matanya.
Namun bayangan itu muncul membias di dalam pandangan matanya yang gelap.
"Ahh...bisakah kalian tidak menggangguku?
Aku hanya ingin tidur sekarang!"
Grey seorang anak lelaki berumur 6 tahun.
Entah merupakan anugerah atau kutukan dapat melihat apa yang sebagian besar orang tidak dapat lihat.
Bercerita ke Ibu pun percuma.
Paling ibunya hanya akan berkata.
'Itu tidak ada.
Cuma bayangan kamu saja...
Abaikan saja mereka..'
"Grey...Grey.."
Ibunda Grey menjawil pelan bahu Grey.
Grey membuka matanya.
"Apa ,Bu?"
Ibunda Grey tersenyum lega.
"Ibu kira kamu sudah tidur.
Apa kamu mau masih lapar atau mau makan cemilan?"
Grey menggeleng enggan.
"Aku udah kenyang,Bu."
Ibunda Grey masih melirik beberapa kali Grey yang masih di tempat tidur berbaring enggan bangun.
"Grey..Ayo kita masak mie yuk.
Biar kamu kenyang.
Kayanya kamu udah ngantuk tapi ga bisa tidur gara-gara masih laper."
Grey bangun dari rebahnya.
"Mie?Ya deh..Ayo ,Bu.."
(Ehm ehm..)
Grey menoleh ke belakangnya.
"Kenapa ,Grey?"
Ibunda Grey di sela pintu kamar berdiri menunggu.
"Enggak ,Bu..ayo ...aku mau mie rebus ya.."
jawab Grey riang.
Dia tidak mau mengatakan bahwa di belakangnya ada sesosok pocong berdiri.
"Aku tidak mau main!" suara Grey pelan ke belakangnya.
Lalu Grey meninggalkan kamar.
Ibunda Grey melihat jam dinding.
23.11
Atau bisa disebut 11.11 malam.
Beberapa hari terakhir setiap jam ini.
Grey selalu berbicara tanpa ada teman bicara dihadapannya.
Setelah mie siap.
Grey langsung melahapnya.
Grey sudah menghabiskan mie nya.
"Ah kenyangnya!Terima kasih ,Bu!"
Grey mengelus perutnya.
Masih membayangkan enaknya mie yang baru saja ludes.
"Kamu sudah kenyang?
Ya sudah.Sekarang kamu ke kamar , tidurlah!"
Grey tiba-tiba membuka matanya dan memandang sudut ruangan dengan tajam.
Sesosok bayangan hitam besar hingga plafon melambaikan tangannya yang berbulu lebat.
(ayo main...Grey..)
Diam beberapa detik lalu bicara jelas.
"Aku tidak mau main!"
Ibunda Grey melihat sudut ruangan yang menjadi tujuan tatapan Grey.
"A...ada apa Grey?"
Karena Ibunda Grey tidak melihat apapun.
Grey bangun dari duduknya.
Memeluk pinggang Ibunya.
"Bu..Aku ga mau main...Aku mau tidur..."
Ibunda Grey mengusap kepala Grey lembut.
"Ya udah.Ayo kita ke kamar."
Mereka berdua menuju kamar.
"Ibu bakal temani kamu sampai kamu tidur.
Ayo tidurlah .."
"Ibu tidur disini?"
tanya Grey polos.
"Ga ,Grey.Ibu bakal ke kamar Ibu nanti."
Pandangan Grey kembali teralih kini ke belakang Ibunya.
Matanya menyorot galak pintu kamar.
Sosok pocong yang tadi dengan wajah rusak dan membusuk.
Menyeringai mengerikan bicara dengan suara rendah.
(Ayo Grey...kita main.Teman teman kamu juga suka bermain main begitu heboh melihatku.
Kita main bersama betulan saja.
Pasti asik!)
Tak lama kemudian Grey menatap Ibunya memohon.
"Bu...Ada itu.. disitu.."
Grey menunjuk pintu kamarnya.
Ibunda Grey menoleh ke belakangnya.
Lalu memeluk kepala Grey.
"Ayo Grey kita tidur aja ya..."
Merebahkan tubuh Grey.
Grey pandangannya kini ke atasnya.
Ada jendela yang tertutup tirai di sisi tempat tidurnya.
Awalnya tangan terjulur mencari cari.
Hingga makin lama makin memasuki kamarnya menembus jendela.
Terbang menatap Grey dari atasnya menghadap matanya langsung.
Sosoknya seperti seorang wanita dewasa dengan baju putih dan rambut panjang.
(Grey....Kamu sering dengar cerita tentang aku kan?
Ya Kunti di sekitar sini.
Kamu juga beberapa kali melihatku.
Kalau kamu takut dengan yang lain.
Kami tidak begitu takut denganku kan?
Ayo kita main sama sama..)
Tangan wanita itu mengelus tangan Grey.
Rambut panjangnya yang tergerai dari atas.
Menyentuh pipi Grey.
Suaranya menggema di telinga Grey.
Grey tersentak kaget.
Rasanya tangannya seperti tertarik.
Ibunda Grey mengerti apa yang terjadi.
Dia memejamkan mata berdoa memohon.
".Ku mohon..."
Grey masih bergetar namun merangkul tangan Ibunya.
"Bu...aku ga apa apa..."
Grey menyentak tangannya melepaskan genggaman Kunti di atasnya.
Grey memejamkan mata berdoa.
Hembusan nafas beserta bau anyir berhembus di sekitar telinga dan hidungnya.
Grey membuka matanya berkata tegas.
"Aku gak mau main!
Kalian pergilah!"
"Grey.." Ibunda Grey mencoba memanggil setelah beberapa saat Grey hanya diam matanya berkilat sekeliling kamar.
Grey mengerjapkan matanya beberapa kali.
Menatap Ibunya menghela nafas panjang.
Ibunda Grey mengelus dahi Grey.
"Sekarang tidurlah."
Grey mengangguk mengucek matanya.
Memejamkan matanya.
Bayangan bayangan di pelupuk matanya bahkan saat terpejam ini masih membayangi.
Mereka melambaikan tangannya semangat mengajak bermain.
"Sshhh...jangan berisik!
Kalian kalau mau main.
Main aja sendiri.
Aku mau tidur.
Besok sekolah!"
Gumam Grey.
"Sudahlah Grey.Abaikan saja mereka.."
suara Ibunya sambil menyibak rambut di dahi Grey.
"Iya si..biasanya aku mengobrol dengan mereka.
Tapi tadi mereka datang dengan wajah seram seperti itu...aku tidak mau.
Dan kalau main bersama mereka.
Katanya..aku tidak boleh pulang.
Aku kan ga mau!
Aku mau sama Ibu.
Aku mau pulang!"
Ibunda Grey tersenyum kecil.
"Ya sudah.Jangan mau diajak main sama mereka.
Kamu sama Ibu aja disini."
Ibunda Grey menggeleng bergidik mendengar cerita anaknya.
Mereka belum lama pindah di rumah ini.
Rumah ini milik Paman Ayahnya Grey.
Namun sejak pindah sebulan lalu.
Grey berkali kali berbicara tentang 'mereka'.
Ibunda Grey hanya bilang itu tidak nyata.
Hanya khayalan.
Tapi ucapan Grey tetap sama.
"Tenang Bu..
Aku ga bakal mau main sama mereka."
gumam Grey pelan.
Grey mengerti resah ibunya.
Grey juga tidak mau ikut main dengan mereka.
Karena mereka selalu bilang.
Kalau main sama kami.
Jangan pulang.
Grey takut dimarahi Ayah.
Jadi Grey selalu mengabaikan mereka.
"Hey Genderuwo,Pocong dan Kuntilanak!
Aku ga akan mau main!
Ga mau ikut!"
Suara Grey keras dalam hatinya.
Terlihat di dalam pandangan matanya sosok sosok itu mulai menghilang.
(((aku tidak akan pernah main dengan mereka)))
-------------Selesai--------