Seekor elang hitam terbang rendah di atas kepala, kala itu langit tengah berlatarkan awan kelabu, sehembusan angin sesekali bertiup menampar nyiur daun kelapa yang berjejer tegak berdiri selemparan batu jauhnya dari sesosok tubuh yang rubuh menelentang di pepasir pantai, matanya membuka lebar, nanar menatap ke angkasa.
Sebentar kemudian buru-buru ia bangkit dan buru-buru pula berlari menjauhi tepian. Dia bergerak berpindah ke tempat yang aman--manakala sekilatan halilintar yang panjangnya tak terhitung dengan jengkal jemari datang dan membelah dan mengoyak-ngoyak langit yang tengah berwarna kelabu, dan itu tak cukup sekali-- berawal dari tengah lautan sana, halilintar itu sepertinya tak puas berada di tengah lautan saja, ia pun bergerak mendekat ke tepian-- itulah yang membuat ia berlari menjauh. "Gila! Ini benar-benar gila...!Luar biasa!Luar biasa...!" Serunya tak habis-habis seraya mendecak-decakan lidah dan tak lupa kepalanya bergeleng-geleng pula. Tampak jelas kalau ia sedang menganggumi peristiwa yang baru saja terjadi.
Dia, seorang wanita, berusia matang, berkulit putih, tinggi badan di atas rata-rata, memiliki sepasang bola mata berwarna coklat muda, rambut lurus tergerai sebahu, bibirnya kecil dan berwarna merah delima, ia berparas rupawan; jika dilihat dari secara keseluruhan penampilan fisik sepertinya dia ini berprofesi sebagai sebagai seorang model kalau bukan semacam selebritis begitulah.
Tapi kenapa juga ia bisa berada di tempat jauh terpencil dan terasing seperti ini dan seorang diri pula, emangnya dia mau apa!? Jangan bilang kalau ia sedang liburan!?
Dia berjalan masuk ke dalam rumah kotak. Rumah kotak yang berukuran satu kali dua, yang dia buat dengan akal dan pikirannya, dengan menggunakan lembar demi lembar pelepah daun kelapa yang banyak berserakan di tepi pantai. "Untung dulu gue pernah ikut Pramuka coba kalau tidak," ucapnya mengaggumi buah karya sendiri. Di luar, kilat halilintar telah bersekutu dengan dentum gemuruh, kencang dan bersahut-sahutan, tak berapa lama kemudian hujan berintensitas tinggi mengguyur pula. Sepertinya alam hendak menguji buah karyanya.
Dia terlihat kuatir juga-- menepi ke sudut yang aman, di situ terlihat kepalanya tengah jatuh tertunduk, kedua tangannya terkepal kuat dan bibirnya tak henti-henti berkomat-kamit-- ia sedang menyerahkan semua rasa kuatirnya ke sesuatu yang melebihi dirinya, setidaknya ia mengakui ada yang melebihi dirinya, yang jauh-jauh hari sebelumnya...
"Kalau pun gue harus mempercayai sesuatu, dan itu pun kalau loe-loe pada nuntun gue dan maksa gue harus mempercayai sesuatu, ia gue hanya bisa dan mau percaya kepada sesuatu yang bisa gue lihat dengan mata kepala gue sendiri, sesuatu yang bisa gue sentuh dan raba dengan tangan gue sendiri, lebih dari itu nggak, sorry! Iya, contohnya seperti tas Gucci ini! Hantu aja gue gak percaya apalagi yang kayak begituan...!" Kekehnya sambil mengusap-usap tas bermerk kesayangannya.
Hujan berhenti perlahan-lahan dan sama perlahannya mata coklat muda itu membuka pula. Tak berapa lama telah membuka lebar. "Gue... Gue... Jangan bilang kalau..." Dia buru-buru berlari keluar. Di luar, kepalanya ia tengadahkan bergegas bersama dengan kedua tangan yang tak lupa juga ia tangkupkan ke atas, satu dua bulir-bulir air menyerbu ke wajahnya, ia girang bukan kepalang, hujan pupus setelahnya--bertambah girang tanpa sadar ia pun meloncat-loncat serta.
"Yang begini aja, doa gue didengar, apalagi kalau..." Dia manggut-manggut paham, sebersit ide spertinya menancap di konaknya, ide briliankah ini!? "Iya, gue akan berdoa minta pertolongan. Benar, gue berdoa meminta pertolongan." Dia kembali berlari masuk ke dalam rumah kotak, dengan terburu-buru.
***
Ini sudah hari ketiga, sepertinya pertolongan gak bakal... "Gak! Gak! Gue yakin kok, gue sangat-sangat yakin, seribu persen malah, kalau pertolongan gue itu masih dalam perjalanan! Iya, gue yakin, seyakin-yakinnya, pertolongan gue masih dalam perjalanan! Gue gak bakal mati disini! Gak bakalan! Gue harus berpikir positif. Gue mesti berpikir positif...!" Ucapnya seraya mengunyah buah kelapa yang boleh dipungutnya dari tepi pantai.
Ngomong-ngomong gimana ceritanya ini makhluk bisa tercecer sampai ke sini!? Dia juga gak tahu pasti, pokoknya, saat kelopak matanya membuka, tahu-tahunya, dia sudah berada di tengah lautan yang maha luas kayak begitu. Sendiri, tergeletak di dalam sekoci yang ukurannya gak lebih besar dari ukuran tubuhnya. Dia hanya bisa berpasrah diri, meski diawal-awal enggan. Perlahan-lahan akhirnya arus laut membawanya terdampar sampai ke pulau ini.
"Sis... Der... Met... Gue yakin kok kalau semua ini kerjaan loe-loe pada! Loe-loe orang jeulos kan dengan semua kesuksesan yang telah gue didapatkan! Asal loe tahu aja, ya, semua itu gue dapatin dengan kerja keras! Semata-mata bukan karena muka gue! Tapi otak gue, itu yang paling penting! Tapi biar gimana juga gue maafin deh loe-loe pada! Gue maafin, dari dalam lubuk hati gue, gue tulus maafin loe-loe orang!" Ucapnya seraya memandang ke lautan yang maha luas. "Gue Ara! Maafin loe-loe orang!" Dia berteriak kencang.
***
Beberapa hari sebelumnya. Dia sebuah kamar apartemen di daerah bilangan Kuningan, Jakarta. Seorang dara tengah menerima sebuah panggilan telepon dari seorang anak dara lainnya. Tanpa terasa waktu telah jauh berlalu. Ternyata telah dua setengah jam kurang lebih mereka berbicara. Diakhir pembicaraan si penelepon kembali memastikan kesediaan si anak dara. Si penerima telepon tampak ragu diawal namun berselang kemudian ia pun akhirnya manut juga.
"Gitu dong, Ra. Yeay, kita akhirnya liburan ke Labuan Bajo. Gue udah lama menunggu kesempatan ini. Setelah sekian lama... Terimakasih ya Ra loe udah mau balikan lagi sama kita. Gue yakin ini akan jadi reuni terbaik buat kita..."
"Gue juga senang kok..."
"Iya udah kalo gitu sampe ketemuan di Bandara..."
Sambungan telepon pun diakhiri. Si anak dara sempat melirik ke jam yang ada di dinding. Si anak dara terkaget, mesem-mesem sendiri, buru-buru membuka buku jurnal yang tergeletak di ranjang, menuliskan beberapa kalimat di halaman yang kosong.
***