*CRISIS: THE UNKNOWN FUTURE*
#
Desas-desus menggemparkan dunia.
Logika dipaksa untuk bekerja diluar kemampuannya. Jika saja otak yang kita miliki sekarang ini adalah ciptaan manusia. Bhummm, tewas sudah kita dengan otak yang memburai keluar dari kepala.
Hari itu, tepat disebuah laboratorium ternama di dunia. Layar-layar monitor transparan terus bergerak, nominal angka-angka tertera, kubik-kubik sistem terus berjalan, belalai mesin yang terhubung dengan telur-telur reptil dalam inkubator kembali menunjukkan detak kehidupan. Mereka berhasil, tapi duniapun juga akan ikut berakhir.
***
Laboratorium Observasi Genetik, AS.
29 December 2120, 00:17:52:31.67 AM.
“Gill!”. Seorang professor muda memasuki hall utama laboratorium dengan tergesa-gesa.
Temannya yang dipanggil berbalik cepat.”Ada apa, Derb?”
“Ruang inkubasi X09, cacat teknis tingkat satu!” “XO9, Mutan T-REX?”. Gill memastikan.
Derbara mengangguk mantap, seketika raut wajah Gill pucat. Ini bukan masalah sepele, mutan T- REX itu akan merusak segalanya. Gill berbalik pada layar transparan di depannya. Fokus mengetikkan sesuatu. Layar bergeser memperlihatkan keadaan ruangan inkubasi telur-telur mutan.
Celaka!!.
Mata kedua professor itu menatap tak percaya pada layar proyektor, keduanya mematung. Gill berbalik menatap Derbara.
“Alarm darurat!!!”. Gill berseru panik.
Derbara bergegas pergi. Dari segala penjuru, terdengar dengung pekak alarm darurat. Semuanya terdiam di tempat, mereka tidak boleh gegabah. Salah bergerak sedikit, akan mengancam nyawa mereka, ada ratusan bahkan jutaan cairan kimia di dalam ruangan.
Salah-salah mereka memecahkan satu tabung kimia akan berdampak serius pada nyawa mereka semua.
Sementara itu, Gill tentu tak tinggal diam, dia kembali sibuk dengan layar proyeksinya, mengirim pesan kode darurat pada seseorang yang tahu pasti seluk beluk masalah ini. Whusss.. sepersekian detik kemudian, pesan itu sampai pada seseorang disana. Bad news travel fast. Nyawa dunia sedang di pertaruhkan disini.
***
Langkadea Island, The Republic of Indonesia Millenium era. 2050.
Seiring berjalannya waktu, Indonesia telah menjadi sesuatu yang baru dimata dunia. Jika di masa lampau, negara ini selalu terpuruk, terasing dari globalisasi teknologi modernisasi dunia.
Di abad ke-21 ini Indonesia telah menampakkan wajah aslinya. Teknologi berkembang pesat. Arsitektur kota telah dipoles sedemikian rupa sehingga kata „Negara berkembang‟ sudah menjadi dongeng belaka.
Dalam segi keilmuan, sudah tak terhitung berapa banyak Professor muda yang berhasil mencatat keajaiban dunia dengan segudang karya-karya mereka. Salh satunya adalah Aditya Mahesa. Anak bangsa yang membawa gemilang bagi Indonesia, dengan IQ diatas rata-rata. Seorang Ilmuan muda yang berhasil merekayasa gen dan memutasinya menjadi seekor makhluk baru yang dapat di kendalikan oleh manusia. Hydraplantaria.
“Professor ada pesan kode 3.1 dari Amerika”. Rekan kerjanya bergegas memberikan sebuah microchip pada Adit.
Aditya masih bergeming, „kode 3.1, Amerika?!‟.
“Ah!!! Darurat!”. Adit tersentak, sesegera mungkin dia masukkan microchips itu pada layar proyeksi masa depannya. Layar di depannya berdengung, partikel-partikel kubik bermunculan, berputar, berusaha mencari akses gambar masa depan, satu per satu gambar-gambar itu mulai membentuk sebuah kejelasan. Aditya meletakkan telapak tangannya diatas scanner untuk langsung terhubung dengan portal lintas benua. Dan...
Whusss.. “Gill!!”.
Tak butuh waktu lama Adit sudah berada di hall utama laboratorium, persis saat Gill, sudah putus asa, kedatangan Adit adalah angin segar untuknya. Gill bernapas lega. Tapi, tiba-tiba...
RRROOAAARRRR....
Masalah mereka masih bermulai, mutan gagal itu sudah menghancurkan ruang inkubasi. Tinggal menunggu waktu untuk makhluk gagal itu akan sampai diruang transplantasi gen, dan dengan sengaja atau tidak, mutan itu akan menjadi mesin pembunuh semua orang yang ada disana. Aditya dan Gill saling pandang. Mereka belum bisa bernapas lega rupanya.
“Okay, kita harus segera memulainya Gill!!”.
Gill mengangguk mantap. Adit merangsek maju, ikut duduk disebelah Gill.
“Pertama, DNA apa saja yang kalian masukkan pada monster itu?”.
“Aku tidak ikut merekayasa telur itu –“. Ucap Gill sengaja berbohong mengenai unsur-unsur genetik yang dia masukkan kedalam telur mutannya-yang sebenarnya adalah DNA T-Rex.
“Intinya mereka menggunakan telur reptil, sepertinya crocodile, untuk memastikan DNA yang lainnya, kau bisa lihat data dari ruangan inseminasi rekayasa genetik, yang bisa kau hack datanya dari sini”. Gill kembali menjelaskan.
“Baiklah Gill, kuharap ini tidak seburuk raut wajahmu itu!”. Adit berseru bersemangat.
Jari-jemarinya lihai bergerak diatas proyeksi transparan tanpa kabel komputer di abad ke 21 ini. Adit menggeser layar, membuat konotasi data angka yang penuh dengan teorema. Partikel kubik kembali bergerak membentuk sebuah data yang akurat. CKLIK.
“Yups, ini dia yang kita butuhkan Gillbert!”. Adit tersenyum puas, dibukanya data yang sudah di perolehnya. Sesekali dahinya berkerut, matanya menyipit, dia mengusap wajahnya kasar.
“Celaka!! Ilmuwan-ilmuwanmu benar-benar gila! Bagaimana mungkin mereka memasukkan DNA Tyrannosaurus Rex kedalam telur buaya, dan apa ini, mereka meng-kloning telur itu dengan sel dari katak dan ular. Apa kau tahu monster apa yang sedang kau buat ini, Gill?”. Adit berteriak frustasi.
Gill mematung di tempat. ”Separah itukah diagnosanya?”. Pikiran Gill mulai kalut.
“Katak memiliki kemampuan untuk bisa hidup di dua alam, otomatis dia mampu bertahan hidup dimanapun, dan ular adalah hewan berdarah dingin, sedangkan T-REX adalah hewan berdarah panas yang bisa mendeteksi mangsanya dengan hawa panas yang dikeluarkannya, dan dari gen buaya dia memiliki kemampuan bertahan hidup yang luar biasa, sekaligus predator alam yang mematikan. Jadi, kita mulai darimana melumpuhkan monster mutan mengerikan buatanmu itu?”.
Gill kembali terdiam, pikirannya kacau, Adit masih menunggu Gill bersuara, sampai tiba-tiba suatu hal yang tidak di inginkan tapi sudah diperkirakan akan terjadi, benar-benar terjadi.
ROAAAARRR...
Monster mutan itu telah sampai pada ruangan transplantasi genetik, semua orang berlarian, berusaha menyelamatkan nyawa mereka, cairan-cairan kimia pecah dari tabungnya, bercampur menjadi gas mematikan, satu-dua memercikkan api, dan tak butuh waktu lama, ruangan itu sudah tidak berbentuk lagi, monster itu terus mengejar orang-orang yang berlarian, insting memangsanya sudah mulai berjalan. Setiap apa yang bergerak akan monster itu hancurkan.
“Apapun yang terbaik menurutmu, maka lakukanlah Adit!”. Gill memutuskan pasrah.
***
Di lain tempat, kekacauan itu telah merambat ke ruang observasi DNA dan RNA.
“Hera!”
Merasa ada yang memanggil namanya, Hera berbalik dan melihat penampilan teman satu praktiknya, yang sudah kacau. Jubah putihnya penuh bercak noda kecoklatan, Hera bergegas menghampirinya.
“Lynn, ada apa?”. Hera bertanya cemas.
“Simpan pertanyaanmu nanti, waktu kita tidak banyak, Hera. Ayo!!”. Tangan Lynn dengan cepat langsung menarik Hera keluar dari ruang observasi. Tepat saat pintu dibuka, mutan itu telah menunggu mereka didepan. Lynn dan Hera mematung ditempat.
RRROOOOAAARRRR...
Mutan itu meraung keras membuat Lynn dan Hera terkesiap dan langsung menutup pintu itu kembali. Jantung mereka berdegup keras.
Dugh! Dugh! Dugh!...
Mutan itu berusaha menghancurkan tembok ruangan. Hera menghela nafas. Mulai membuat keputusan.
“Okay, begini saja Lynn, kau pergilah ke hall utama, beritahu Gill dan suruh dia untuk membereskan semua kekacauan ini, dan untuk monster ini, biar aku yang alihkan perhatiannya semntara”.
“Kau yakin Hera?”. Lynn bertanya ragu. “Yups, pergilah segera!”.
Lynn bergegas masuk kedalam lift menuju hall utama. Tepat saat lift bergerak naik. DUAAARR!!. Mutan itu telah berhasil merobohkan ruang observasi. Hera kembali terkesiap. Mutan itu meraung keras, menatap Hera sebagai mangsanya selanjutnya.
Hera menyeringai. “Oh, kau mau main-main rupanya, makhluk gagal. Okay, akan kubuat kau menyesal”.
Hera menghitung kemungkinan, dan tepat saat mutan itu akan menyergapnya, Hera lincah menghindar, berlari keluar ruangan. Mutan itu terus mengikutinya dengan meraung marah.
"Gill, kuharap kau segera membereskan kekacauanmu ini, sialan!". Batin Hera kesal.
###
“Gill! Cepat hentikan monster gagal buatanmu itu, sialan!”.
Gill dan Adit menatap Lynn yang datang dengan terengah-engah. Alis Gill terangkat, bingung dengan kemunculan Lynn yang tiba-tiba itu, sedangkan Adit menatap takjub wanita bermata hijau yang malah sedang menatap tajam kearah keduanya.
Lynn melangkah menghampiri keduanya.”Cepat lakukan sesuatu, Gillbert!!”. Ucap Lynn tajam dan penuh penekanan.
“Oh!, kau tidak perlu khawatir nona, aku sudah membuat alat pemecah genetik untuk memecah gen dalam tubuhnya, dan menghancurkannya perlahan”. Ucap Adit percaya diri.
Lynn memutar bola matanya, “Kalau begitu, CEPAT LAKUKAN!!”. Lynnn menyentak marah.
“Oh. Wow! Aku tidak tahu jika aku sedang menghadapi seekor singa ternyata”. Adit terkekeh.
"Lynn” Gill menghela nafas gusar, “Tidak semudah itu,"
“Kumohon cepatlah, aku tidak tahu seberapa lama Hera mampu bertahan dengan monster mengerikan itu disana”. Suara Lynn mulai lirih.
“APA?!?!HERA?!?!”. Keduanya terkejut bukan main.
“Tidak bisa kubiarkan!, Gill cepat hubungi divisi militer kota, minta mereka untuk segera mengirimkan pesawat tempur yang mereka miliki sebanyak- banyaknya”
Gill tidak membuang waktu, dia bergegas menghubungi divisi militer kota lewat panel micro telekomunikasi yang ada didalam jam tangannya.
“Dan kau-
“Lynn”. Jawab Lynn pendek, menjawab kebingungan diwajah Adit.
“Ya, dan kau Lynn, siapkan jaring perak bertegangan listrik tinggi, sekiranya bisa untuk melumpuhkan mutan itu”.
Lynn mengangguk patuh. Sekarang giliran Adit yang bergegas untuk menyiapkan mesin pembunuh mematikan untuk mutan itu. Adit bergerak cepat menuju ruangan instalasi kimia, ada beberapa bahan penting yang dia perlukan disana. Dengan tergesa-gesa dia membuka pintu ruangan itu, mulai mencari dengan cepat racun yang dia butuhkan.
“Raepler toxin, bakteri Drosobhilac, Hlitobapcer pyloid, dan yang terakhir Psortaen, dan sekarang saatnya untuk membuat mesin pembunuh untuk sang pembunuh itu sendiri”.
Adit segera menyiapkan bagian-bagian sel pembunuh yang telah didapatnya. Tangannya bergerak cepat mencampurkan tiap-tiap sel dengan sel yang lainnya, tabung-tabung kimia terus bereaksi saat tiap sel itu di teteskan kedalamnya. Satu dua kali, Adit menghela nafas gusar, dia dikejar waktu sekarang. Tapi, untuk sekali ini saja dia tidak boleh gagal. Nyawa banyak orang diluar sana sedang dipertaruhkan.
“Huft, akhirnya...”
Adit tersenyum senang melihat tabung kimia berisi toksin yang tengah digenggamnya. Satu lagi yang dia perlukan adalah peluru bius untuk wadah toksin- toksin tersebut.
***
Groaaarrrrrr
“Sial!” Hera menggeram kesal, bagaimana mungkin dia melupakan hal ini.
Laboratorium observasi mereka berada ditengah pulau kecil yang dikelilingi oleh jutaan liter kubik air, jadi kemanapun dia akan berlari, sejauh manapun, jalan buntu berupa hamparan air luaslah yang akan mencegat langkahnya. Sedangkan beberapa meter dibelakangnya mutan gagal itu sedang mengejarnya. Mutan itu sudah semakin dekat dengan posisinya berdiri, tapi Hera masih terdiam mematung ditempatnya.
“Tamatlah sudah semuanya.” Hera menghela nafas pasrah.
Mutan itu sudah semakin dekat dengan posisinya, dalam hitungan detik mungkin mutan itu sudah akan menghabisinya, melahpnya tanpa menguyahnya mungkin. Hera menutup matanya, tidak ingin melihat adegan kacau selanjutnya.
“Lynn maafkan aku, Gill maafkan aku.” Batin Hera berkali-kali. Ia sudah yakin jika cerita hidupnya sudah berakhir sampai disini. Mutan itu telah berada tepat dihadapannya.
“Hera!”
Hera langsung membuka matanya. Dari kejauhan samar-samar dia melihat sosok Gill berlari kearahnya. Telinga juga menangkap suara dengungan aneh. Hera menatap keatas langit dan menemukan gerombolan pesaeat tempur model CSR31 terbang membentuk formasi yang akurat. Hera tersenyum.
“Aku kira sudah selesai. Tenyata ini masih permulaan.” Batinnya senang.
Mutan itu kini beralih menatap gerombolan pesawat tempur yang memenuhi langit-langit pulau. Mutan itu kembali meraung marah, dia berbalik mengejar pesawat-pesawat tempur. Mutan itu meninggalkan Hera yang masih membeku ditempatnya.
Gill mendekat. “Hera are you okay?”
Hera hanya mengangguk. “Thanks, kau datang tepat waktu Gill.”
“Aku selalu tepat waktu untukmu nak.”
Hera mendengus. “Humormu buruk sekali, Gill. Lebih baik kita segera meninggalkan tempat ini.”
Saat Hera sudah akan bergegas pergi, Gill mencegatnya. “Kita harus tetap disini Hera.”
“Untuk apa?”
“Kita juga akan ikut menyerang, jadi tolong diam ditempatmu dan tunggu sampai Adit kesini.”
Hera menurut. Mereka terdiam, tidak ada yang bersuara. Khawatir akan menarik hewan-hewan buas lainnya mendekat. Ingat mereka sedang ditengah pulau kecil tak berpenghuni. Satu-satunya pulau yang tidak pernah tersentuh peradaban milineal dikota.
Diatas sana, pesawat-pesawat tempur CSR 31 masih terus sibuk menyerang mutan itu dengan peluru- peluru mereka. Jaring perak berkekuatan jutaan volt telah ditembakkan, mutan itu masih tetap tidak kehabisan tenaganya, masih terus meraung marah walaupun kulitnya telah disentrum jutaan volt listrik bertegangan tinggi, dari jutaan timah panas telah menembus tubuhnya, mutan itu masih tetap berdiri.
Sementara itu, dibawah sana Adit sudah sampai dengan membawa peluru beracun ciptaannya.
“Gillbert! Aku sudah selesai!”
Nafas Adit memburu, Gill dan Hera menghampirinya.
Tubuh Adit ambruk, dia sudah kelelahan atau mungkin yang lebih parah dia sedang terkena racun buatannya sendiri. Gill menatap Adit cemas, mengerti akan kekhawatiran yang terletak jelas diwajah Gill, Adit tertawa.
“Hei, kau memandangku seakan aku sudah mau mati saja, Keep calm boy. Iam still okay. Uhuk...” Adit terbatuk setetes darah menempel ditangannya.
“Adit!” ucap Gill dan Hera bersamaan.
“Ku rasa, aku terlalu bersemangat membuat racunnya, sampai aku sendiri tidak sadar telah menghirupnya. Tapi tenanglah aku bisa atasi ini.”
“Are you sure?” Hera bertanya memastikan.
Adit mengangguk. “Oh ya, Gill tolong kau perintahkan Lynn untuk turun sekarang. Aku butuh bantuannya untuk menembakkan peluru-peluru ini kedalam mutan itu.”
Tanpa perlu diperintah dua kali, Gill langsung menghubungkan sambungan panel telekomunikasinya dengan Lynn yang sedang berada didalam salah satu pesawat tempur yang menembakkan jaring perak listrik.
“What happen Gill?” Panel tersambung, wajah Lynn tampak pada proyeksi transparan dari jam tangan Gill yang multi fungsi itu.
“Turunkan pesawat mu sekarang!”
Tampak wajah Lynn yang terlipat kesal, tapi disaat genting seperti ini, dia tidak bisa membantah.
Pohon-pohon meliuk tajam, beberapa tumbang seketika saat pesawat tempur CSR 31 yang dikemudikan oleh Lynn menyentuh daratan Lynn bergegas menghampiri tiga temannya.
“So, why?” Tanyanya to the point.
Adit langsung berdiri. “Kau bisa menembak?”
Lynn memutar bola matanya. “Kau meremehkanku?”
“Kalau begitu, tembakkan semua peluru ini pada mutan itu. Satu harus mengenai kepalanya, lalu jantungnya, kemudian ekornya, dan yang lainnya, terserah padamu saja, jika kau masih belum puas untuk menyiksanya.”
Lynn segera mengambil peluru CRISPR-Cas 9 (peluru berisi Toksin buatan Adit), dan bergegas pergi. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti, Lynn berbalik.
“Aku butuh CO-pilot, Hera.”
Hera mendengus. “Sudah kuduga!”.
Hera bergegas menyusul Lynn. Keduanya dengan cepat langsung masuk ke dalam pesawat tempur. Pesawat kembali naik keatas bergabung dengan yang lainnya.
“Ku harap di benar-benar bisa menembak.” Adit berucap setelah pesawat tempur itu pergi menjauh.
Gill yang berada disebelahnya menatap aneh temannya yang sedang memegang dadanya sambil meringis kesakitan.
“Kau benar-benar meremehkannya ya?” Adit tergelak. “Yah, mungkin sedikit.”
“Hera mendekat kearah target!”
CSR 31 yang Hera kemudikan bergerak cepat menuju mutan, Lynn bersiap, dia mengambil CRISPR- X---senapan yang digunakan untuk peluru CRISPR-Cas 9.
“Arah jam 11, Lynn.”
Lynn mengangkat CRISPR-X-nya, membidik dengan awas target didepannya.
Bwusssh. Bwussh. Bwussh! Tiga peluru melesat tanpa suara.
Jleb. Jleb. Jleb!
Tepat sasaran. Lynn menyeringai senang, peluru itu berhasil mengenai kepala, jantung, dan ekor mutan. Tidak sampai disitu, Lynn kembali menembakkan beberapa buah peluru itu kebagian tubuh mutan yang lain.
Bruk!
Mutan itu ambruk, tubuhnya menggelempar. Hera menurunkan kembali pesawat tempur mereka. Dibawah Gill dan Adit sudah menanti kedatangan keduanya.
“Kau berhasil, That's amazing!” Adit berseru antusias, yang dibalas dengan senyuman remeh dari Lynn.
“Jadi, racun apa yang kau buat, sampai mutan itu menggelempar kesakitan seperti itu?” Hera bertanya ingin tau.
“CISPR-Cas 9. Cara kerja toksin itu sungguh mematikan. Pertama-tama, aku memasukkan Raepler toxin---racun pembunuh kedalamnya, racun ini akan berinteraksi dengan protein-protein desinnitor apseroxis yang melepas rem kematian pada sel ditubuhnya dan menginduksi sistem tersebut. Lalu molekul crpseres yang berperan sebagai algojo beringas yang siap membunuh sel tersebut. Kemudian protein reapler ini akan berikatan dengan protein Hid-protein desinnitor apseroxis pada Drosobhilac---dan menerobos masuk kedalam sel dan langsung menyerang ke pabrik energi sel, yaitu mythoaqdria dan membantai habis sel didalamnya. Kira-kira begitulah cara kerja mesin pembunuhku itu, Keren bukan?” Adit menyunggingkan senyum sombongnya.
“Hebat!” Seru Gill dan Hera bersamaan.
“Biasa saja.” Lynn menatap Adit malas, ya walaupun sebenarnya dia juga mengagumi kecerdasan ilmuan muda asal Indonesia didepannya.
“Hanya kau yang tidak pernah mau mengakui kecerdasan ku.” Adit menghela nafas kasar.
Berselang dengan itu, tiba-tiba terdengar suara ledakan besar, pesawat-pesawat tempur menghindar cepat. Mutan itu meledak dan terbakar.
Gill, Hera, dan Lynn saling tatap , kemudian beralih menatap Adit, meminta penjelasan kepadanya.
Adit menyeringai. “Aku belum memberitahu yang satu ini rupanya dan yang terakhir, Boom! Monster itu akan meledak.”
“Luar biasa!” sekarang giliran Lynn yang berseru takjub.
Adit tersenyum. “Kau baru saja mengetahuinya"
“Jangan besar kepala dulu kau.”
Tes
Sesuatu menetes mengenai wajah Hera, Hera menyentuhnya. Dia berjengit. “Darah!”
“Kau terluka?” Gill bertanya cemas.
“Bukan dia yang terluka, tapi itu adalah darah mutan yang meledak tadi.” Adit menyela.
“Jadi, setelah ini apa yang akan kau buat lagi, Gill?” Lynn bertanya sinis.
“Sebuah penemuan baru tentunya.”
“Apakau tidak berniat membuat sebuah smart robot yang bisa membantu pekerjaan mu dilaboratorium?” Adit menyarankan.
“Ide yang sangat briliant, Adit.”
“Dan sebaiknya kali ini, kau dalam pengawasannya, Gill.” Hera memperingatkan.
Mereka tertawa, tiba-tiba Adit kembali terbatuk.
“Kurasa aku harus segera kembali untuk membereskan racun didalam tubuhku ini.”
“Pergilah dan terimakasih untuk semuanya. Adit ku tunggu kau kembali kesini lagi.”Hera berterima kasih.
Adit mengangguk, kembali melemparkan Chipnya membuka portal berpindah dan segera masuk kedalam portalnya.
Adit berbalik, tersenyum kearah Lynn. Lynn balas tersenyum padanya.
“I'll miss you, Lynn.”
Setelah mengucapkan itu, Adit segera masuk kedalam portalnya.
portal. “I'll miss you too, Adit.” Balas Lynn pelan setelah tubuh Adit menghilang.
Laboratorium observasi telah rusak parah, pulau itu telah kacau. Mereka memutuskan untuk kembali kekota dan beralih pada pembuatan smart robot yang mampu mengerjakan semua aktivitas didunia.
Jutaan kilometer dari Amerika, Adit yang mendapat informasi itu hanya bisa mendengus kesal. Mereka terus melakukan evolusi besar-besaran didunia tanpa pernah tau dampak negatifnya.
“Kurasa aku harus pindah ke mars dan membuat peradaban baru disana, tanpa manusia tamak didalamnya.”
The End.