Pada suatu hari Senin yang cerah, burung burung berkicauan, Aku dan teman-temanku hendak berangkat ke sekolah. Namaku Abi, aku dan teman-temanku berangkat ke sekolah jam 6 pagi. Setibanya di sekolah aku dan teman-temanku bersalaman dengan guru kami.
Setelah itu aku dengan satu temanku yang bernama Doni memutuskan untuk pergi ke toko di depan gerbang sekolah untuk membeli beberapa peralatan tulis. Tiba-tiba bel sekolah berbunyi yang menandakan sudah waktunya sholat Dhuha. Karena itu aku dan Juga Doni mulai berbincang bincang.
"Don, bel sudah berbunyi, ayo kita sholat" Aku mengajaknya
"Duluan saja bi, nanti aku menyusul" ujar Doni
"Baiklah kalau begitu" jawabku
Akupun segera menuju musholla di dekat kelasku agar tidak terlambat. Setelah selesai sholat Dhuha, bel masuk pun berbunyi, segera aku dan teman-temanku masuk kedalam kelas.
Setelah masuk kedalam kelas, aku pun sedikit berbincang bincang dengan temanku yang bernama Alan. Dia memberi diriku kalau nanti akan ada siswa baru, aku terkejut mendengarnya.
"Oi bi, Apakah kamu tau kalau nanti akan ada siswa baru di kelas kita?" Tanya Alan padaku
"Ha siswa baru?" Jawabku
"Iya, nanti dia akan datang bersama Bu guru" ujarnya
Tidak lama kemudian, Bu guru pun tiba sambil menyuruh siswa baru untuk masuk ke dalam kelas.
Ia pun masuk ke kelas kami, tiba-tiba seisi kelas dibuat terkejut karena melihat kondisi tubuhnya. Ia mengalami cacat pada bagian lengan kirinya. Dengan kekurangannya ini aku merasa khawatir padanya karena dengan kondisi tubuhnya yang mengalami kekurangan, biasanya akan dibuli dan di caci maki oleh teman-teman yang lain.
Bu guru menyuruhnya memperkenalkan diri, Ia pun memperkenalkan dirinya.
"Hai teman-teman namaku Arsya aku pindahan dari SMP Wonokerto 01, salam kenal ya"
Bu guru menyuruhnya duduk dibelakang, karena kebetulan ada kursi dan meja yang kosong dibelakang. Teman-temanku yang lain tidak ingin menyapanya dan berteman dengannya karena kondisi tubuhnya yang mengalami kekurangan.
Tidak lama kemudian, bel istirahat berbunyi, teman-temanku yang lain langsung keluar kelas tanpa menyapanya. Ia(Arsya) hanya berdiam diri di mejanya. Aku keluar kelas bersama teman-temanku lainnya.
Setelah itu, bel masuk pun berbunyi, segera aku dan teman-temanku masuk kedalam kelas. Sebelum masuk kedalam kelas, aku mau ke kamar mandi dulu dan aku menyuruh teman-temanku untuk masuk duluan. Dalam perjalanan menuju kamar mandi, aku melihat Arsya yang sedang di olok olok oleh teman-teman. Aku segera membantunya dan menyuruh teman-teman untuk pergi masuk ke dalam kelas. Kemudian Arsya berterima kasih kepadaku.
Aku sedikit berbincang bincang dengannya
"Kenapa kamu tidak masuk kelas?, Bukankah bel sudah berbunyi?" Tanyaku padanya
"Aku hanya ingin pergi ke kamar mandi, tiba-tiba mereka datang dan mengolok-olok ku" jawabnya
Aku merasa sedih mendengarnya, ia juga mengatakan bahwa ia pindah ke sekolahan ini karena di sekolah lamanya tidak ada yang mau berteman dengannya. Aku menawarkan untuk jadi temannya, ia sangat senang dan menyetujuinya dan ia pun mulai tersenyum dan berterimakasih padaku karena mau menjadi teman pertamanya.
Hari demi hari berlalu, semenjak aku mulai berteman dengannya. Ia selalu mengikutiku kemana-mana, dan lama-lama aku mulai merasa terganggu dengan sikapnya yang seperti ini, akupun mulai bicara dengannya.
"Sya, kenapa kamu terus mengikutiku" tanyaku padanya
"Kenapa bi, apakah kamu merasa terganggu" jawabnya sambil bertanya kembali
Iya, aku terganggu!!, dengan sikapmu yang seperti ini teman temanku yang lain mulai menjauhiku" jawabku sambil terbawa emosi.
Serentak Arsya kaget mendengarnya, ia langsung berlari kedalam kelas dapat berkata sepatah kata pun. Aku pun merasa bersalah karena telah membentaknya, namun aku melakukannya sambil terbawa emosi sehingga aku menyesali perbuatanku itu.
Satu bulan berlalu,Ia(Arsya) selalu tidak masuk kelas. Aku mulai merasa cemas dan khawatir dengan keadaannya. Kemudian aku mengajak teman-teman dekatku untuk menjenguk nya esok hari, tepatnya di hari Minggu.
Keesokan harinya, aku menjemput teman-temanku untuk bersiap untuk pergi ke rumahnya sekitaran jam 8 pagi. Tidak menunggu lama kami langsung berangkat menuju rumahnya. Sesampainya di rumahnya kami mengetok pintu rumahnya dan tiba-tiba ibunya membuka pintu dari dalam. Ibunya Arsya menyuruh kami masuk, kami pun masuk kedalam sambil melihat-lihat rumahnya Arsya yang sederhana.
Ibunya Arsya sudah tau bahwa kedatangan kami disini untuk menanyakan keberadaan Arsya. Ibunya Arsya pun bercerita kepada kami sejak kecil Arsya tidak punya teman sama sekali. Biasanya teman-teman tidak mau berdekatan dengan Arsya karena kondisi tubuhnya yang mengalami kekurangan. Dan ia sudah kehilangan ayahnya di usianya yang ke 8 tahun karena Ia dan ayahnya sama-sama memiliki penyakit yang serius.
Kami terkejut mendengarnya, karena selain kondisi tubuhnya yang mengalami kekurangan, ia juga menderita penyakit yang mematikan dan sudah kehilangan ayahnya sejak kecil. Kami pun bertanya kepada Ibunya Arsya mengenai keberadaan Arsya.
"Lah bu, Sekarang Arsya dimana?" Tanyaku kepada ibunya Arsya. Aku sudah tidak sabar, jantungku sudah berdetak kencang dan pikiranku mulai kemana-mana. Ibunya Arsya sambil menunduk mengatakan "Arsya sudah menyusul Ayahnya"
Dengan rasa tidak percaya, tangis kami pun langsung terpecah seketika disana, dan aku sudah tidak bisa berkata apa-apa.
Tiba-tiba ibunya Arsya bertanya "Apakah kamu Abi?" Aku ber angguk angguk dengan pelan. Tiba-tiba Ibunya Arsya mengeluarkan selembaran kertas didalam kantongnya dan memberikannya kepadaku, jantungku berdetak kencang saat menerimanya.
"Sebelum meninggal, Arsya berpesan kepada ibu bahwa ia mengucapkan terimakasih kepada Abi karena mau menjadi teman pertama dan terakhirnya Arsya, Abi memang menjadi teman pertama dan terakhirnya Arsya."
Akupun membuka lipatan kertas tadi. Hatiku tersentuh, aku menangis sekali lagi. Karena nyatanya Arsya masih menganggap aku temanya bahkan sahabatnya. Maafkan aku Arsya....