Di suatu malam yang gelap, saat aku baru saja pulang dari ibu kota kerajaan setelah membuat beberapa bangunan di sana. Diriku menghampirimu yang tengah duduk tepat di tepi ranjang. Kala itu, kamar hannya ditemani oleh cahaya remang-remang dari pelita yang tak jauh darimu. Kucoba berjalan menghampiri lalu ikut duduk di tepi ranjang. Entah tertiup angin dari mana, api yang berdiri dengan tegap di tengah sumbu pelita bergoyang-goyang dengan manis. Aku pikir nyala api itu akan segera padam karenanya, namun ternyata salah. Tanpa meminta izin darimu, aku langsung merebahkan diri dalam pangkuanmu. Ada sedikit senyum suam yang terlukis saat kulakukan itu. Tanpa aba-aba, dirimu langsung berujar sembari memandangi wajahku yang ada dalam pangkuanmu, “Akhirnya kau pulang kanda,” ada sedikit jeda yang tercipta, sebelum akhirnya dirimu melanjutkan, “aku sangat rindu. Kukira aku tidak akan bisa melihat kanda lagi sebelum aku tiada.”
Diriku yang begitu polosnya, menangkap kalau yang baru saja engkau katakan adalah sebuah gurauan. Tanpa berdosa, diriku langsung menimpalinya dengan santai, “Kau ini bicara apa dinda. Bahkan dari tampangmu saja, kematian begitu jauh darimu.” Dirimu pun menatap mataku secara bertalu-talu. Meski saat itu cahaya dalam ruangan begitu temaram, aku masih bisa melihat dengan jelas bayanganku berada pada bola matamu yang teduh. Enkau menggelengkan kepalamu dengan lembut, dan membuat bayanganku yang tercermin dimatamu sedikit memudar. “Kau salah kanda, aku benar-benar akan mati,” katamu dengan raut wajah yang begitu serius. Aku sedikit tertegun melihat ekspresi itu. Kuperhatikan dengan cermat ekspresi wajahmu itu selama beberapa saat. Setelahnya aku bertanya pada diri sendiri, apakah yang barusan engkau katakan itu adalah sebuah keseriusan? Pikirku.
Ada senyap yang tercipta di antara kita selama beberapa saat karena ucapanmu itu. Diriku masih mencoba mencerna situasi yang ada saat itu. Dan di saat tengah mencerna, cahaya dari lilin kembali bergoyang (kali ini bukan angin penyebabnya, tetapi sebuah laron terbang menabrak api di tengah pelita). Engkau coba mengangkat kepalaku dari pangkuanmu dengan lembut, dan diriku pun bangkit dari sana. Setalah aku terduduk, engkau merebahkan tubuhmu yang dibalut sebuah batik kain panjang. Kuikuti tubuhmu yang jatuh itu dengan mataku.
“Kanda, apakah kanda begitu mencintaiku?” tanyamu saat engkau berbaring menengadah dengan beralaskan rambut panjang nan hitam. Mendengar pertanyaanmu itu, diriku langsung menjawab tanpa berpikir, “Tentu saja aku sangat mencintaimu, dinda.” Dirimu pun tersenyum semringah mendengar jawabanku. “Syukurlah, aku sangat senang mendengarnya, kanda,” ujarmu, kemudian engkau melanjutkan, “nanti, kalau aku mati. Aku ingin kanda sendirilah yang menggalikan liang lahad untukku. Kemudian memberikan atap yang nyaman untuk kuburku, serta selalu mengunjungiku setiap hari. Aku janji, kalau kanda bisa memenuhi semua itu, aku akan menemuimu, kanda.”
Tanpa sedikit pun rasa curiga, diriku pun kemudian bertanya, “Berapa lama aku harus menunggu dinda?” Engkau kemudian berubah posisi berbaring. Kali ini pipi kananmulah yang menyentuh rambutmu yang panjang. Engkau memberikanku sebuah kode agar aku juga turut merebahkan tubuh di sana. Wajah kita saling bertemu saat kuikuti kode yang engkau berikan. Setelahnya, kau mulai mengacungkan tangan kiri ke arahku, sementara tangan kananmu ter tekuk menjadi penggalas kepala. Dirimu mulai menekuk satu persatu jari jemari dengan begitu lihai. Kubiarkan engkau melakukan itu tanpa bertanya. Setelah beberapa saat kemudian, engkau mengatakan ‘seratus tahun’ dengan santainya.
Setelah berujar demikian, engkau menjatuhkan tangan kiri menyentuh pipi kananku dengan manis. Meski tanganmu menyentuh pipiku, anehnya tidak terasa kehangatan dari belaian itu. Engkau menatap wajahku dengan begitu serius, sehingga membuah bayanganku kembali muncul di matamu. Dirimu tersenyum, tetapi anehnya senyuman itu terlihat begitu kesepian. Engkau acungkan sekali lagi tangan kiri ke arahku. Kali ini dirimu melipat empat jari dan membiarkan sang kelingking tetap berdiri dengan tegap.
“Maukah kanda berjanji akan melakukan yang kuminta barusan?” tanyamu sembari menyodorkan kelingking. Diriku pun menyambut jarimu itu dengan mengaitkan kelingkingku. “Iya, aku berjanji, dinda. Tapi kau juga harus berjanji untuk menemuiku saat seratus tahun itu datang,” sahutku kemudian. Engkau tidak menjawab, tetapi hannya mengangguk. Setelah anggukan tersebut, matamu terlihat mulai goyah. Bahkan bayanganku yang tercermin di sana tampak memudar akibat cairan yang coba engkau tampung. Tanpa persetujuan dariku, dirimu mengecup pipiku dan kembali pada posisimu yang semula. Aku pun tergerak untuk membalas mengecupmu. Engkau memejamkan matamu seperti telah bersiap. Setelah aku mengecupmu, engksu tak kunjung membuka mata. Terliat sebuah air mata yang sebelumnya tertahan, mengalir dengan lembutnya menuju daun telinga. Diriku yang begitu polosnya, menunggu engkau membuka mata. Setelah lama menunggu, engkau tetap tidak membuka mata. Perasaanku menjadi gamang. Kuletakkan telunjuk tepat di depan hidungmu. Namun ternyata, engkau telah menghembuskan nafas terakhir sejak tadi.
Anehnya, diriku tak bersedih. Bahkan perasaan gamang yang sebelumnya kualami, kini telah menghilang seutuhnya. Diriku teringat akan janji yang telah kita buat sebelumnya, mungkin karena itulah aku tidak bersedih atas kepergianmu. Diriku lantas beranjak dari ruangan itu dan keluar dari rumah. Bulan tampak bercahaya dengan gemilang. Di sekitarnya, tampak pelangi yang melingkar menebar pesonanya. Aku mencomot sebuah pacul dan mulai menggali liang lahad seperti yang engku minta, di halaman belakang.
Jangkrik bernyanyi dengan merdunya, serta angin terasa berembus dengan lembut membelai kulitku. Saat liang lahad telah selesai, aku kemudian buru-buru masuk kembali ke dalam kamar. Sekali lagi, kuperhatikan raut wajahmu yang tampak menanti untuk aku kecup. Kuangkat tubuhmu dari ranjang, lalu berjalan menghampiri liang lahad yang menanti. Kubaringkan dirimu dalam lubang itu dengan perlahan, kemudian mencium keningmu untuk yang terakhir kalinya. “Aku telah menunaikan satu janji,” gumamku. Aku kemudian keluar dari liang dan mengambil pacul. Kuambil bekas galian tadi dengan pacul, kemudian menghamparkannya untuk menutupimu seutuhnya.
Saat tubuhmu telah tertutup seutuhnya, aku memandangi gundukan tanah itu lamat-lamat. Tanpa aba-aba, sebuah angin yang entah berembus dari mana, mengirim aroma tanah di hadapanku ke hidung. “Aroma tanah basah,” ucapku setelahnya. Diriku lantas buru-buru mengambil kotak perkakas yang biasa kubawa bekerja. Kemudian membawa kotak perkakas tersebut menghampirimu. “Sekarang, aku akan menunaikan janjiku yang kedua,” ucapku sembari meletakkan kotak perkakasnya di tanah. Aku kemudian pergi menuju gudang penyimpanan bahan-bahan pertukangan. Kuraih 4 buah balok yang panjang, serta beberapa helai atap sagu yang sebelumnya telah engkau anyam, lalu kembali ke makam. Tanpa berpikir kalau ini sudah malam, dan juga tanpa adanya istirahat. Aku mulai memotong balok itu dan memadukannya dengan atap sagu tadi. Tak lama setelahnya, sebuah atap sederhana berdiri kukuh menaungi makammu. “Tinggal mengunjungimu setiap hari, serta menunggu 100 tahun, dinda,” ucapku kemudian. Diriku duduk di samping makammu malam itu hingga mata hari terbit.
Matahari mulai bersinar memberi kehangatan saat diriku mulai membuka mata. Kupandangi gundukan tanah di hadapanku sambil berucap, “Hari ini aku pamit bekerja, dinda.” Kemudian beranjak dari sana. Matahari sudah terbenam saat aku kembali dan duduk di tempat semula. “Satu,” ucapku menghitung hari. Matahari kembali terbit lalu terbenam lagi. “Dua,” ucapku saat kembali duduk di samping makammu. Matahari terbit dan terbenam, sementara diriku terus menghitung hari kala menghampiri makammu. Karena matahari telah terbit dan terbenam dalam jumlah yang amat banyak, aku jadi tak dapat menghitung lagi jumlah hari yang telah dilalui. Kini fisikku sudah tidak sekuat saat pertama kali memakamkanmu di sini. Bahkan pekerjaan tukang yang selama ini telah menghidupiku, sudah tak dapat kugeluti lagi akibat fisik yang menua. Bahkan untuk jalan menghampiri makam saja, aku harus menopang diriku dengan sebatang rotan.
“Aku tidak tahu apakah ini sudah dekat dengan tahun ke 100, atau masih setengahnya. Tetapi sepertinya, janji kita tak dapat kutunaikan, dinda,” ucapku degan lirih. Tiang kukuh yang menaungi makammu telah aku renovasi 5 tahun yang lalu. Diriku bahkan membongkar rumah lalu mendirikan rumah baru tepat di samping makammu. Aku mengangkat tangan menutup mulut saat tiba-tiba batuk yang aku derita akut. Saat batuk itu usai, kujauhkan tangan dari mulut dan merasakan sebuah cairan, aku melihat telapak tanganku secara perlahan. Di sana terdapat darah.
Aku terdiam untuk sesaat, kemudian menengadah memandangi awan yang berjalan dengan santai menelusuri langit (waktu itu sedang siang). Entah mengapa ada perasaan lega yang tercipta dari tindakanku itu. Diriku pun sedikit tersenyum karenanya. Di saat tengah mengamati awan yang bergerak dengan lambat, tiba-tiba aku merasakan sesak yang teramat sangat di dada. Aku mencengkeram dada kiri sembari berusaha menopang diri agar tak jatuh. Namun rasa sakit yang kurasakan ini tak dapat lagi ditahankan, sehingga membuat topanganku pada sebatang rotan menjadi goyah. Diriku tersungkur tepat di tepi makammu. “Aku sudah tidak kuat lagi, dinda. Sepertinya aku akan segera menyusulmu,” tuturku membatin.
Tidak lama setelahnya, perasaan sakit yang kualami semakin membuatku tersiksa. Bahkan rasanya ingin berteriak dengan keras, tetapi suara tak dapat keluar. Makin lama perasaan sakit ini semakin menyiksaku, bahkan untuk menggerakkan tubuh pun sudah tidak dapat lagi dilakukan. Hannya air mata yang bisa kukeluarkan di saat seperti ini. Kupandangi sekali lagi awan yang berjalan begitu lambat. Tak lama kemudian, perasaan kantuk yang teramat berat menyapa mataku, serta perasaan ingin menutup mata yang begitu kuat merangsangku dengan gencar. Akhirnya, kututup mata dengan damai tanpa bisa menepati janji terakhirku.